Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 37


__ADS_3

🍂Happy Reading 🍂


Hingga Amara berjalan melewati sebuah jembatan, dia menatap ke bawah jembatan, memandang air sungai yang arusnya cukup deras. Amara pun mulai berpikir untuk mengakhiri hidupnya, karena baginya itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa sakit.


Sementara Ansel saat ini sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah. Sorot matanya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang berdiri di jembatan sambil merentangkan kedua tangannya, Ansel pikir wanita itu pasti ingin bunuh diri.


"Alden........pinggirkan mobil sekarang juga!" Titah Ansel.


"Loh....ada apa?" Tanya Alden yang masih fokus dengan kemudinya.


"Sepertinya wanita itu akan menceburkan diri!" Alden pun segera meminggirkan mobilnya dan Aska lalu buru-buru turun dari mobil.


"Hei......sedang apa kau!" Teriak Ansel.


Amara yang sedang berdiri sambil menangis seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Kau?!" Lirih Amara tercengang melihat sosok pria yang ia kenali sebelumnya.


Sebaliknya dengan Ansel, ia terkejut saat melihat wanita itu yang ternyata adalah Amara.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ansel berjalan pelan mendekati Amara.


"Berhenti, jangan mendekat!" Pinta Amara.


"Apa kau ingin mengakhiri hidupmu? hei jangan gila, mengakhiri hidup bukanlah caranya yang benar!" Ucap Ansel.


"Teganya kau berkata begitu padahal kau tidak tahu apapun!" Ujar Amara.


"Baiklah, maafkan ucapan ku. Tapi tolong jangan lakukan ini!" Pinta Ansel dengan wajah panik.


Amara menggeleng pelan.


"Aku sudah lelah, aku tidak mau hidup,"


Amara pun segera menjatuhkan dirinya, tapi Ansel dengan sigap langsung meraih lengan Amara sehingga membuat Amara terjatuh ke dalam dekapannya.


"Lepaskan!" Pinta Amara mencoba untuk melepas tubuhnya dari dekapan Ansel. Tapi Ansel dengan erat mendekap Amara.


"Hei.....sekeras apapun kehidupanmu, aku yakin pasti kau bisa melewati ini semua."


"Kau tak tahu seberapa menderitanya aku. Lalu mengapa kau menyuruhku untuk meneruskan semua ini?" Teriak Amara.


"Ku mohon biarkan aku mati. Aku mohon!" Tangisnya semakin pecah.


"Ceritamu belum habis, jadi jangan kau akhiri dulu!" Kata Ansel.


Amara diam sejenak, mencerna perkataan dari Ansel.


Dia lalu menatap nanar wajah Ansel. Perkataan Ansel ada benarnya juga.


Dengan nafas terengah-engah, tiba-tiba mata Amara tertutup perlahan. Seketika Amara tidak sadarkan diri.


"Hei......hei......apa kau baik-baik saja?" Tanya Ansel menepuk pipi Amara dengan pelan.


Ansel benar-benar panik, tubuh nya yang sudah basah kuyup tidak ia hiraukan lagi. Pria itu pun segera mengangkat tubuh Amara dan membawanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Alden.......ayo cepat, kita pulang sekarang!" Titah Ansel yang duduk di belakang sambil memangku kepala Amara.


"Baiklah!" Alden pun dengan cepat melajukan mobilnya.


Setibanya di rumah Ansel, Ansel pun segera membawanya masuk ke dalam rumah.


Kebetulan kedua orangtua Ansel sedang duduk di ruang keluarga. Mereka terheran saat melihat Ansel datang dengan tubuh basah kuyup menggendong seorang wanita.


"Ansel......apa yang terjadi?" Tanya Alena bangun dari duduknya lalu menghampiri Ansel. Begitu pula dengan Surya.


"Siapa wanita yang kau bawa itu?" Tanya Surya.


"Aku harus segera membawanya ke kamar, tolong panggilkan Dokter!" Ucap Ansel tanpa menjawab pertanyaan dari orangtuanya.


Alena pun mengangguk dan segera menghubungi Dokter pribadi yang biasa mereka panggil ke rumah.


"Bi Tina, tolong gantikan pakaian baru untuk dia!" Titah Ansel pada bibi Tina yang sudah lama bekerja di rumah ga.


"Baik tuan!" Bibi Tina pun segera melakukan perintahnya.


Ansel pun kemudian melangkah pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Selesai membersihkan dirinya, Ansel pun langsung menuju ke luar untuk menemui Amara yang berada di kamar lain.


Beberapa saat kemudian, Amara pun sudah di tangani oleh Dokter.


"Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" Tanya Ansel.


"Kondisinya sangat lemah, tapi tidak usah khawatir, mungkin besok di akan segera sadar. Sekarang dia hanya memerlukan waktu untuk beristirahat saja." Jawab Dokter Jek.


"Syukurlah!"


Setelah selesai menangani dan sudah memberikan obat, Dokter Jek pun berpamitan untuk pulang.


Ansel mendekat, lalu ia duduk di tepi ranjang.


"Ansel.....sebenarnya siapa wanita ini?" Tanya lagi Alena penasaran.


"Ah aku tahu sayang, mungkin ini adalah kekasihnya!' Sambung Surya.


"Apakah yang di katakan ayahmu itu benar, Ansel? kalau begitu kenapa dari dulu kau tidak mengenalkan nya pada kami?" Tanya lagi Alena mengernyitkan dahinya.


"Di-Dia.....dia....dia kekasihku," Jawab Ansel terbata-bata. Dia terpaksa berbohong.


Alena dan Surya seketika tersenyum getir mendengar jawaban dari Ansel.


"Akhirnya Ansel membawakan kita calon menantu juga, sayang!" Ucap Surya mencubit kecil istrinya.


"Iya mas, em.....tapi ada apa dengannya? apa yang terjadi padanya, Ansel?"


"Dia....dia....tadi jatuh pingsan!" Ujar Ansel tersenyum tipis.


"Oh begitu, semoga dia cepat sadar, soalnya ibu dan ayahmu mau berkenalan padanya!" Tukas Alena.


🥦

__ADS_1


🥦


🥦


Pagi menyapa, matahari tampak meninggi dan menyinari seluruh isi bumi.


Amara baru saja terbangun dari tidurnya dan merasakan kepalanya yang sedikit terasa pusing.


Sambil memegangi kepalanya dengan satu tangan, Amara pun mendudukkan dirinya.


"Dimana aku?" Tanya Amara pada diri sendiri sambil memandangi sudut-sudut ruangan.


Kreek.......


Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah bibi Tina yang menghampiri Amara..


"Nona, nona sudah sadar?" Tanya bi Tina.


"Dimana ini?" Tanya balik Amara pada wanita asing yang ada di depannya.


"Ini adalah rumah tuan Ansel, nona!" Jawab bi Tina.


"Hah, kenapa aku bisa berada disini?" Amara mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin malam dan dia pun mulai ingat dengan semuanya.


Kreek.......


Amara segera menoleh ke arah pintu yang terbuka kembali. Dilihatnya itu adalah Ansel.


"Kau sudah sadar ternyata, syukurlah!" Ucap Ansel mendekat.


Amara hanya diam.


"Bi Tina, tolong tinggalkan kami dulu, soalnya aku ingin berbicara padanya!" Titah Ansel. Bibi Tina mengangguk dan segera melangkah keluar.


"Kenapa kau bawa aku ke rumahmu?" Tanya Amara.


"Kau tidak sadarkan diri kemarin malam, jadi aku bawa saja ke rumahmu. Lagi pula aku tidak tahu alamat mu dimana!" Jawab Ansel.


"Aku harus segera pergi!" Amara menggeleng lalu beranjak dari ranjang. Tapi Ansel langsung menyuruh nya untuk duduk kembali.


"Kalau kau ingin pergi, aku bisa mengantarmu tapi tidak sekarang, kondisi mu belum sehat sepenuhnya!" Ucap Ansel.


Amara diam tertunduk dan tanpa di sadari air mata jatuh membasahi pipinya.


Ansel yang melihat itu sedikit terheran dengan Amara, sebenarnya apa yang telah terjadi pada wanita yang kini di hadapannya.


"Hei...kenapa kau malah menangis?" Tanya Ansel.


"A-aku....aku lupa kalau aku sudah tidak memiliki tujuan untuk pulang!" Ucap Amara menangis tersedu-sedu.


"Memangnya apa yang telah terjadi padamu?"


Jangan lupa dukungannya, like, komen dan vote.


Terima kasih❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2