
Malam ini menjadi malam yang paling bahagia bagi kedua pasangan tersebut. Bagaimana tidak, sebentar lagi mereka akan ke jenjang yang lebih serius.
"Aku akan mengurus persiapan pernikahan kita dalam waktu dua minggu ini." Ucap Ansel.
"Baiklah, semoga tidak ada halangan bagi kita." Kata Amara tersenyum.
***
Dua hari kemudian, seperti biasa Amara pergi ke restoran untuk bekerja. Meski Ansel sudah melarangnya untuk bekerja, tapi Amara tetap kekeh ingin bekerja. Menurutnya seharian di apartemen tanpa melakukan apapun sangatlah membosankan.
Pukul empat sore, barulah Amara pulang. Sebelumnya Ansel telah menelepon dirinya dengan memberitahu bahwa hari ini ia tidak bisa mengantar Amara pulang karena ada beberapa urusan yang harus di selesaikan.
Baru saja Amara melangkahkan kaki, tiba-tiba ia termangu ketika melihat sosok Aska yang berdiri di hadapannya.
"Aska, ada apa lagi?" Tanya Amara.
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja." Jawab Aska dengan wajah tertunduk.
"Aku tidak bisa!" Tolak Amara memalingkan wajahnya lalu melanjutkan langkahnya.
Namun Aska dengan cepat langsung meraih lengannya.
"Sebentar saja, Amara. Aku mohon." Ucap Aska dengan tatapan sendu.
"Bicara apalagi Aska? apa kau ingin membahas masa lalu lagi?" Tanya Amara.
"Ini akan menjadi yang terkahir kali, Amara. Tolong maafkan aku sekali ini saja." Pinta Aska.
Amara menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"Baiklah, anggap saja aku memaafkan mu. Lalu selanjutnya apa?" Tanya Amara.
"Tolong beri aku sebuah kesempatan......" Ujar Aska.
"Kesempatan apa?!"
"Aku ingin kau kembali dan aku berjanji aku akan memperlakukanmu dengan baik." Kata Aska.
"Sudahlah Aska. Jangan terjebak dengan kejadian di masa lalu. Jangan berusaha memperbaiki yang sudah terjadi. Jangan mempertahankan hati yang sudah tidak bisa kau dapatkan. Dan mulai sekarang aku aku mohon Aska, tolong jangan ganggu aku lagi. Aku sudah tidak bisa lagi untuk bersamamu." Jelas Amara.
"Kenapa?" Tanya Aska.
__ADS_1
"Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Ansel." Jawab Amara.
Deeg......
Aska terdiam dengan menatap nanar mantan istrinya itu. Dia seolah tak percaya bahwa Amara sebentar lagi akan menikah.
"Sungguh?"
Amara mengangguk pelan.
"Amara, aku menyesali semua nya. Coba lah beri aku sebuah kesempatan. Aku janji aku tidak akan membuatmu menderita lagi, aku akan membahagiakan kau." Ucap Aska.
"Cukup Aska! sudah ku bilang aku tidak bisa." Bentak Amara.
"Apa kau benar-benar yakin akan menikah dengannya?"
"Kenapa tidak yakin, dia adalah orang yang sangat baik. Dan aku sangat bahagia sekali karena telah dipertemukan dengan orang sepertinya." Jelas Amara.
"Kau harusnya masih bisa memberiku kesempatan Amara, karena yang terjadi selama ini adalah kesalahpahaman saja. Dan seharusnya kau tidak menikah dengannya." Ujar Aska matanya mulai berkaca-kaca.
Amara berdecak kesal mendengar penuturan dari Aska.
"Mau itu salah paham atau bukan, tetap saja aku tidak bisa. Dan Kau, kau siapa? kenapa kau yang menentukan hatiku harus kemana?" Tanya Amara.
"Aku sungguh membencimu!" Ucap Amara lalu melangkah pergi dari hadapan Aska.
Melihat kepergian Amara, Aska pun hanya bisa menatap nanar langkah mantan istrinya itu.
Sungguh benar-benar tidak ada harapan lagi untuk Aska bisa bersama Amara.
Malam harinya.
Diluar terdengar suara orang memencet bel berulang kali. Amara yang begitu penasaran akhirnya pun pergi untuk membukakan pintu.
"Siapa?" Tanya Amara saat membuka pintu. Dia begitu tercengang ketika melihat Herlina, ibunya sendiri.
Cukup lama mereka bertatapan satu sama lain.
"Amara...." Lirih Herlina.
"Ibu.....darimana ibu tahu aku tinggal disini?" Tanya Amara dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Amara, ibu sangat merindukanmu." Ucap Herlina tanpa menghiraukan pertanyaan dari Amara. Dia langsung saja memeluk erat Amara dengan tangisan.
"Maafkan ibu Amara.....maafkan ibu karena ibu tidak pernah memperdulikan mu selama ini" Kata Herlina.
Amara hanya diam mematung ketika sang ibu memeluk dirinya.
"Ibu benar-benar menyesal karena sudah meninggalkanmu dulu."
"Kenapa baru sekarang mencari?" Tanya Amara dengan tatapan datar.
"Ceritanya panjang Amara, ibu akan menjelaskannya nanti." Ujar Herlina.
Amara yang merasa kasihan melihat ibunya itu, dia pun langsung mempersilahkan ibunya untuk masuk ke dalam.
"Duduklah Bu, Amara buatkan minum dulu." Kata Amara.
Herlina pun mendudukkan pantatnya ke sofa sambil memandangi suasana sekitar.
Tidak lama Amara pun dengan membawa segelas teh hangat dan meletakkannya di atas meja.
"Terimakasih, Amara."
Amara mengangguk lalu duduk di samping ibunya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu?" Tanya Amara.
Herlina pun mulai menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Ternyata selama ini Herlina kerap kali mendapatkan perlakukan buruk dari Heru bahkan kekerasan juga. Sempat Herlina ingin meminta cerai tapi Heru selalu mengancamnya dengan mengatakan bahwa dia akan membunuh anak kandung nya yaitu Amara sendiri.
Tidak hanya itu, Herlina juga membuka baju dan menunjukan beberapa memar yang ada di tubuhnya.
Sontak Amara langsung terkejut ketika melihat banyak memar di tubuh ibunya.
"Ibu kenapa sampai begini?"
"Itulah Amara, akhir-akhir ini dia terus memukuli ibu sampai akhirnya ibu memutuskan untuk kabur saja dari rumah itu."
"Ibu rasa dia stress melihat keadaan anaknya Davina yang cacat dan sudah tidak bisa apa-apa lagi."
"Kalau begitu lebih baik sekarang ibu ceraikan saja dia dan jangan pernah kembali ke rumah itu. Ibu tinggal disini saja bersama Amara." Kata Amara.
"Terima kasih Amara, karena kau sudah mau menerima ibu kembali dan mengizinkan ibu tinggal bersamamu." Herlina kembali memeluk Amara.
__ADS_1
Setelah mengobrol panjang lebar, Amara pun mulai memberitahu kepada ibunya bahwa sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Ansel.
Herlina yang mendengar itu pun sangat merasa senang mengetahui bahwa anaknya akan menikah lagi.