
"Kenapa kau bisa sampai di pecat?" Tanya Ansel.
Amara pun mulai menceritakan dari awal sampai akhir mengapa dirinya di pecat.
Mendengar hal itu Ansel hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya.
"Baiklah, malam ini aku akan menemani mu disini." Kata Ansel.
"Ah......tidak usah, Ansel." Ucap Amara.
"Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa."
"Baiklah"
Amara tersenyum mengambang, Ansel benar-benar pria yang baik hati.
🥦
"Ada apa kau meneleponku malam-malam begini?" Tanya Alden.
"Alden, aku butuh bantuan mu." Ucap Ansel.
"Apa?"
"Aku ingin kau mengatur pertemuanku dengan pemilik restoran tempat Amara bekerja."
"Hah, ada apa kau ingin bertemu dengannya?' Tanya Alden penasaran.
"Sudahlah, jangan banyak tanya."
"Baiklah,"
🥦
Pukul tujuh malam, Davina baru saja pulang ke rumah.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya Aska yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Eh mas.....biasalah ada banyak pasien tadi." Jawab Davina tersenyum. "Putri kita dimana mas?"
"Ada di kamar, baru saja di tidurkan sama bi Ira.
Davina kemudian berlalu begitu saja menuju ke kamar tanpa menanyai suaminya sudah makan apa belum.
Aska merasakan akhir-akhir ini Davina sangat berbeda dari sebelumnya.
🥦
Keesokan harinya sesuai janji yang telah di sepakati. Siang ini Ansel dan Alden pergi ke restoran dimana pak Broto sudah menunggu kedatangan mereka.
"Apa? tidak, saya tidak akan menjual restoran ini!" Ucap Broto menolak penawaran dari Ansel.
Ansel menghela nafas sambil sejenak memejamkan matanya. Sudah berapa kali dia menawarkan diri untuk membeli restoran tersebut, tapi Broto tetap saja menolak dengan berbagai alasan.
"Sudahlah, untuk apa juga kau membeli restoran ini." Bisik Alden pada Ansel.
"Shut.....diam saja...."
"Berapapun yang anda minta akan saya bayar!" Ujar Ansel dengan tegasnya.
"Satu Miliyar, bagaimana?" Tanya Ansel.
Seketika kedua mata Broto berbinar-binar mendengar apa yang baru saja Ansel katakan.
"Baiklah, dengan senang hati." Jawab Broto girang sambil tersenyum.
"Apa kau gila? satu Miliyar hanya untuk restoran ini?" Bisik lagi Alden.
"Sudahlah dari pada dia tidak mau menjualnya."
Beberapa saat kemudian, Ansel sudah menerima sertifikat kepemilikan restoran dari Broto. Begitu pula sebaliknya, Broto sudah menerima sekoper uang dari Ansel.
"Mulai sekarang akulah yang menjadi pemilik restoran ini." Ujar Ansel pada beberapa pelayan termasuk Airin.
"Baik....tuan!" Ucap semua pelayan dengan serentak.
__ADS_1
"Tapi aku minta pada kalian, jangan beritahu pada siapapun bahwa akulah pemilik restoran ini sekarang." Ucap Ansel melirik ke arah Airin.
Airin yang berdiri sambil tertunduk, dalam hati bertanya-tanya mengapa Ansel tiba-tiba membeli restoran ini.
Setelah itu Ansel membubarkan beberapa pelayan, namun Ansel memanggil Airin untuk membicarakan sesuatu.
"Iya tuan, ada apa?" Tanya Airin.
"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Ansel."
"Oh....ba-baiklah."
"Aku minta nanti kau hubungi Amara, bilang padanya bahwa dia tidak jadi di pecat." Jelas Ansel.
Airin menegakkan pandanganya, menatap Ansel seolah tak percaya.
"Oh.....rupanya semua ini kau lakukan demi Amara?" Tanya Alden sambil tertawa kecil.
"Anggap saja ini bentuk perjuanganku!" Jawab Ansel.
"Tapi Airin, jangan bilang padanya jika aku yang menyuruh." Pinta Ansel.
"Baiklah, aku akan menghubunginya nanti." Kata Airin dengan senang.
"Baiklah, sekarang silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Ujar Ansel, pria itu berbalik badan lalu melangkah pergi.
Sementara Alden masih berdiri di hadapan Airin.
"Apa kau punya pacar?" Tanya Alden tiba-tiba.
Airin sejenak terdiam. Dia menggeleng pelan.
Alden tersenyum. "Baiklah kalau begitu," Ucap Alden mengedipkan satu mata lalu menyusul langkah Ansel.
Seketika dada Airin berdegup kencang dan pipinya memerah. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Jangan lupa like,komen dan Vote😆
__ADS_1
Maaf baru up😭🥦
Author baru saja sembuh🙏🏻