
Hari terus berlalu, hanya tinggal menghitung hari saja Amara dan Ansel akan segera melangsungkan pernikahan.
Hari ini Ansel dan Amara ditemani juga oleh Alena calon ibu mertua, akan pergi ke butik untuk memilih jas dan gaun pengantin yang cocok dan bagus.
Salah satu butik yang terkenal di kota ini menjadi tujuan mereka. Sesampainya di butik, mereka pun langsung masuk ke dalam. Tatapan Amara terus saja mengelilingi suasana seisi ruangan yang terdapat banyak gaun-gau bagus dan mewah.
Sudah hampir dua jam lebih memilih, akhirnya mereka mendapatkan jas dan gaun yang cocok untuk dipakai di hari pernikahan nya. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka pun langsung melangkah pergi.
Lain hal nya dengan Aska saat ini yang sedang duduk di ruangan nya. Semenjak mendengar Amara akan menikah lagi, ia berubah menjadi seseorang yang pendiam dan sering kali melamun. Ferdi yang juga kebetulan ada di ruangan itu, terasa sedikit heran ketika melihat sikap dan perubahan temannya itu.
Untuk mencairkan suasana yang terasa hening, Ferdi pun membuka suara.
"Aska....omong-omong apakah kau akan datang di acara pernikahan mantan istrimu itu?" Tanya Ferdi.
Aska menghela nafasnya, ia melirik ke surat undangan yang berada di atas meja.Yah, beberapa hari yang lalu Amara mengirimkanny sebuah surat undangan.
"Entahlah Fer, aku....aku tidak tahu!" Jawab Aska dengan wajah sendu.
"Um.....iya, aku mengerti perasaanmu!" Kata Ferdi.
****
Satu hari sebelum pernikahan Ansel dan Amara, Aska memutuskan untuk datang menemui Amara di tempat kerjanya. Namun sesampainya disana, Airin mengatakan kepada Aksa bahwa sudah beberapa hari ini Amara tidak lagi bekerja.
Aska pun meminta Airin untuk memberitahu dimana Amara tinggal, tapi Airin terus saja mengatakan tidak tahu. Dengan wajah sedihnya, Aska terus saja memohon agar Airin memberitahunya. Melihat Aska yang seperti itu, hati Airin mulai terenyuh dan akhirnya dia pun memberitahu dimana Amara tinggal.
Setelah tahu dimana Amara tinggal, Aska pun langsung bergegas pergi menuju apartemennya.
Tak butuh waktu lama karena jarak antara apartemen dan restoran sangatlah dekat. Aska kini sudah berdiri tegap di hadapan pintu apartemen Amara.
Dengan wajah tertunduk lesu, Aska nampak ragu-ragu untuk memencet bel. Baru saja akan mengangkat tangannya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya. Sontak saja membuat Aska langsung menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata itu adalah Amara yang sedang bersama ibunya. Mereka kebetulan baru pulang dari luar.
Amara melangkahkan kaki nya mendekati Aska.
"Aska....sedang apa kau disini? lalu tahu dari mana jika aku tinggal disini?" Tanya Amara.
Aska tak menjawab, dia malah menatap heran ketika melihat kedatangan Amara yang bersama mantan ibu mertuanya.
"Loh...ibu, Amara, kenapa kalian bisa bersama?" Tanya Aska.
__ADS_1
Tapi Herlina dan Amara hanya saling diam mematung.
"Ceritanya panjang, nak Aska!" Lirih Herlina membuka suara.
"Hah, aku tidak mengerti."
"Ehem....." Amara berdehem. "Ibu, ibu sekarang masuklah duluan. Amara mau berbicara dulu dengan Aska." Kata Amara.
"Ah....baiklah sayang!' Ucap Herlina.
Amara pun langsung saja menarik kasar lengan Aska dan membawanya pergi menuju atap.
Sesampainya dia atas atap apartemen, Amara pun langsung melepaskan lengan Aska dan menatapnya dengan penuh kesal.
"Apa lagi Aska, kau ingin apa lagi?" Tanya Amara.
Aska yang tertunduk diam langsung saja menegakkan pandanganya.
"Apa kau tahu penyesalan terbesarku di hidup ini?" Tanya Aska.
Amara menggelengkan kepalanya.
Amara sejenak terdiam sambil memandangi Aska.
"Lantas?"
"Aku hanya dapat mengerti dan memahami arti dari cinta setelah kau sudah tak ada di sisiku." Kata Aska.
"Sudahlah buat apa menyesal? lebih baik kau terus berjalan dan menemukan orang baru. Masa lalu biarlah berlalu. Tak usah terlalu larut dalam perasaan menyesal."
"Cukup sekali saja aku pernah merasakan bahwa betapa menyiksanya kehilanganmu. Kau tak terganti, aku akan selalu menantimu sampai kapan pun." Jelas Aska.
"Cih....." Amara hanya tersenyum lebar mendengarnya.
Aska lalu menghembuskan nafas kasarnya.
Dengan mata merah berkaca-kaca, Aska memalsukan senyumannya di hadapan Amara.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin mengatakan selamat saja Amara." Ucap Aska.
"Selamat buat apa?" Tanya Amara heran.
__ADS_1
"Selamat, karena besok kau akan menikah!" Jawab Aska.
Sambil memandangi Aska, Amara pun sejenak terdiam ditengah dinginnya angin malam yang mulai menusuk.
"Baiklah terimakasih. Aku tak mengira kau akan mengatakan ini." Ujar Amara.
"Aku sengaja menemui mu hanya karena ingin mengatakan itu saja."
Amara mengangguk sambil memperlihatkan wajah senangnya. "Kau sudah terima undangan yang ku kirimkan?" Tanya lagi Amara.
"Ya!" Jawab Aska tersenyum sambil mengangguk.
"Apa besok kau akan datang ke pernikahanku?"
"Aku tidak bisa."
"Mengapa?"
"Karena besok aku akan pergi. Aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan menatap disana." Ucap Aska tersenyum tipis.
Lagi-lagi Amara terdiam saat mendengar bahwa mantan suaminya itu memutuskan untuk pergi ke luar ngeri
"Aku harap kau bahagia Amara, jaga dirimu." Kata Aska.
"Baiklah, mari berjabat tangan karena ini akan menjadi yang terakhir. Lalu jangan pernah bertemu lagi!" Ucap Amara sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak mau!" Aska menggeleng.
Amara perlahan menurunkan tangannya.
"Itu akan benar-benar terlihat seperti akhir. Bahkan bajingan sepertiku tidak diizinkan memiliki sedikit kesempatan." Ujar Aska sambil memalsukan senyumnya. Padahal ia sekuat tenaga sedang menahan air mata yang hendak runtuh.
Amara hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku sungguh akan pergi, jaga dirimu!" Ucap Aska lalu dengan pelan ia beranjak dari hadapan Amara yang masih berdiri mematung.
"Pergilah, namun jangan meninggalkan penyesalan!" Pekik Amara.
Tapi Aska terus saja melangkah pergi meninggalkan Amara dengan perasaan yang gundah.
Dan malam itupun menjadi malam terkahir bagi mereka berjumpa. Entah kapan lagi mereka akan berjumpa, hanya takdir yang tahu.
__ADS_1