Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 49


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja, sampai dua bulan kemudian.


Kondisi perekonomian Aska kini kian memburuk setelah perusahaan milik Aska mengalami permasalahan.


Keadaan terpuruk seperti ini bukannya mendapat semangat dari sang istri, Aska justru malah mendapatkan cacian dan makian dari Davina.


Bahkan, hinaan dan perkataan buruk sering kali ia dapatkan dari mulut Davina.


Aska menyadari hubungannya dengan Davina makin hari semakin retak saja. Entah kenapa, Aska merasakan ada kecurigaan terhadap Davina bahwa istrinya itu main serong di belakangnya.


"Maaf tuan,.....saya tidak bisa lagi bekerja di rumah ini." Kata bibi Ira pada Aska. Kebetulan Davina tidak ada di rumah saat ini.


"Lo....bi, kenapa memangnya?" Tanya Aska.


"Masa tuan tidak tahu, tuan dan nyonya kan belum membayar gajih saya selama dua bulan ini." Jelas bibi Ira dengan wajah tertunduk karena merasa tak nyaman.


"Hah, jadi uang yang aku kasih ke Davina di kemana kan selama ini?" Tanya Aska pada diri sendiri.


"Tapi bi, saya akan bayar gajih bibi tapi tolong jangan berhenti dari sini." Pinta Aska.


Bibi Ira menggeleng pelan seolah menolak permintaan Aska.


"Maaf tuan, saya tidak bisa, saya ingin berhenti saja."


Aska menghela nafas panjang.


"Kalau itu mau bibi, baiklah. Tunggu sebentar, saya ambilkan uang dulu." Kata Aska.


Aska kemudian pergi ke kamarnya. Dia mengambil uang dari dalam nakas.


"Padahal sekarang hanya uang ini yang tersisa," Ucap Aska.


Setelah itu Aska kembali lagi menemui bibi Ira untuk memberikan uang tersebut.


Sejak satu hari yang lalu, Aska memang tidak pergi ke kantor. Dia hanya diam di rumah saja mengurus sang anak.


🥦


Siang ini di restoran.

__ADS_1


Bima dan Davina pergi ke restoran untuk makan siang bersama.


"Hah, itu Davina. Mesra sekali, oh ternyata dia selingkuh di belakang Aska." Batin Amara menatap lurus .


Amara tersenyum mengambang dan dia langsung saja menghampiri dengan membawa menu.


"Wah....hebat sekali kau....." Ucap Amara datang menghampiri.


Davina terperanjat saat menyadari ada Amara. Dia langsung melepaskan genggaman tangan Bima dan bangun dari duduknya.


"Amara, kau bukannya kau sudah di pecat?" Tanya Davina.


"Cih.....kau benar-benar wanita menjijikan," Ejek Amara.


"Tutup mulutmu! aku bukan wanita seperti itu!" Bentak Davina seperti orang yang ketakutan.


"Benarkan? kau wanita menjijikan. Buktinya kau mesra dengan pria lain." Tutur Amara.


"Hah, dasar sok tahu!" Ketus Davina.


"Perlukah aku memberitahu Aska atas apa yang baru saja ku lihat?" Tanya Amara dengan senyum menyeringai.


Davina begitu geram akan penuturan dari Amara. Dia langsung saja mengangkat tangannya, hendak melayangkan satu tamparan ke wajah Amara. Namun belum sempat tangan itu mengenai pipi Amara, tangan Davina sudah di tepis oleh Ansel yang tiba-tiba muncul.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Ansel.


"Hei....lepaskan tanganku, siapa kau berani ikut campur!" Seru Davina. Suasana semakin runyam.


Bima hanya diam saja seperti orang bingung yang tidak tahu harus melakukan apa.


"Sedikit saja kau menyentuh Amara, maka aku tidak akan tinggal diam!" Ucap Ansel melepaskan tangan Davina dengan kasar.


"Aw......." Rintih Davina kesakitan.


"Jangan sok-sok jadi pahlawan, ini urusanku dengan dia!" Kata Davina.


"Pergi dari sini..." Ujar Ansel dengan wajah dingin.


"Hei....siapa kau, kenapa berani mengusir ku dari sini? memangnya ini restoran punya nenekmu?" Tanya Davina tertawa kecil.

__ADS_1


"Restoran ini sekarang milikku dan aku tidak butuh orang sepertimu!" Jelas Ansel membuat Davina tak percaya.


"Apa kau bilang, restoran ini milikmu?" Tanya Amara juga tak percaya.


Ansel mengerjakan matanya sejenak, dia baru saja keceplosan.


"Iya, aku telah membeli restoran ini. Dan kau wanita ular, pergilah dari sini!" Usir Ansel pada Davina.


"Dav....lebih baik kita pergi saja dari sini." Ajak Bima, dia meraih lengan Davina dan langsung membawanya pergi.


"Tapi Bim.......awas saja kau Amara!" Tukas Davina menatap tajam.


Setelah kepergian Bima dan Davina, Amara langsung saja melontarkan beberapa pertanyaan kepada Ansel.


"Sejak kapan kau membeli restoran ini?" Tanya Amara.


"Lantas kenapa kau tidak pernah cerita atau sekadar memberitahuku tentang itu?"


"Sudahlah, Amara. Tidak usah di bahas lagi." Ujar Ansel.


Amara hanya diam, dia lalu menganggukkan.


"Ayo kita berkencan malam ini." Ucap Ansel.


"Hah, kencan?"


"Ya, aku akan menjemputmu nanti di apartemen."


Belum saja menjawab, Ansel berlalu begitu saja dari hadapan Amara.


"Jadi alasannya membeli restoran ini hanya karena aku?" Tanya Amara tak percaya saat dirinya sedang asik mengobrol.


"Iya...namanya juga orang cinta, pasti apa saja akan di lakukan. Tapi kenapa sepertinya kau tidak peka-peka." Ucap Airin.


"Saat waktu itu di taman, dia seperti orang yang ingin mengungkapkan perasaannya, tapi aku langsung saja menolak secara halus. Karena aku tahu kemana dia akan membawa pembicaraan tersebut." Ujar Amara.


"Dia tampaknya baik dan tulus. Lalu kenapa kau menolak dirinya?" Tanya Airin.


"Aku tahu, dia orang yang baik. Aku sangat tahu bahwa dia orang yang tulus. Namun masalahnya, aku.....aku takut jika akhirnya harus terluka lagi." Jelas Amara.

__ADS_1


"Coba saja, buka hatimu untuknya dan berilah dia kesempatan." Kata Airin.


Amara hanya tersenyum mendengarnya.


__ADS_2