Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 47


__ADS_3

🥦Happy Reading🥦


"Mas.....mas......." Teriak Davina pagi-pagi.


"Ada apa?" Tanya Aska.


"Aku mau berangkat kerja, tapi bibi Ira hari ini sedang izin untuk pulang kampung selama dua hari. Ini Terra kau urus dulu ya," Ujar Davina yang sedang menggendong anaknya.


"Loh, ta-tapi kan aku....aku juga kerja sayang," Ucap Aska. "Kenapa tidak kau bawa saja?" Tanya Aska.


"Aduh mas.....mana bisa aku kerja bawa anak." Kata Davina. "Sekarang aku lagi buru-buru ini. Ah, atau kau antar saja ke rumah orangtuaku." Titah Davina sambil memberikan Terra pada Aska.


Setelah itu Davina pun melenggang pergi dari hadapan Aska.


Aska hanya bisa menghela nafas panjang. Sambil menggendong sang anak, Aska melangkah menuju ke ruang makan berniat untuk sarapan terlebih dahulu.


Namun apa yang ia dapat lagi-lagi hanya meja makan yang kosong. Davina, istrinya sama sekali tak menyiapkannya sarapan.


Aska dengan perut laparnya pun memilih pergi ke kamar untuk bersiap-siap pergi mengantar Terra ke rumah orangtua Davina.


🥦


"Terima kasih karena kau sudah mau mengantarku," Ucap Amara saat turun dari mobil Ansel.


"Baiklah, sama-sama."


"Oh ya, hati-hati dijalan ya..."


Ansel tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu."


Amara mengangguk. Setelah Ansel benar-benar pergi, Amara pun baru melangkah masuk ke dalam restoran.


Siang harinya.

__ADS_1


Di sudut restoran, tepatnya di sebuah kursi, Amara melihat ada seorang pria yang tidak asing baginya sedang duduk seorang diri.


"Silahkan di pilih menunya..." Ujar Amara menyodorkan menu.


Pria yang sedang tertunduk itu tak menggubris, ia malah menegakkan pandangannya dan menoleh ke arah sumber suara.


Keduanya pun saling beradu pandang. Senyum Amara seketika memudar saat melihat pria tersebut yang tak lain adalah mantan suaminya sendiri.


"Amara......" Lirih Aska perlahan bangun dari duduknya sambil menatap lurus Amara.


Suasana semakin canggung , ketika mereka saling memandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Rasanya sudah lama mereka tidak pernah bertemu kembali. Terakhir hanya waktu di pengadilan saja.


Amara memalingkan pandangannya, entah mengapa saat melihat Aska, dia malah teringat masa lalunya yang pahit.


"Silahkan di pilih menunya......" Ujar Amara tanpa menatap ke arah Aska.


Tapi Aska hanya diam tak menghiraukannya. Dia malah menatap nanar Amara.


"Bagaimana dengan kabarmu selama ini?" Tanya Aska.


Aska meraih lengan Amara. "Amara, mari kita bicara sebentar." Pinta Aska.


"Lepaskan!" Ujar Amara tapi genggaman tangan Aska sangat kuat.


"Aku mohon Amara, ayo kita bicara sebentar saja."


Karena terus di paksa oleh Aska, Amara pun akhirnya mau memberi waktu untuk Aska berbicara.


Amara duduk di hadapan Aska.


"Senang bertemu denganmu, bagaimana dengan kabarmu selama ini? apakah baik-baik saja?" Tanya Aska.


Amara sejenak terdiam.

__ADS_1


"Selama ini aku berusaha melupakan rasa sakit yang pernah kau berikan, tapi sampai saat ini rasa sakit itu masih membekas. Karena mu hidupku jadi begini, dan kau masih bertanya, apa kabarku baik-baik saja." Batin Amara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, kabarku baik." Jawab Amara menghela nafas panjang.


"Ternyata kau baik-baik saja. Aku lega mendengarnya." Ucap Aska.


"Bukankah kau di pecat dari restoran ini?" Tanya lagi Aska.


"Kau tahu dari istrimu?" Tanya balik Amara.


"Em....dia bercerita padaku." Jawab Aska.


"Hanya hal seperti itu saja yang ingin kau bicarakan? sungguh kau hanya membuang waktuku saja." Amara bangun dari duduknya.


"Bukan begitu, Amara." Aska juga bangun dari duduknya.


"Cih....." Amara berdecih. Dia memilih untuk beranjak dari hadapan Aska.


"Aku merindukanmu, Amara." Ucap Aska.


Langkah Amara seketika terhenti saat mendengar apa yang baru saja Aska ucapkan.


Perlahan Amara membalikkan badannya dan menegakkan pandangannya menatap nanar Aska yang berdiri di hadapannya.


"Aku selalu merindukanmu." Ucap lagi Aska dengan wajah yang penuh penyesalan. "Dan sejujurnya aku datang kesini ingin meminta maaf padamu." Kata Aska tertunduk karena benar-benar merasa bersalah atas apa yang dulu ia lakukan kepada Amara.


"Kau minta maaf untuk apa?" Tanya Amara dengan tatapan tajam.


"Enak sekali bilang maaf semudah itu? kau tahu? bahkan sampai saat ini, sekeras apapun aku mencoba melupakan luka yang kau berikan padaku dulu, tetap saja semua itu masih terbayang-bayang dalam ingatanku. Lalu sekarang kau datang untuk minta maaf semudah itu?" Tanya Amara menahan air mata yang hendak runtuh.


Aska sedikit tidak menyangka melihat sikap Amara yang benar-benar berubah. Dia sangat tahu bahwa Amara adalah sosok wanita yang lemah lembut, tapi kenapa dia berbicara seperti itu? baru sekarang Aska melihat kemarahan dari Amara.


"Aku tahu aku salah Amara, aku telah membuat hidupmu menderita. Tapi tolong, maafkan aku Amara." Pinta Aska.

__ADS_1


Tak terasa air mata yang Amara tahan sejak tadi, kini malah jatuh membahasi pipinya. Tapi dengan sigap ia pun langsung menyekanya.


"Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin membahas hal itu lagi." Kata Amara. Dia kemudian berlalu begitu saja.


__ADS_2