Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 52


__ADS_3

Sudah dua hari Aska dan Davina ada di atap yang sama tanpa pertemuan. Hingga pagi ini Aska melihat Davina keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Mau kemana kau?" Tanya Aska.


"Ke salon, mumpung libur." Jawab Davina sambil duduk dan mengambil roti dan selai yang berada di atas meja makan.


Aska menghela nafas panjang.


"Bisakah kau bersih-bersih saat ada di rumah?" Tanya Aska.


"Bersih-bersih apa, semua juga sudah bersih!" Jawab Davina tanpa menatap ke arah Aska.


Aska mengigit bibirnya seperti orang yang menahan perasaan emosi.


"Bersih apanya, coba lihatlah kondisi rumah ini, bagaikan kapal pecah. Piring kotor bertumpuk, cucian pun belum di cuci sampai menggunung." Jelas Aska, tapi terlihat Davina sama sekali tak menghiraukan ucapannya.


Davina hanya menikmati roti sambil mesem-mesem sibuk dengan ponselnya.


"Apa kau tidak dengar?" Tanya Aska merasa geram.


"Apa sih mas, gitu saja repot. Tinggal kerjakan sendiri apa susahnya?" Bentak Davina.


"Tidak usah atur-atur aku, aku mau senang-senang." Jawab Davina, suaranya lebih keras keras dari Aska yang bernada marah.


Mendengar jawaban dari Davina, hampir saja Aska terpancing amarah. Tapi dia berusaha untuk menahan diri dan bersabar menghadapi sikap Davina.


"Sungguh, sikapnya sangat jauh berbeda dengan Amara." Batin Aska.


Sore menjelang malam, hujan turun dengan begitu derasnya membasahi bumi. Entah sudah berapa lama Aska menunggu kepulangan Davina yang tak kunjung pulang.

__ADS_1


Dia benar-benar merasa khawatir karena anaknya tiba-tiba mengalami demam, seluruh tubuh terasa panas. Sudah berulang kali menghubungi Davina, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


"Keterlaluan Davina, bilangnya ke salon kenapa sampai jam segini belum juga pulang!" Gerutu Aska.


Pria itu pun memutuskan untuk pergi bersama sang anak menuju ke rumah sakit.


Sementara Davina saat ini baru saja habis melakukan enak-enak di hotel bersama Bima.


"Kenapa dia menghubungiku sebanyak ini?" Tanya Davina saat membuka ponselnya. Dia lalu menelpon balik Aska.


"Hallo....ada apa kau meneleponku?" Tanya Davina.


"Dimana kau, kenapa baru mengangkat teleponku?" Tanya Aska dengan nada kesal.


"Ah....aku sedang sibuk dan baru buka ponselku." Jawab Davina dengan santai.


"Hah, benarkah? baiklah, aku akan segera kesana!" Ujar Davina dengan nada sedikit kaget.


"Kenapa, suamimu?" Tanya Bima yang berada di samping Davina.


"Aku harus pergi sekarang, anakku masuk rumah sakit." Jawab Davina.


Wanita tanpa sehelai benang itu dan tubuh hanya di tutupi selimut pun segera beranjak dari tempat tidur. Dia buru-buru memakai kembali pakaiannya lalu setelah itu bergegas pergi dari hotel tersebut.


****


"Kita mau kemana sekarang?" Tanya Amara.


"Ke rumah sakit, ayahku baru saja di larikan ke rumah sakit." Ujar Ansel dengan wajah cemasnya.

__ADS_1


Saat menjemput Amara pulang kerja, Ansel mendapat telepon dari sang ibu bahwa ayahnya baru saja dilarikan ke rumah sakit.


Kebetulan rumah sakit yang di datangi Ansel dan Amara adalah rumah sakit yang sama, dimana Aska pergi membawa anaknya.


Tepat saat di koridor rumah sakit, dari arah berlawanan Aska tanpa sengaja berpapasan langsung dengan Amara.


Amara tertegun saat melihat adanya Aska. Langkah mereka sama-sama terhenti dan mereka saling memandangi satu sama lain.


Aska berdiri mematung sambil menatap Amara dengan tatapan nanar. Dia juga melihat adanya Ansel yang berdiri di samping Amara.


Cukup lama mereka beradu pandang, hingga Ansel merasakan posisi yang tak enak.


"Amara....." Lirih Aska.


"A-Aska......" Balas Amara juga menatap nanar Aska.


"Mas.....mas...bagaimana dengan keadaan anak kita, mas?" Tanya Davina yang berlari menghampiri Aska.


Aska tertunduk tak menjawab pertanyaan dari Davina.


Davina lalu menoleh ke arah Amara yang tepat berdiri di hadapan Aska.


Melihat adanya Davina, Amara pun langsung menghela nafas dan memalingkan pandanganya.


"Kau....Amara.....sedang apa kau disini?" Tanya Davina dengan ketus. Tapi Amara hanya diam tak menjawab.


"Amara....ayo...." Ujar Ansel sambil merangkul bahu Amara, mereka berdua lalu melangkah pergi dari hadapan Aska dan Davina.


Entah kenapa saat melihat Ansel merangkul bahu Amara, rasanya ada kecemburuan yang melintas di dirinya.

__ADS_1


__ADS_2