Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 46


__ADS_3

"Apa? aku tidak jadi di pecat?" Tanya Amara dalam percakapan teleponnya.


"Iya Amara, jadi besok kau sudah bisa masuk kembali seperti biasanya." Jawab Airin.


"Baiklah kalau begitu, aku benar-benar senang mendengarnya." Ucap Amara.


"Aku akan memberitahu pada Ansel nanti, kalau aku tidak jadi di pecat!" Kata Amara tersenyum.


🥦


Sore menjelang malam.


Aska baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Baru saja masuk, dia melihat Terra anaknya sedang bermain bersama bibi Ira di ruang tengah.


"Loh bi, Davina belum pulang ya?" Tanya Aska.


"Belum tuan," Jawab bi Ira.


Aska menghela nafas panjang, pria itu kemudian pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Aska duduk di tepi ranjang sambil merenungi dirinya sendiri. Kepergian Amara membuat hidupnya begitu hambar. Hari-hari yang ia lalui terasa sunyi dan hidupnya pun sama sekali tak bergairah.


Istrinya Davina, akhir-akhir ini terlihat begitu sibuk dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya.


Beberapa saat kemudian, Aska turun ke lantai bawah untuk makan malam. Dia pikir Davina sudah pulang, ternyata belum juga. Hingga Aska selesai makan dan jam sudah menunjukan pukul delapan lewat, istrinya tak kunjung pulang.


"Kemana perginya Davina? kenapa jam segini belum pulang-pulang?" Tanyanya sedikit gelisah.


Sudah dari tadi dia menghubungi Davina, tapi Davina tidak bisa di hubungi.


Sampai seketika di kuping Aska terdengar suara deru mobil berjalan memasuki halaman rumah. Aska yakin itu mobil yang di kendarai Davina.


Aska lalu bergegas menuju ke arah pintu. Saat Davina masuk ke dalam rumah, Aska begitu tertegun saat melirik kedua tangan Davina membawa beberapa tentengan paper bag.


"Dari mana kau? kenapa jam segini baru pulang? terus itu, apa kau habis pergi berbelanja?" Tanya Aska.


"Mas.....aduh bawain dulu dong, berat nih!" Pinta Davina tanpa menjawab pertanyaan dari Aska.


Aska pun membawakannya dan mengikuti langkah Davina yang terhenti di ruang tengah.


"Taruh saja di atas sofa!" Titah Davina.


"Maaf ya mas, hari ini aku telat pulang karena tadi aku pergi berbelanja sama teman-temanku." Jelas Davina.


"Kau berbelanja sebanyak ini?"

__ADS_1


"Aduh mas, toh lagian aku juga sudah lama tidak pergi berbelanja." Ucap Davina.


"Apa kau tidak memikirkan anak kita? dia dari tadi menangis, mungkin saja dia butuh Asi mu!" Kata Aska.


"Aku capek mas, aku sedang tidak ingin beradu mulut dengan mu. Jadi aku mau mandi dan beristirahat dulu." Ujar Davina dengan sinis menatap Aska lalu berlalu begitu saja.


"Davina......Davina......Davina......" Panggil Aska tapi tak dihiraukan.


Aska mengusap kasar rambutnya, sikap Davina benar-benar keterlaluan.


🥦


Sementara Amara saat ini sedang sibuk dengan kegiatan memasaknya. Amara berkutat dengan bahan dan alat-alat masakan.


Malam ini dia memang sengaja memasak makanan istimewa untuk dia sajikan pada Ansel yang mungkin sebentar lagi akan datang.


Amara menata makanan yang dia masak di atas meja makan.


Amara lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri yang sudah bau keringat.


Beberapa saat kemudian Amara telah selesai dan langsung keluar dari kamarnya. Namun dia terkejut saat melihat Ansel yang sudah duduk santai di sofa depan televisi.


"Hah, kau sejak kapan disini? kenapa bisa masuk? padahal aku tak membukakan mu pintu!" Ucap Amara.


"Kau lupa ya kalau aku tahu sandi apartemen mu." Kata Ansel tersenyum.


"Aku seperti mencium bau harum masakan..." Lirih Ansel.


"Ayo kita makan malam bersama," Ajak Amara.


"Boleh juga, aku juga sangat lapar ini." Ujar Ansel.


Di meja makan, Ansel tertegun saat melihat beberapa sajian makanan istimewa yang berbeda-beda.


"Wah.....apa kau menyiapkan semua ini untukku?" Tanya Ansel dengan percaya diri.


"Iya, aku menyiapkan semua ini untukmu. Makanlah sepuas mu, karena suasana hatiku sedang senang saat ini." Kata Amara.


"Apa alasannya?" Tanya Ansel.


"Aku....aku tidak jadi di pecat!" Jawab Amara tersenyum simpul.


"Oh ya, baguslah kalau begitu! aku ikut senang mendengarnya." Ucap Ansel pura-pura tidak tahu.


Mereka berdua pun akhirnya menikmati makan malam bersama.

__ADS_1


Setelah makan, mereka lalu duduk di depan televisi. Amara mengajak Ansel untuk menonton Drakor bersama. Ansel pun mengiyakan ajakan dari Amara.


Amara mematikan lampu agar suasana menjadi tenang. Tak lupa dia juga mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dalam kulkas untuk menemani mereka.


Saat sedang serius menonton, tiba-tiba ada adegan panas diatas ranjang yang begitu mesra. Seketika membuat Ansel dan Amara saling mengalihkan pandangannya. Terlihat wajah keduanya begitu sangat canggung.


"Ehem....." Ansel sengaja berdehem untuk mencairkan suasana.


Amara dengan senyum yang di kulum melirik ke arah Ansel.


Sebagai seorang lelaki yang normal, tentu saja ketika melihat adegan seperti itu membuat mentimunnya mengeras. Apalagi sekarang dia hanya berduaan saja dengan Amara.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Amara yang juga salah tingkah.


Ansel menggeleng pelan lalu tersenyum. "Tidak apa-apa."


Rasanya ingin sekali Ansel mencium Amara, tapi dia takut jika Amara nanti akan marah padanya.


Malam semakin larut, tapi drakor yang di tonton Amara dan Ansel belum juga habis sehingga membuat Amara yang duduk bersebelahan dengan Ansel, perlahan mulai menyandarkan kepalanya di bahu Ansel sampai ketiduran.


"Astaga di malah ketiduran." Batin Ansel.


Dia sejenak mematung lalu perlahan mulai menepatkan posisi Amara dengan benar. Ansel bergerak pelan karena takut jika menganggu Amara tidur.


Amara tidur di pangkuan Ansel. Pria itu perlahan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Amara lalu terpampang senyum mengambang saat menatap jelas wajah Amara yang sangat cantik dan anggun itu.


"Aku sangat menyukaimu, Amara. Hingga sulit untuk di jelaskan. Walaupun perasaan ini tak terbalas, aku tidak masalah. Aku tak akan menyerah." Batin Ansel seraya membelai wajah Amara.


Besok paginya, Amara perlahan bangun dari tidurnya. Dia mengerjakan matanya berulang kali demi menyesuaikan pandangannya yang terasa kabur.


"Rupanya aku ketiduran tadi malam," Ucap Amara. Dia begitu kaget saat melihat dirinya ada di pangkuan Ansel dan melihat Ansel sedang tidur dengan posisi duduk.


Sontak dia langsung saja bangun dari tidurnya lalu duduk.


Ansel tiba-tiba terbangun karena merasa terganggu.


"Kau....jadi semalam....semalam aku tidur di pangkuan mu?" Tanya Amara merasa malu.


"Ish....kau mengagetkanku saja." Ucap Ansel.


"Iya kemarin malam kau ketiduran, aku merasa sungkan jika harus membangunkan mu." Jelas Ansel.


"Memalukan...." Lirih Amara.


Dilihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh kurang.

__ADS_1


"Sudah jam segini, aku kesiangan bangun. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat kerja!" Kata Amara beranjak dari sofa.


"Cih......" Ansel berdecih. "Aku akan mengantarmu sekalian!" Ucap Ansel.


__ADS_2