Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 48


__ADS_3

Dengan langkah gontai dan rasa perih di dada, Aska pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut.


"Hei.....kau habis menangis ya?" Tanya Airin saat melihat mata Amara yang berair.


Pertanyaan Airin membuat Amara seketika terbuyar dari lamunannya yang sedang menatap kepergian Aska.


"Ah.....tidak....aku tidak apa-apa." Jawab Amara memberikan setengah senyumannya.


"Hem.....baiklah...."


Aska masuk ke dalam mobilnya dan kemudian berlalu begitu saja dengan pikiran yang berkecamuk.


Sore menjelang malam, Aska yang baru saja selesai dengan pekerjaannya pun langsung saja pergi menuju ke rumah mertuanya untuk menjemput anaknya.


Pukul enam lewat, Aska telah sampai di rumahnya sendiri. Dia turun dari mobil lalu menggendong anaknya.


Aska yang hendak masuk tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara deruan mobil yang datang. Dia berbalik badan dan mengamati siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut. Mobil itu berhenti persis di halaman rumah nya.


Turun seorang wanita dari dalam mobil itu yang tak lain adalah Davina, istrinya sendiri.


"Terimakasih, hati-hati di jalan!" Ujar Davina.

__ADS_1


Seorang pria yang ada di dalam mobil pun hanya mengangguk tersenyum. Pria itu adalah Bima, rekan kerja Davina.


Bima juga melihat keberadaan Aska yang sedang berdiri mengendong anak. Dia hanya tersenyum pada Aksa, lalu berlalu begitu saja.


Aska seperti orang yang naik darah saat melihat istrinya pulang bersama pria lain.


"Eh....mas....sudah pulang ternyata." Sapa Davina.


"Siapa dia? kenapa kau pulang bersama pria lain? dimana mobilmu?" Tanya Aska dengan jelas.


"Oh....itu, itu Bima, rekan kerjaku. Mobilku tadi tiba-tiba mogok, untung saja dia mau menolong dan mengantarku." Jelas Davina.


"Yakin dia cuma rekan kerja? soalnya kau dengan dia terlihat begitu mesra tadi." Ujar Aska.


Aska tidak tahu kenapa sikap Davina jadi seperti itu? padahal dia hanya bertanya baik-baik tapi mengapa Davina malah membentaknya.


Malam harinya.


Aska baru saja menidurkan Terra. Dia keluar dari kamar Terra dan langsung melangkah menuju ke ke kamarnya dengan maksud ingin menyuruh Davina untuk memasak makan malam.


Tepat di depan pintu kamar saat Aska hendak memutar knop pintu, dia mendengar suara cekikikan dari dalam kamar.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" Batin Aska. Dia pun langsung saja membuka pintu dan masuk ke dalam.


Davina yang sedang menyandarkan diri di dipan sambil mesem-mesem menggenggam ponselnya, seketika kaget dengan kedatangan Aska yang tiba-tiba.


"Mas, kau mengagetkanku saja!" Kata Davina sambil cepat-cepat dia mengunci ponselnya.


"Aku dengan kau cekikikan dari tadi, ada apa memangnya?" Tanya Aska.


Davina tersenyum. "Oh i- tuu...aku tadi lagi lihat Vidio lucu mas." Ucap Davina terbata-bata karena ia berbohong.


Aska menghela nafas panjang, hampir saja ia berprasangka buruk terhadap istrinya.


"Untung saja tidak ketahuan.." Batin Davina.


"Aku lapar, apa kau tidak masak untuk makan malam?" Tanya Aska.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memasak dulu untukmu." Ujar Davina beranjak dari ranjang lalu melangkah keluar kamar.


Beberapa saat kemudian, Davina telah selesai memasak. Dia menyodorkan semangkuk mie instan ke hadapan Aska yang sedang duduk menunggu di meja makan.


"Makanlah," Ucap Davina.

__ADS_1


Aska sejenak menatap semangkuk mie tersebut. Dia malah teringat pada kenangannya dulu saat makan mie bersama Amara. Sangat indah untuk di lupakan, apakah bisa terulang kembali?


Entah mengapa, saat makan bersama Davina rasanya biasa- biasa saja. Tapi mengapa saat makan bersama Amara walaupun itu hanya semangkuk mie rasanya begitu sangat istimewa?


__ADS_2