Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 64


__ADS_3

Acara pernikahan berjalan dengan lancar tanpa adanya halangan. Para tamu menikmati semua hidangan yang ada. Senyum ceria Ansel, Amara dan keluarganya menghiasi momen yang tidak bisa terlupakan oleh kedua pasangan tersebut.


Hari yang indah pun berlalu. Keesokan harinya, Ansel dan Amara yang sudah resmi menikah, memilih untuk pindah ke rumah baru. Rumah mewah dengan halaman luas di penuhi tanaman yang berwarna hijau membuat suasana begitu nampak bagus dan sejuk. Rumah baru ini adalah pemberian dari kedua orangtua Ansel sebagai hadiah pernikahannya. Tak hanya itu, orangtua Ansel juga menghadiahi Amara sebuah mobil sedan yang harganya seharga ginjal.


Pagi ini Amara dan ibunya yang juga ikut tinggal bersama, sedang sibuk dengan kegiatan memasaknya. Karena sebentar lagi Ansel akan bangun. Amara dan ibunya berkutat dengan bahan dan alat-alat masakan.


Yah, setelah menikah Amara memang meminta ibunya untuk tinggal bersama dengan dirinya.


Amara merasa kasihan jika ibunya itu harus tinggal seorang diri.


Selang beberapa saat, Amara dan ibunya sudah selesai memasak.


Amara menata makanan di atas meja makan, sementara ibunya sedang membersihkan dapur.


Amara lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia ingin membangunkan suaminya.


"Mas...mas...bangun mas....." Ucap Amara sambil mengguncang tubuh Ansel.


Namun Ansel tak juga bangun dari tidurnya. Mungkin dipikir Amara karena efek kemarin kelelahan saat menerima tamu yang begitu banyak hingga larut malam.


Mereka juga belum sempat melakukan hubungan intim karena banyaknya tamu dan teman-teman Ansel yang datang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Mas...bangun dong, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!" Kata Amara dengan lembut sambil mengelus kepala Ansel.

__ADS_1


Ansel yang mulai merasa terganggu tidurnya, perlahan pun mulai terbangun. Dia mengerjapkan mata berkali-kali demi menyesuaikan pandangannya yang terlihat kabur.


"Sayang...." Ucap Ansel tersenyum mengambang lalu mengecup kening Amara.


"Sudah siang mas, ayo bangun. Aku juga sudah menyiapkan mu sarapan." Kata Amara.


"Benarkah? baiklah, kalau begitu. Aku mandi dulu!" Ujar Ansel lalu beranjak ke kamar mandi.


"Aku tunggu di bawah mas!" pungkas Amara lalu melangkah pergi dari kamar.


Beberapa saat kemudian, terlihat Ansel sudah menuruni anak tangga menuju ke arah meja makan.


"Eh itu nak Ansel....." Lirih Herlina.


"Ibumu mas, sebelum nya aku bertanya ke ibumu apa makanan kesukaanmu." Jawab Amara sambil tersenyum.


Ansel menarik kursi lalu duduk tepat di samping Amara.


"Emm.... enak sekali masakan ini," Ucap Ansel yang baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulut.


Amara hanya tersenyum haru mendengar pujian dari suaminya.


Sudah beberapa kali Ansel menambah nasi karena begitu kenikmatan memakan masakan yang dibuat oleh istri dan mertuanya itu.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Ansel pun bersendawa dan tak lupa mengucapkan rasa syukur.


"Amara....." Lirih Ansle.


"Em...iya ada apa mas?" Tanya Amara.


"Sebaiknya mulai sekarang kau dirumah saja, berhenti bekerja." Jawab Ansel.


"Lo...memangnya kenapa mas?"


"Karena aku tidak ingin melihatmu kelelahan sayang. Biar aku saja yang berkerja." Ucap Ansel.


"Tapi mas..aku..." Amara merasa bingung.


"Sudah lah Amara, lagi pula kau kan sekarang sudah jadi istriku biar aku saja yang berkerja." Tukas Ansel sambil mengelus rambut Amara.


"Suamimu benar Amara, lebih baik kau dirumah saja." Sambung Herlina.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menuruti kemauan mu mas." Kata Amara.


"Karena kau sudah menjadi istriku, maka restoran itu kau saja yang mengelola Amara." Pinta Ansel.


"Benarkah? kalau begitu terima kasih mas!" Ucap Amara begitu senangnya.

__ADS_1


Herlina yang menyaksikan itu pun juga ikut senang melihatnya.


__ADS_2