
"Sayang, aku sudah selesai." Ujar Ansel.
"Eh mas.....cepat sekali kau mandinya?" Tanya Amara.
Ansel hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Istrinya itu.
"Sudah sekarang giliran mu mandi. Ayo cepat, aku sudah tidak sabar soalnya!" Kata Ansel.
"Hem....iya...iya aku mandi dulu kalau begitu!"
Amara lalu mengayunkan kakinya masuk ke dalam Villa. Kamar mandi yang luas membuat Amara begitu nyaman hingga ia sangat menikmati mandinya.
Beberapa saat kemudian, Amara telah selesai mandi. Dia membuka kopernya berniat untuk mengambil pakaiannya. Namun Amara dibuat tertegun saat melihat isi koper tersebut.
Di dalam koper tersebut hanya ada beberapa lingeri dengan warna yang berbeda-beda.
Amara lalu mengamati pakaian yang kekurangan bahan itu, dirinya sungguh sangat tak percaya jika yang disiapkan ibunya hanya baju yang kekurangan bahan saja.
"Astaga ibu, apa-apaan ini?" Tanya Amara pada diri sendiri sambil mulutnya ternganga.
"Memalukan sekali, mana mungkin aku pakai pakaian seperti ini dihadapan Ansel." Kata Amara.
"Sayang.....kenapa mandi mu lama sekali....." Panggil Ansel dari luar.
"Ah.....iya mas.....tunggu sebentar!" Sahut Amara.
Amara begitu bingung ingin memakai pakaian apa. Lalu matanya tak sengaja melihat ke arah paper bag yang diberikan oleh ibu mertuanya tadi.
"Oh ya, apa ini?" Tanya Amara pada diri sendiri sambil meraih paper bag yang ada di samping koper.
Dia meraba paper bag tersebut dan mengeluarkan benda yang ada didalamnya.
Lagi-lagi Amara dibuat bingung, karena benda yang diberikan oleh ibu mertuanya itu ternyata adalah sebuah lingerie yang tak kalah jauh seksi dari lingeri yang ada di koper.
__ADS_1
Amara menghembuskan nafas kasarnya. "Cih.....kenapa harus begini." Lirih Amara.
Tak ada pilihan lain, akhirnya Amara pun memakai pakaian haram tersebut.
Amara menghela nafas lalu membuangnya perlahan. Dia kemudian memutar knop pintu dengan pelan.
"Mas....." Lirih Amara.
Ansel yang sejak tadi sudah menunggu diatas tempat tidur, kini langsung saja beranjak ketika melihat Amara yang keluar dari kamar mandi.
"A-Amara........." Ucap Ansel dengan mata membola memandangi Amara dari atas kebawah.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, aku jadi malu sekarang." Kata Amara sambil menundukkan pandanganya.
Ansel masih diam, sambil memandangi Amara dengan mata yang masih membola. Ansel sungguh begitu terpesona melihat Amara yang hanya mengenakan lingeri berwana merah.
Tanpa banyak basa basi, Ansel langsung saja melangkah mendekati Amara lalu ia tiba-tiba mengendong tubuh Amara dan menghempaskan nya ke tempat tidur.
Pasangan suami istri itu saling berpandangan. Canggung dan kaku mereka rasakan, namun hati mereka tetap berpacu sangat kencang sejak tadi.
Belum membalas, Amara masih kaku terdiam dan mencerna apa yang baru saja di lakukan suaminya itu.
Tak terasa pula sejak tadi burung peliharaan milik Ansel sudah terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kau hanya diam saja? berciuman saja payah!" Cibir Ansel saat melepaskan pagutan nya.
Merona, Amara berusaha menyembunyikan merah di pipinya karena malu. "Untuk hal seperti ini, aku masih belum berpengalaman. " lirih Amara dengan gugup.
"Aku akan mengajarimu." Ucap Ansel lalu kembali meraup bibir merah jambu istrinya dengan sangat lembut. Seakan menjadi candu, padahal baru sekali ia mencicipi nya tadi. Masih sama, desir aneh menerawang di hati Amara. Perlahan wanita itu membalas permainan suaminya hingga membuat Ansel melotot tidak percaya. Bagai angin yang mengajak nya terbang, bolehkan Ansel meminta lebih untuk malam ini?
Tangan kekar itu mulai nakal berjelajah menyusuri setiap inci lekuk tubuh dalam balutan lingeri merah transparan yang begitu meliarkan jiwa kelaki-lakiannya.
Ciuman semakin dalam dan panas. Ansel terus saja mencium Amara hingga ciuman itu berpindah ke leher jenjang sang istri. Lenguhan kecil yang keluar dari bibir Amara membuat Ansel tidak sabar melepaskan keperjakaannya.
__ADS_1
"Kita akan prot-prot sepuasnya malam ini." Bisik Ansel dan dijawab oleh sorot mata penuh cinta dari Amara.
Wajah wanita itu memerah menahan malu. Bahkan ia tidak bisa lagi mengontrol irama jantungnya yang sudah berdebar sejak tadi.
Hanya dengan lentikan ke dua jari, lampu kamar langsung mati dan menyisakan lampu temaram sebagai penerang.
Ansel menanggalkan lingeri yang dikenakan Amara lalu membuang nya sembarang. Pria itu terperangah ketika melihat dua bukit indah yang sengaja di tutupi istrinya menggunakan ke dua tangan. Tak sabaran, Ansel juga menanggalkan pakaian hingga pasangan itu sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.
Riak ranjang mulai bergoyang, ciuman semakin panas, tangan gatal mulai berpetualang bahkan kali ini sudah sampai di bagian sensitif.
Mencumbu di berbagai bagian tubuh, Ansel terus memberi stempel kepemilikan di tubuh istrinya. Sekali lagi, sebelum benar-benar ia melepas keperjakaannya, Ansel bertanya kepada Amara apakah ia siap.
Ansel mulai memainkan aksinya, memasukkan penghuni ke rumahnya. Buka main susah nya, dinding pertahanan milik Amara benar-benar sempit. Tak mau menyerah, Ansel terus berusaha memasukan benda pusaka nya.
"Sempit sekali punyamu!" Ucap Ansel.
"Arkh.....mas....!" Lenguh Amara dengan pandangan sayu, seakan meminta Ansel lebih brutal lagi.
Sekali dua kali tiga kali hentakan pusaka miliknya itu tidak juga masuk.
Sampai di hentakan ke empat yang begitu brutal, baru lah Ansel berhasil menerobos dinding pertahanan yang membuat Amara menjerit kesakitan.
Amara terus menjerit kesakitan tak kala merasakan ukuran pusaka Ansel yang lumayan besar. Rintihan perih tiba-tiba hilang ketika Ansel kembali ******* bibirnya dengan penuh nafsu. Berhenti sejenak memberi jeda agar bagian tubuh itu saling beradaptasi. Melihat istrinya yang mulai tenang, Ansel pun langsung melanjutkan permainan naik turun tak beraturan membuat irama.
Rintihan perih itu kini berganti dengan rintihan kenikmatan.
Amara betul-betul merasa sakit tapi juga nikmat yang teramat sangat dalam sampai-sampai membuat wanita itu lupa diri.
Desah*n demi desah*n terus saja keluar dari mulut keduanya.
Ansel begitu semangatnya menghujam pusaka nya sedalam mungkin karena dia merasakan kenikmatan yang mengigit-gigit.
Entah berapa lama Ansel dan Amara berprot-prot begitu mesranya, sehingga tetesan-tetesan keringat cinta membasahi tubuh mereka dan entah sudah berapa kali Amara di buat kejang oleh Ansel.
__ADS_1
Sampai beberapa saat kemudian, tenaga mereka pun sudah habis dan saking lelahnya Ansel dan Amara pun tertidur tanpa mengenakan sehelai benang pun.