
Tidak lama kemudian, sampailah mereka disebuah cafe di tepi pantai.
Aska membukakan pintu mobil untuk Amara hingga membuat mantan istrinya itu sedikit terkejut atas sikapnya. Sejenak mereka saling beradu pandang lalu Aska mengajak Amara untuk masuk.
"Pelayan!" Panggil Aska.
Pelayan pun segera datang menghampiri.
"Kau mau pesan apa Amara, minum? makan?" Tawar Aska.
"Minum saja, jus apel." Jawab Amara.
"Hanya itu saja?" Tanya lagi Aska.
"Em...itu saja."
"Jus apel satu dan kopi satu." Tutur Aska.
Pelayan pun segera pergi membuatkannya.
"Kenapa kau membawaku kesini,
sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Amara.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mu!" Kata Amara dengan sorot mata mengintimidasi.
Aska menghela nafas panjang. "Maafkan aku!" Ucap Aska.
Amara menatap mata elang milik Aska dengan penuh tanda tanya. "Maaf untuk apa?" Tanya Amara.
__ADS_1
"Maaf telah membuat hatimu berantakan, maaf karena dulu aku telah membuat hati mu terluka." Ujar Aska penuh penyesalan.
"Lupakan. Lagipula semua telah berlalu." Ucap Amara dengan nada dingin. "Apa kau mengajak ku bertemu hanya ingin membicarakan soal ini?" Tanya Amara.
"Sekarang aku baru sadar atas apa yang ku alami sekarang. Mungkin ini karma bagiku." Aska menghembuskan nafas pelannya.
"Aku tak mengerti maksudmu."
"Sekarang aku bisa membedakan mana wanita baik-baik dan mana wanita yang hanya sekedar memanfaatkan ku." Ucap Aska.
Amara tertawa renyah, "Berhenti membahas masa lalu Aska. Aku tidak suka!" Kata Amara.
"Kenapa? Apa kau sangat membenci ku?" Tanya Aska sedih.
"Jika aku membenci mu, kau mau apa?" Amara mulai kesal.
"Ya, kau memang layak untuk membenci aku yang brengsek ini."
"Sekali lagi aku minta maaf sedalam-dalamnya, Amara. Aku juga menyesal karena telah mengabaikan mu. Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menyembuhkan lukamu, tapi hanya itu yang bisa ku katakan." Jelas Aska dengan wajah sendu.
"Buat apa kau menyesal, lebih baik kau jalani hidupmu bersama istri dan anakmu itu." Ujar Amara.
Mendengar hal itu, Aska kembali menegakkan pandangannya dengan mata yang memerah.
Amara yang melihat Aska pun agak merasa heran.
"Apakah ucapan ku salah?" Tanya Amara.
"Aku sudah bercerai dengan Davina!" Jawab Aska.
__ADS_1
"Hah, kenapa kau bercerai?" Tanya Amara lebih lanjut dengan sedikit kaget.
"Karena saat aku bersamanya, aku merasa kesepian. Aku tidak bahagia." Jawab Aska.
Amara membuang nafas kasarnya. "Bukankah menikah dengan Davina adalah yang kau inginkan? lantas mengapa kau bercerai dari hanya karena alasan seperti itu?"
"Dia selingkuh di belakangku, selingkuh dengan rekan kerjanya sendiri." Ucap Aska. "Aku bahkan benar-benar seperti kehilangan jati diriku saat anak ku meninggal."
"Apa anak mu meninggal?"
Aska pun lalu menceritakan kepada Amara mengapa anaknya bisa meninggal.
"Hm.....pasti ini terasa berat bagimu...." Kata Amara setelah mendengar cerita Aska.
"Jadi, aku juga menyesal karena telah mengabaikan mu dulu. Maukah kau memaafkan ku dan kembali lagi padaku?" Tanya Aska dengan serius.
"Tidak akan!" Jawab Amara singkat dan tegas.
Amara sejenak terdiam sambil menatap nanar Aska. Wanita itu tanpa sepatah kata pun mulai beranjak dari duduk nya, bahkan minuman yang sudah di pesan pun belum ia minum.
"Mau kemana kau?" Tanya Aska juga beranjak dari duduk nya.
"Aku harus pulang. Kau hanya membuang waktu ku saja!" Ucap Amara sambil melangkah ke luar.
"Maaf Amara jika ucapan ku salah."
"Biar aku antar!" Kata Aska.
"Aku bisa pulang sendiri." Tolak Amara.
__ADS_1
Aska berusaha membujuk Amara namun wanita itu kekeh pada pendirian nya. Amara memanggil taxi kemudian wanita itu masuk ke dalam mobil. Aska hanya bisa pasrah ketika melihat mantan istri nya berlalu begitu saja.