Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 42


__ADS_3

_Happy Reading_


Pagi ini dikediaman Aska, sepasang suami istri itu sedang sarapan bersama di meja makan. Entah kenapa semenjak kepergian Amara dari rumah Aska, membuat Aska seperti merasa hampa.


Padahal hidup berdua dengan Davina adalah hal yang di diinginkannya sejak dulu. Tapi entak kenapa, pernikahannya dengan Davina terasa hambar.


Perasaanya tak dapat dibohongi, Aska sungguh merindukan sosok Amara. Biasanya Amara lah yang menyiapkannya sarapan pagi, pakaian untuknya dan air mandi untuknya. Tapi semua sudah tak sama lagi, Aska kerap melakukan semuanya sendiri.


"Sayang, kenapa wajahmu cemberut?" Tanya Davina. "Masakan ku tidak enak ya?"


"Em....tidak apa-apa sayang," Jawab Aska melanjutkan makannya.


"Tapi sayang, bisakah setiap harinya kau tidak memasak mie instan terus?" Tanya Aska.


"Kenapa memangnya?"


"Makan mie instan terus tidak baik untuk kesehatan." Ucap Aska menghela nafas.


Davina menghela nafas panjang , apa yang dikatakan Aska itu adalah benar.


"Baiklah, aku akan belajar memasak yang lain nanti!" Kata Davina tersenyum.


Aska melanjutkan makannya.


Davina hamil besar dan hanya tinggal menghitung hari untuk melahirkan, kini memutuskan untuk cuti sementara dari pekerjaannya.


Selesai sarapan, Davina pun mengantarkan Aska sampai ke depan pintu.


"Aku berangkat dulu." Ucap Aska.


"Baiklah!"


"Jangan lupa jika terjadi apa-apa segera hubungi aku!" Pinta Aska.


Aska memeluk Davina lalu mencium keningnya. Hal itu sudah biasa ia lakukan saat akan pergi bekerja.


Dia kemudian melangkah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya hingga sudah tak terlihat lagi di pekarangan rumah.


Davina melangkah masuk ke dalam rumah. Dia kembali lagi ke meja makan untuk membersihkan mangkuk kotor bekas mereka sarapan tadi.


Tiba-tiba saat mencuci piring, Davina sedikit merasakan rasa sakit di perutnya. Namun, rasa sakit itu semakin lama semakin bertambah sakit hingga membuat Davina panik.


Dia memegangi perutnya dan merasakan ada air yang mengalir di kakinya. Ternyata itu adalah air ketuban yang sudah pecah.


Davina benar-benar panik dan ia pun segera sekuat tenaganya berjalan ke arah telepon rumah untuk menghubungi suaminya.


Mendengar hal itu, Aska pun dengan cepat langsung memutar balik mobilnya.


Tak butuh waktu lama akhirnya Aska telah sampai di rumahnya. Dengan langkah cepat dia pun masuk menghampiri Davina yang sudah tergeletak lemas di lantai dengan suara rintihan.


Aska langsung saja mengangkat tubuh istrinya ke dalam mobil. Mereka lalu pergi ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Davina pun segera di tangani oleh Dokter. Aska hendak masuk ke ruangan dimana Davina di tangani, tapi seorang perawat memintanya untuk menunggu di luar.


Sejak tadi Aska mondar mandir di depan ruangan dengan perasaan gelisah. Ia takut jika Davina dan anaknya kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Aska.....Aska....bagaimana dengan keadaan Davina?" Tanya Herlina yang baru saja datang bersama suaminya.


"Davina sedang di tangani, Tante."


Tiba-tiba dari dalam ruangan terdengar bunyi bayi menangis.


Aska melotot menatap mertuanya, begitu juga sebaliknya. Mereka tak percaya jika Davina sudah melahirkan.


"Silahkan masuk,pak! istri bapak sudah melahirkan dengan selamat." Ucap perawat saat membuka pintu.


Aska lega mendengarnya, pria itu pun buru-buru masuk ke dalam.


🥦


🥦


🥦


Dua bulan kemudian.


Suara tangisan bayi membuat Aska seketika terbangun. Dia bangun dari tidurnya lalu melirik ke arah ranjang bayi yang berada di samping tempat tidurnya. Dilihatnya jam masih menunjukan pukul dua dini hari.


"Davina.....bangunlah.....Terra menangis!" Ujar Aska sambil menggoyang-goyangkan tubuh Davina.


"Aish.......aku ngantuk!" Ucap Davina menarik selimut dan melanjutkan tidurnya meski suara tangisan begitu keras.


Aska menghela nafas panjang, dia lalu turun dari tempat tidur dan langsung menggendong anaknya.


Pagi harinya, seperti biasa Davina menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Makanlah!" Davina menyodorkan mie instan ke hadapan Aska.


"Aku tidak makan." Ucap Aska singkat dengan wajah datar.


"Kenapa? apa kau tidak menghargai aku yang sudah memasak untukmu?" Tanya Davina mendengus kesal.


Tak ingin membuat keributan, Aska pun langsung memakan mie tersebut.


Davina menghela nafas. "Mas, sepertinya aku tidak sanggup jika setiap hari harus melayani mu." Kata Davina tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Tanya Aska menegakkan pandangannya menatap Davina.


"Lebih baik kita mempekerjakan seorang pembantu, agar dia bisa memasak, mengurus rumah dan mengurus anak kita juga." Jawab Davina.


"Davina, kau tahu sendiri, sekarang keuangan kita sedang krisis, bagaimana jika nanti kita tidak bisa membayarnya?"


"Ah.....mas....masalah itu gampang, sebentar lagi aku akan kembali bekerja dan gajih ku pun lumayan tinggi. Jadi jangan khawatir." Tukas Davina.


"Baiklah, terserah kau saja!" Kata Aska melanjutkan makannya.


🥦


🥦


🥦

__ADS_1


Sementara Amara dan Ansel hari makin hari, hubungan mereka semakin dekat tanpa adanya sebuah kejelasan.


Ansel mulai jatuh cinta kepada Amara semenjak mereka pertama kali bertemu. Tapi, Ansel tidak tahu apakah Amara juga memiliki perasaan yang sama padanya?


Jadi sepulang Amara bekerja, Ansel akan mengajaknya untuk pergi jalan-jalan sekaligus dia ingin mengungkapkan perasaanya pada Amara nanti.


Sebelum itu, Ansel pergi ke toko berlian untuk membeli sebuah cincin yang nantinya akan diberikan pada Amara, jika Amara menerimanya. Dia juga mampir ke toko bunga, karena ia tahu Amara sangat menyukai bunga.


Sore menjelang malam, Ansel datang menjemput Amara di tempat kerjanya.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Amara datang menghampiri Ansel yang berdiri di samping mobil.


Ansel melepas kacamata yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. Pria itu lalu menggeleng.


"Mau lama atau sebentar aku akan tetap menunggumu," Jawab Ansel tersenyum.


"Ah...kau bisa saja!" Ucap Amara yang mengira Ansel hanya bercanda.


Ansel membukakan pintu mobil untuk Amara, setelah itu mereka pun berlalu.


Di salah satu taman di sudut kota, Ansel memberhentikan mobilnya.


Taman yang di hiasi lampu-lampu berwarna kuning keemasan terlihat remang-remang. Mereka duduk di kursi panjang di taman itu sambil memakan es krim. Ansel sebenarnya tidak suka tempat seperti ini tapi ia bingung harus kemana.


Ansel memandangi wajah Amara yang duduk di sampingnya dengan mulut yang belepotan es krim. Terpancar rona kebahagian dari wajah Amara.


"Lihatlah, kau seperti anak kecil." Ucap Ansel bergeleng. Dia tersenyum lalu menghapus sisa es krim tersebut dengan jarinya.


Amara tertegun, seolah malu dengan Ansel.


"A-aku sangat suka dengan es krim," Kata Amara terbata-bata.


Beberapa saat kemudian, Ansel dengan penuh percaya diri pun mulai memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaanya pada Amara.


"Amara..... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Ansel.


"Boleh, silahkan saja."


"Apa kau tidak ingin menikah lagi?" Tanya Ansel membuat Amara terdiam seketika.


"Maaf, jika pertanyaan ku lancang, aku hanya ingin memastikannya saja." Kata Ansel.


Amara menggeleng. "Entahlah, aku belum kepikiran untuk menikah lagi."


Mendengar itu, Ansel pun hanya tersenyum tipis. Pria itu kemudian bertanya lagi.


"Amara.....kita sudah lama dekat, hmm.....aku yakin kau pasti tahu perasaanku bagaimana. Lantas apakah perasaanmu juga......?" Tanya Ansel. Belum habis Ansel berbicara, Amara langsung memotongnya. Amara sengaja memotong pembicaraan Ansel karena dia tahu kemana Ansel akan membawa pembicaraan tersebut.


"Tentu saja, kita sudah lama dekat. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku." Kata Amara dengan seulas senyum manis sehingga menampakkan barisan gigi yang putih.


Mendengar hal itu, Ansel tiba-tiba termangu dan senyum di bibirnya seketika menghilang. Ada perasaan kecewa, saat Amara berkata bahwa ia akan tetap menjadi sahabat sampai kapanpun.


***Jangan lupa dukungannya agar Author lebih bersemangat lagi🥦 like, komen dan Vote 🥦


Maafkan author karena baru sempat nulis🥺🥦***

__ADS_1


__ADS_2