
Malam telah tiba, tepatnya pukul tujuh malam.
Amara sudah siap dengan riasan serta dress yang ia beli tadi siang. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ternyata aku secantik ini...." Ucap Amara.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dia pun segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah Ansel yang menyuruh Amara untuk segera turun ke bawah..
Amara pun mengiyakannya, ia menutup telepon dan mengambil tasnya lalu bergegas turun menuju basement.
Langkah Amara menjadi pelan setelah melihat seorang pria yang tak asing berdiri di dekat mobil. Itu adalah Alden.
"Kau.....?" Lirih Amara sambil melirik ke sekelilingnya.
"Iya Amara, aku datang untuk menjemputmu!" Ujar Alden.
"Kenapa malah kau yang menjemput? dimana Ansel?" Tanya Amara tak mengerti.
"Aku hanya disuruh Ansel, jadi ikut saja." Ucap Alden lalu membukakan pintu mobil untuk Amara.
Amara dengan keheranan pun langsung saja masuk ke dalam mobil. Entah kemana Alden membawanya ia juga tidak tahu.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendari pun sudah berhenti di salah satu bangunan tinggi dan mewah.
Alden turun dari mobil lalu membukakan kembali pintu mobil untuk Amara.
"Turunlah, Amara. Ansel sudah menunggumu diatas." Ucap Alden tersenyum.
Amara tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
Dia lalu berjalan masuk ke dalam.
Sebuah cafe rooftop yang berada di atas atap bangunan, disitulah Ansel menunggu kedatangan Amara.
Amara begitu termangu saat dirinya sudah sampai di atap. Dia melihat taburan bunga yang seolah menjadi petunjuk jalan untuknya. Kemudian Amara menegakkan pandangannya, dan melihat dari jarak beberapa meter sudah ada Ansel yang berdiri tercengang ke arahnya.
Amara menghela nafas panjang, melihat Ansel yang menatapnya dengan senyuman. Tampilan Ansel kali ini benar-benar tidak seperti biasanya.
Sebaliknya dengan Ansel yang sedari tak sabaran menunggu Amara datang. Dia begitu terpukau saat melihat Amara datang. Ansel memandangi Amara dari atas kebawah, tak menyangka jika Amara akan secantik itu.
Dress berwarna biru navy yang hanya sampai ke lutut sehingga memperlihatkan kaki jenjang, putih dan mungil milik Amara sungguh membuat Ansel bergeleng kepala. Tak hanya itu, rambutnya yang ikal terurai di tiup oleh angin, malah semakin membuat Ansel terpesona.
__ADS_1
Amara perlahan melangkah maju sambil tersenyum memperlihatkan barisan gigi yang putih dan rata.
"Kau sudah lama menungguku?" Tanya Amara.
Ansel menghembuskan nafas kasarnya lalu menelan ludah.
"Em....lu-lumayan." Jawab Ansel terbata-bata.
Entah mengapa saat ini Ansel begitu gugup saat bertatapan muka dengan Amara secara dekat.
"Amara....kau sungguh cantik sekali malam ini." Ujar Ansel.
Amara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan ya secara perlahan.
"Tempat ini sangat bagus sekali." Kata Amara sambil memandang kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kota.
"Apa kau suka tempat ini?" Tanya Ansel.
"Em.....tentu saja, karena aku bisa melihat keindahan kota di malam hari." Jawab Amara.
"Tapi Ansel, kenapa disini hanya ada kita saja?"
"Tempat ini sengaja ku booking untuk kita berdua." Kata Ansel tersenyum.
"Kenapa Amara? apa kau tidak suka dengan makanannya?" Tanya Ansel.
"Makanan ini sangat mewah, sebelumnya aku tidak pernah makan makanan seperti ini." Ucap Amara.
"Benarkah? kalau begitu makan dan nikmatilah sepuas mu!" Tutur Ansel.
Mendengar itu Amara pun tersenyum mengambang. Akhirnya mereka berdua pun menikmati makan malam bersama dengan suasana yang begitu romantis.
Setelah selesai makan, Ansel pun memberanikan diri untuk membuka suara.
"Amara....."
"Em ......ada apa?" Tanya Amara.
"Langsung saja pada intinya." Kata Ansel.
Ansel bangun dari duduknya lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Amara.
__ADS_1
Amara termangu saat melihat Ansel yang berlutut di hadapan dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Amara.
"Aku mencintaimu." Jawab Ansel.
Ansel lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin. Lalu berkata :
"Will You Marry me?"
Deeg.......
Amara tercengang saat mendengar ucapan Ansel yang baru saja ia dengar. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak menyangka jika malam ini Ansel akan mengucapkan itu. Matanya berkaca-kaca namun tidak bisa di artikan kenapa.
"Aku harap kau tidak menolak, Amara. Karena aku benar-benar mencintaimu dan ingin segera menikahi mu." Kata Ansel berharap-harap cemas takut jika Amara akan menolaknya.
Ansel dengan perasaan yang berdebar, ia lalu menundukkan pandangannya dan memejamkan matanya. Apapun jawaban dari Amara, dia harus siap mendengar dan menerimanya.
"Maafkan aku, Ansel."
Deeg......
Mendengar kata itu sontak membuat sepasang mata Ansel terbuka. Dia kembali menegakkan pandangannya dan menatap sendu Amara.
"Jadi maksudmu, jawabannya kau menolak?" Tanya Ansel
"Em....maksudku maafkan aku karena aku tidak bisa menolak." Ucap Amara tersenyum simpul.
"Apa katamu? jadi kau....kau?"
"Em....aku mau menikah denganmu!" Ucap Amara sambil mengangguk.
"Terimakasih, Amara.....terimakasih karena kau sudah mau menerima ajakan dariku!" Kata Ansel dengan girangnya langsung berdiri dan memeluk erat Amara.
Amara yang juga ikut senang langsung saja membalas pelukan dari Ansel.
Suasana yang awalanya terasa dingin kini berubah menjadi hangat.
Setelah berpelukan cukup lama, Ansel pun melepaskannya.
"Aku akan memasangkan cincin ke jarimu!" Ujar Ansel tersenyum.
__ADS_1
Pria itu lalu memasangkan sebuah cincin ke jari manis milik Amara. Kemudian mereka berpelukan kembali.