Istri Tanpa Cinta

Istri Tanpa Cinta
Episode 38


__ADS_3

_Happy Reading_


Karena terus di desak oleh Ansel, Amara pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya, dengan di iringi Isak tangis. Ansel yang mendengar itu pun begitu terkejut bahkan ia menggeleng.


Pria itu benar-benar merasa sangat kasihan atas apa yang terjadi pada Amara. Dia pun lalu memeluk Amara dengan maksud ingin menenangkannya.


"Jika kau benar ingin bercerai, maka aku akan membantumu, tenang saja!" Kata Ansel sambil mengelus rambut Amara.


Tangis Amara semakin pecah dalam pelukan Ansel, entah mengapa Amara saat ini benar-benar merasa tenang saat di peluk oleh Ansel.


Sementara Aska pagi ini memutuskan untuk pergi menemui Davina di kediaman rumah orangtuanya.


Sepanjang perjalanan, tampak sekali raut wajah seperti orang yang sangat-sangat gelisah. Bagaimana tidak, pasti dia akan mendapatkan omongan pedas dari ayah Davina nanti.


Tidak lama, Aska pun telah tiba di rumah kediaman orangtua Davina.


"Tapi saya ingin menemui Davina om, istri saya!" Ucap Aska memohon pada Heru.


"Dasar biadab, enak saja, aku tidak akan sudi lagi jika Davina hidup bersama manusia seperti kau!" Hardik Heru.


"Davina istri saya om, saya datang kesini hanya ingin menjemputnya dan menyelesaikan semua nya secara baik-baik, om!" Kata Aska.


"Cuih......! jangan harap kau akan bertemu dengan Davina lagi!" Tukas Heru. "Aku tidak akan mengizinkanmu!"


"Ta-tapi om, Davina tetap istri saya dan dia juga sedang mengandung anak saya!"


"Ayah mana yang tidak sakit hati ketika melihat anaknya pulang ke rumah menangis-nangis!"


Tiba-tiba Davina dan Herlina pun keluar dari dalam rumah.


"Ada apa mas, pagi-pagi sudah ribut?" Tanya Herlina lalu menatap Aska yang berdiri di hadapan suaminya.


"Lihatlah pria satu ini, tidak tahu malu!" Ungkap Heru dengan perasaan jengkel.


"Mau apa kau datang kesini?" Tanya Davina menatap tajam Aska.


"Davina, aku kesini ingin menjemput mu pulang!" Jawab Aska meraih lengan Davina.


"Lepaskan!" Davina melepas tangannya dengan kasar.


"Dav......"


"Lihat, Davina saja tidak mau, jadi jangan di paksa!" Tutur Heru.


"Davina, kenapa kau seperti ini? ayo kita pulang, kita selesaikan baik-baik!" Ujar Aska.


"Tidak, aku tidak mau!" Seru Davina. "Aku tidak akan pulang jika kau masih belum menceraikan Amara!" Gumam Davina lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Davina......Davina....." Panggil Aska tapi tak di hiraukan.


Herlina yang menyaksikan itu pun hanya bisa diam membuang muka.


"Sudah, pergi kau sana!" Usir Heru lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Tinggallah hanya Herlina dan Aska yang berdiri mematung.


"Yang sabar ya nak Aska......" Ucap Herlina. "Menurut ibu, sebaiknya secepatnya saja kau menceraikan Amara!" Ujar Herlina.


Aska menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis pada Herlina.


"Sebenarnya tadi malam Amara sudah meminta cerai padaku," Lirih Aska.

__ADS_1


"Benarkah? lalu bagaimana?" Tanya Herlina sedikit terkejut.


"Tapi sekarang aku tidak tahu, dimana keberadaannya sekarang. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah tadi malam!" Jelas Aska.


"Amara, dimana kau nak!" Batin Herlina mulai merasa khawatir.


🥦


🥦


🥦


"Kau begitu cantik, siapa namamu sayang?" Tanya Alena saat mereka sedang makan bersama.


"Em.....Amara, tante!" Jawab Amara dengan gugup.


"Ayo.....ayo makanlah sekarang, biar kau cepat sembuh!" Alena lalu mengambilkan beberapa lauk pauk untuk Amara.


Amara melirik ke arah Ansel yang duduk tepat di sampingnya.


"Sudah, tidak apa-apa tidak usah malu tidak usah gugup, anggap saja rumah sendiri!" Kata Ansel tersenyum.


Setelah selesai makan dan mengobrol dengan kedua orangtua Ansel, Amara pun kembali ke kamar.


"Aku tidak enak jika berlama-lama disini!" Kata Amara.


"Kenapa?" Tanya Ansel.


"Ya aku tidak enak saja kepada orangtuamu, lagi pula statusku saat ini masih istri orang!"


"Iya aku tahu, tapi kau mau kemana jika bukan disini?" Tanya balik Ansel.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah pesan masuk dari Aska. Aska mengirim pesan tentang menanyakan dimana keberadaan Amara sekarang. Tapi Amara tak membalas pesan tersebut. Dia malah mematikan ponselnya.


"Apa kau mau tinggal di apartemen?" Tawar Ansel.


"Aku sama sekali tidak punya uang!" Ucap Amara.


"Soal itu jangan di pikir, aku akan membelikan apartemen untukmu!" Ucap Ansel.


"Jangan.....jangan....aku tidak mau menyusahkan mu! lagipula apartemen itu sangat mahal,"


"Sudahlah, tidak apa-apa! lagi pula aku orang kaya!" Kata Ansel sambil mengedipkan satu matanya pada Amara. "Kalau begitu kau mandilah, habis itu kita akan pergi!" Titah Ansel kemudian berlalu begitu saja.


Selang beberapa saat, Amara pun sudah rapi dengan pakaiannya. Wajah yang terlihat kucel kini terlihat lebih segar.


"Kau pamitan lah dulu pada ayah ibuku!" Titah Ansel yang menuruni anak tangga bersama Amara.


Amara mengangguk.


"Om....Tante.....Amara sekarang pamit pulang dulu!" Ucap Amara.


"Loh.....kenapa buru-buru?" Tanya Surya.


"Iya Amara, kenapa tidak menginap disini lagi? padahal om dan tante sangat senang kau berada disini!" Sambung Alena.


Amara lagi-lagi melirik ke arah Ansel. Dia sedikit tidak mengerti mengapa orangtua Ansel sebaik itu, padahal mereka baru saling mengenal.


"Sudah ku bilang, orangtuaku itu sangat baik!" Bisik Ansel.


Akhirnya setelah berpamitan, Ansel dan Amara pun segera pergi.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan.


Ternyata sudah ada Alden yang menunggu kedatangan mereka di lobby.


"Bagaimana dengan apartemen yang kau pilih?" Tanya Ansel.


"Tenang saja, ini adalah apartemen yang paling mewah dan mahal." Jawab Alden.


Huft..........


"Bagaimana, apakah kau menyukai apartemen ini?" Tanya Ansel pada Amara.


Amara hanya diam sambil sorot matanya memandangi sudut-sudut ruangan.


"Hei.....kenapa kau malah diam!" Tegur Ansel.


"A-apa kau tidak salah? apartemen ini terlalu mewah dan bagus untukku!" Kata Amara.


"Yang penting kau merasa nyaman tinggal disini!" Ucap Ansel.


🥦


🥦


🥦


Beberapa hari kemudian, saat Aska sedang duduk termenung di ruangan kantornya.


Salah satu karyawan mengetuk pintu, Aska pun langsung mempersilahkannya untuk masuk.


"Ada apa?" Tanya Aska.


"Maaf tuan, saya hanya memberikan ini pada tuan!" Jawabnya sambil meletakkan map coklat di atas meja di hadapan Aska.


"Hah, apa ini dari siapa?" Tanya lagi Aska.


"Tidak tahu tuan, yang jelas ini dari seorang wanita tadi!"


"Baiklah, kau boleh keluar!" Titah Aska.


Karyawan tersebut pun melangkah keluar dari ruangan Aska.


Aska dengan hati bertanya-tanya pun penasaran dengan isi map coklat tersebut. Dia pun segera membukanya.


Deeg.......


Aska sangat terkejut ketika melihat isi map tersebut. Ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Amara.


Aska lalu menghembuskan nafas kasarnya. Entah mengapa ia tidak rela jika Amara memberinya surat gugatan cerai.


Tiba-tiba ponsel Aska berdering, ternyata itu adalah Amara yang meneleponnya.


"Amara, apa-apaan semua ini!" Tanya Aska bangun dari duduknya.


"Bagaimana? aku harap sesegera mungkin untuk kau menanda tangani itu!" Ucap Amara lalu mengakhiri sambungan telepon dengan begitu saja.


"Amara......hallo....Amara......."


"Aish.....sial!" Aska mengusap kasar rambutnya.


Jangan lupa dukungannya Like, komen, dan Vote. Thanks you❤️🥀

__ADS_1


__ADS_2