
_Happy Reading_
Pasca satu bulan setelah perceraian, Amara sudah menjalani kehidupannya dengan begitu baik. Tidak ada lagi makan hati setiap harinya dan tidak ada lagi hal yang membuatnya terluka. Amara perlahan sudah bisa melupakan masa lalunya yang kelam.
Siang ini, Amara sedang duduk bersantai sambil menonton drama korea kesukaannya. Hal itu pun sudah menjadi rutinitasnya sekarang.
Dia sangat merasa tenang dan damai saat berada di apartemen sendiri.
Tentu saja, Amara setiap hari juga merasakan kebosanan, dirinya ingin sekali bekerja tapi dia tak tahu harus bekerja apa. Lagi pula dia tidak ingin jika harus terus mengandalkan dan merepotkan Ansel.
Wanita itu lalu beranjak dari sofa lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Dia memutuskan untuk pergi mencari lowongan pekerjaan tanpa memberitahu Ansel terlebih dahulu. Jika dia memberitahu Ansel, pasti Ansel akan melarangnya untuk bekerja.
Beberapa saat kemudian, Taxi yang di pesan oleh Amara pun sudah terparkir di depan. Ia langsung saja bergegas masuk ke dalam Taxi itu.
Amara berniat untuk datang ke sebuah restoran dimana sahabat lamanya bekerja di situ. Semenjak ia menikah dengan Aska, Amara tidak pernah bertemu dengan sahabatnya lagi.
Setibanya di depan restoran, Amara pun langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam restoran.
Amara di sambut hangat oleh sahabatnya itu yang bernama Arin.
"Amara.......sudah lama kita tidak bertemu!" Ucap Arin dengan mata yang berbinar-berbinar.
Amara langsung saja memeluk sahabat baiknya itu.
"Arin......aku sangat merindukan mu!"
"Aku juga,Amara. Kau kemana saja selama ini!" Tanya Arin sambil membalas pelukan dari Amara.
"Ayo, duduklah!" Titah Arin.
Amara tersenyum, lalu menarik kursi untuk duduk.
Tak banyak basa basi, Amara langsung saja pada intinya.
__ADS_1
"Arin, restoran ini ramai juga ya!" Kata Amara sambil matanya memandangi suasana sekitar.
Arin mengangguk. "Benar, aku saja sampai kewalahan akhir-akhir ini!" Ucapnya sambil menghela nafas panjang.
"Apakah restoran ini kekurangan karyawan?" Tanya Amara.
Arin menatap selidik Amara. "Ada apa, Amara?"
"Aku ingin sekali bekerja, mungkin saja restoran ini membutuhkan karyawan lagi." Ungkap Amara.
"Apa? kau serius?" Amara mengangguk.
"Kebetulan sekali, restoran ini kekurangan karyawan. Kalau kau benar-benar ingin, aku akan berbicara nanti pada atasanku. Pasti kau sudah langsung bisa masuk kerja besok!" Jelas Arin.
"Baiklah, aku benar-benar ingin bekerja disini." Kata Amara.
🥦
🥦
🥦
"Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Amara menghampiri.
"Hei, darimana saja kau? kenapa teleponku tidak kau angkat?" Tanya balik Ansel beranjak dari sofa.
"A-aku, aku habis dari tempat kerja Arin. Em, ponselku mati gara-gara habis baterainya!" Jawab Amara.
"Hah, siapa dia? apakah dia laki-laki?"
Amara menggeleng. "Bukan! Arin adalah sahabatku!" Kata Amara lalu mendudukkan pantatnya di sofa.
"Oh, aku kira kemana!" Ansel lalu duduk kembali.
__ADS_1
"Apa kau mau makan?" Tawar Ansel.
"Kebetulan aku sangat lapar, em aku akan memasakan mie instan dulu untukmu!" Ucap Amara bangun dari duduknya, tapi Ansel langsung meraih lengannya.
"Kau duduk manis saja, biar aku yang memasaknya!" Ujar Ansel lalu melangkah ke dapur mini bar.
Amara tertegun, dia tersenyum simpul menatap Ansel yang mulai berkutat dengan alat masak. Rasanya baru kali inilah ia di perlakukan baik oleh laki-laki.
Tidak lama kemudian, mie instan yang dimasak oleh Ansel telah matang. Mereka berdua pun makan bersama sambil bertukar cerita.
"Oh ya, mulai besok aku bekerja." Ucap Amara mengagetkan Ansel.
"Apa katamu, kerja! kerja apa dimana? kenapa kau tidak memberi tahuku terlebih dahulu?" Tanya Ansel mengernyitkan dahi.
"Di sebuah restoran tempat Arin bekerja. Sudahlah, lagipula aku sangat bosan jika setiap hari berada di apartemen." Jelas Amara.
"Tapi Amara, aku tidak ingin jika kau kelelahan." Kata Ansel.
"Ah.....tidak usah lebay, namanya juga bekerja, rasa lelah itu pasti ada."
Ansel hanya bisa menghela nafas panjang. Dirinya tak bisa lagi untuk berkata-kata.
Malam harinya, Ansel pun berpamitan pada Amara untuk pulang terlebih dahulu.
Sementara saat ini Aska dan Davina sedang menikmati makan malam mereka di luar. Aska sengaja mengajak Davina untuk pergi makan malam diluar dengan alasan ini adalah tanda permintaan maaf darinya.
"Akhirnya, tidak ada lagi benalu dalam kehidupan rumah tangga kita, Aska." Ucap Davina tersenyum puas.
"Apa kau senang sekarang?" Tanya Aska memalsukan senyumannya.
"Tentu saja, karena sekarang aku adalah wanita satu-satunya yang ada hatimu." Jelas Davina dengan percaya diri.
Aska menghela nafas panjang. "Iya sayang, kau wanita satu-satunya yang ada di hatiku sampai kapanpun." Ucap Aska, meskipun di hatinya ada sedikit keraguan.
__ADS_1
**Jangan lupa like, komen dan vote❤️**
**Terima kasih yang sudah mampir, semoga dilancarkan terus rezekinya***🙏❤️*