
Seminggu kemudian.
Pagi ini entah ada magnet apa yang membuat Amara malas untuk beranjak dari tempat tidur.
Satu tangan dipakai untuk mengelus tangan kekar suaminya yang melingkar di perutnya dan satu tangan lainya untuk memegang handphone. Amara sedang menonton vidio memasak. Niatnya mau masak untuk suaminya hari ini.
"Mas, mau aku buatkan ini?" Tanya Amara sambil menunjukan layar handphone.
"Boleh, sayangku!" Jawab Ansel.
"Kalau begitu aku mau masak dulu, mas!" Kata Amara lalu bangun dari tidurnya dan ia langsung saja menuju ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajah.
Beberapa saat kemudian saat sedang memasak, tiba-tiba Amara merasa begitu kaget karena tiba-tiba Ansel memeluknya dari belakang.
"Mas, aku kaget ih!!" Ujar Amara.
Ansel hanya diam tapi ia terus saja menciumi leher Amara.
"Mandi dulu sana, sebentar lagi aku mau selesai masaknya." Titah Amara.
"Tidak mau." Ucap Ansel.
Amara berusaha melepaskan diri dari pelukan Ansel. Tapi Ansel memeluknya dengan sangat erat.
"Aku lagi masak mas, jangan ganggu dulu dong...." Pinta Amara.
"Apa kau sudah selesai datang bulannya?" Tanya Ansel tepat di telinga Amara.
Amara diam masih belum menjawab pertanyaan suaminya.
"Sayang, aku sudah tidak tahan. Toh, lagian ini juga sudah seminggu. Pasti udah selesai kan?"
__ADS_1
"Iya mas, iya. Aku udah selesai datang bulannya!" Jawab Amara.
Wajah Ansel seketika berubah menjadi sumringah tak kala mendengar jawaban dari Amara.
"Apa yang benar? baguslah kalau begitu sayang!" Ansel langsung mengeratkan pelukannya.
"Mas....aku lagi masak!" Amara berdengung kesal tapi dia juga ikut sumringah melihat sikap suaminya itu.
Ansel lalu melepaskan pelukannya.
"Aku akan mandi sekarang. Habis kita sarapan nanti, kau segeralah siap-siap." Pinta Ansel.
"Siap-siap? memangnya kita mau kemana, mas?" Tanya Amara.
"Sudahlah, kau juga akan tahu nanti, aku mau mandi dulu!" Dengan langkah cepat, Ansel pun berlalu begitu saja dari hadapan Amara.
"Mas....mas....tapi kita mau kemana mas??" Panggil Amara dengan nada yang tinggi.
"Ah ibu....em entahlah Bu, Amara juga tidak tahu." Jawab Amara tersenyum malu.
"Amara......"
"Iya ada apa Bu?"
Dengan wajah tersenyum lebar, Herlina melangkah lebih dekat lagi ke arah Amara.
"Bagaimana, apakah kalian sudah ......"
"Belum Bu, Amara saja baru selesai datang bulan hari ini." Pungkas Amara yang sudah tahu kemana ibunya akan membawa pembicaraan ini.
"Ta-tapi ibu belum menjawabnya Amara."
__ADS_1
Amara menghela nafas panjang.
"Hem....pantas saja Ansel seperti orang kegirangan tadi!" Cibir Herlina.
Amara menata makanan yang dia masak diatas meja makan. Tak berapa lama, terdengar derap langkah kaki yang menuruni anak tangga.
Amara lalu menoleh ke arah tangga dan mendapati Arkan yang sudah berpakaian rapi.
"Loh mas.....kok pakaianmu bukan pakaian kerja?" Tanya Amara heran ketika melihat suaminya yang berpakaian necis.
Arkan hanya tersenyum sambil melangkah lebih dekat lagi ke meja makan. Pria itu menarik kursi lalu duduk.
"Nak Ansel, apa kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Herlina.
"Tidak ibu, aku memutuskan untuk libur dulu beberapa hari ini." Jawab Ansel sambil mengunyah makanan.
"Kenapa?" Tanya Herlina lebih lanjut.
"Karena aku akan bulan madu ke luar kota bersama Amara, bu." Jawab Ansel lagi.
Mendengar itu Amara sedikit kaget.
"Kenapa kau mendadak sekali?" Tanya Amara.
"Aku sudah menunggu hampir seminggu sayang.....apa salahnya jika hari ini kita pergi bulan madu?"
"Ta-tapi bagaimana dengan ibu..."
"Sudahlah Amara jangan pikirkan ibu, ibu di rumah sendiri tidak apa-apa kok. Yang penting kalian harus pergi bulan madu. Kasian Ansel sudah menunggumu selama seminggu...." Ucap Herlina sambil tersenyum melirik Ansel.
"Baiklah, kalau begitu habis sarapan aku akan siap-siap." Kata Amara.
__ADS_1