
Keesokan harinya pukul delapan pagi terdengar suara deru mesin mobil di halaman rumah. Aska yang saat itu sedang membuatkan susu untuk anaknya, langsung saja berjalan menuju ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.
Dia tertegun saat melihat kedua sosok yang keluar dari dalam mobil sedan itu ternyata adalah Davina dan Bima.
"Davina darimana saja kau? kenapa semalaman tidak pulang?" Tanya Aska menyelidik.
Davina hanya tersenyum miring sambil kedua tangan melipat di dada.
"Itu bukan urusan kau, aku kesini hanya ingin mengambil pakaian dan anakku saja!" Jawab Davina.
"Apa maksudmu?" Tanya Aska tak mengerti.
"Mas, pokonya sekarang juga aku minta cerai. Aku sudah tidak bisa lagi hidup dengan kau!" Kata Davina. Seketika membuat kedua mata Aska membola.
"Apa katamu, cerai? kenapa semudah itu kau minta cerai, apa alasannya?" Tanya lagi Aska ia melirik ke arah Bima yang berdiri tepat di samping Davina.
"Oh, aku tahu. Jangan bilang alasannya gara-gara pria brengsek ini?" Pekik Aska sambil menunjuk wajah Bima.
"Cih.....tolong jangan asal bicara!" Sahut Bima.
"Kalau iya kenapa? kalau tidak kenapa juga? yang penting aku benar-benar ingin bercerai denganmu!" Seru Davina.
Wanita itu langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah.
"Dav.....Davina......" Panggil Aska menyusul Davina ke dalam.
Davina pergi ke kamar nya untuk mengemasi beberapa pakainya ke dalam koper. Setelah itu dia pergi ke kamar Terra anaknya.
"Mau kau bawa kemana anak kita?" Tanya Aska sambil mengikuti langkah Davina yang sedang mengendong Terra sambil menuruni anak tangga.
"Sudah ku bilang, aku ingin kita bercerai dan Terra biarkan ikut bersamaku!"
"Apa kau tidak berpikir anak sekecil dia harus hidup tanpa kedua orang tua yang utuh? Tolong jangan lakukan ini." Pinta Aska memohon tapi tak di hiraukan Davina.
"Kita sudah tidak cocok, jadi biarkan aku pergi. Secepatnya aku akan urus Perceraian kita!"
"Tega sekali kau melakukan semua ini kepadaku." Ucap Aska dengan mata berkaca-kaca.
"Aku bahkan sama sekali tidak perduli." Balas Davina.
"Sayang, bawakan kopernya!" Panggil Davina pada Bima di hadapan Aska.
"Apa katamu, sayang?" Tanya Aska, pembuluh darah tampak tegang di lehernya.
Davina hanya senyum menyeringai, dia kemudian berlalu begitu saja bersama Bima.
"Davina.....tunggu!" Aska mengejarnya lalu meraih tangan Davina.
"Aku mohon, tolong jangan bawa Terra!" Ucap Aska.
__ADS_1
"Enak saja kau bilang, aku yang melahirkan nya, jadi kau tidak berhak!" Kata Davina, dia melepaskan genggaman tangan Aska dengan kasar lalu mendorong Aska hingga terjatuh ke lantai.
"Davina......Davina....."
Bima dan Davina segera masuk ke dalam mobil. Aska yang menggedor-gedor jendela mobil sama sekali tak di hiraukan oleh Davina. Mereka berlalu begitu saja.
Kini Aska pun hanya bisa menangis melihat kepergian sang buah hati.
"Arg......."
Brakkk......
Aska menghempaskan semua benda yang ada di depan matanya sambil berteriak.
"Tega sekali kau Davina!" Lirih Aska sambil menangis.
"Aku kira kau selama ini tulus, tapi ternyata......"
"Sungguh aku benar-benar menyesal atas semuanya!" Tangis Aska pecah. Dadanya pun terasa sesak hingga sulit untuk bernafas.
🥦🥦🥦
Sementara Amara baru saja terbangun dari tidurnya akibat tadi malam tidur pukul satu dini hari.
Amara mengerjapkan matanya berulang kali, demi menyesuaikan pandangan yang terasa kabur. Dia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas tempat tidur lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan.
"Astaga....kenapa jam segini aku baru bangun," Amara menarik nafas dalam-dalam dan sejenak ia menatap langit-langit kamarnya.
"Apa, ma-malam tadi aku berciuman dengannya?"
"Bagaimana ini, aku aku pasti sangat merasa malu jika bertemu dengannya!" Ucap Amara.
Ting ......
Ponsel Amara berbunyi. Dia kembali meraih ponselnya.
Sebuah pesan dari Ansel rupanya.
"Selamat pagi, apakah kau sudah bangun?"
"Ternyata kau pandai sekali membalas ciumanku :-)"
Amara semakin malu saat melihat pesan yang di kirim oleh Ansel. Tanpa membalas pesan Ansel, ia langsung mematikan ponselnya dan beranjak dari tempat tidur.
🥦🥦🥦
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan bercerai dari Aska!" Seru Davina tersenyum bahagia.
"Aku janji, setelah kau resmi bercerai, aku akan langsung menikahi mu." Kata Bima sambil tersenyum melirik ke arah Davina yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Mendengar perkataan mu, aku semakin tidak sabar saja." Ujar Davina.
Tanpa Bima sadar, mobil yang dia kendarai dengan kecepatan yang sangat tinggi itu tiba-tiba kehilangan kendali hingga menabrak sebuah truk bermuatan batu dari arah yang berlawanan.
"Bim.....Bim....awas Bim!" Seru Davina yang ketakutan.
Bima yang begitu panik mencoba menginjak pedal rem namun takdir berkata lain. Kecelakaan maut itu tidak bisa lagi terhindarkan.
Braak.....
Benturan keras itu membuat mobil yang di kendari Bima dan Davina terpental jauh hingga melawati pembatas jalan. Tak hanya itu, mobil yang mereka kendarai pun seketika ringsek.
Orang-orang sekitar yang tidak sengaja menyaksikan pun seketika mulai berkerumun mendekat saat mendengar ada suara tangisan anak kecil.
Sementara Davina sudah benar-benar tak sadarkan diri. Dari mulutnya keluar darah yang bercucuran dan juga kepalanya bocor.
***
Singkat cerita. Dua hari kemudian, Davina baru saja pulih dari kecelakaan yang membuat dirinya tak sadar.
"Dimana aku....." Tanya Davina dengan suara lirih.
Wanita itu lalu menoleh ke arah samping. Terlihat ada Herlina dan juga Heru yang sedang duduk menunggu.
"Sayang.....akhirnya kau sadar juga!" Ucap Herlina.
"Kau ada di rumah sakit, nak!" Sambung Heru.
"Rumah sakit?" Davina mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang terakhir kali. Dan dia pun mulai ingat bahwa dirinya mengalami kecelakaan yang sangat parah.
Davina lalu melirik ke arah kakinya dan saat di buka dia begitu sangat terkejut.
Sontak ia berteriak dengan sangat histerisnya.
"Aaaaaa........kakiku....dimana kakiku......." Teriak Davina tak percaya bahwa kakinya hilang satu.
"Davina....tenang nak....tenang....." Pinta Herlina.
"Tidak......tidak.....kembalikan kakiku!" Jerit Davina.
"Ini semua demi kebaikanmu, Davina." Ucap Heru. "Kaki mu mengalami cedera yang parah dan harus di ambil tindakan dengan cara di amputasi." Jelas Heru.
"Tidak.....tidak......aku tidak mau......" Davina terus saja meraung-raung. "Bagaimana bisa aku hidup hanya dengan satu kaki!"
Karena Davina terus saja berteriak seperti orang gila, Dokter pun akhirnya menyuntikan obat penenang.
"Ya, Davina baru sada pulih tadi. Tapi dia mengamuk karena tahu bahwa satu kakinya di amputasi." Kata Herlina dalam percakapan telepon.
"Benarkan, baiklah kalau begitu. Kabari Aska kalau dia sudah sadar kembali. Saya akan segera datang kesana." Balas Aska.
__ADS_1
"Em...baiklah."