
setelah selesai dengan pekerjaannya brian langsung kembali kekediamannya, hari ini ia sangat capek rasanya ingin cepat cepat sampai rumah dan mengistiratkan tubuhnya.
setelah sampai di rumah ia melihat ibunya memasak hanya sendiri di dapur, ia tak melihat putrinya itu, lalu ia memdekat ke arah ibunya.
"ummi, fafa di mana..? kenapa bian tidak melihatnya..??" ia bertanya pada ibunya karna biasanya gadis kecil itu akan selalu menyambuntnya saat pulang kerja.
"Ehh..kamu udah pulang nak..? itu tadi umi pergi ke cafe RB rencananya sih cuman mau cari makan di sana, tapi gak taunya fafa ketemu sama ruby, dan sekarang fafa di rumah ruby" jelas ratna ia menoleh sesaat dan kembali bergutat dengan alat masaknya.
brian melongo mendengar ucapan ibunya lalu ia kembali bertanya.
"kenapa ruby tidak memberi tau ku..?"
"dia sudah menelpon kamu beberapa kali, tapi kamu tidak menjawab, jadi dia meminta izin sama ummi" jawab ratna lagi.
brian merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya, benar saja... di sana ada panggilan tak terjawab dari ruby, bahkah sebanyak 10 kali, lalu ia melihat ke arah umminya lagi.
"ummi kan tau, di sana ada suaminya apa lagi brian liat suaminya itu galak, gimana kalau terjadi sesuatu sama fafa" ucap brian khawatir .
"lebih baik kamu telpon ruby sana, tanyain kabar fafa" brian mengangguk dan pergi menuju kamarnya.
saat sudah di kamar brian tidak langsung menelpon ruby, ia masih ragu untuk menghubungi wanita itu.
"kalau aku telpon, gimana kalau yang anggkat telponnya malah si vano..?? bisa runyamkan,," brian mondar mandir dalam kamarnya, ia khawatir sekaligus gak enak sama keluarga ruby kalau mereka tau ruby membawa pulang anak orang lain ke rumahnya.
sudah hampir setengah jam ia hanya mondar mandir di dalam kamarnya, karna kekhawatiran nya akhirnya ia memberanikan dirinya untuk menelpon ruby.
namun saat ia ingin memanggil nomor ruby, tiba tiba ponselnya bergetar, ia sedikit kaget karna getaran ponselnya itu, panjaaang umuurr...baru aja di omongin udah di telpon duluan... yaa.. ia melihat layar ponselnya tertera nama ruby, namun itu bukan telpon biasa melainkan vidoe call.
"apa dia tidak salah tekan...??" batin brian, ia tau kalau wanita itu sangat sulit menerima video call darinya, kecuali syifa.. ya.. hanya gadis kecil itu yang bisa membuatnya menerima setiap kali ia video call.
"Hallo,..assalamu'alaikum papa..." sapa seorang gadis kecil di seberang telpon saat panggilannya telah terhubung, ia tersenyum kearah papanya itu, seprtinya ia sedang bahagia terlihat dari wajahnya yang ceria.
huuuuffff..seperti dugaan, pasti syifa yang menelpon nya malam malam begini.
"wa'alaikumsalam..." jawab brian lembut dan membalas senyuman anaknya.
__ADS_1
"papa baru pulang kerja ya..??" tanya gadis kecil itu ia masih bisa melihat kalau papanya itu masih mengenakan baju kantorannya.
"Iya syang...papa baru aja pulang itupun buru buru papa pulang kerumah buat ketemu fafa, udah sampe rumah eh...fafanya malah di bawa kabur sama tante ruby" jawab brian sedih yang di buat buat.
"Eh.. aku gak bawa di kabur kok, aku udah minta izin sama ummi kamu" sambar ruby yang tiba tiba udah nongol dari belakang syifa, ia tak mau di salahkan.
"iya... papa gak boleh bilang gitu, tante ruby baik kok,,,iya kan tante..?? tambah syifa membela ruby, gadis itu naik ke atas pangkuan ruby dan mengaitkan kedua tangannya di leher ruby lalu mencium pipi rubu.
ruby yang mendapat pembelaan dari syifa, tersenyum ke arah brian penuh kemenangan , dan akhirnya mereka mengobrol banyak hal sesekali mereka tertawa saat melihat tingkah konyol dari syifa.
hingga mereka tidak sadar bahwa ada tiga pasang mata yang sedari tadi melihat kegiatan mereka.
"bu de, baru kali ini setelah kejadian itu ririn liat mbak ruby sebahagia itu lagi" ucap ririn tiba tiba, ia melihat mbaknya begitu membuat ia juga ikut bahagia.
"iya,,bener katamu rin, bu de bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari mbak mu itu" ujar siti, ririn mangut mangut mendengar itu.
"kita do'a kan saja yang terbaik buat mbak mu itu, jika memang ayah dari anak itu adalah jodohnya ruby, maka syifa lah perantaraan mereka berdua, semoga ruby bisa melupakan masa lalunya" sambung ali yang tersenyum melihat anaknya itu.
akhirnya mereka bertiga pergi dari pintu kamar ruby.
sekitar 20 menit menyelesaikan sholat, ruby mengajak syifa untuk tidur, ia membawa gadis kecil itu untuk tidur di samping nya, syifa tak mau menyia nyiakan momen yang ia tunggu tunggu itu, syifa langsung masuk dalam pelukan ruby ia memeluk tubuh ruby dengan tangan kecilnya itu.
ruby terseyum sendiri saat melihat tingkah syifa, sedangkan airin ia lebih memilih untuk tidur di kamar ruang tamu yang ada di lantai satu, ia tak mau menggangu momen atara ruby dan calon anaknya itu, mungkin.......
setelah tadi panggilan video nya di matikan oleh ruby, brian senyum senyum sendiri, entah kenapa perasaannya mengatakan kalau ia baru saja mendapatkan lampu hijau dari gadis yang ia kagumi yang hampir setahun itu.
ia mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya.
setelah selesai sholat insya, brian langsung tidur karna tak ingin bangun terlambat besok, karna besok ia akan kerumah ruby, untuk menjemput anaknya itu , tak lama setalah nya brian pun langsung terlelap.
*******
Brian pov
matahari pagi pun keluar dari tempat persembuyiannya, sesuai kata ku semalam, pagi ini aku akan kerumah ruby untuk menjemput putriku, aku penasaran bagaimana bisa ia tinggal satu rumah dengan madunya..
__ADS_1
mungkin baru kali ini aku melihat wanita sekuat ruby, aku tambah mengaguminya, tak pikir panjang lagi setelah selain dengan baju formalku, aku langsung turun kebawah dan masuk dalam mobil ku, aku menyuruh pak mamat untuk jalan.
padahal jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, karna saking semangatnya aku malah lupa membawa baju ganti syifa yang di suruh bawa sama ruby.
Sekitar 45 menit aku sampai di rumah ruby, ku lihat rumah ini besar, aku berfikir bahwa vano sengaja membeli rumah sebesar ini karna yang tinggal di rumah ada dua orang istri.
"ck...ck..ck.. dasar bodoh.." aku berdecak dan mengeleng kepala ku pelan.
lalu aku menekan bel yang ada di sudut pintu rumah itu, tak berapa lama muncul lah seorang wanita paru baya yang membuka pintu rumah itu lebar lebar wanita yang kira seumuran ummi itu pun tersenyum ke arah ku.
"Assalamu'alaikum.. tante" sapa ku mencium telapak tangannya yang putih dan halus itu, aaahh persis seperti ummip, aku membalas senyumannya, aku berfikir kalau wanita yang ada di hadapan ku ini adalah ibunya vano, mertua dari ruby, ibunya selembut ini, namun kenapa anaknya sekasar itu, batin ku.
"wa'alaikumsalam... pasti brian kan, papanya syifa??" ujar nya menunjuk ke arah ku, sedangkan aku hanya mengganguk.
lalu ia mempeersilahkan aku untuk masuk dan menuju ruang makan, dan saat aku sudsh berada di pintu masuk dapur aku berhenti saat melihat pemandangan di depan ku.
ku lihat di sana sudah ada beberapa orang yang belum aku kenal, namun ada dua orang yang sedari semalam selalu ku pikirkan, yaa.. aku melihat syifa begitu bahagia saat berada di atas pangkian seorang pria paruh baya, terlihat jelas saat syifa menunjukkan gigi gigi putihnya itu.
aku juga melihat bahwa mereka juga sangat menyukai putriku itu, perasaan hangat menerpa hatiku, namun satu hal yang membuatku bertanya tanya...di mana suami ruby...?? sampai sebuah suara menyadarkan ku dari lamunan.
"nak..ayok masuk jangan berdiri saja di sana" ujar ibu yang tadi yang aku yakini adalah ibunya ruby.
mereka tadi yang asik dengan mengobrol seketika menoleh kearahku, seketika hening membuat ku jadi kikuk.
"kok jadi gugup ya..."
"papa...." ujar seorang gadis kecil memecahkan kecanggungan yang sempat terjadi beberapa saat, gadis kecil itu turun dari pangkuan pria itu ia berlari ke arahku.
aku berjongkok untuk menyamakan panjang dengannya, ku peluk tubuh kecilnya itu.
"papa, ayo kesana kita makan bareng," ujar gadis kecil ini yang ada di hadapanku, aku mengganguk dan ku gendong tubuhnya menuju mereka yang masih melihat ke arah kami.
"assalamu'alaikum.." sapaku sedikit gugup saat sudah ada di sana.
"tidak usah gugup, karna udah di sini ayo duduk kita makan bareng" ujar pria itu, ia tersenyum ke arah ku, ku dudukkan syifa di samping ruby, lalu aku memilih duduk di kursi yang dekat dengan pria tadi.
__ADS_1
Bersambung......