
Brian pov
Hari ini aku tidak fokus bekerja, setelah tadi aku mengakhiri sambungan telpon dengan ruby, perasaan ku jadi tidak enak, entah kenapa rasanya dada ku sesak.
lalu aku mencoba memfokuskan diriku lagi terhadap berkas berkas yang ada di hadapanku ini namun tetap saja tidak bisa, ku sandarkan diriku ke belakang kursi, ku pejamkan mataku sejenak untuk menenangkan pikiran ku.
entah kenapa tiba tiba aku teringat dengan nya, kubuka kembali mataku lalu ku ambil ponsel ku ingin menghubunginya, tapi nomernya tidak bisa di hubungi, membuatku semakin khawatir.
"kenapa perasaan ku jadi engga enak gina ya..??? aah..semoga aja tidak terjadi sesuatu pada nya"
ku hela nafas panjangku, lalu ku sibukkan kembali diriku dengan berkas berkas ini, sampai saat ponsel ku tiba tiba bergetar, dengan cepat ku raih berharap yang menelpon adalah dirinya, namun aku salah yang menelpon adalah airin tapi tetap ku terima panggilannya..
"Halo, assalamu'alaikum.. kenapa rin?"
"..."
"apa...??" seketika jantungku seakan berhenti, kaki ku lemas, nafas ku seakan berhenti saat mendengar ucapan dari airin.
ponsel yang ada di tangan ku jatuh hampir bersamaan dengan tubuh ku, tapi aku memegang sudut meja agar tidak terjatuh, ku atur kembali nafas dan jantung ku agar lebih kuat,lalu aku berlari keluar kantorku.
semua karyawan ku menatap kearahku yang berlari seperti di kejar orang.
tanpa pikir panjang aku langsung masuk kedalam mobilku, tanpa sadar aku membawa mobil sendiri,, persetan dengan trauma yang terpenting saat ini aku harus sampai di rumah sakit.
dengan tangan yang gemetar, jantung yang bedetak 2 kali lebih cepat, pikiran ku kosong, namun mataku fokus kedepan, kulajukan mobil dengan kecepatan di atas rata rata, sekitar 35 menit aku sampai di rumah sakit di mana ruby di rawat, tanpa memarkirkan mobil dengan benar aku turun dan langsung berlaei masuk kedalam.
aku mencari cari keberadaan keluarga nya, dan tak lama aku melihat mereka di depan ruang operasi, mereka semua menangis, di sana juga ada vano dan keluarganya, aku tak peduli dengan mereka, dengan langkah lebar aku menghampiri mereka.
"assalamu'alaikum.. bunda.. ayah..gimana keadaan ruby..?" tanya ku panik.
mereka tak menjawab, mereka hanya menangis.
"nak.. kamu yang sabar ya..kita berdo'a agar ruby bisa melewati masa kritisnya" ucap ayah menepuk pundakku.
kaki ku lemas aku terjatuh ke lantai, pandanganku kusong mentap ke arah ruang operasi, tak terasa air mata yang sedari tadi aku tahan mengalir begitu saja, mereka yang melihatku pun kemabli menagis termasuk keluarga vano.
__ADS_1
vano mendekat ka arahku, pria itu menepuk pundakku.
"sabar yan, ruby wanita yang kuat, aku yakin dia pasti akan bisa melewati ini semua" ucapnya menyemangatiku.
aku tak menjawabnya, pandanganku masih fokus pada ruang operasi itu, tak lama ummi dan syifa datang, gadis kecil itu ternyata sudah menangis sesegukan, ia berlari ke arahku, sedangkan ummi menghampiri ibu ruby untuk menenangkan nya di sana juga ada airin, viona dan mamanya vano.
"papa..hiks..hikss..mama ruby..hiks..hiks..fafa mau mama ruby..hikss..hikss.." syifa menangis tersedu sedu, semua orang melihatnya ikut menangis.
"sayang..mama ruby baik baik aja kok, fafa jangan lupa kirimkan doa buat mama ruby ya biar mama ruby cepat sembuh dan main bareng fafa lagi." ucapku menenangkan gadis kecil ini, ia mengangguk kepalanya.
kupeluk tubuh kecilnya ini untuk menenangkannya.
"Ya allah, selamatkan dia, berikanlah dia kekuatan agar bisa melewati semua ini, jangan sampai enggkau ambil dia dariku" batin ku menjerit.
aku benar benar taku kejadian waktu itu akan terulang lagi, cukup lama kami menunggu di luar ruang operasi hingga akhirnya dokter keluar dari sana, kami semua bangun dan mendekat ke arahnya.
"keluarganya dari pasien...??"
"kami dok.." jawab ayah ruby.
"Alhamdulillah pasien sudah lewat dari masa kritisnya, hanya saja pasiean masih koma dan...." jawab nya terhenti
"dan apa dok..?" tanya ku tak sabaran..
ku lihat dokter itu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya " kami dengan sangat berat mengatakan ini, karna kecelakaan yang mengakibatkan benturan yang cukup keras pada bagian tegah pada rongga panggul, tepatnya di belakang kandung kemih dan di depan rektum di mana di sana terlak rahim, jadi kami memvonis pasien tidak akan bisa hamil lagi., dan kami tidak bisa berbuat apa apa, kami sudah memcoba sebisa kami, kami mohon maaf kita berdoa saja semoga pasien akan mendapat keajaiban dari allah, kalau begitu saya permisi, pasien akan di pindahkan ke ruang inap sebentar lagi.
jedeeeeeeerrrrr.. bagaikan di sambar petir di siang bolong saat mendengar penjelan sang dokter, kami semua tak percaya dengan apa yang dokter katakan, cobaan apa lagi ini yang enggkau bikan Ya allah.
aku kembali terduduk di lantai, ayah, pak alex, tante bina, bunda siti, ummi, vano,viona dan airin mereka juga ikut terkejut, tapi tiba tiba...
Bruuuukk
kami semua melihat ke asal suara ternyata bunda siti jatuh pingsan..
"astarghfirullah.. bu de.." Airiiii terkejut dan langsung mereka menghampirinya,.
__ADS_1
sedangkan aku di bantu berdiri oleh vano, sungguh saat ini kaki ku tidak ada tenaga sedikitpun, sedangkan syifa.. gadis kecil itu ada di gendongan ayah ali, gadis kecil itu sudah tertidur sedari tadi karna terlalu lelah menangis.
pak alex langsung memanggil dokter untuk memeriksa bunda siti, lalu bunda di pindahkan ke ruang inap yang ada di sekitaran sana.
"makasih van.." ucap ku saat sudah duduk di kursi tunggu yang ada di sana. vano hanya menggukkan kepalanya.
yang lain sudah pergi ketempat si mana bunda siti di rawat, tinggallah aku di sini dan vano.
"loe yang sabar yan.. loe jangan lemah, kalau loe lemah siapa yang akan memberi semangat pada ruby saat dia sudah sadar dan tau kenyataan pahit ini.. jadi loe harus kuat" ujar vano, laki laki yang ada di sampingku ini memberiku nasehat...?? yang benar saja... tapi... sudahlah apa yang dia bilang benar adanya, aku harus kuat.
"baiklah kalau begitu gua pamit dulu, ada urusan yang harus gua selesaiin terlebih dulu, oya gua juga mau minta tolong sama loe, kalau nanti dia udah sadar tolong sampaikan permintaan maaf gua sama dia, mungkin besok gua udah gak ada lagi disini"
aku melihat ke arahnya, aku bisa melihat rasa penyesalannya di sana.
"emangnya loe mau kemana..?"
"gua akan pergi ke jepang, gua akan bercerai dengan manda dan akan memulai hidup baru di sana" ucapnya.
aku hanya mangut mangut, lalu ia berdiri dan tak lama keluarganya pun keluar dari ruangan bunda siti.
"om, tante..?? gimana keadaan bunda..?" aku berdiri dan bertanya pada mereka.
"bunda siti masih belum sadar" jawab tante bina, ku hela nafasku lalu ku duduk kembali.
"baiklah kami pamit dulu ya yan..? tolong kamu jaga ruby dengan baik, om yakin kamu pria yang bertanggung jawab" ucap nya sambil menepuk bahuku pelan aku tersenyum kearah nya, lalu mereka berempat pergi dari eumah sakit.
selang beberapa saat kulihat ruangan operasi terbuka keluar lah tiga orang perawat yang mendorong bangkar yang di atasnya terbaring seorang wanita yang hanya tinggal beberapa hari lagi akan menjadi istriku, aku tak peduli apa dia bisa mengandung atau engga, itu hanya vonis dari dokter, aku percaya jika Allah sudah berkehekdak, maka manusia pun tak bisa berbuat apa apa.
sampailah kami di sebuah ruangan VVIP, aku sengaja memilih ruangan ini, agar dia merasakan nyaman, walaupun dia masih dakam keadaan koma.
setelah perawat itu keluar, aku mendekat ke arahnya dan ku duduk di kursi yang ada di dekat bangkar nya ku tatap wajah pucatnya itu, bibir yang selalu memberiku senyuman yang hangat kini bibir itu tak bergerak, mata indah yang selalu memandangku kini tertutup rapat, ingin sekali ku pegang tangan putih nya itu, tapi aku tau akan batasan ku walaupun kami sudah bertunangan tapi dia belum sah untukku jadi aku belum berhak untuk menyentuhnya.
bahuku bergetar karna menahan tangis, aku beryukur karna Allah masih memberi kesempatan untuk nya bedara di sisiku, aku sangat bersyukur akan hal itu, walaupun ujian datang bertubi tubi, aku yakin Allah tidak akan memberikan hambanya ujian di luar kemampuannya.
Bersambung.......
__ADS_1