ISTRI YANG TAK DIRINDUKAN

ISTRI YANG TAK DIRINDUKAN
Chapter-31


__ADS_3

satu bulan telah berlalu, dan dalam satu bilan ituoun banyak yang telah terjadi, vano telah bercerai dengan manda satu minggu yang lalu dan di hari itu pula dia langsung terbang ke jepang , manda juga sudah berada di dalam penjara setelah beberapa hari bercerai dengan vano, dia di tanggkap di salah satu clab malam aras tindakan tabrak lari.


sedangkan syifa... gadis kecil itu kini telah masuk ke sekolah dasar (SD), hampir setiap hari ia merengek untuk bertemu dengan ruby.


namun keadaan ruby masih belum ada yang berubah dia masih setia dengan tidurnya, hampir setiap hari brian dan keluarganya menjenguknya, mereka sesekali juga mengobrol dengan nya seperti saran dokter, walaupun dia koma tapi dia masih bisa merespon dengan pendengarannya apa yang terjadi di sekitarannya.


seperti hari ini brian membawa syifa untuk menjenguk ruby, brian membawakan satu buket bunga mawar, sedangkan syifa tidak membawa apa apa.


"Assalamu'alaikum..." ucap keduanya namun tak ada yang menjawab, lalu mereka masuk kedalam, brian meletakkan bunga mawar itu di atas nakas lalu ia mengambil bunga mawar yang sudah layu yang ada di dalam vas kaca itu, ia mengganti dengan mawar yang tadi ia bawakan, itu sudah menjadi kebiasaan nya saat berkunjung ke sini, lalu ia duduk di kursi yang ada di samping bangkar, sedangkan syifa dia sudah di dudukkan di samping ruby, itu sudah menjadi tempat duduk vaforit nya saat berkunjung.


"mama...apa kabar..??" ucap gadis itu, lalu ia berbaring di sebelah ruby, gadis kecil itu memeluk tubuh kakunya ruby.


"kapan mama bangun..?? fafa udah kangen banget loh sama mama, apa karna fafa nakal..? makan nya mama gak bangun bangun dan gak mau liat fafa..??" gadis kecil berceloteh sesekali memegang tangan ruby yang bebas dari selang infus.


"fafa janji deh gak bakalan nakal lagi, fafa akan denger apa yang di bilang papa, fafa gak akan buat nenek capek lagi karna lari larian buat ngejar fafa, dan fafa juga janji akan rajin sholat dan rajin makan, jadi mama harus bangun ya...hikss..hikss...fafa pengen mama..hikss..hikss" gadis kecil itu mulai terisak tatkala melihat ruby masih setia dengan tidurnya.


brian yang melihat anaknya itu pun ikut meneteskan air matanya, ia tak menyangka kalau anaknya ini sangat menyanyangi ruby.


lalu setetes air mengalir dari sudut matanya, ternyata ruby merespon semua ucapan syifa, dan tiba tiba sebuah suara yang begitu lemah keluar dari mulut ruby, membuat syifa yang sedang berbaring di sampingnya kanget di buatnya.


"fa....fa..." ucapan ruby terputus putus.


syifa yang tadi sempat menutup mata ia terbangun dari tidurnya dan terduduk, ia memandang wajah ruby, gadis kecil itu masih bingung dengan apa yang di dengar nya tadi, brian yang melihat putrinya tiba tiba terbagun pun mengerutkan keningnya.


"kenapa sayang..?" tanya brian mendekat ke arah mereka, karna tadi saat melihat syifa tidur, ia pindah ke sofa yang ada di ruangan itu.


"papa, seprtinya tadi fafa denger mama panggil nama fafa." ucap gadis itu melihat ke arah ayahnya.


"itu mungkin persaan fafa saja," ujar brian, gadis itu hanya diam ia kembali melihat wajah ruby.


"fa..fa..." ruby kembali memanggil syifa kini suaranya sedikit besar dan masih terputus putus.


kini tidak hanya syifa yang mendengar ruby memanggilnya tapi brian juga ikut mendengarnya ia sedikit kaget, tanpa berpikir lagi ia memanggil dokter, selang beberapa menit dokterpun datang, syifa dan brian keluar dari ruangan dan dokter masuk kedalam bersama seorang perawat untuk memeriksa keadaan calon istri itu.


di sana juga sudah ada keluarga ruby, keluarganya dan juga keluarga abraham , tadi setelah memanggil dokter brian mengubungi ketiga keluarga itu.


mereka menunggu dengan cemas di luar ruangan itu, dan tak lama dokterpun keluar, meraka langsung menghampiri nya.

__ADS_1


"bagaimana ke adaan anak saya dok..?" tanya ali dengan penuh harap.


dokter itu tersenyum kearah mereka semua " Alhamdulillah, berkat doa kalian semua dan doa sikecil ini, mbak rubby sudah melewati masa komanya, dan sekarang beliau sudah sadar dan juga mbak ruby berpesan ia ingin bertemu dengan malaikat kecilnya ini" penjelasan sang dokter bagaikan mendapat angin segar bagi ketiga keluarga itu, mereka semua pun berucap syurkur.


"Kalau begitu saya permisi.." ucap dokter itu dan meninggalkan ketiga keluarga itu yang sedang berbahagia.


setelah kepergian sang dokter, syifa.. gadis kecil itu tanpa menunggu yang lain ia langsung masuk kedalam ruangan dan langsung di ikuti oleh semua orang, saat mereka masuk sebuah senyuman yang sudah lama mereka tunggu tunggu pun menyambut kedatangan mereka.


"mama......" syifa berteriak memanggil ruby senyum mengembang di bibir mungilnya itu, ia langsung berlarin menaiki bangkar itu dan langsung memeluk tubuh ruby yang sudah terbebas dari alat medis.


rubypun menerima pelukan itu dengan senang hati, ia sangat merindukan calon anak sambung nya ini.


sedangkan yang lain tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka berdua, mereka tidak menyangka kalau ikatan batin keduanya sangat lah kuat.


ruby dan syifa mengobrol banyak, seakan di dalam ruang itu hanya mereka berdua, hingga sebuah suara menyadarkan kedua ibu dan anak itu.


"heem..apakah kamu hanya merindukan fafa saja...?? apa kau tidak merindukan kami..?" ujar brian membuat ruby dan syifa berdua melihat ke arah mereka, kemudia mereka tertawa kecil mereka baru sadar kalau di dalam ruangan ini ternyata banyak orang.


"hehe, aku lupa kalau kalian ternyata ada di sini" ruby tersenyum ke arah mereka.


"bagaimana apa masih ada yang sakit..??" tanya ali pada anaknya itu.


mereka mengobrol dan sesekali tertawa, sampai akhirnya mereka pamit untuk pulang, dan tinggallah brian dan ruby di dalam ruangn itu.


"mas..gimana keadaan mu..?"


"asalkan kamu baik baik aja, mas juga akan baik baik aja kok"


ruby tersenyum Mendengar ucapan calon suaminya ini.


"udah berapa lama aku tidur mas..?"


"satu bulan, dan dalam satu bulan itu juga udah banyak yang terjadi" jawab brian.


"hah, selama itu kah aku tidur..?? lalu kejadian apa yang mas maksud..??" tanya ruby penasaran.


akhirnya brian menceritan kejadian sebulan yang lalu, dari pernikahan mereka yang di tunda karna kejadian ini, dan vano yang bercerai dengan manda, dan pergi ke jepang untuk menjalani kehidupan barunya, hingga manda yang sudah masuk penjara karna pelaku tabrak lari, ruby menutup mulutnya saat ia tau kalau yang menabrak nya adalah manda.

__ADS_1


"by.... ada sesuatu yang harus kamu ketahui, mas berpikir akan menceritakan nya saat kamu udah bener bener sehat, tapi saat mas pikir pikir lagi lebih cepat kamu tau maka akan lebih baik..." tiba tiba brian berbicara dengan serius, membuat ruby sedikit takut.


"tapi sebelumnya... kamu harus kuat dan bersabar saat mendengar kenyataan ini dan kamu jangan pernah putus asa karna itu hanya vonis dari dokter, percayalah dengan Allah" sambung brian yang membuat ruby semakin takut.


"memang nya apa yang terjadi mas...? hingga aku harus bersabar saat mendengarnya..??" tanya ruby sedikit gugup.


brian menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya " karna kecelakaan itu menyebabkan kamu tidak akan bisa memiliki anak lagi" ujar brian sedikit memelankan suaranya, ia berharap wanita yang ada di depannya ini mendengar nya.


namun terlambat, rubya yang mendengar itu seketika melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sulit baginya saat mendengar kenyataan pahit ini.


"tidak....mas.. kamu bohong kan..?? gak mungkin...gak mungkin aku gak bisa hamil lagi..gak mungkin....hiks.. hikss.." wanita itu mulai menagis segugukan, ia sulit menerima kenyataan ini, kenapa begitu banyak cobaan yang datang padanya.


brian yang melihat ruby seperti itupun tak kuasa menahan tangis, namun dia tidak bisa berbuat apa apa, lalu ia menelpon airin agar gadis itu datang untuk menenangkan ruby.


"by.. kami jangan seprti ini, istighfar by.. istighfar..." ujar brian ia bingung harus bagaimana.


sedangkan ruby menagis semakin menjadi, wanita mana yang tidak hancur hatinya saat mendengar kenyataan bahwa dia tidak bisa hamil lagi, bagaimana nasipnya nanti setelah menikah kalau dia sudah tak sempurna lagi sebagai seorang wanita.


beberapa menit kemudian airin datang, gadis itu langsung masuk kedalam, ia bisa merasakan bagaimana perasan mbaknya itu saat ini, airin langsung memeluk ruby untuk menenangkannya.


"sabar mbak.. mbak jangan seperti ini mbak harus kuat itu hanya vonis dari dokter, kita gak tau mungkin suatu hari nanti akan ada keajaiban dari Allah, apa mbak lupa kalau mbak masih punya fafa.." ucap airin sambil mengelus pucuk kepala ruby yang ada dalam pelukannya.


ruby melepas pelukannya, wanita itu telah berhenti menangis, pandangannya lurus kedepan tatapannya kosong entah apa yang di pikirkannya saat ini.


"by..kamu baik baik saja..?" ujar brian khawatir saat melihat ruby seperti itu.


"mbaak..." Airin ikut memanggil.


"tolong.. tinggakann aku sendiri" ruby menjawab tanpa ekpresi tatapannya masih kosong.


brian melihat ke arah airin, gadis itu menggukkan kepalanya, lalu mereka keluar dari sana, sebelum keluar brian melihat sekilas ke arah ruby, ia khawatir dengan kejadian ini akan berdampak dalam hubungan mereka.


setelah airin dan brian keluar, ruby merebahkan kembali tubuhnya di atas bangkar, ia membalikkan badanya ke samping, ia memeluk guling yang ada di sampingnya dengan sangat erat, tiba tiba suara isak demi isak terdengar di balik guling itu dan berubah menjadi tangis yang memilukan bagi siapun yang mendengar nya, ia menagis sejadi jadinya di dalam ruangan itu sedirian.


sedangkan di luar ruangan, airin dan brian yang mendengar suara tangis dari ruby pun tak kuasa menahan tangis, airin sudah terisak dari tadi ia duduk di salah satu kursi tunggu di sana, sedangkan brian.. pria itu sudah terduduk di lantai di depan pintu ruang ruby, pria itu menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Ya allah... kenapa begitu berat cobaan yang enggkau beri padanya, aku tak kuasa melihatnya seperti itu..aku tak kuasa mendengar tangisnya, tolong kuatkan lah hatinya untuk melewati cobaan ini" batin brian tak kuasa menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2