
Selesai mandi, Kian menunggu Tristan di depan pintu kamarnya untuk pergi ke ruang belajar pribadi Tristan.
Klek..
Pintu terbuka, terlihat sosok Tristan yang sangat tampan.
'walau sebanyak apapun aku ngeliat muka tuan Tristan, tetap ajah gak bisa biasa ama muka tampannya' . Batin Kian yang kini tengah melamun memandangi wajah Tristan.
"Woi ... Woi....". Panggil Tristan dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kian.
"Eh... Iya tuan, ada apa?". Jawab Kian yang sudah keluar dari lamunannya.
"Ngapain bengong...". Ucap Tristan. Dia menyunggingkan ujung bibirnya "kalo pengen ngeliat muka aku yang tampan ini gak gratis loh". Lanjut Tristan dengan sengaja menggoda Kian
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud melihat wajah tuan". Balas Kian dengan muka sedikit memerah. '(kenapa kek gini sih.... Kok aku gak bisa pertahanin muka profesional ku di depan tuan Tristan sih...)'. Batin Kian
"Ho.... Beneran nih gak mau ngeliat muka aku yang tampan ini... Hehe". Ucap Tristan terkekeh
Wajah Kian memerah akibat perkataan Tristan. "Haha tuan sangat baik, tapi saya tidak berhak melihat wajah tampan tuan Tristan". Balas Kian canggung tapi berhasil membalas Tristan
"Hehe... Kalo mau ngeliat bisa ajah... Aku kasi gratis deh kalo kamu yang ngeliat". Ucap Tristan dengan mengedipkan sebelah matanya
"Eh... Haha tuan bisa saja". Jawab Kian canggung. "Bagaimana kalo kita ke ruang belajar tuan Tristan saja".ucap Kian "lebih cepat lebih bagus, iyakan tuan".lanjutnya
"Hehe mau ngalihin pembicaraan kita ya". Ucap Tristan terkekeh
"Benar juga sih.... Kalo gitu ayo kita ke ruang belajar". Lanjut Tristan melangkah kan kakinya menuju ruang belajar nya 'hehe lucu juga nih cewe' batin Tristan
Didalam ruang belajar
Tristan kini duduk di kursi yang biasa ia tempati sambil membaca dan mengerjakan PR nya.
Sedangkan Kian hanya berdiri dengan tegak seperti menjaga Tristan.
Tristan yang risih dengan Kian yang hanya berdiri, akhirnya membuka suara.
"Ngapain kamu berdiri terus disitu?". Tanya Tristan, yang sudah tau jawabannya tapi tetap saja menanyakan nya.
"Saya pengawal tuan, tentu saja saya harus selalu siap siaga melindungi tuan". Jawab Kian datar
"Huff....". Desah Tristan 'nih orang, bisa gak sih jawabnya tuh pake ekpsresi gitu...'' batin Tristan.
"Melindungi ku?.... Mau melindungi ku dari apa coba?!.... Ini di dalam rumah, gak ada yang bakalan ngapa-ngapain aku". Ucap Tristan sambil menutup buku yang dia baca.
"Udah deh... Kamu duduk ajah disitu". Lanjut Tristan, menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Tapi tu..". Kian
"Ini perintah Kian... Duduk!!". Ucap Tristan memotong ucapan Kian.
Kian pun duduk disofa yang ditunjuk oleh Tristan, Kian duduk dengan tegak sambil memperhatikan Tristan.
"Nah kan.. bagus kalo gitu". Ucap Tristan yang kembali membuka bukunya yang sempat tertunda tadi.
Beberapa menit kemudian...
Tristan kembali risih oleh tatapan Kian yang sedari tadi melihat nya tanpa menoleh sedikitpun.
"Huff". Desah kembali Tristan
Dia kembali menutup bukunya dan berdiri melangkah kan kakinya menuju rak buku yang di samping tempat nya duduk.
Kian hanya memandang tingkah Tristan.
Tristan mangambil beberapa buku dan membawa nya perlahan ke dekat Kian.
__ADS_1
Bruk...
Tristan menaruh buku yang dia ambil tadi di meja depan tempat Kian duduk sekarang.
"Nih... Baca, jangan ngeliat aku terus". Ucap Tristan dan kembali ke tempat duduknya.
"Baik Tuan". Jawab Kian dan mengambil satu buku paling atas.
"Seharusnya kau sekolah di usia mu ini. Kenapa malah jadi pengawal". Ucap Tristan tapi tetap fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan sekarang.
". . . ." Kian
Tristan yang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya tadi, akhirnya melirik melihat Kian.
Ternyata Kian sedang fokus membaca dan mempelajari buku yang sedang ia baca dan sepertinya dia tidak mendengar suara dari Tristan tadi.
'fokus banget sih neng...., Ampe suara gw ajah gak kedengaran'. Batin Tristan
'tapi cantik juga yah...., Walau sedang serius kek gini. Malah tambah cantik lagi hehe' . Puji Tristan dalam batinnya
Setelah hampir 2 jam, Tristan penasaran dengan gadis yang satu ruangan dengannya.
Dia mendongak dan melihat Kian kembali duduk tegak dan sudah tidak di sibukkan dengan buku yang ada di depannya.
Tristan mengernyitkan dahinya melihat Kian.
"Ngapain kamu diam ajah, aku tadi suruh baca itu buku, bukan diam ajah kek patung". Ucap Tristan. Dia penasaran kenapa Kian tidak melanjutkan apa yang ia suruh. Yang Tristan tau Kian akan menuruti semua perintah dari majikannya. Yah.... Itulah yang ia pelajari dari sifat Kian selama satu hari ini bersama dengannya.
Tristan memang anak langkah dengan kadar otak yang jenius.
Kian melirik ke arah Tristan.
"Saya sudah selesai membacanya tuan". Jawab Kian.
"Haaa!?, Udah semua tuh?...., Aku suruh baca semua buku yang ada didepan mu loh". Ucap Tristan yang tidak percaya akan perkataan Kian
"Beneran udah semuanya?". Tristan
"Iya tuan". Kian
"Aku gak suruh baca doang loh, aku juga suruh kamu pelajari dan hafal isi buku itu". Ucap Tristan ulang yang sengaja ingin mengerjai Kian dengan memojokkan nya. Dia meyakini bahwa Kian hanya membacanya tanpa memperdulikan isi bukunya.
"Iya tuan. Saya memang tidak hanya membacanya tapi juga memperlajarinya". Jelas Kian. Lagi-lagi dengan muka datarnya
"Eh.... Kamu juga memperlajarinya?". Tanya Tristan. Yang merasa Malu karena tadinya dia ingin menjahili Kian dengan memojokkannya, malah dia yang kena pojok. Serasa senjata makan tuan
"Iya tuan, saya sudah mempelajari semuanya". Jawab Kian
'ehhh beneran nih, gak mungkin kan. Walau gimanapun juga dia tuh manusia iya kan. Gw ajah belum tentu bisa baca sekaligus semuanya. Yah walau mungkin bisa, kalo di paksain ' . Batin Tristan bingung sendiri
'mending gw tes ajah kali, yah. Biar gw liat kebohongan nya hehehe '. Batin Tristan yang masih tidak percaya dengan yang dikatakan Kian
"Biar saya tes , Kalo emang kamu sudah membaca dan mempelajiranya". Ucap Tristan yang sudah menutup buku yang ia baca.
"Baik tuan". Jawab Kian dengan muka datarnya dan sepertinya sudah bersiap-siap
'santai bnaget nih cewek, apa emang benar yah apa katanya'. Batin Tristan yang mulai goyah melihat kepercayaan diri Kian.
'Ah.. bodo deh, mending gw tes ajah dulu.' Batin Kian yang mencoba tetap pada pendiriannya
Tristan mulai memberikan pertanyaan kepada Kian yang berisi materi di dalam buku yang dibaca Kian tadi, tanpa melihat atau membuka buku tersebut. Tristan memang sudah sangat menghapal semua buku yang ada di dalam ruangan tersebut.
Setiap pertanyaan yang dilontarkannya Tristan, pasti di jawab oleh kian. Layaknya seorang guru yang sedang memberikan pertanyaan kepada muridnya.
Tristan melongo melihat Kian yang bisa menjawab semua pertanyaan dan soal yang dia berikan, dengan pasif.
__ADS_1
'gilaaaaaa... Nih cewek, rupanya benar apa yang dia katakan tadi'.batin Tristan terkejut.
'tunggu dulu... Bisa jadikan, dia emang pernah belajar tentang yang gw kasi pertanyaan tadi, trus dia pura-pura kalo baru mempelajari nya tadi. Iya... Pasti kek gitu deh ha-ha-ha'. Batin Tristan yang mulai agak-agak gimana... gitu, Udah gak bisa di uangkapkan:v.
"Tuan...., Tuan Tristan....". Panggil Kian kepada Tristan yang dari tadi hanya melamun, setelah membacakan pertanyaan terakhirnya.
"Ahh... Iya?, Kenapa?". Jawab Tristan yang kaget karena namanya dipanggil-panggil cukup lama oleh kian.
"Apa tuan baik-baik saja?". Tanya Kian
"Ehh.. iya, aku baik-baik saja". Jawab Tristan
"Sampai dimana tadi kita?". Tanya Tristan yang mulai ling lung
"Tadi tuan sudah memberikan soal terakhir pada saya". Jawab Kian
"Oh.. benar juga". Tristan
"Kau... Pasti sudah pernah mempelajari ini sebelumya kan, sebelum membaca buku yang ku berikan tadi". Ucap Tristan kecoplosan.
' aduhh.. oon banget sih gw, kok pake kecoplosan sih '. Batin Tristan panik
' ah.. biar ajah deh, gw bongkar kebohongan nya '. Batin Tristan mencoba menenangkan dirinya
"Maaf tuan, tapi saya sama sekali tidak mengingat apapun, saat saya dibawa ke tempat perbudakan".jawab Kian
"Eh..!? Tempat perbudakan?". Ucap Tristan bingung
"Iya, tuan". Kian
"Tunggu dulu, bukannya kau itu seorang tentara yah, kenapa malah jadi budak?".tanya Tristan
"Sebelum saya menjadi tentara, saya dulu nya hanya seorang budak yang disuruh menyiapkan makanan untuk para prajurit yang selalu siap siaga di garis depan pertempuran".jelas Kian
' jadi... Dia mantan budak yah, ... Eh!!? Apa jangan-jangan jawaban yang dia berikan dan maksudnya di mobil tadi, itu tentang ini yah '. Batin Tristan.
' kasian banget... Pasti dia udah ngalamin banyak hal sulit '.Batin Tristan iba.
' ehh..!? Tunggu dulu, dia bilang tadi, kalo udah gak ingat apa-apa waktu di bawa di tempat perbudakan. Jadi,... Gimana caranya dia bisa memperlajarinya semuanya? '. Tanya Tristan kepada dirinya sendiri.
' apa jangan-jangan yang di katakan nye emang benar yah, lagian gak mungkin juga dia yang polos ini berbohong '. Batin Tristan yang kini mulai percaya dengan Kian.
"Jadi, gimana caramu bisa mempelajari dan menghapal semua isi buku yang sudah kau baca tadi, dalam waktu singkat?". Tanya Tristan yang sudah kembali dalam perdebatan panjang lamunannya.
"Itu sangat gampang tuan. Saya sudah terbiasa mempelajari dan menghapal sesuatu di dalam buku atau peta. Karena untuk menyerang kedalam markas musuh, kita harus tau seluk buluk dari denah markasnya tuan". Jelas panjang lebar Kian
"Ohh jadi kemampuan otak mu itu, dari kebiasaan mempelajari dan mengingat peta markas musuh mu waktu masih menjadi tentara yah?".ucap Tristan menebak nya
"Iya tuan". Jawab Kian
"Oh..". Jawab Tristan singkat, dan kembali dengan buku yang dia baca tadi.
'gileeeeee.....!! Nih cewek fixs JENIUS '. Batin Tristan takjub
' sayang banget tuh bakatnya kalo disia-siain ajah '. Batin Tristan
' oh... Mending gw kasi tau papa ajah kali yah, kan sayang tuh bakat '. Batin Tristan yang sudah mempunyai ide nya sendiri
' perfect banget nih cewek, udah cantik, imut, jenius lagi. Gak salah nih gw milih dia....... Yah.. gw juga bilang makasih nih ama papa udah bawa cewek kaya Kian ke sini , tapi cuman dalam hati doang hehehe '. Kekeh Tristan dalam batinnya
' makasih pa.. xixixixi '. Batin Tristan
Tristan yang nampak tenang diluar tapi sebenarnya heboh di dalam
BERSAMBUNG
__ADS_1
ini novel pertama ku, jadi mohon like dan komen nya agar aku bisa lanjut buat ceritanya, dan jangan lupa kritik dan sarannya yah guys, biar aku bisa koreksi yang salah.
semangat membaca☺️