Istriku Pengawalku

Istriku Pengawalku
14. POV


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Tristan pun melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Kian yang penuh darah menggunakan jempol nya, mambuat Kian menutup satu matanya.


"Kamu tidak papa kan?". Tanya Tristan lembut kepada Kian dengan menatap wajah Kian


"Saya tidak papa tuan". Jawab Kian sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi


"Kalo tuan baik-baik saja kan?". Tanya balik Kian


"Aku baik-baik saja". Jawab Tristan "tapi sepertinya kau yang tidak baik-baik saja". Lanjut Tristan


"Saya baik-baik saja asal tuan juga baik-baik saja". Jawab Kian


Tristan hanya tersenyum masam


Mang Kipli yang sedari tadi hanya diam tidak berani berkata-kata, akhirnya membuka suara


"Tuan muda Tristan, neng Kian, apa kita bisa pulang sekarang?". Tanya mang Kipli, membuat Tristan dan juga Kian menoleh melihatnya. "Hari sudah semakin gelap dan juga saya takut kalo polisi sampai datang, .... Apa yang harus kita katakan!?". Tanya mang Kipli dengan gemetar


"Gak papa mang, kalo soal urusan polisi biar aku saja yang atur". Jawab Kian yang sudah terlepas dari pelukan Tristan tapi tangannya malah di genggam erat oleh Tristan


"Mendingan kita pulang dulu saja". Lanjut Kian.


Tanpa basa basi Tristan langsung menarik tangan Kian masuk kedalam mobil yang sudah tidak berbentuk, tapi masih bisa dipakai.


Di dalam mobil


Tristan melirik Kian yang sedang menelpon seseorang entah siapa.


"Halo..". Kian


"...." Seberang


"Kamu urus semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal. Dan juga jangan meninggalkan jejak sedikit pun". Kian


"...". Seberang

__ADS_1


Tut.. tut...


"Bagaimana caramu mengurus mayat-mayat tadi?". Tanya Tristan


"Kalo itu, tuan bisa langsung tanya ke tuan besar Leonart". Jawab Kian yang tangannya masih di genggam erat oleh Tristan


"Ohh". Jawab Tristan yang sudah tidak ingin bicara panjang lebar


"Anu.... Tuan..". Ucap kian


"Hmm". Jawab Tristan


"Tangan saya...". Ucap Kian yang menunjuk tangan yang di genggam erat oleh Tristan


"Biarkan saja seperti ini dulu". Jawab Tristan tanpa menoleh kearah Kian


Kian hanya diam dan menunduk.


'maaf Kian, gw janji di masa depan gw yang akan ngelindungi mu '. Batin Tristan dengan menambah kekuatan genggaman nya.


Ku tikam leher pembunuh bayaran yang terakhir, baju ku penuh dengan darah ku bercampur dengan darah para pembunuh bayaran itu. Kulitku tergores cukup banyak tetapi itu tidak terasa sama sekali.


Ku lihat tuan Tristan yang memandangku dengan tatapan tidak bisa ku artikan.


Lalu kulemparkan senyuman yang menurut ku terbaik sambil melambaikan tangan ku menandakan aku sudah selesai.


Aku melihat tuan Tristan berlari ke arah ku dan bruk.... Tubuh ku di dekapnya bukannya kehangatan yang ku rasakan, malahan pelukan itu terasa amat kesepian.


Tubuh ku di dekap erat olehnya sampai-sampai aku tidak bisa bernafas, ku coba untuk berbicara. Saat aku baru mengatakan dua kata dia langsung mengatakan untuk "jangan pergi" sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang dikatakannya, tapi aku hanya mengertikan kalo sekarang dia sedang syok dengan apa yang terjadi.


Setelah dia melepaskan pelukannya, dia menanyai ku dengan suara yang sangat lembut dan mengusap darah yang ada di wajahku, aku berfikir, apa dia masih tuan Tristan yang aku kenal? Yang selalu jutek dan menggodaku?, Apa mungkin ini sisi lain dari tuan Tristan?.


Ah sudahlah aku tidak perlu banyak terlalu berfikir


Ditariknya tubuh ke dalam mobil, tanganku masih di genggam erat olehnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, aku hanya pasrah menerima nya. Di dalam mobil sangat canggung, ku coba untuk meencairkan nya dengan menelpon seorang kepercayaan tuan besar Leonart untuk mengurusi masalah ku tadi.

__ADS_1


Tuan Tristan menanyaiku, Tapi ku jawab samar. Aku tidak berhak menjelaskan secara detail nya. Tiba-tiba genggaman tangannya semakin kuat, ku hanya berfikir mungkin dia marah padaku


***


mobil berhenti, tanpa pikir panjang Tristan langsung keluar dari dalam mobil dan menarik tangan Kian, hingga masuk kedalam Rumahnya.


POV Tristan:


Aku melihat dia menghabisi musuhnya secara membabi buta, dunia kami sangat berbeda dia terlihat dekat tapi entah mengapa aku tidak bisa menggapainya, itulah yang ku pikirkan. Apa dia Kian yang aku kenal selama ini? Yang selalu bersama ku? yang selalu ku goda? yang selalu mengikuti perintah ku? Yang selalu memasang muka datar? .Apa mungkin aku takut? Apa mungkin aku memang selemah itu? Aku gak bisa berhenti bertanya dalam pikiran ku, sampai akhirnya dia melempar kan senyuman manisnya kepada ku. Tidak, itu bukan senyuman manis yang sering dia perlihatkan padaku


Senyuman yang kesepian aku tidak bisa melihat pemandangan itu terlalu lama. Aku berlari dan mendekap tubuhnya kedalam pelukanku, ku dekap dengan erat agar dia tidak bisa pergi meninggalkan ku. Untuk pertama kalinya aku sangat takut kehilangan seseorang dalam hidupku selain papa dan mamaku.


Tanpa sadar aku mengatakan hal yang menurut ku memalukan, tapi aku tidak menyesalinya karena aku mendapatkan jawaban yang selalu ingin ku dengar dan sangat memuaskan


Kulepas delapan ku, ku tatap wajah cantiknya yang berlumuran darah, ku usap wajahnya yang berlumuran darah itu menggunakan jempol jariku.


Lagi-lagi aku mengatakan hal yang memalukan. Tidak!!, Bukan kata-kata ku yang memalukan tapi nada suara ku yang sama sekali tidak pernah ku lakukan seumur hidup ku. Tapi, lagi-lagi aku tidak menyesalinya, entah mengapa aku merasa akan melakukan apapun untuk wanita yang tengah ku genggam tanganya.


Ku tarik dia ke dalam mobil, suasana yang hening, yang bisa kudengar hanya suaranya yang kecil tengah menelpon seorang, ku coba untuk bertanya, tapi lagi-lagi seperti biasa aku mendapatkan jawaban yang samar. Aku cukup senang dengan jawaban nya, itu berarti kalo dia masih Kian yang aku kenal.


Mobil berhenti dan langsung ku tarik tangannya keluar mobil dan masuk kedalam rumahku, Tidak! Itu bukan rumahku itu rumah milik kedua orangtuaku.


Aku melewati pak Lim dan juga beberapa pelayan yang memandang ku dengan tatapan herannya. Aku sama sekali tidak peduli denga mereka, yang ada di pikiran ku sekarang hanya ingin mengobati luka-luka yang ada di tubuh gadis pujaan ku ini yang sedang ku genggam erat tangannya.


Ku buka pintu berdaun dua yang tinggi itu, terlihat seorang wanita parubaya menatap ku dengan kekhawatiran, yah itulah mama ku. Dia berlari mendekati gadis pujaan ku dan langsung memeluk nya.


BERSAMBUNG


maaf yah guys🙏 update lama😅


tapi udah bisa update nih,


jangan lupa like, komennya yah


jangan lupa vote juga🤭

__ADS_1


dukung terus karya ku yah guys 😋


__ADS_2