
Selesai dengan buku-buku yang ada di ruang belajar Tristan. Tristan pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama kedua orang tuanya dan diikuti oleh Kian.
Di meja makan
Seperti saat sarapan tadi pagi, Kian juga ikut duduk di meja makan untuk makan malam.
"Jadi, gimana Kian pekerjaan mu satu hari ini?... Apa menyenangkan?". Tanya Isabel
"Iya nyonya, ini pertama kalinya saya memulai pekerjaan tanpa beban". Jawab Kian.
"Oh.. bagus lah". Jawab Leonart, padahal yang bertanya tadi istrinya.
"Oh yah... Pa, ada yang pengen aku kasi tau ke papa". Ucap Tristan.
"Hmm.. apa?". Jawab Leonart yang sudah selesai dengan makanannya
"Nanti aku kasi tau di ruang belajar ajah". Ucap Tristan yang juga sudah selesai dengan makanannya
"Oh... Oke, kalo gitu ayo ke ruang belajar papa". Balas Leonart yang kini sudah berdiri di ikuti dengan Tristan yang juga ikut berdiri.
Belum sempat melangkah, Isabel yang dari tadi hanya diam saja akhirnya membuka suara.
"Apa sih... Tris... Kok rahasia banget sih". Tanya Isabel dengan cemberut.
"Ini rahasia laki-laki mah..". Jawab Leonart.
"Iya mah.. mama gak usah mikirin". Timpal Tristan.
"Cih... Iya deh... Kalo itu emang urusan laki-laki". Jawab Isabel cemberut
Leonart dan Tristan meninggalkan meja makan dan bersama-sama ke ruang belajar Leonart
"Udah selesai Kian?". Tanya Isabel ke Kian yang sudah menghabiskan makanannya begitu pula dengan Kian.
"Iya nyonya". Jawab Kian
"Kalo gitu Kian, kembali ajah dulu ke kamar mu yah... Istirahat". Kata Isabel ke Kian, yang mengetahui pasti Kian sudah lelah seharian
"Baik nyonya". Jawab Kian, yang hendak berdiri sambil membawa piring kotornya.
"Gak usah di beresin Kian!!...". Ucap Isabel yang menahan Kian untuk meletakkan kembali piring nya.
"Ada para pelayan yang bisa membereskannya, itu bukan tugas kamu kan". Lanjut Isabel yang berhasil membuat Kian menaruh kembali piring nya.
"Baik nyonya". Jawab Kian "kalo gitu,... Saya akan kembali ke kamar saya". Lanjut Kian.
"Iya....". Isabel terseyum tipis
"Permisi". Ucap Kian dan melangkah meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya
Di ruang belajar Leonart
Leonart dan Tristan sudah duduk di sofa sambil menghadap satu sama lain.
"Ada apa Tristan... Apa yang ingin kau katakan?". Tanya Leonart yang dulu memulai percakapan
"Gini nih pah.... Papa yakin menjadikan Kian sebagai pengawal?" Balik tanya Tristan
"Iya... Papa yakin... Dia mantan tentara, dia seharusnya terbiasa dengan tugas seperti ini kan". Jawab Leonart
"Bukan itu pah....". Tristan
"Bukan gitu apanya?". Tanya Leonart
"Bakat nya sia-sia loh pa!". Ucap Tristan
"Anak jenius kaya dia tuh... Harusnya sekolah, gak jadi pengawal". Lanjut Tristan
Leonart membaringkan tubuhnya di sandaran sofa
"Hahahah jadi itu yah..". Ucap Leonart tertawa
"Maksudnya pah?". Tanya Tristan bingung
"Jadi kau sudah tau yah,... Kalo Kian itu jenius?". Leonart
"Eh ..!? Apa maksudnya pah..?". Ucap Tristan "apa jangan-jangan papa juga udah tau yah?". Lanjut Tristan
"Iya.. papa udah tau". Jawab Leonart santai
"Jadi.... Kenapa papa jadi in dia pengawal?". Tanya Tristan
"Tenang ajah... Papa udah punya rencana untuk Kian...". Jawab Leonart "papa tidak mungkin menyia-nyiakan bakatnya". Lanjut Leonart
"Oh... Aku kira papa gak tau". Tristan yang juga ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa
"Hahah tenang ajah...". Balas Leonart
"Jadi,... Gimana sekolah mu tadi Tris?". Tanya Leonart
Dan... Percakapan antara anak dan ayah pun memenuhi ruangan itu dengan aura kebahagiaan
__ADS_1
Di sisi lain
Kian yang sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya
"Kamar yang sebagus ini kok buat pengawal yah?.... Ada-ada ajah". Kian
"Hufff". Desah Kian
"Satu hari ini, kok gak kerasa capek yah...?".Kian
"Yah.. semoga ajah pekerjaan ini bisa lancar". Lanjut Kian yang dari tadi hanya berbicara sendiri
"Mending tidur ajah deh". Ucap Kian yang sudah menarik selimutnya dan bersiap-siap untuk tidur.
Pagi harinya....
Seperti biasa, Kian membangunkan Tristan untuk ke sekolah.
Dan sarapan bersama, setelah itu mengantarnya ke sekolah. Dan saat pulang sekolah, Kian menjemput Tristan. Lalu kembali ke kediaman Greyson.
Serta tak lupa pula ke ruang belajar Tristan. Untuk Tristan belajar dan jangan lupa, Kian juga ikut belajar karena di paksa oleh Tristan.
Hari-hari seperti itu selalu terulang.... Tanpa hentinya.
Dua bulan kemudian...
Kini Kian berada di kamarnya, setelah mengantar Tristan ke sekolahnya. Kian membaca buku dan belajar sendiri di kamarnya, yah... Itu karena disuruh oleh Leonart. Sebenarnya hari-hari Kian juga kebanyakan di isi oleh buku dan materi yang ia pelajari.
Kring... Kring....🎶
Suara telpon Kian berbunyi. Kian melihat dan mendapati nama Tristan.
Kian langsung mengangkat nya.
"Halo tuan..". Ucap Kian
"Halo...". Balas Tristan dari seberang
"Iya, ada apa tuan". Tanya Kian
"Nanti,... Gak usah jemput aku yah...". Kata Tristan dari seberang
"Kenapa tuan?". Tanya Kian bingung
"Aku ada acara, sama teman-teman ku, mungkin pulang nya agak malam, kasi tau mama yah". Balas Tristan dari seberang
"Baik tuan". Jawab Kian
"Baik tuan". Kian
Tutt.. tutt...
Kian pun turun dan memberitahu Isabel, tentang Tristan tadi.
Pukul 20.30, Tristan belum juga pulang
Isabel yang khawatir menyuruh Mang Kipli untuk menjemput Tristan, dia tidak mau menyuruh Kian karena hari sudah sangat gelap dan Kian juga seorang gadis apalagi sekarang Leoanart sedang ke luar kota.
Mang Kipli yang sudah bersiap-siap akan pergi ditahan oleh Kian.
"Ada apa neng Kian". Tanya Mang Kipli
"Aku juga ikut mang". Jawab Kian, yang belum sempat dapat sepertujuan Mang Kipli, langsung masuk ke dalam mobil dan duduk manis di dalam
"Ayo mang..". Ajak Kian tanpa ekspresi
"Tapi,... Neng, nyonya gak ngizinin neng pergi". Balas Mang Kipli ragu-ragu
"Gak papa mang, aku juga khawatir sama tuan Tristan, aku pengawal nya masa gak pergi sih..". Jawab Kian "ayo mang... Keburu nih..". Lanjut Kian dan menutup pintu mobil.
Mang Kipli hanya bisa pasrah dan mesuk ke dalam mobil.
Mobil melaju dan akhirnya sampai di depan gerbang sekolah Tristan.
Kian langsung turun, saat Kian turun dia melihat Tristan yang juga sudah keluar dari sekolahnya bersama teman-temannya
"Gw duluan yah.. ". Ucap salah satu temannya
"Oke..". Balas Tristan dan juga Andi
"Woi... Tris, liat tuh pujaan hati luh udah datang". Ucap Andi yang melihat Kian
' eh.. Kenapa tuh cewek datang, padahal gw udah suruh gak usah '. Batin Tristan bingung
"Emangnya kenapa.... Udah ah.. lu pulang ajah sana". Jawab Tristan dengan mendorong tubuh Andi.
"Oke.. oke.., kalo gitu gw duluan yah". Balas Andi dengan melambai-lambaikan tangannya dan melangkah menjauh
Sekarang tinggal Tristan sendiri, Kian yang merasa sudah aman pun, melangkah mendekati Tristan
"Selamat malam tuan". Sapa Kian
__ADS_1
"Ngapain kamu kesini?". Tanya Tristan yang tidak menghiraukan sapaan dari Kian
"Saya datang kesini untuk menjemput tuan". Jawab datar Kian
"Tadi aku suruh kamu gak perlu jemput aku kan". Ucap Tristan
"Iya tuan,... Tapi nyonya sangat khawatir dengan keadaan tuan". Jawab Kian
"Oh... Itu udah biasa". Ucap Tristan "kalo gitu kamu juga khawatir yah?". Tanya Tristan yang sengaja ingin menggoda Kian. Yahhh hubungan mereka sudah semakin dekat dan bisa dikatakan akrab
Kian menatap wajah Tristan dan berkata
"Iya tuan!!... Saya sangat mengkhawatirkan tuan Tristan kenapa-napa". Jawab Kian tanpa ragu-ragu
Tristan yang mendengarkan perkataan dari Kian, membuat wajahnya memerah padam. Dia yang tadinya ingin membuat Kian malu dengan menggodanya malah terbalik dengan mendapatkan serangan mendadak dari kepolosan Kian.
"Uhuk... Uhuk...". Batuk Tristan yang di buat-buat "udah ayo kita pulang". Ucap Tristan yang melangkah duluan mendahului Kian dan diikuti oleh Kian.
Belum sempat masuk ke dalam mobil...
Tiba-tiba
Dor.... Suara tembakan terdengar dan hampir mengenai Tristan kalo saja Kian tidak langsung menarik tangan Tristan.
Kian menarik tangan Tristan agar segera menjauh dari lokasi tempat parkiran mobilnya di bawah pohon yang besar dan rindang dan tak lupa juga dengan mang kipli
"Apa itu... Huuuu gimana ini tuan muda...". Ucap mang Kipli yang takut sampai-sampai hampir menangis
Tristan menoleh "tidak papa mang, kita hanya bisa berdoa". Ucap Tristan yang juga panik namun terlihat tetap tenang
Dor .. suara tembakan lagi-lagi berbunyi dan sepertinya mengenai kaca mobil.
Suara tembakan yang berkali-kali itu membuat mang Kipli dan juga Tristan semakin panik
Berbeda halnya dengan Kian, dia nampak sangat tenang seolah sudah terbiasa dengan hal ini.
Kian yang sedari tadi diam dan seperti memikirkan sesuatu akhirnya membuka suara
"Tuan, mang Kipli. Disini saja dulu". Ucap Kian yang hanya memandangi tempat mobil nya terparkir
"Iya benar, kita disini saja dulu sampai bala bantuan tiba". Ucap Tristan berusaha menenangkan semua orang
Kian meraih kantong nya dan mengambil dua pistol. "Tidak, saya tidak yakin kita akan selamat jika harus menunggu bala bantuan". Ucap Kian yanh sudah menodongkan pistol nya ke arah para pembunuh bayaran itu. Dan dor... Suara tembakan Kian, seperti nya berhasil mengenai salah satu dari para pembunuh bayaran itu.
"Apa yang kau lakukan?". Teriak Tristan
"Maaf, tuan saya mohon anda agar tidak teriak dan cobalah untuk tetap tenang, saya di pekerjaan untuk hal-hal yang seperti ini di masa depan". Jawab Kian
Tristan hanya diam, dan tidak bersuara
Dor.. dor.. suara tembakan lagi-lagi terdengar dan juga di ikuti oleh suara tembakan dari pistol Kian.
"Cih... Sial.. peluru nya habis". Ucap Kian lalu membuang pistol kosong yang ada di tangan nya
Tristan terbelalak mendengar perkataan Kian, dari sekian lamanya bersama Kian, baru kali ini di mendengar Kian berkata kasar.
Kian merogoh kantong nya dan mengambil sebilah pisau.
"Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu". Tanya Tristan yang melihat Kian seakan-akan sudah ingin maju
"Tenang ajah, tuan! Saya pasti tidak akan membuat tuan tergores sedikit pu". Jawab Kian dan langsung berlari menuju garis depan dan menghabisi semua para pembunuh itu
Mang Kipli hanya gemetar ketakutan dan berdoa agar Kian tidak kenapa-napa dan dia juga merutuhi kebodohan nya dan kelemahannya
Tapi Tristan sama sekali tidak mendengarkan apapun sekarang, yang dia lihat hanya Kian yang sekarang sedang bertarung melawan para pembunuh bayaran itu.
' rasanya sangat jauh.... Kenapa.. kenapa. Kita seperti bumi dan langit. Kita seperti dari dunia yang berbeda... Jangan tinggalkan aku... '. Batin Tristan yang terlihat sangat sedih
Setelah beberapa lama... Akhirnya Kian berhasil membunuh semua para pembunuh bayaran itu.
Kian pun melirik ke arah Tristan dan juga mang Kipli sambil tersenyum dan melambaikan tangannya dengan berlumuran darah, tapi bukan darahnya melainkan darah dari para pembunuh bayaran itu.
Tristan yang melihat senyuman Kian. Dia pun berlari dan langsung memeluk erat Kian.
'jangan pergi.... Kenapa aku merasa kau itu sangat dekat tapi tidak bisa ku gapai..., Seolah-olah kau akan pergi meninggalkan ku'. Batin Tristan yang masih memeluk erat Kian
"Anu .... Tuan?". Kian
Tristan seolah-olah tidak mendengarkan nya dan masih tetap memeluk erat Kian
"Jangan pergi...". Ucap Tristan
"Saya tidak akan pergi kemana-mana tuan". Jawab Kian dan ikut memeluk Tristan. Dia berfikir kalo Tristan terlalu syok dengan apa yang dia alami sekarang. Padahal Tristan hanya tidak ingin melihat Kian yang terlihat sangat jauh menurutnya
Mang Kipli hanya diam dan tidak berani berkata-kata.
BERSAMBUNG
ini novel pertama ku, jadi mohon like dan komen nya agar aku bisa lanjut buat ceritanya, dan jangan lupa kritik dan sarannya yah guys, biar aku bisa koreksi yang salah.
Happy reading ☺️
__ADS_1