
Yang terlihat sekarang hanya punggung dari keluarga bahagia itu.
Lama Kian berdiri hanya melihat kegembiraan dari raut wajah bang Ujang dan juga anak serta istrinya. Sambil tersenyum tipis. 'Semoga bahagia terus yah bang Ujang'. Batin Kian, berjalan menjauh dari tempat dia berdiri tadi.
"Ahh... Lapar banget nih". Ucap Kian sambil Menyentuh perutnya yang berbunyi.
"Mending ke beeskam dulu ajah deh.
Siapa tau dapat makanan hehe". membayangkan nasi goreng yang selalu dia makan di beeskam dulu.
DI BEESKAM
"Eh Kian, ngapain kesini. Gak pulang?". Tanya seorang lelaki yang nampak gagah namun pake celemek:v.
"Gak bang, Kian lapar pengen makan". Menjawab dengan muka datar, sambil duduk di kursi yang ada di dalam beeskam.
"Oh.. kalo gitu abang buatin nasi goreng dulu yah". Mangambil wajan yang tergantung di dinding. Kian hanya mengangguk.
Pakk... Sebuah piring dengan nasi goreng dan telur mata sapi sudah ada di depan meja Kian.
"Nih Kian, dimakan yah". Menyodorkan sendok ke Kian.
"Iya bang, Kian pasti habisin". Mengambil sendok dan mengambil suapan pertama nya.
"Gimana Kian, enak?". Muka berbinar menantikan jawaban yang memuaskan.
"Iya bang enak, semua masakan bang Alan, pasti enak". Mengangkat jempol sambil masih mengunyah makanannya.
"Hehehe siapa dulu dong Alan sentosa gitu, penerus warung Sentosa hehehe". Memukul dadanya dengan rasa bangga.
"Iya bang, abang yang terbaik deh". Masih sibuk dengan makanannya.
.
.
.
.
.
"Ini makanan yang terakhir yah, soalnya udah gak ada bahan-bahannya lagi". Melirik ke arah lemari tempat bahan-bahan makanan yang sudah kosong.
"Iya bang". Memakan suapan terakhirnya.
"Lagian Kian juga udah punya banyak uang kan, masa penguasa perang gak di bayar sih hahah canda Kian". Tertawa terbahak-bahak.
"Haha Bang Alan bisa ajah". Senyum masam tergambar di bibir Kian.
Yah tidak ada yang tau kalo sebenarnya Kian tidak dibayar selama ini, menurut nya di beri makan dan kesempatan hidup sampai sekarang itu patut dia syukuri.
Mau bagaimana lagi Kian hanya mantan seorang budak. Dan budak tidak di bayar ataupun di beri gelar. Bahkan gelar penguasa perang itu hanya sebutan semata.
Kian duduk sambil memikirkan saat dia ingin mengubah status nya dari budak ke tentara.
Flashback on
__ADS_1
Itu sekitar 3 tahun lalu.....
"Bangun semuanya.....". Teriak penjaga dapur, membangunkan semua orang yang ada di dalam kamar. Yah kamar cuman ada satu, tidak ada kasur. Mereka tidur menggunakan kardus-kardus bekas.
"Pagi...".
"Pagi...". Sapa beberapa orang.
Para budak, yah yang dimaksud itu Kian dan juga beberapa anak yang seusianya ada yang lebih tua juga sih.
"Cepat buatkan sarapan untuk para pasukan". Teriak penjaga dapur yang mengingatkan agar mereka membuat sarapan.
"Kian, kaka pergi ke dapur dulu yah, Kian juga harus ke tempat Kian bertugas kan". Melangkah membelakangi Kian.
"Hm... Kian pengennya ama ka Ana". Rengek Kian. Kian memang sangat manja saat itu, apalagi jika bersama kak Ana.
"Salah sendiri kan, Kian yang gak bisa masak". Terkekeh.
"Hmmmm". Dengan nada ngambek nya.
"Udah ahh kaka pergi ke dapur dulu, entar kita kena marah lagi. Kian juga gih pergi ke tempat tugasnya". Mendorong tubuh Kian.
Kian pun pergi ke tempat tugasnya. Tugas Kian hanya bersih-bersih bersama para budak lainnya yang tidak bisa masak.
Waktu Kian hendak membersihkan meja para tentara itu. Dia tidak sengaja mendengar dua tentara yang sedang asyik mengobrol.
"Kasian nya anak-anak ini, masih kecil nasib nya udah kek gini". Meminum air putih yang ada di depan mejanya.
"Yahh mau gimana lagi kan, kita juga gak bisa ngapa-ngapain". Menjawab dengan nada iba.
"Seandainya mereka laki-laki, paling tidak mereka bisa jadi tentara kan". Melihat para budak yang sedang membersihkan.
"Iya. Tapi lu dengar tidak". Mencondongkan badannya ke depan meja.
"Apa?". Ikut mencondongkan badannya juga.
"Gue dengar ada budak yang udah cukup umur dijual, terus sih pembelinya memerkosanya, tapi sih budak ini ngelawan malah dibunuh". Membisikkan agar tidak ada yang dengar.
"Iya... Iya .. gue juga dengar, ihh ngeri". Merinding mendengar perkataan temannya.
Tapi yahh pendengaran Kian sangat tajam, walaupun saat seseorang sedang berbisik dia masih bisa mendengarkannya. Yah walaupun Kian harus fokus juga sih.
Kian terbelalak dan terkejut mendengar kenyataan ini. Lalu dia mengingat-ngingat kalo umur kak Ana sudah hampir mencukupi untuk dijual.
Kian berpikir bagaimana dia bisa membawa kak Ana keluar dari tempat itu.
"Ah benar juga". Mendapat ide dari mengingat perkataan dua tentara tadi.
Dia pun berlari ke tempat istirahat, yah udah siang waktunya istirahat dong yah.
"Ka Ana ......". Teriak Kian mencari kak Ana.
"Hussss.... Jangan teriak-teriak gitu dong". Menutup mulut Kian menggunakan tangannya, sedangkan satu tangannya lagi dengan menggunakan telunjuk mentup mulutnya.
"Ka aku punya berita penting". Menyingkirkan tangan kak Ana yang menutupi mulutnya.
"Apa Kian". Mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Kian pengen jadi tentara kak". Antusias Kian bisa terbaca dari wajahnya.
"Ehh.. kok tiba-tiba sih pengen jadi tentara?". Tanya kak Ana yang terkejut dengan pernyataan Kian.
"Hehe gak papa ka, pengen ajah". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kian tidak mau mengatakan yang sebenarnya kepada kak Ana, dia tidak mau membuat nya khawatir.
"Tapi kan Kian perempuan, yang biasanya jadi tentara itu laki-laki". Memegang bahu Kian.
"Gak papa ka, Kian kuat kok". Memperlihatkan ototnya, yah sebenernya bukan ototnya yang kelihatan malahan tulang-tulang nya yang kurus.
"Huhhh". Mendesah. "Kalo Kian memang maunya begitu, terserah Kian deh". Menarik tangannya dari bahu Kian.
"Hehehe makasih kak... Kian pasti berjuang". Memperlihatkan senyumnya yang lebar.
Waktunya pemilihan tentara bagi anak laki-laki.
"Eh kenapa disina ada perempuan juga". Ucap pengawasnya, sambil menunjuk Kian.
"Saya juga ingin masuk tentara bang".
Melantangkan suaranya dan berdiri tegap.
"Ahhaah". Tertawa terbahak-bahak. "Mana bisa cil... Hahaha". Geleng-geleng melihat Kian.
"Kenapa bang?". Memiringkan kepalanya.
"Gini nih... Cilll..". Ucapan penjaganya terpotong
"Ada apa?". Terdengar suara dari belakang, yang sedang duduk. Yah itulah kolonel Arga.
"Ah.. ko..kolonel". Menjawab dengan gagap.
"Apa yang anda lakukan disini?".
"Kau belum menjawab pertanyaan saya tadi". Melirik melihat Kian.
"Siap kolonel..... . Anak ini ingin masuk ke tentara padahal dia perempuan". Jawab dengan lantang dan menunjuk Kian.
"Hee...". Senyum tipis tergambar dari mulutnya.
"Adik kecil siapa nama mu?". Tanya kolonel.
"Kian kolonel". Menjawab sambil mendongak melihatnya.
"Kian. Kalo kau ingin masuk tentara, kau harus bisa menjatuhkan anak laki-laki yang ingin bergabung juga". Menunjuk para peserta laki-laki.
Kian melirik dan melihat para anak laki-laki sedang terkekeh melihat Kian.
"Siap kolonel!". Menjawab tanpa ragu.
Dan yah benar saja Kian berhasil menjatuhkan semua peserta laki-laki. Kian memang sangat hebat dalam hal berkelahi hehehe.
Saat itulah hari-hari Kian berganti jadi yang setiap hari memegang sapu berubah menjadi senapan.
Flashback off
BERSAMBUNG
__ADS_1