
Mobil masuk ke dalam halaman Greyson dan terus melaju hingga ke dalam bagasi mobil.
Tristan turun dan di ekori oleh Kian.
"Biar saya yang bawa belanjaan nya tuan". Sahut tiba-tiba Kian dan akan mengambil belanjaan yang di bawa Tristan, namun di tepis olehnya.
"Tidak perlu... Biar aku saja. Ini memang tugas nya pria". Ucap Tristan yang lebih dulu masuk ke dalam rumahnya
' apa dia tidak mau menjelaskan tentang laki-laki tadi '. Batin kesal Tristan. ' yah.. walaupun aku juga sudah tau sih,... Tapi kan seharusnya dia jelasin iyakan '.
Batin Tristan yang terus melangkah tanpa memperdulikan Kian. [Bukan siapa-siapa situ kan bambank] <----- Author
Di meja makan
Kian terlihat sedang menyusun rapi makanan nya di atas meja dan di bantu oleh pelayan yang ada dirumah itu.
Biasanya Isabel yang melakukan nya, tapi sekarang dia sedang liburan bersama dengan Leonart. Biasalah karena Leonart juga sudah tidak sibuk di kantor, karena posisinya sebagai CEO sudah dia berikan kepada putra satu-satunya.
Tristan terus saja memandangi Kian dengan tatapan yang menyelidik, seakan mengatakan bahwa 'aku butuh penjelasan'.
Kian yang di tatap hanya merasa aneh dan tetap menata makanan di meja makan dengan perasaan canggung nya.
Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja. Kian dan juga Tristan mulai memakan makanan nya.
Tapi lagi-lagi Tristan hanya menatap ke arah Kian sambil memakan makanan nya
' aaaa... Ini tuan Tristan dari tadi ngeliat tin aku mulu, sebenarnya kenapa sih? '. Batin Kian heran. Dia sama sekali tidak berani bersuara ataupun menatap kembali Tristan
"Laki-laki yang di supermarket tadi, ganteng yah". Ucap tiba-tiba Tristan yang sudah mengalihkan pandangannya dari wajah Kian dan sekarang hanya menatap makanan nya.
"Eh... Iya tuan, pak Galih memang cukup populer di kampus". Balas Santai Kian
"Pak Galih?... Kau kenal dia?". Tanya Tristan yang pura pura tidak mengetahui identitas Galih
"Dia mantan dosen saya tuan...".
"Yang waktu itu mengajak saya makan siang bersama". Lanjut Kian
"Oh... Jadi dia yah..".
"Apa kau menyukainya?". Tanya blak-blakkan Tristan, membuat Kian tersedak dan dengan sigap Tristan mengambilkan nya air minum.
"Hei... Kau tidak apa-apa kan?". Tanya khawatir Tristan
"Maaf tuan... Saya tidak apa-apa". Menaruh gelas di atas meja bekas dia meminum air tadi
"Saya memang menyukai nya...".
Deg
Rasanya hati Tristan begitu hancur mendengar perkataan Kian. Bagaikan ombak yang menerjang sebuah kota, letusan gunung berapi dan gempa yang melanda hatinya.
"Karena dia dosen yang cukup bisa di andalkan. Yah... Sebatas teman saja tuan". Lanjut Kian
" Eh..!?? ".
__ADS_1
"Kau hanya menyukainya sebagai teman mu?". Terkejut dengan perkataan Kian.
"Iya tuan".
"Oh.. begitu baguslah".
' wa..... Rasanya udah ketelek kesemmek aku dengar nya tadi. Padahal hati ku tadi udah ke iris-iris loh. Yah... Tapi aku juga sangat senang dengan perkataan nya'. Batin senang Tristan dan mulai melanjutkan makannya dengan hawa yang menggembirakan
' eh.. kok rasanya hawa disini berubah yah, jadi lebih tenang'. Batin bi Lumrah yang sedari tadi hanya melihat Kian dan juga Tristan makan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya dikantor
Lagi-lagi Kian meminta izin untuk makan di luar bersama dengan Galih. Tristan yang sudah sangat-sangat muak itupun hanya bisa mengizinkan Kian, tetapi tak lupa dia mengikutinya tanpa sepengetahuan Kian
Di dalam sebuah cafe
"Apa hubungan mu dengan tuan muda Greyson itu Kian?".
"Kemarin dia sangat marah saat aku mengajak mu mengobrol". Tanya Galih yang sedang menyeruput kopinya
"Tuan Tristan adalah majikan saya pak".
"Berkat tuan Leonart, saya bisa lulus dan sarjana sekarang". Balas Kian sambil tersenyum
"Jadi dia hanya majikan mu?". Tanya Lagi Galih
"Dia gak ngapa-ngapain kamu kan". Lanjut nya
"Enggak lah pak, saya sangat bersyukur bisa tinggal di kediaman Greyson". Menyeruput kopi coklat nya
"Pak, gak perlu gitu juga kan. Saya memang tinggal di kediaman Greyson, emangnya kenapa pak?". Tanya Kian
"Kamu beneran gak di apa-apain kan?". Tanya khawatir Galih
"Gak di paksa buat tinggal disitu kan?". Lanjut nya yang terlihat sangat khawatir.
Tapi beda halnya dengan Kian yang malah muak dengan pernyataan Gakih, karena Galih seperti sedang meragukan kebaikan Tristan dan juga orang-orang yang tinggal di kediaman Greyson
Prak ....
Suara gelas minuman Kian yang dia taruh di meja depan nya dan dengan sengaja sedikit membanting nya, sehingga terdengar lah suaranya. Membuat Galih terkejut
"Pak... Saya sangat...".
Belum sempat Kiam melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Tristan datang dan langsung menggenggam tangan Kian sontak membuat kedua orang tersebut kaget.
Tristan lalu menarik tangan Kian tanpa bicara sepatah kata dan hendak melangkah, namun tiba-tiba Galih menghadangnya.
"Apa maksud anda tuan Tristan, Kian sedang makan bersama saya. Walaupun anda adalah majikan nya, bukan berarti anda bisa berlaku seenaknya". Ucap Galih dengan sedikit berteriak
Tristan menyunggingkan sedikit bibirnya dan tersenyum sinis
"He... Majikan?... Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakan waktu di supermarket-supermarket!!". Masih menggenggam tangan Kian
__ADS_1
"Dia wanita ku, dan terserah aku ingin melakukan apa kepadanya". Lanjut Tristan
Dia pun hendak melangkah namun lagi-lagi di halangi oleh Galih
"Kian... Kamu ngomong lah sesuatu, kamu pasti di paksa kan". Ucap Galih yang beralih melihat Kian
"Maaf pak... Tapi saya sama sekali tidak di paksa, dan juga saya sangat tidak suka dan tidak bisa terima anda menuduh yang tidak-tidak kepada tuan Tristan". Jawab Kian dan menatap tajam ke arah Galih. Dia sudah dari tadi menahannya, pas Galih menuduh yang tidak-tidak kepada keluarga Greyson
Galih yang melihat tatapan Kian sontak terkejut dan melangkah mundur
"Kau sudah dengar kan?".
"Sekarang apa kau bisa minggir?". Ucap Tristan dan langsung menarik tangan Kian dan meninggalkan Galih
Galih hanya bisa diam membeku, dan masih terbayang bayang tatapan dari Kian
' yah... Cari masalah sendiri sih. Wanita bos kok di ganggu. Cari mati yah'. Batin Alex yang sedari tadi hanya menonton pertunjukan di depannya, dan melangkah mengikuti Tristan dan juga Kian
****
"Berhenti disini lex". Ucap Tristan dan membuat Alex menghentikan mobilnya dan keluar dari dalam mobil di susul dengan Kian
Di sebuah taman dan terdapat danau disitu.
Tristan hanya menatap lekat-lekat danau yang ada di depannya, sedangkan Kian hanya menatap Tristan.
Tristan menoleh melihat Kian dan membuat Kian malu karena tertangkap sedang memandangi wajah Majikannya
Tristan pun memiringkan badannya dan memegang pundak Kian, agar Kian juga menoleh ke arahnya.
Mata mereka berdua bertemu, dan Tristan hanya menatap lekat-lekat mata Kuning campur emas Kian.
Kian sampai di buat salah tingkah dengan kelakuan Tristan
Tristan tiba-tiba menundukkan kepalanya di pundak Kian dan sontak saja mengagetkan nya.
"Aku takut Kian...". Lirih Tristan
' eh.... Ada apa ini?!...' batin Histeris Kian
Kian hanya terdiam mendengar perkataan Tristan
"Aku sangat takut saat melihat mu tertawa dan makan bersama dengan laki-laki lain". Lanjut nya.
Tristan pun mengangkat kembali wajahnya dan mengapit pipi Kian menggunakan kedua tangannya, dan menatap lekat-lekat wajahnya
"Aku mencintaimu Kian". Ucap tiba-tiba Tristan yang sontak membuat Kian terkejut
Deg
Jantung Kian seakan di buru, dia sangat bahagia namun juga dia menjadi takut.
"Jadi?... Apa kau mau jadi kekasih ku?".
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. dengan cara like dan komen yang sebanyak banyaknya. dan dukung terus karya ku yah.
happy reading