
Tristan keluar dari ruangan bawah tanah itu diikuti oleh Kian.
Bruk...
Kian membentur punggung Tristan.
"Maaf tuan". Ucap Kian dengan menunduk dan memegangi keningnya yang tertabrak tadi.
Tristan berbalik dan menggenggam kedua tangan Kian dan melepaskan nya dari keningnya tadi. Lalu Tristan mengusap kening Kian dan meniupnya membuat wajah Kian merona.
"Apa tidak ada yang mau kau jelaskan?". Tanya Tristan yang sudah melepaskan tangannya dari kening Kian dan mengangkat satu alisnya
"Maaf tuan... Saya begitu khawatir dengan tuan, makanya saya memberanikan diri mengikuti tuan ke club". Jawab Kian menunduk
"Huf...". Desah Tristan
Plak....
Centilan di dahi Kian, membuatnya lagi-lagi memegang nya dan mengusap nya.
"Bukan itu yang kumaksud... Berbahaya bagi kamu sendiri ke club, apalagi kamu itu perempuan". Ucap Tristan
' eh!!?.. aku kira tuan Tristan bakalan marah, karena aku mengikuti nya. Jadi dia marah karena khawatir yah... Rasanya menyenangkan '. Batin senang Kian
"Tenang saja tuan... Saya sangat pandai berkelahi". Membanggakan diri nya sendiri
"Walaupun begitu... Tenaga perempuan dan juga laki-laki itu, berbeda jauh". Lagi-lagi menyentil dahi Kian
"Ingat!!... Jangan di ulangi". Lanjut Tristan
"Baik tuan".
"Kalo begitu pergi sana istirahat... Besok masih harus kerja". Ucap Tristan
"Baik tuan... Kalo begitu saya permisi". Ucap Kian dan di angguki oleh Tristan.
Kian pun melangkah pergi ke kamarnya di samping kamar Tristan.
"Gimana Tris... Masalah nya?". Tanya tiba-tiba Isabel yang muncul entah dari mana
"Eh.. mama, kaget aku". Memegang dadanya.
"Ish... Tris, jawab dong... Gimana?.. udah selesai kan?". Tanya Isabel sewot
"Haha iya mah.. udah selesai". Jawab Tristan
"Beneran kan.. kamu gak ngapa-ngapain perempuan itu". Tatapan menyelidik nya menatap Tristan
"Enggak lah mah... Anak mama kan gak gitu". Balas Tristan
"Hu... Yah kalo gitu syukur deh. Mama gak mau punya mantu orang gak tau malu kaya gitu". Sewot Isabel.
"Hahaha siapa juga sih... Yang pengen nikahin orang kaya gitu. Udah gesrek kali otaknya hehe" ucap Tristan dengan kekehannya
"Tris capek ma.. aku kembali ke kamar yah. Badan pegal semua nih". Ucap Tristan dan membuat Isabel menggaguki nya.
Tristan pun melangkah menuju kamarnya.
Keesokan harinya
"Selamat pagi tuan, nyonya". Sapa Kian saat melihat Tristan dan juga Isabel bersama-sama menuju meja makan
Isabel tersenyum "pagi..".
Dia pun duduk sarapan bersama Kian dan juga Tristan, karena Leonart sedang perjalanan bisnis ke luar kota
__ADS_1
Di kantor
"Permisi tuan". Sapa Kian yang baru masuk ke ruangan Tristan
"Hmm ada apa Kian?". Tanya Tristan
"Begini tuan... Apa nanti saat makan siang saya boleh keluar makan?". Tanya Kian ragu-ragu
"Baiklah.. kita akan makan siang diluar kali ini". Tanpa ragu-ragu menjawab nya
"Bukan begitu maksud saya tuan". Ucap Kian
Tristan mengerutkan keningnya dan langsung menutup file yang sempat dia baca tadi.
"Jadi... Apa maksudmu?".
"Saya ingin makan siang bersama teman saya tuan... Karena dia selalu sibuk, jadi hari ini dia baru ada waktu". Jelas Kian
"Teman?... Apa itu teman mu waktu kau di universitas mu?". Tanya Tristan
"Iya tuan".
"Laki-laki atau perempuan?". Tanya Tristan menyelidik
Dengan ragu-ragu Kian menjawab
"Laki-laki tuan".
"Tidak boleh". Spontan langsung menjawab dan Menumbuk meja yang ada di depan nya.
Membuat Kian menunduk
"Maaf tuan". Lirih Kian
"Huff...". Memegang keningnya
"Baiklah aku mengizinkan mu". Ucap Tristan
"Tapi... Tidak lebih dari sejam". Lanjut nya
Kian mendongak dan langsung tersenyum
"Baik tuan". Bersemangat
"Kalo begitu saya permisi dulu". Lanjut nya dan diangguki oleh Tristan.
Kian pun keluar dari ruangan tersebut
' senang banget.... Siapa sih dia?...!'. Batin kesal Tristan
"Alex...". Panggil Tristan
"Iya tuan". Dengan sigap sudah ada di depan Tristan
"Atur orang untuk mengikuti Kian".
"Baik tuan".
Keluar dari ruangan Tristan
' wa... Siapa lagi tuh yang cari masalah... Benar-benar cari mati'. Alex
Jam makan siang pun tiba
Di sebuah cafe...
__ADS_1
"Sudah lama tidak bertemu". Ucap seorang lelaki di hadapan Kian yang sedang duduk sambil memakan makanannya
"Iya, pak Galih... Sudah lama gak ketemu. Gimana kabarnya pak?". Tanya Kian kepada mantan dosennya. Yah... Itulah Galih... Mantan dosen Kian, yang bisa di bilang masih muda. Mungkin baru berkepala 3 dan bisa dibilang cukup tampan dan di gilai banyak wanita.
"Baik... Kamu sendiri? Gimana kabarmu?.. katanya kau bekerja di Grup Greyson kan". Memandangi wajah Kian
"Baik juga pak". Jawab Kian
"Iya.. udah 8 bulan lebih aku kerja di Grub Greyson". Lanjut Kian
"Kerja apa disitu Kian?".
"Jadi sekretaris pak CEO pak".
"Wah... Hebat banget tuh... Iyalah yah.. siapa lagi mantan asisten ku dong hehe". Ucap Galih terkekeh
"Hahah bapa bisa ajah".
"Yang saya katakan benar kan"
"Hehe iya sih...". Balas Kian
"Wah.. bentar lagi udah mau habis jam makan siang nya". Melihat hp nya yang ada di atas meja
"Belum tuh.. masih ada 30 menitan". Ikut melihat jam tangannya
"Tapi perjalanan nya kan makan waktu sampai 10 menit". Buru-buru menghabiskan makanannya
"Pelan.. pelan". Terlihat khawatir
"Tapi masih ada 20 menit yang tersisa". Lanjut nya dan memberikan minuman kepada Kian
Kian menerima minuman itu dan langsung meminumnya.
"Kata bos aku... Gak boleh lebih dari sejam... Dan ini udah mau sejam". Selesai dengan makanannya
"Kok gitu sih.. ketat banget... Walaupun itu perusahaan besar, tapi gak gini juga kan!". Marah Galih
"Maaf pak.. kalo ada waktu akan ku jelaskan. Saya permisi dulu". Langsung lari keluar cafe dan masuk mobil nya menancapnya ke Grub Greyson.
Di kantor
"Jadi..? Siapa yang di temui sama Kian?". Tanya Tristan
"Galih Dirmawa... Dosen nona Kian waktu di universitas nya". Jawab Alex, dia sudah menyelidiki Galih saat dapat info dari orang suruhan nya yang mengikuti Kian
"Hanya dosen... Tapi kenapa Kian harus menemaninya makan siang". Tatapan tidak bersahabat nya mulai terlihat
"I.. itu tuan... Sepertinya nona Kian dulunya seorang asisten dosen. Dan dosennya itu Galih Dirmawa". Gugup Alex
"Dan sepertinya dia juga menyimpan perasaan kepada nona Kian..". Lanjut nya tanpa sadar
' ups.. gawat... Aku kecoplosan... Yah Tuhan selamatkan lah hamba mu yang oon ini hiks..'.
Sekarang tempat itu benar-benar sudah terpenuhi dengan aura negatif...
"Hmm kamu bisa keluar". Usir Tristan. Alex segera keluar dari ruangan itu karena tidak sanggup manahan aura tekanan dari Tristan
"Cih... Hanya seorang dosen bisa sombong sampai-sampai ingin merebut wanita seorang Tristan Greyson ini". Berdiri dan melangkah berjalan mendekat ke arah jendela besar disitu
"He..!!?!! Coba saja kalo kau bisa Galih Dirmawa". Lanjut dengan senyum sinisnya
BERSAMBUNG
ini novel pertama ku, jadi maaf kalo kata-katanya masih berantakan 😅.
__ADS_1
jangan lupa dukung karyaku dan tinggal kan jejak kalian, dengan cara like dan komen sebanyak-banyak nya☺️
happy reading 😘