
Setelah dua pekan lamanya Papa Hadinata dan Mama Laura pulang ke negara X, hari ini mereka berencana untuk kembali ke negara Y.
"Sayangku, Mama dan Papa pulang dulu ya. Baik-baik di sini dan kalau Ezra nakal, lapor sama Mama, ok honey", pesan Mama Laura setelah ia memeluk erat menantunya.
"Iya, Ma. Hati-hati ya Ma, kabari kami kalau Papa dan Mama sudah sampai".
"Pasti Mama kabari. Yuk, Pa, sebentar lagi pesawat kita mau take off", Mama Laura segera menggandeng tangan suaminya.
"Bersikap baiklah pada istrimu dan Papa tunggu kedatanganmu segera di sana", kali ini Papa Hadinata yang memberikan pesan pada Ezra.
"Iya, Pa. Safe flight, ya", ucap Ezra pendek.
Ayah dan anak itu saling berpelukan, sementara Raya mencium tangan Papa mertuanya saja. Setelah itu mereka berpisah diiringi lambaian tangan.
"Mas Ezra kapan berangkat menyusul Papa dan Mama?", tanya Raya setelah mereka berada di dalam mobil.
Ezra menarik nafas dalam, "Mungkin akhir pekan ini. Kamu yakin tidak apa-apa kalau aku tinggal untuk waktu yang cukup lama?", Ezra menatap istrinya yang sedari tadi juga menatapnya.
Raya menganggukkan kepala, "Yakin, Mas. Aku pasti baik-baik saja, lagi pula di rumah kan ada Mbok Nah dan Pak Seno yang menemaniku".
Ezra mencoba tersenyum mendengar jawaban Raya. Tapi di sudut hatinya yang lain, ada perasaan bersalah yang dalam pada istrinya itu.
Flashback
"Pa, aku sudah mempertimbangkan ucapan Papa. Aku akan mengikuti keinginan Papa, tapi dengan beberapa syarat", ucap Ezra pada sang Papa.
"Syarat? apa itu?".
Ezra terdiam sejenak, "Aku hanya akan menjadi suami Sindy hanya untuk satu tahun saja, tanpa ada kewajiban yang harus aku tunaikan sebagai suaminya dan selama itu pula aku tidak ingin Raya tahu".
Papa Hadinata terdiam, dia mencoba mencerna permintaan putranya.
"Baik, Papa setuju. Om Ardi pasti senang mendengar berita ini. Kapan kamu akan ke negara Y untuk menemuinya dan menikahi Sindy?".
"Secepatnya. Setelah ini aku harap Papa tidak menuntutku untuk melakukan hal-hal bodoh macam ini lagi", ujar Ezra sambil berlalu dari hadapan sang Papa.
Flashback end
"Mas, kita menikah sudah hampir satu tahun dan aku belum bisa memberikan cucu untuk Papa dan Mama. Selama mereka ada di rumah, sepertinya Papa sangat menginginkan seorang cucu", wajah Raya terlihat sendu.
__ADS_1
Tetiba saja dia ingat dengan pertanyaan Papa mertuanya di meja makan soal kehamilan dirinya.
Ezra memberhentikan mobilnya, "Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Maafkan sikap Papa jika itu membebanimu. Selama ini kita juga sedang berusaha dan aku tidak menuntutmu untuk segera memberiku seorang anak, biar Tuhan yang mengaturnya", respon Ezra lembut.
Dia menatap dalam manik mata Raya dan memberikan kecupan lembut di keningnya.
Raya mencoba tersenyum, tapi hatinya tetap diliputi keresahan dan rasa bersalah karena setelah sekian lama menikah masih juga belum bisa memberikan keturunan penerus keluarga Hadinata.
Setelah perbincangan itu, Raya memilih untuk diam. Kedua matanya hanya melihat ke luar jendela mobil hingga rasa kantuk menyergapnya dan ia tertidur.
Ezra yang sedari tadi menyetir tidak lagi mendengar suara istrinya. Dia melirik ke sebelah dan tersenyum saat melihat istri yang begitu disayanginya tertidur.
Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Perlahan dan hati-hati Ezra menggendong Raya dalam pangkuannya. Mungkin karena rasa kantuk yang teramat sangat, Raya tak bergeming sedikit pun saat Ezra membawanya ke kamar mereka di lantai atas.
Ezra merebahkan tubuh Raya dengan hati-hati di tempat tidur lalu menyelimutinya.
"Sayang, aku minta maaf karena aku harus mengikuti permintaan Papa dan tidak terbuka sama kamu. Aku benar-benar mencintaimu, tak ada terlintas sedikit pun keinginan untuk menyakitimu seperti ini. Maafkan aku", batin Ezra.
Ada perih di hatinya atas keputusan yang ia ambil. Sebelum meninggalkan kamar, Ezra mengecup lagi kening Raya yang masih tertidur lelap.
"Mbok, aku ada urusan di luar. Kalau nanti istriku bangun dan mencariku, katakan saja, aku menemui Bagas dan Dion. Ada urusan bisnis dengan mereka dan kemungkinan aku pulang agak larut malam", pesan Ezra sebelum ia meninggalkan rumah.
"Baik, Tuan Muda", jawab Mbok Nah.
Sesaat setelah Ezra tiba di ruangannya, Bagas dan Dion datang bersamaan.
"Hallo, Bro. Tumben nih ngajak ketemu di kantor begini", seloroh Dion begitu memasuki ruangan itu.
"Ada hal penting yang mau gue ceritakan sama kalian. Ayo duduk", ucap Ezra tanpa basa-basi.
"Sebentar, sebelum lo cerita, bisa kali sediakan camilan buat kita", urusan makanan memang nomor satu untuk Bagas.
"Sebentar", Ezra berdiri dari tempat duduknya dan terdengar menghubungi orang di pantry.
Tak lama, terdengar seseorang mengetuk pintu. Dua orang OB yang hari ini lembur mengantarkan makanan dan minuman untuk Ezra dan kedua tamunya. Setelah itu kedua OB tersebut segera meninggalkan ruangan.
"Ok, ada hal penting apa nih yang mau lo bahas sama kita?", tanya Dion dengan mode serius.
Ezra menarik nafas dalam dan menatap kedua sahabatnya bergantian.
__ADS_1
"Gue ... gue mau nikah lagi", jawab Ezra berat.
"What? gue gak salah dengar kan, Zra?", Dion terperanjat.
"Wah gila lo, Zra. Satu istri gak cukup apa gimana?", Bagas pun tak kalah terkejut mendengar ucapan Ezra.
Ezra mengusap wajahnya kasar. Sudah bisa dia bayangkan seperti apa respon kedua sahabatnya ini.
"Please, dengarkan gue dulu. Pertama, lo berdua gak salah dengar dan kedua, gue gak gila. Jelas?", tegas Ezra sambil menatap Dion dan Bagas bergantian.
"Lah, terus kalau lo gak gila, apa namanya?", celetuk Bagas. Dia masih tidak percaya dengan pendengarannya tadi.
Lagi, Ezra menarik nafas dalam. Kali ini ekspresinya terlihat sendu.
"Gue terpaksa melakukan itu. Dua minggu lalu orang tua gue datang ke sini dan baru tadi siang mereka baru balik ke negara Y. Kedatangan mereka awalnya gue kira ya melepas rindu lah sama gue juga Raya. Tapi ternyata ...", Ezra seolah enggan melanjutkan ucapannya.
"Ternyata apa, Zra?", mode kepo Dion kambuh.
"Ternyata Papa datang untuk minta gue nikah sama anak Om Ardi. Om Ardi itu sahabat karib Papa dan dia punya jasa besar dalam membangun bisnis keluarga Hadinata. Saat ini putri tunggalnya, Sindy sedang sakit keras dan dia mau anaknya itu gue nikahi karena itulah permintaan satu-satunya dari Sindy", akhirnya Ezra menuturkan semuanya dengan gamblang.
"Ckckck, kenapa Om Hadi gak mikir perasaan lo sama Raya sih? eh iya, terus Raya gimana?", lagi, Dion makin penasaran.
"Gue udah nolak permintaan itu berkali-kali, tapi berkali-kali juga Papa tetap minta gue untuk hal yang sama. Kata Papa, Sindy divonis dokter gak memiliki harapan hidup yang panjang. Jadi kalau sampai dia tiada, gue bisa kembali menjadi suami Raya seutuhnya. Raya belum tahu soal ini, gue gak tega buat cerita sama dia", suara Ezra terdengar begitu berat saat menyebut nama istrinya.
Bagas dan Dion bisa melihat rasa bersalah yang dalam di wajah Ezra.
"Terus kenapa lo bisa berubah pikiran nerima permintaan Om Hadi, Zra kalau lo tahu itu pasti menyakiti hati Raya?", Dion masih mendesak Ezra untuk bicara, sedangkan Bagas memilih untuk menyimak dengan mulut penuh makanan.
Ezra menatap Dion, "Gue gak punya pilihan lain, Di. Dulu kuliah master gue di luar negeri, itu semuanya bisa berjalan dengan baik karena jasa Om Ardi. Selama gue kuliah, dia yang back up gue. Waktu itu lo tahu sendiri bisnis keluarga gue belum sebesar sekarang dan benar kata Papa, keluarga gue bahkan diri gue sendiri punya utang budi sama keluarga Om Ardi".
Kali ini giliran Dion yang menarik nafas berat. Dia mulai memahami posisi Ezra dan mungkin kalau saat ini dia yang ada di posisi itu, Dion pun akan mengambil keputusan yang sama.
"Terus ke depannya lo mau gimana, Zra?", akhirnya Bagas kembali buka suara.
"Akhir pekan ini gue berangkat ke sana dan stay selama satu bulan. Gue menerima permintaan Papa dan Om Ardi juga dengan syarat. Pokoknya apapun yang terjadi, gue hanya berstatus suami dari Sindy selama satu tahun saja dan Raya gak boleh tahu soal ini. Jadi, please gue minta tolong sama lo berdua buat jaga Raya selama gue pergi", mata Ezra dipenuhi kekalutan.
Dion menepuk bahu sahabatnya itu, "Gue sama Bagas gak bisa ngomong apa-apa lagi, Zra. Kita sekarang cuma bisa support lo. Kita yakin lo pasti udah memikirkan baik dan buruknya pilihan lo itu. Urusan Raya, percayakan sama gue dan Bagas, ya gak, Gas?", Dion melirik Bagas yang duduk di sebelahnya.
"Iya, Zra. Kita pasti jaga rahasia ini dan pasti bantu lo buat jaga Raya. Jangan nambah-nambah pikiran", ucap Bagas mencoba menenangkan Ezra.
__ADS_1
Ezra tersenyum hambar. Dia tahu, disaat-saat seperti ini Dion dan Bagas selalu bisa diandalkan. Meskipun rasa bersalah masih tertanam kuat bahkan semakin dalam di hati Ezra, tapi dia sudah membuat keputusan.
Ezra hanya bisa berharap masalah ini cepat berlalu dan hidupnya kembali harmonis bersama Raya.