
"Sayang, kamu boleh memukulku atau memaki diriku sesukamu. Tapi tolong, maafkan aku, sayang. Aku bersalah", Ezra berlutut di depan istrinya. Keduanya tangannya masih menggenggam tangan Raya.
Sedari tadi Raya memalingkan wajahnya dari Ezra. Dia merasa marah, kesal, sedih, dan sakit hati dengan semua kejadian yang baru saja dia dengar.
"Raya, mungkin kata maaf tidak cukup mengobati sakit hati yang kamu rasakan dan aku tahu itu. Tapi aku percaya, kamu wanita berhati mulia, aku banyak mendengar seperti apa dirimu dari Ezra juga dari kedua mertuamu. Mereka semua sungguh tidak ada yang menginginkan kamu terluka seperti ini. Jadi, jika kamu mau marah, maka tumpahkan semua kemarahanmu padaku atau jika kamu mau benci, maka aku adalah orang yang paling berhak kamu benci", ucap Dady Ardi yang kini tengah menatap Raya dengan dalam.
"Sebagai seorang ayah aku akui sudah salah menyayangi putriku. Harusnya saat itu aku tidak egois. Hanya karena ingin membahagiakannya lalu aku menghancurkan cinta dan kepercayaanmu pada Ezra. Betapa bodohnya aku sebagai seorang ayah", ucap Daddy Ardi penuh penyesalan.
Mendengar ucapan itu, Raya beralih menatap Daddy Ardi. Hatinya memang sakit dan masih dipenuhi emosi, tapi akalnya sudah cukup tenang untuk diajak berpikir dan merenung.
Raya berusaha berempati pada Daddy Ardi. Dia bisa membayangkan seberapa besar kasih sayang Daddy Ardi pada putrinya itu hingga ia mengambil semua resiko atas keputusannya.
Bayangan mendiang kedua orang tua Raya kembali berkelebat dalam ingatannya. Raya membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Sindy, mungkin kedua orang tuanya pun akan melakukan banyak hal demi kebahagiannya.
"Maafkan aku, Om. Aku terlalu emosi karena kebohongan ini sangat menyakiti hatiku", Raya kembali berbicara dengan air mata yang masih saja mengalir dari kedua matanya.
"Jangan minta maaf. Wajar jika kamu marah pada kami. Tapi, tolong redam kemarahanmu pada Ezra karena sekali lagi aku tegaskan, dia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, Raya", pinta Daddy Ardi sungguh-sungguh.
Raya melihat suaminya yang masih berlutut di depannya.
"Mas ... maafkan aku", Raya memeluk suaminya dengan erat.
"Maafkan aku karena sudah marah dan kecewa padamu. Maafkan aku", lagi, Raya berucap dengan sedih.
Ezra membalas pelukan istrinya dengan lebih erat. Dia merasa semakin bersalah karena justru istrinya yang terus mengucap kata maaf padanya
"Tidak, sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah, aku yang sudah menyakiti hatimu. Aku yang mengkhianatimu dan wajar jika kamu marah bahkan membenciku", ucap Ezra penuh penyesalan.
Daddy Ardi membiarkan sejenak kedua sejoli itu saling meluruh emosi mereka satu sama lain.
"Sekarang aku ingat kenapa dulu Mas Ezra pernah bertanya padaku tentang berbagi cinta. Ternyata ini yang Mas Ezra sembunyikan dariku?", tanya Raya setelah ia melepas pelukannya.
"Ya. Saat itu aku sedang kalut harus mengambil keputusan apa. Maafkan aku, sayang", Ezra kembali menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Raya terdiam sebentar, dia melihat genggaman tangan itu.
"Semua adalah takdir Tuhan yang sudah ditetapkan padaku, pada rumah tangga kita. Hatiku memang sakit Mas karena semua kebenaran ini. Tapi aku bisa apa jika ini adalah takdir yang harus aku jalani? aku memaafkanmu, Mas", ucap Raya dengan lugas.
Ezra kembali memeluk istrinya dengan lebih erat. Dia tidak menyangka Raya akan dengan cepat menerima semuanya, bahkan tanpa ragu dia memberikan maaf untuk dirinya.
"Terima kasih, sayang karena sudah memaafkanku. Aku janji, setelah ini aku tidak akan merahasiakan apapun lagi darimu dan aku janji tidak akan mengkhianati cinta dan kepercayaanmu lagi", Ezra mencium kedua tangan Raya.
Raya mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Om, aku juga memaafkan Om. Jika aku yang ada di posisi Om atau posisi Sindy saat itu, mungkin aku pun akan melakukan kesalahan yang sama atau bahkan lebih parah lagi. Aku juga minta maaf karena tadi sudah berbicara dan bersikap buruk pada Om", Raya beralih menatap Daddy Ardi.
Daddy Ardi tersenyum haru, "Benar yang selama ini Om dengar. Kamu wanita yang sangat baik. Hatimu begitu tulus dan bersih. Terima kasih sudah memaafkan Om. Kamu tidak perlu meminta maaf, Raya karena semua hal yang sudah terjadi bukan kesalahanmu".
Raya membalas senyuman Daddy Ardi.
"Aku tidak ingin mendendam, Om. Oh ya Om, bolehkah aku menggendong Razka?", tanya Raya sambil menatap bayi mungil yang kini baru saja membuka kedua matanya.
"Hallo sayang. Maaf ya Tante sudah berisik hingga mengganggu tidurmu", ucap Raya dengan lembut. Dia mencoba mengajak bayi itu untuk berinteraksi dan Razka meresponnya dengan tersenyum.
"Senyum kamu manis sekali, Nak. Terima kasih", Raya mencium kening Razka dalam.
Ezra dan Daddy Ardi begitu terharu melihat pemandangan itu. Mereka masih tak percaya jika Raya bisa memaafkan mereka dengan mudah, bahkan sekarang Raya tampak begitu perhatian pada Razka.
"Sayang, ada hal penting yang ingin aku sampaikan tentang Razka", Ezra kembali membuka pembicaraan.
"Apa, Mas?".
Ezra menarik nafas dulu sebelum akhirnya dia berbicara lebih lanjut.
"Apakah kamu bersedia menerima Razka sebagai anak kita?", tanya Ezra to the point.
Raya terdiam sejenak, dia menatap bayi mungil dalam gendongannya. Meski rasa sakit tidak sepenuhnya hilang dari hati Raya, tapi dia merasa tersentuh saat menatap Razka dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh menjadi ibunya, Mas?", Raya justru balik bertanya. Secara bergantian dia menatap Ezra dan juga Daddy Ardi.
"Tentu saja, sayang. Kamu adalah ibunya Razka", Ezra memeluk Raya dengan hati-hati.
"Om senang jika kamu menjadi ibu dari cucu, Om. Dia beruntung mendapatkan seorang ibu sebaik kamu, Raya", imbuh Daddy Ardi.
Senyum terkembang di wajah Raya dan juga Ezra.
"Terima kasih, Om", jawab Raya.
Daddy Ardi menganggukkan kepalanya.
"Nah Razka sayang, mulai hari ini kamu jadi anak Bunda, ya", Raya kembali menatap Razka yang meresponnya dengan suara khas bayi.
Ezra ikut tersenyum sekaligus haru melihat pemandangan itu.
"Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin Om sampaikan sama kamu, Raya".
"Apa itu, Om?", tanya Raya menunggu jawaban.
Daddy Ardi kembali menarik nafas dalam karena hal yang akan ia sampaikan kali ini juga sama beratnya dengan pengakuan sebelumnya.
"Begini, kecelakaan yang kamu alami beberapa waktu yang lalu, sebenarnya itu adalah ulah Sindy. Saat itu dia sangat terobsesi untuk memiliki suamimu seutuhnya hingga dia menghalalkan segala cara. Om tahu kesalahan Sindy sulit untuk dimaafkan, tapi jika boleh Om meminta, Om harap kamu bersedia memaafkan semua kesalahannya agar dia bisa tenang di sana", ucap Daddy Ardi dengan rasa bersalah dan penyesalan yang tampak nyata di wajahnya.
Raya menelan salivanya. Sungguh, semua kebenaran yang hari ini Tuhan tunjukkan padanya sangat menyakitkan.
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan Sindy, Om. Aku juga sudah ikhlas dengan kecelakaan waktu itu. Bagiku, semua adalah takdir dari-Nya dan aku percaya, selalu ada kebaikan yang Dia ajarkan padaku dari itu semua", jawab Raya yakin.
"Terima kasih, Raya. Sindy pasti lega setelah mendengar maaf darimu. Terima kasih", ucap Daddy Ardi.
"Oh ya, apa kamu bersedia aku ajak berziarah ke pusara Sindy?", tanya Ezra hati-hati.
Raya tersenyum tipis, "Tentu saja, Mas. Aku ingin mengunjunginya dan mengirimkan do'a untuknya", jawab Raya sungguh-sungguh.
__ADS_1