
Tepat jam sembilan pagi seluruh anggota keluarga Hadinata dan juga para tamu sudah berkumpul di gazebo taman belakang. Sesuai dengan rencana, pagi ini mereka akan mengadakan pengajian terlebih dahulu sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Razka dan Zalika juga kesembuhan Raya.
Tak lupa, dalam sesi pengajian ini juga terselip do'a dan syukur dari keluarga para tamu yang diundang. Suasana begitu khidmat, semua orang yang hadir mendengarkan ceramah dan mengikuti do'a bersama dengan baik.
"Sayang, setelah ini kita foto keluarga ya. Nanti juga ada sesi foto dengan semua tamu yang hadir", bisik Ezra pada Raya sesaat setelah mereka bersalaman dengan ustadz yang memimpin acara pengajian.
"Iya, Mas. Nanti Mas saja ya yang mengondisikan semuanya".
"Ok, sayang".
Setelah seluruh rangkaian pengajian selesai, Ezra yang memang sudah mengundang fotografer segera mengondisikan keluarganya dan juga mengajak para tamu untuk berfoto bersama. Semua orang tampak bahagia, menikmati momen reuni besar itu.
"Setelah makan, kita mulai perlombaan antar keluarga ya", ucap Mama Laura di depan semua orang yang kini bersiap menikmati makan siang selepas pengajian dan foto bersama.
"Wah, aku tidak sabar, keramaian seperti apa yang akan terjadi nanti", respon Mommy Ajeng antusias.
"Pastinya acara setelah ini akan sangat seru dan menyenangkan", janji Mama Laura.
"Ayo, kita siapkan tenaga untuk pertempuran antar keluarga", ujar Daddy Sandy sambil bergaya menunjukkan otot lengannya.
"Pasti keluarga Adikarya akan memenangkan semua pertempuran nanti, iya kan istriku sayang", Papi Sandi melirik Mami Ratna yang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sumringah.
"Hooo belum tentu. Apa kamu lupa betapa kuatnya keluarga Ragawijaya", ujar Daddy Sandy penuh percaya diri.
"Ha ha ha ... aku tahu, tapi kuat belum tentu memang, bukan?", balas Papi Rudi yakin.
"Kita lihat saja nanti, keluarga siapa yang paling unggul", Daddy Sandy bersikukuh.
"Eits, kalian jangan lupa, di sini masih ada kami dan keluarga Wiratama. Siap-siap saja, pertempuran siang ini akan semakin sengit", seloroh Papa Hadinata sambil menepuk bahu Om Ardi yang sedari tadi memilih menyimak perdebatan kecil itu dengan santai.
"Ck, coba lihat kelakuan para kakek nenek ini, mereka semua sudah lupa dengan usia yang jelas semakin tua", ucap Dion yang baru saja masuk ke ruang makan bersama Aura dan juga Haikal.
"Iya, orang tua kita raga tua, jiwa anak muda", imbuh Bagas yang sedari tadi ada di ruangan itu dan memilih menjadi pendengar perdebatan para orang tua yang ada di sana.
"Eh kalian anak muda jangan salah, usia boleh tua, tapi kecerdasan, kegesitan, kehebatan, dan kekuatan boleh diadu", lagi, Daddy Sandy menunjukkan otot lengannya yang memang terpampang dengan jelas.
Dion sebagai putra dari keluarga Ragawijaya hanya bisa tertawa kecil. Ya, Daddy-nya itu memang tidak pernah mau kalah dari siapapun, termasuk dari anaknya sendiri.
Harus diakui, semua orang tua, terutama para ayah dari setiap keluarga itu masih tampak bugar dan terlihat muda dari usia mereka yang sebenarnya.
"Sudah, jangan sampai ada gencatan senjata antara anak dan orang tua di sini. Sebaiknya sebelum pertempuran kita mulai, ayo kita makan siang bersama", Ezra tetiba saja sudah ada di ruang makan dan mencoba menetralisasi keadaan.
Selepas makan siang, semua orang kembali berkumpul di gazebo. Perlombaan pertama yang akan dilaksanakan adalah lomba foto bayi.
__ADS_1
Razka, Haikal, dan Nesya sudah dipersiapkan dengan penampilan menggemaskan mereka.
"Ok, siap ya", ucap Sang fotografer yang mulai memotret ketiga bayi itu satu per satu.
"Sayang, lihat gaya anak kita, keren bak model. Persis seperti Papa-nya, bukan?", ucap Dion pada Aura.
"Kamu terlalu percaya diri, sayang".
"Lho, memang aku ini tampilan model, sayang dan itu aku wariskan dengan baik pada Haikal", Dion berbicara dengan penuh gaya.
Aura tertawa kecil, dia sudah terbiasa dengan sikap over confident Sang suami.
"Nesya, sayang, coba sini, lihat Om fotografernya", Bagas sibuk menarik perhatian putri kecilnya yang tampak manis dengan dress berwarna pink.
"Nesya, anak manis, ciluk ba", Nita ikut membantu Sang suami untuk menarik perhatian Nesya dan membuatnya tersenyum ke arah kamera.
Keadaan semakin riuh tatkala masing-masing kakek dan nenek dari para bayi itu ikut memberikan semangat. Mereka seolah tak ingin cucunya kalah dari bayi yang lain.
"Razka, ayo nak, tunjukkan pesonamu", Ezra terbawa suasana, dia berjingkrak-jingkrak memberikan dukungan pada putranya.
"Mas, kamu ini heboh sekali", ucap Raya heran sekaligus geli melihat tingkah suaminya.
"Ya harus dong, sayang. Masa kita kalah sama Dion dan Bagas", jawab Ezra yang masih saja heboh sendiri.
Ya, Zalika belum diikut sertakan dalam lomba reuni kali ini karena usianya yang masih terlalu kecil dibandingkan dengan para bayi lainnya.
Selepas lomba foto, berikutnya adalah lomba merias istri. Semua orang sudah duduk saling berhadapan dengan pasangannya masing-masing, hanya Om Ardi saja yang masih setia menjadi penikmat sekaligus timer acara.
"Papi, awas lho, jangan sampai bulu mata Mami copot ya saat nanti Papi kasih eye shadow", Mami Ratna memperingatkan Sang suami.
"Papi akan berusaha, Mi. Pokoknya urusan bulu mata Mami, Papi jamin aman", janji Papi Rudi.
Mama Laura yang duduk di samping Mami Ratna tersenyum mendengar percakapan kedua pasangan itu.
"Kita jangan sampai kalah ya, Pa. Papa tahu dong selera make up Mama seperti apa", bisik Mama Laura pada Papa Hadinata.
Papa Hadinata menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti maksud ucapan istrinya.
Sementara Mommy Ajeng masih tampak sibuk memberi tahu suaminya tentang nama-nama make up dan juga kegunaannya.
"Ingat ya, sayang, jangan sampai salah lho. Blush on itu buat pipi, kalau eye shadow buat mata. Ini blush on, ini eye shadow, jelaskan bedanya?", Mommy Ajeng berusaha keras mengajarkan Sang suami yang memang tak paham urusan make up.
"Ok, sayang, aku akan mengingatnya dengan baik", ucap Daddy Sandi dengan senyum manis.
__ADS_1
"Lihat, para orang tua ini, mau lomba rias saja repotnya minta ampun. Yakin bisa menang dari kami para anak muda? ", seloroh Dion yang masih saja usil berkomentar.
Mami Ratna menarik nafas dalam, "Dion Ragawijaya, penyakit julid kamu itu ya, aduh masih saja kambuh. Jangan meremehkan kami, kita lihat nanti siapa yang menang. Papi, jewer telinga anak kita yang over confident ini", Mama Ratna melirik suaminya yang tersenyum.
"Ck, mana ada Papi tega menjewer telingaku, Mi. Aku sama Papi itu sehati, ya kan Pi?", giliran Dion yang melirik Sang Papi.
"Sudah, kalian ini tidak di rumah, tidak di sini atau di manapun, ribut terus. Mohon maaf ya semuanya, putraku memang netizen sejati, suka sekali berkomentar yang tidak-tidak", ucap Papi Rudi pada semua orang yang ada di gazebo.
Semuanya tertawa bersama. Memang ucapan atau sikap apapun yang ditunjukkan semua orang di sana, tidak ada yang menganggapnya serius, apalagi jika itu dilakukan oleh Dion yang memang sudah terkenal dengan segala kejahilan dan gaya ceplas-ceplosnya.
Om Ardi yang bertindak sebagai timer mulai mengondisikan semua peserta dan lomba rias pun dimulai.
Bagas beberapa kali terlihat kena semprot Nita karena terlalu tebal memakaikan foundation, sedangkan Ezra dengan tenang merias wajah Raya meski warna-warna mencolok yang dia pilih untuk riasan istrinya tidak pas.
Berbeda dengan Dion yang begitu telaten merias wajah Aura. Entah belajar dari mana, dalam lomba kali ini Dion tampak unggul dengan hasil riasannya.
Para pasangan orang tua pun tak berbeda jauh nasibnya dengan pasangan muda. Beberapa kali omelan dan tawa ikut mewarnai aksi rias merias mereka.
Setelah sepuluh menit, perlombaan pun selesai. Sebelum diputuskan pemenangnya, setiap pasangan mengikuti sesi foto terlebih dahulu dan hasilnya dengan cepat bisa tercetak.
"Ya ampun, wajahku tampak tua sekali", Mommy Ajeng menatap hasil fotonya tak percaya.
"Maaf, sayang, aku sudah berusaha keras meriasmu", Daddy Sandi merasa bersalah.
Mommy Ajeng mengerucutkan bibirnya, "Memang lelaki tidak bisa diandalkan untuk urusan penampilan kaum wanita", batin Mommy Ajeng.
Sementara itu, Mami Ratna dan Papi Rudi juga Mama Laura dan Papa Hadinata hanya tertawa geli melihat hasil foto mereka yang tak berbeda jauh.
"Ya ampun, Pa, Mama mirip ondel-ondel", ucap Mama Laura sambil tertawa lepas.
"Mama masih lebih cantik daripada ondel-ondel", jawab Papa Hadinata yang juga ikut tertawa.
"Sayang, apa kamu suka hasil riasanku?", giliran Ezra yang menatap Sang istri di sampingnya.
"Hmm ... sejujurnya aku tidak menyukai riasan ini, terlalu mencolok. Tapi karena ini perlombaan dan kamu sudah bekerja keras, jadi aku suka", ucap Raya tulus.
"Benarkah? di mataku, bagaimana pun kamu, kamu tetap cantik, sayang", Ezra merapikan jilbab yang dikenakan Raya sebelum ia memberikan kecupan kecil di pipi istrinya itu.
Tak jauh dari Ezra dan Raya, Bagas dan Nita juga tampak asyik memperbincangkan hasil riasan dan foto mereka berdua. Nita bahkan menunjukkan fotonya pada Haikal dan mereka tertawa bersama.
Setelah lomba foto bayi dan lomba rias, berikutnya adalah lomba memasak yang dilakukan oleh para lelaki. Mereka ditantang untuk memasak kreasi nasi goreng.
Semakin sore, suasana di villa keluarga Hadinata semakin ramai. Tak hanya riuh dengan dukungan semangat, tapi juga canda dan tawa ikut memeriahkan suasana.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, aku bahagia sekali melihat kebersamaan ini. Semoga selamanya keluarga kami dan keluarga lainnya bisa tetap harmonis dan saling menyayangi", batin Raya di tengah-tengah ramainya acara.