Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Welcome Home


__ADS_3

Setelah berbulan-bulan Raya dirawat di rumah sakit, hari ini untuk pertama kalinya kakinya kembali menjejak di rumah.


Ada binar bahagia yang terpancar di wajah Raya. Senyum di bibirnya terus terkembang sejak Raya meninggalkan rumah sakit.


"Welcome home, sayangku", sambut Mama Laura yang sudah menantinya di depan pintu utama bersama Papa Hadi, Mbok Nah, juga Pak Seno.


"Terima kasih semuanya", kedua mata Raya berkaca-kaca dengan penyambutan ini.


"Papa harap pemulihan kamu bisa lebih cepat setelah pulang ke rumah", ucap Papa Hadi senang.


"Iya, Pa. Terima kasih".


"Kamu suka, sayang?", Ezra yang sedari tadi berdiri di samping Raya memerhatikan istrinya.


Ide kejutan welcome home ini memang sengaja dia buat untuk istrinya.


Raya menganggukkan kepalanya dan memeluk Ezra dengan erat.


"Aduh, Mama iri deh lihat kalian pelukan gitu. Yuk kita masuk, kasihan Raya berdiri terlalu lama", ajak Mama Laura yang langsung menggandeng menantu kesayangannya itu.


Raya tak menolak ajakan Sang Mama. Dia dengan senang hati berjalan beriringan di sampingnya.


"Nah sayang, ini semua Mama siapkan khusus buat kamu", Mama Laura menunjukkan aneka hidangan di atas meja makan.


"Wiiih Ma, ini mau hajatan ya", Ezra terkagum-kagum dengan maha karya Mamanya yang memenuhi semua bagian meja makan tanpa menyisakan celah sedikit pun.


"Anggap aja gitu, Zra. Namanya juga penyambutan, ya harus meriah dong", jawab Mama Laura semangat.


Raya yang melihat semua hidangan itu tersenyum senang.


"Aku jadi lapar, Ma", ucapnya polos.


"Yuk kita semua langsung makan", Mama Laura segera meminta semua orang untuk duduk di meja makan. Begitu juga dengan Mbok Nah dan Pak Seno, mereka duduk satu meja dengan majikannya.


Sejak dulu Mama Laura dan Papa Hadinata memang tidak pernah membeda-bedakan keluarga dengan asisten rumah tangga mereka.


"Mbok Nah dan Pak Seno jangan sungkan, makan yang banyak, ya", Papa Hadi menawarkan semua lauk yang ada di meja makan.


"Nggih, Tuan", jawab Pak Seno.


"Matur nuwun sanget, Tuan, Nyonya", imbuh Mbok Nah.


Suasana di meja terasa ramai dan hangat. Sesekali cerita dan tawa terdengar di sana.


Setelah acara makan bersama selesai, Mbok Nah dan Pak Seno segera membawa barang-barang milik Raya ke kamarnya di lantai atas.


"Tuhan Maha Baik, akhirnya kamu kembali pulang, sayang", Ezra mengelus lembut punggung tangan Raya yang duduk di sampingnya.


"Iya, Mas. Alhamdulillah", Raya merasa terberkati.


"Oh ya untuk beberapa waktu ke depan, pokoknya kamu jangan mengerjakan hal-hal yang berat dulu. Ingat, kamu harus fokus pada pemulihan diri kamu", Mama Laura mengingatkan menantunya.


"Iya, Ma", jawab Raya sambi tersenyum.

__ADS_1


"Papa sudah mengurus toko pastry kamu. Selama kamu dirawat, Papa dan Mama beberapa kali datang ke sana. Papa lihat pegawai kepercayaanmu itu pandai juga mengelola toko", ujar Papa Hadi.


"Oh ya? maksud Papa, Prita?. Dia memang pegawai teladan".


"Iya, Prita namanya. Kalau nanti kamu mau buka cabang, dia bisa direkomendasikan sebagai manajer toko, ya Ma", Papa Hadi melirik ke arah istrinya.


Mama Laura menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan ide suaminya.


"Semoga saja setelah aku benar-benar sembuh, aku bisa membuka cabang, ya", harap Raya optimis.


Semua orang yang ada di ruang keluarga mengamini harapan Raya.


"Maaf Tuan, kamar sudah siap", Pak Seno datang melapor pada Ezra.


"Oh, iya. Terima kasih, Pak. Sayang, ayo kita istirahat", Ezra mengajak Raya ke kamar mereka di lantai atas.


"Nah iya, sebaiknya Raya segera istirahat", ucap Mama Laura.


"Kalau gitu, Ezra sama Raya pamit dulu ya Ma, Pa".


"Ya. Selamat beristirahat".


Papa Hadi dan Mama Laura melihat kepergian anak dan menantunya.


Ezra dengan telaten memandu Raya untuk meniti satu demi satu anak tangga ke lantai atas.


"Apa kakimu kuat? ada yang sakit?", Ezra memapah Raya sambil memperhatikan setiap langkah kaki istrinya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Lagi pula selama ini kan aku sudah terapi juga di rumah sakit. Jangan khawatir", Raya mencoba menenangkan suaminya.


"Iya, Mas".


Ezra segera membuka pintu kamar dan memapah Raya hingga tiba di samping tempat tidur. Dengan sigap dia menata beberapa bantal dan guling agar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman.


"Terima kasih, Mas".


"Sama-sama. Istirahatlah", Ezra menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya setelah Raya merebahkan diri di tempat tidur.


Setelah Raya meminum obat, dia langsung tidur dengan lelap, sedangkan Ezra masih terjaga di sampingnya.


Ezra menatap lekat wajah istrinya yang tampak tenang dalam tidurnya itu.


"Terima kasih Tuhan, Engkau masih mengizinkan aku untuk hidup bersamanya. Aku harap setelah ini hidup kami berjalan dengan lebih baik", harap Ezra dalam hati.


Kini dirinya mencoba merebahkan diri, ingatannya melayang pada Sindy yang sudah tiada. Ezra juga teringat dengan Razka, putranya yang masih ada di negara Y.


Dia beranjak dari tempat tidur dan mencoba menghubungi Daddy Ardi untuk menanyakan keadaan Razka.


"Hallo, Om ...", sapa Ezra di telepon.


"Hallo, Ezra. Apa kabar?".


"Aku baik, Om. Om sendiri apa kabar? maaf aku baru menghubungi Om lagi".

__ADS_1


Daddy Ardi tersenyum tipis di balik telepon.


"Kabar Om baik. Tak apa, Om tahu kamu pasti sedang sibuk dengan pemulihan istrimu, bukan?".


"Iya, Om. Oh ya Om, Razka apa kabar? sudah lama aku tidak menanyakan keadaannya. Terakhir Dokter Janet menghubungiku, katanya Razka sekarang sudah tidak dirawat di inkubator lagi, dia sudah dipindahkan ke ruang bayi. Apa benar, Om?".


"Iya benar, bahkan sudah satu minggu ini Razka ada di rumah", jawab Daddy Ardi.


"Benarkah?".


"Iya. Om mempekerjakan pengasuh bayi di rumah untuk merawatnya. Apa kamu ingin melihatnya?", tanya Daddy Ardi.


"Jika Om tidak keberatan, tentu aku ingin melihatnya".


"Ya sudah, kita ubah dulu ke mode video call ya".


"Iya, Om".


Setelah telepon berganti ke video call, tampak Daddy Ardi masuk ke sebuah kamar bernuansa biru langit.


Ezra bisa melihat kamar itu dihiasi dengan berbagai ornamen bertema ruang angkasa.


"Ezra, ini anakmu".


Daddy Ardi mengarahkan kamera gawainya ke box bayi. Di sana tampak seorang bayi mungil yang tengah tertidur dengan lelap. Sesekali bayi itu bergerak.


Kedua mata Ezra berembun melihat pemandangan itu.


"Razka, anakku", ucapnya lirih.


Ezra hampir tak percaya melihat kondisi putranya saat ini. Terakhir dirinya meninggalkan Razka, bayi itu masih tergolek lemah dalam inkubator dengan banyak peralatan medis menempel di tubuhnya. Tapi sekarang bayi itu tampak sehat.


Ezra bisa melihat perkembangan Razka yang luar biasa. Pipi dan tangan putranya terlihat berisi, dia tampak sangat menggemaskan.


"Kamu lihat, Razka tumbuh dengan sehat dan selama dia di sini, dia tidak rewel sama sekali", terang Daddy Ardi menjelaskan kondisi Razka.


"Iya, Om. Aku ingin sekali menggendong dan memeluknya", ujar Ezra penuh haru.


"Nanti kamu bisa melakukannya. Oh ya, bagaimana kondis istrimu sekarang? Om dengar dari Papamu katanya istrimu sudah kembali ke rumah".


"Iya, Om. Tadi sore kami baru keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik, sekarang dia sedang istirahat", jawab Ezra.


"Syukurlah, Om ikut senang mendengarnya. Nanti Om pasti luangkan waktu untuk datang ke sana. Om ingin bertemu dengan istrimu sekaligus memperkenalkan Razka padanya", ujar Daddy Ardi.


Ezra terdiam sejenak, "Silahkan, Om. Nanti Om bisa kabari aku jika mau ke sini. Aku titip Razka dulu ya, Om. Maaf jika sangat merepotkan Om di sana".


Daddy Ardi tersenyum tipis, "Om tidak merasa direpotkan, Ezra. Apa kamu lupa kalau Razka itu cucu Om?. Tentu dengan senang hati Om bisa merawatnya, kamu jangan khawatir".


"Sekali lagi terima kasih, Om. Nanti aku telepon Om lagi, ya. Selamat beristirahat, Om".


"Ya. Selamat beristirahat juga".


Telepon itupun selesai. Tak lama setelah menutup teleponnya, Ezra menerima kiriman beberapa foto Razka dari Daddy Ardi.

__ADS_1


"Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah belum bisa menjenguk dan merawatmu langsung. Cepat atau lambat, Ayah pasti akan membawamu pulang ke sini", gumam Ezra.


__ADS_2