Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Ketakutan


__ADS_3

Dion semakin kalut karena Ezra masih tak bisa dihubungi.


"Sayang, bagaimana keadaan Bu Raya?", Aura baru saja tiba di rumah sakit dan dia langsung menemui kekasihnya itu.


"Kondisi Raya kritis. Dia ternyata sedang hamil dan dokter belum bisa mengambil tindakan apapun tanpa persetujuan dari pihak keluarga", jawab Dion lemas.


"Apa Pak Ezra sudah dihubungi?", tanya Aura lagi.


Dion menganggukkan kepala, "Tapi tidak ada respon. Nomornya mati. Aku bingung", Dion meremas rambutnya.


Di posisi ini, Dion tidak bisa berbuat banyak karena semua keputusan terkait Raya dan bayinya adalah hak Ezra.


"Sayang, mungkin kita bisa hubungi Tuan atau Nyonya Hadinata", Aura memberikan ide.


Dion beralih menatap Aura, "Ah ya, benar. Kenapa aku tidak terpikir menghubungi Om Hadi dan Tante Laura", Dion segera mencari nomor mereka di gawainya.


Tak butuh waktu lama, Dion segera melakukan panggilan. Dia sangat berharap seseorang segera menerima panggilannya itu.


"Hallo ...", terdengar suara Mama Laura di seberang sana.


"Hallo, Tante. Ini Dion. Maaf aku ganggu Tante", ucap Dion.


"Tak apa. Tumben kamu telepon Tante, ada apa?".


"Begini Tante ...".


Dion kemudian menjelaskan kronologi singkat dan kondisi Raya saat ini yang tengah berjuang di ruang UGD. Dokter belum berani mengambil tindakan operasi karena menunggu persetujuan pihak keluarga.


Mama Laura sangat terkejut mendengar berita itu. Wajah ayunya berubah diliputi kecemasan mengingat kondisi menantunya saat ini, terlebih ia juga baru tahu kalau Raya sedang mengandung cucunya.


"Ok, terima kasih informasinya. Tante akan segera memberi tahu Ezra dan Om juga. Kami akan segera terbang ke sana. Tolong tanda tangani segera apapun tindakan yang harus Dokter ambil untuk Raya dan bayinya. Jangan sampai terlambat", pinta Mama Laura panik.


"Baik, Tante. Aku tutup dulu teleponnya ya", Dion mengakhiri panggilan itu.


"Gimana, sayang?", tanya Aura ikut cemas.


"Temani aku untuk menemui Dokter", Dion meraih tangan Aura. Keduanya segera menuju ruang UGD.


.


.


"Sial, bagaimana mungkin aku bisa tidur dengannya?", Ezra meremas rambutnya kasar.


Saat ini Ezra tengah duduk di ujung tempat tidur. Dia memerhatikan dirinya yang tak mengenakan sehelai benang pun bersama Sindy yang masih tertidur nyenyak di sampingnya.

__ADS_1


Berkali-kali Ezra merutuki tindakan bodoh yang sudah dia lakukan. Hal yang dia ingat, semalam dia bercinta dengan Raya, bukan Sindy.


Ezra kembali menatap wajah Sindy yang masih juga tak bergeming, "Dia pasti bertindak licik padaku. Mana mungkin aku mau menyentuhnya dengan sadar", batin Ezra.


Dia segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi, Ezra enggan kembali ke tempat tidur. Dia memilih untuk pergi ke ruang keluarga di lantai bawah.


"Tidak, jangan sampai itu terjadi", Ezra menenggak air putih di tangannya. Pikirannya tiba-tiba saja melayang jauh, membayangkan jika aktivitas yang beberapa jam lalu dia lakukan bersama Sindy berakhir dengan kehamilan yang tak diinginkannya.


Bagaimana tidak, selama tadi dirinya bermain bersama Sindy, Ezra menyadari berkali-kali mencapai ******* dan dia tak henti-hentinya menggempur Sindy hingga kelelahan dan tertidur sampai detik ini.


Ezra tak ingin lagi memikirkan hal indah yang baru saja dia nikmati. Dirinya kini sibuk mencari keberadaan gawainya. Ezra baru sadar sejak dia pulang dan tergoda oleh Sindy, dia tidak ingat dengan gawai itu.


"****, kemana gawaiku?", Ezra beranjak dari tempat duduknya, ia pergi ke lantai atas.


Di dalam kamar, Ezra mencari-cari keberadaan benda kecil itu dan setelah beberapa saat, dia menemukannya dalam laci di lemari.


"Ini pasti ulah dia", gumam Ezra kesal karena selama ini dia tidak pernah menyimpan gawai miliknya di tempat seperti itu.


Ezra kembali turun sambil menunggu gawainya menyala.


Sesaat setelah gawai itu menyala, sebuah pesan dari Dion mengejutkannya. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya mulai kacau.


Ezra mencoba kembali menghubungi Dion, tapi tidak diangkat.


Tak lama, gawai milik Ezra bergetar, ada nama Mama Laura di sana.


"Hallo, Ma ...".


"Kamu kemana saja sih? dari tadi Mama telepon kamu gak aktif terus. Kamu tahu saat ini Raya ...".


"Iya Ma, maaf. Aku tahu, aku akan pulang saat ini juga ke sana", jawab Ezra memotong ucapan Sang Mama.


"Cepatlah, Mama dan Papa sudah membeli tiket. Keberangkatan tercepat tiga jam lagi dari sekarang", tegas Mama Laura.


"Iya, Ma. Aku segera kesana", jawab Ezra. Dia segera menutup panggilan itu, lalu bergegas ke kamar atas untuk mengambil kunci mobil.


Ezra melirik Sindy yang masih terlelap. Dia sedikit pun tak ingin membangunkannya.


"Bi Asih", Ezra mencari asisten rumah tangganya ke paviliun.


Bi Asih yang mendengar namanya dipanggil segera membukakan pintu.


"Saya harus segera pergi ke rumah orang tua saya, ada kondisi darurat. Sindy sedang tidur dan saya tidak mau membangunkannya. Jadi, tolong beri tahu dia besok ya, Bi. Terima kasih", ucap Ezra terburu-buru.

__ADS_1


"Baik, Tuan", jawab Bi Asih pendek.


Ezra menganggukkan kepala, dia segera berlari menuju garasi. Ezra tak peduli dengan dinginnya udara malam. Saat ini dini hari, kabut tebal masih menyelimuti jalanan desa tempat villa keluarga Wiratama berada.


"Tuhan, tolong selamatkan istriku", harap Ezra dalam.


Saat ini perasaan dan pikirannya benar-benar kacau. Dia bahkan hampir tidak bisa berpikir jernih. Kilatan bayangan wajah Raya dan kebersamaan mereka selama ini berkelebatan dalam pikiran Ezra.


Dia tidak bisa membayangkan jika sampai hal terburuk terjadi pada istri yang sangat dia cintai. Terlebih selama ini Ezra masih merasa bersalah pada Raya karena membohonginya tentang hubungan pernikahan yang tengah ia jalani bersama Sindy.


Setelah mobil Ezra memasuki jalanan kota, Ezra kembali mencoba menghubungi Dion.


"Zra ...", akhirnya panggilan itu terhubung.


"Gimana kondisi Raya? sorry, tadi gue kehilangan gawai dan setelah gue temukan gawainya mati dan gue ...".


"Raya kritis, Zra. Saat ini dokter sedang melakukan operasi, sudah berjalan dua jam", terang Dion cepat.


"Kritis?", suara Ezra terdengar lemah.


"Ya. Dokter bilang ada pendarahan di otak, lalu patah tulang belakang, dan ...", Dion tercekat, dia merasa tak sanggup meneruskan ucapannya.


"Dan apa?", tanya Ezra.


"Dan ... dokter gagal menyelamatkan janin yang dikandung Raya", ucap Dion perlahan.


"Janin? maksud lo, istri gue hamil?", Ezra mengerem mobilnya tiba-tiba.


Terdengar Dion menarik nafas dalam, "Iya. Gue juga baru tahu saat Raya dibawa ke UGD. Ternyata dia pernah ke sini dan selama ini dia punya riwayat ke dokter spesialis kandungan. Tadi gue udah ketemu sama dokternya dan dokternya juga bilang kalau kemungkinan bayinya selamat sangat kecil karena kondisi Raya kritis".


Air mata Ezra meleleh begitu saja. Rasa bersalah semakin bertubi-tubi menghantam hatinya. Selama ini dia sudah mengkhianati cinta dan kesetiaan Raya, lalu sekarang dia harus menerima kenyataan istrinya kritis dan bayi mereka meninggal.


Ezra merasa gagal menjadi seorang suami. Dia tidak tahu istrinya hamil, dia juga tidak ada di sana saat istrinya sangat membutuhkan kehadirannya.


"Zra ... lo baik-baik aja kan?", tanya Dion karena Ezra tidak memberikan tanggapan.


"Gue salah sama Raya, Di", hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Ezra.


"Zra, please lo jangan kek gitu. Mending lo cepat balik ke sini dan sorry karena kondisi darurat tadi gue hubungi Tante Laura dan gue dapat izin dari Tante Laura untuk menandatangi semua berkas tindakan dokter buat Raya".


Lagi, sesak yang tidak bisa digambarkan begitu terasa di hati Ezra. Keputusan penting untuk istri dan calon bayinya pun terpaksa harus diambil alih oleh Dion.


"Thank's, Bro. Gue pasti secepatnya pulang. Tolong terus kabari gue, ya", pinta Ezra.


"Pasti. Take care and safe flight, Bro", pesan Dion di akhir percakapan mereka.

__ADS_1


Semburat matahari dari ufuk timur ikut menyambut kedatangan Ezra di rumah orang tuanya.


"Ayo kita segera berangkat", pinta Ezra saat kakinya baru saja sampai di daun pintu yang terbuka lebar.


__ADS_2