
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Raya terjaga dari tidurnya. Dia berusaha bangun karena haus. Tangan kanannya mencoba mengambil gelas yang ada di atas nakas.
Pranggg
Gelas itu pecah sebelum Raya berhasil menggenggamnya dengan utuh.
"Ya Tuhan, sayang", Ezra yang tertidur di sofa segera bangkit mendekat ke tempat tidur istrinya.
Raya terkejut dengan kehadiran Ezra di depannya.
"Ma ... Mas Ezra ...", ucapnya lirih.
Ezra tersenyum ke arah istrinya dan dengan cepat memeluk Raya erat.
"Aku pulang, sayang. Aku sangat merindukanmu", ucap Ezra dengan hati bahagia.
Senyum juga terulas di bibir Raya, bahkan tak hanya itu, kedua matanya kini berkabut karena haru. Raya terisak dalam dekapan Ezra.
"Sayang, kenapa kamu menangis? apa ada yang sakit?", Ezra melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuh Raya dengan seksama.
Raya menggelengkan kepalanya yang masih terbalut perban. Air mata mengalir deras hingga mengguncang bahunya.
"Sayang, mana yang sakit?", tanya Ezra khawatir. Dia masih mencoba memeriksa tubuh istrinya.
"Mas ... aku ... aku tidak sakit. Aku ... aku terharu melihatmu ada di sini", susah payah Raya menjelaskan alasan dirinya menangis.
Ezra menangkap wajah Raya dan menatapnya dengan dalam. Dia bisa melihat kilat kerinduan yang bercampur dengan bahagia di kedua mata istrinya.
"Jangan menangis lagi, aku ada di sini dan selamanya akan berada di sisimu", janji Ezra sambil menghapus tetesan air mata dari pipi Raya.
Raya menganggukkan kepalanya. Entah bagaimana gambaran perasaannya saat ini. Semua campur aduk, tapi satu hal yang pasti, Raya merasakan hatinya menghangat.
"Tadi kamu mau minum, ya? Aku ambilkan lagi, sebentar", Ezra bergegas mengambil gelas baru dan mengisinya dengan air.
"Minumlah. Aku bersihkan dulu pecahan gelasnya", ucap Ezra menyodorkan gelas di tangannya.
"Terima kasih, Mas", ucap Raya lirih. Dia masih saja menahan air mata bahagianya.
Dengan hati-hati Ezra mengumpulkan pecahan gelas di lantai dan membuangnya. Setelah itu dia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
"Kamu mau makan sesuatu?", tanya Ezra.
__ADS_1
Raya menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih menatap suaminya yang sudah begitu lama dia rindukan.
"Kapan Mas datang? oh ya, Mama kemana?", Raya mengedarkan pandangan matanya memindai seisi ruang rawat itu.
"Aku tiba sejak tadi sore. Tapi waktu aku datang, kamu sedang tidur. Kalau Mama, aku memintanya untuk pulang bersama Papa, besok mereka datang ke sini lagi. Jadi, malam ini dan seterusnya, aku yang akan menjagamu di sini", Ezra berbicara sambil mengelus punggung tangan istrinya.
Raya tersenyum bahagia.
"Mas, aku ... aku mau minta maaf", ucap Raya tiba-tiba.
Ezra mengernyitkan dahinya, "Maaf? maaf untuk apa, sayang?".
Raya menundukkan kepalanya. Ada kesedihan yang tetiba saja menyeruak dalam hatinya.
"Aku minta maaf karena sudah merahasiakan kehamilanku dan sekarang, kita kehilangan calon bayi kita, Mas", ujar Raya sedih.
Ezra agak terkejut mendengar ucapan Raya. Bukan karena kehamilannya, tapi karena Raya sudah mengetahui janinnya yang sudah tiada.
"Sayang, kamu tidak perlu meminta maaf atas itu semua dan tentang bayi kita, dari mana kamu tahu soal itu?", tanya Ezra penasaran.
"Dokter Firman sudah menjelaskan semuanya padaku, Mas karena setelah aku pulih, aku menanyakan kondisi kandunganku. Aku ... aku gagal menjaganya, Mas", tangis Raya kembali pecah.
Ezra segera memeluk istrinya. Membiarkan Sang istri meluahkan semua kepedihan yang ia rasakan.
Raya masih menangis sesegukan. Padahal dia ingin sekali memberi kejutan pada Ezra dengan kehamilannya itu.
"Bagiku, kesembuhanmu adalah segalanya. Ayo kita berjuang lagi", Ezra menatap wajah Raya dengan seksama dan mengecup keningnya dengan penuh cinta.
Raya tak bisa bicara banyak. Apa yang Ezra sampaikan begitu menenangkan hatinya.
"Sekarang sudah larut, sebaiknya kamu istirahat lagi, ya. Mimpi yang indah, sayang", Ezra membujuk Raya untuk kembali tidur.
"Iya, Mas. Terima kasih", Raya tersenyum menatap suaminya yang begitu sigap menjaganya di rumah sakit ini.
Setelah Raya kembali tidur, Ezra pun merebahkan tubuhnya di sofa. Tapi kedua matanya tetap terbuka, pikirannya kembali terpaut pada putranya, Razka.
"Ya Tuhan, bagaimana nanti aku menjelaskan keberadaan Razka pada istriku? apa dia bisa menerimanya?", Ezra sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ezra menyampingkan tubuhnya, dia menatap Raya yang tertidur dengan lelap.
"Justru aku yang seharusnya meminta maaf sama kamu karena selama ini aku sudah merahasiakan banyak hal darimu. Saat waktunya tiba, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku harap kamu bisa memaafkanku juga menerima kehadiran Razka", batin Ezra.
__ADS_1
Keesokkan harinya, selepas subuh Ezra kembali tertidur. Rasa kantuk dan lelah yang berpadu membuat tubuhnya meminta istirahat lebih.
Raya bangun lebih dulu, dari tempat tidurnya dia memerhatikan suaminya yang masih tertidur dengan lelap.
Senyum manis terukir di wajah Raya. Seolah dirinya mendapatkan kembali harapan dengan hadirnya Ezra.
"Terima kasih Tuhan karena Engkau memberiku kesembuhan dan masih mengizinkan aku untuk bisa melihat suamiku", bisik hati kecil Raya.
"Tolong jaga selalu suamiku dan semoga setelah aku benar-benar pulih, Engkau segera karuniakan seorang anak di tengah-tengah kami", Raya mengelus perutnya yang kini kosong.
Saat Raya masih betah memandangi wajah lelap Ezra, pintu kamarnya terbuka. Tampak wajah segar Mama Laura dan Papa Hadi muncul di sana.
"Hallo sayang, selamat pagi", sapa Mama Laura sumringah. Dia langsung menghampiri Raya dan memeluknya.
"Pagi, Ma. Pagi juga Pa", Raya menyapa mertuanya bergantian.
Papa Hadi tersenyum ke arah Raya, "Bagaimana kondisimu hari ini? apa sudah lebih baik?".
"Alhamdulillah sudah lebih baik, Pa. Terima kasih Papa sudah datang ke sini".
"Papa harap kamu segera pulih agar kita semua bisa kembali bersama-sama pulang ke rumah".
"Iya, Pa. Aamiin", Raya berharap hal yang sama.
"Oh ya, ini Mama bawa sarapan buat Ezra dan buah buat kamu", Mama Laura menunjukkan dua kantung kresek di tangannya.
"Ezra mana?", Mama Laura celingukan mencari-cari anaknya.
"Itu Ma, masih tidur", Raya menunjuk Sang suami yang tak bergeming di sofa.
"Ya ampun, saking fokusnya Mama sama kamu sampai gak liat Ezra ada di sana. Pa, tolong bangunkan Ezra. Anakmu itu sudah siang begini masih saja tidur", Mama Laura menatap Papa Hadi.
"Sudahlah Ma, biarkan dia beristirahat. Mungkin Ezra masih capek", Papa Hadi menolak halus permintaan istrinya.
"Tuh kan, Papa pasti bela Ezra. Makin malas itu anak", seloroh Mama Laura dengan tangan sibuk mengeluarkan satu per satu sarapan yang dia bawa.
Papa Hadi hanya menarik nafas dalam melihat istrinya mengomel sepagi ini. Dia lebih memilih duduk di sofa yang kosong dekat dengan Ezra.
"Sayang, sekarang sarapan buah dulu ya. Ini Mama sudah kupaskan melon dan mangga buat kamu", Mama Laura membuka box berisi potongan buah yang disebutnya tadi.
"Terima kasih, Ma", Raya menerima box itu.
__ADS_1
Melihat kedua mertua dan suaminya ada di sana, semangat Raya untuk segera pulih semakin kuat.
"Aku harus cepat sembuh", tekad Raya dalam hati.