
"Siang, Mbak, bisakah saya bertemu dengan Pak Ezra?".
"Maaf, Anda siapa? apa Anda sudah ada janji dengan Tuan Ezra?".
"Saya Prita, saya belum membuat janji tapi ini ada kondisi darurat, Mbak".
"Maaf, Mbak, saat ini Tuan Ezra sedang ada meeting. Silahkan Mbak tunggu di sana", petugas resepsionis menunjuk sofa tamu yang tak jauh dari tempat Prita berdiri.
"Tapi, Mbak ...".
"Maaf, Anda tidak bisa memaksa".
Prita menghela nafas kasar, dengan kesal dia berjalan menuju sofa dan kembali mencoba menghubungi nomor pribadi Ezra.
"Ya Tuhan, kenapa disaat seperti ini susah sekali aku mengabari suami Bu Raya", keluh Prita dengan wajah cemas.
"Ah, sudahlah, sebaiknya aku kembali saja ke rumah sakit. Bu Raya pasti membutuhkan bantuanku", Prita segera bergegas keluar dari lobi kantor keluarga Hadinata.
Flashback
"Prita, tolong, perutku sakit sekali".
Wajah Raya meringis menahan sakit yang dirasakannya. Bersusah payah dia menghubungi Prita lewat telepon kantor.
"Ya ampun, Bu Raya kenapa, Bu?", Prita yang baru saja selesai memeriksa para karyawan segera bergegas menuju ruang kerja bossnya.
Tanpa permisi, Prita langsung membuka pintu dan melihat Raya yang sudah tampak kesakitan di atas sofa.
"Tolong bawa aku ke rumah sakit".
"Baik, Bu".
Prita bergegas membawa Raya ke mobilnya.
"Bu Raya kenapa?", tanya Prita masih menatap wajah Raya yang tampak kesakitan di kursi belakang.
"Entahlah, perutku rasanya sakit sekali", jawab Raya dengan suara bergetar.
"Prita, tolong percepat mobilnya. Ada yang tidak beres dengan kandunganku", Raya melihat darah segar mengalir di ujung long dress yang ia kenakan.
"Ya Tuhan, baik, Bu", Prita yang melirik kondisi buruk bossnya dari balik spion segera mempercepat laju kendaraan.
Beruntung, lalu lintas sedang tidak padat. Setelah lima belas menit perjalanan, Prita sudah sampai di rumah sakit. Dia bergegas turun dan meminta petugas untuk membantunya membawa Raya ke ruang UGD.
Raya segera mendapat penanganan dari dokter. Prita menunggunya dengan wajah cemas.
"Selamat siang, apa Anda keluarga pasien?", seorang Dokter datang menghampiri Prita.
__ADS_1
"Bukan, Dok. Saya asisten Bu Raya. Bagaimana kondisinya saat ini?", tanya Prita cemas.
"Pasien mengalami pendarahan. Sementara ini dari hasil pemeriksaan sepertinya pasien mengonsumsi sesuatu yang membuat kandungannya kontraksi. Kami harus segera mengambil tindakan untuk bisa menyelamatkan ibu dan bayinya", terang Sang Dokter.
"Pendarahan? bagaimana bisa?", tanya Prita semakin cemas.
"Saat ini kami juga sedang menunggu hasil pemeriksaan lab untuk mengetahui penyebab pendarahan tersebut. Pemeriksaan sementara menunjukkan pendarahan tidak disebabkan oleh aktivitas fisik, tapi dari sesuatu yang masuk melalui saluran cerna. Kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga untuk bisa mengambil tindakan operasi", lanjut Sang Dokter.
"Baik, Dok. Saya akan segera menghubungi keluarga Bu Raya. Saya mohon pastikan kondisi beliau dan bayinya baik-baik saja", pinta Prita.
"Tentu. Tolong secepatnya ada pihak keluarga yang datang ke sini. Saya permisi dulu".
Prita menganggukkan kepala, dia segera mencari nomor pribadi Ezra untuk memberikan kabar mengenai kondisi Raya. Berkali-kali Prita mencoba menelepon, selama itu pula nomor Ezra tidak aktif.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus segera menemui Pak Ezra di kantornya".
Prita menemui perawat untuk memastikan kondisi Raya dan bergegas pergi dengan mobilnya ke kantor Ezra.
Flashback off
"Ada banyak panggilan. Nomor siapa ini?", Ezra bergumam sambil menatap layar gawai miliknya.
Dia baru selesai meeting dengan klien dan baru saja mengaktifkan kembali gawai pribadinya.
Pak Ezra, saat ini Bu Raya masuk rumah sakit. Jika Anda membaca pesan ini, tolong segera datang ke rumah Sakit Mentari. Kondisi Bu Raya kritis ~Prita~
"Hallo, Prita. Istri saya kenapa? bagaimana kondisinya sekarang?", tanya Ezra cemas namun tetap fokus mengemudi.
"Bu Raya masih di ruang UGD, Pak. Beliau mengalami pendarahan hebat dan dokter bilang harus segera dioperasi", jawab Prita di telepon.
"Pendarahan? ok, minta dokter segera melakukan operasi, katakan saya sudah dalam perjalanan".
"Baik, Pak".
Ezra memukul kemudi di depannya. Dia merasa cemas sekaligus kesal pada dirinya sendiri karena terlambat mengetahui kondisi sang istri.
Dua puluh menit kemudian, Ezra tiba di parkiran Rumah Sakit Mentari. Dia bergegas masuk dan mencari keberadaan Raya.
"Bagaimana kondisi istriku?".
"Dokter baru saja membawa Bu Raya ke ruang operasi dan ini berkas yang harus Anda tandatangani", Prita memberikan sebuah map pada Ezra.
Ezra menerima map itu, membacanya sejenak dan segera membubuhkan tandatangan.
"Selamat sore, apa Anda suami pasien?", seorang dokter datang menghampiri Ezra.
"Iya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya? apa dia dan bayinya baik-baik saja? tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, Dok", ucap Ezra beruntun.
__ADS_1
Sang Dokter menganggukkan kepala dan menjelaskan kondisi Raya secara rinci.
Wajah Ezra semakin kalut mendengar penjelasan dari dokter. Terlebih dia sudah mengetahui bahwa penyebab Raya mengalami pendarahan hebat karena masuknya zat penyebab kontraksi ke tubuhnya.
"Operasi akan segera kami lakukan. Kami akan melakukan yang terbaik, Pak".
"Baik, Dok. Tapi sebelum operasi bisakah saya melihat istri saya, Dok?".
"Mohon maaf, Pak, di ruang operasi harus steril. Anda baru bisa menemui pasien setelah operasi selesai".
"Baiklah. Tolong selamat istri dan anak saya, Dok", pinta Ezra penuh harap.
"Kami akan berusaha yang terbaik", ucap Sang Dokter yang kemudian berlalu dari hadapan Ezra.
Ezra mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Prita masih ada di sana.
"Prita, apa terjadi sesuatu di toko? apa ada hal mencurigakan yang terjadi di sana?", tanya Ezra menatap Prita yang terdiam sedari tadi.
"Tidak ada, Pak. Sepanjang hari ini Bu Raya ada di toko dan aktivitas di sana pun berjalan seperti biasa. Tapi ...", ucapan Prita menggantung, dia seperti mengingat sesuatu.
"Apa?".
"Saya baru ingat, Pak. Tadi pagi Bu Raya menerima sebuah paket dan jika tidak salah saya ingat, paket itu berisi coklat. Saya yang menerima dan mengantarkan paket itu pada Bu Raya. Apa mungkin dari coklat itu Bu Raya mengalami kontraksi hingga pendarahan?".
"Siapa pengirim coklat itu?", tanya Ezra tajam.
"Saya tidak tahu, Pak karena saya tidak memeriksa nama pengirimnya. Kurir hanya menyampaikan bahwa kiriman itu dari klien toko", ucap Prita merasa bersalah.
Ezra menghela nafas kasar. Dia merasa ada yang tidak beres dengan kiriman yang tadi diceritakan Prita.
"Tolong kamu kembali ke toko dan periksa coklat itu beserta pengirimnya. Kalau sampai benar ada yang tidak beres, saya akan mengambil tindakan tegas".
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi", Prita beranjak dari tempat duduknya dan berlalu dari hadapan Ezra.
Operasi sudah berlangsung selama satu jam dan belum ada tanda-tanda operasi selesai. Perasaan Ezra semakin tak karuan.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan anakku", do'a Ezra penuh harap.
Usia kandungan Raya sudah masuk usia tujuh bulan dan karena kejadian ini terpaksa bayi dalam kandungannya harus dilahirkan secara prematur.
"Ezra, bagaimana kondisi Raya?", tetiba saja Mama Laura datang dengan wajah cemas.
"Mama", Ezra segera beranjak dari tempatnya duduk dan memeluk Sang Mama.
"Mama kaget dapat kabar dari Prita. Kamu yang tenang, ya", ujar Mama Laura sambil memeluk putra kesayangannya itu.
"Ezra takut, Ma. Ezra takut kalau Raya dan bayinya ...".
__ADS_1
"Ssssttt ... disaat seperti ini jangan berpikir macam-macam. Kita do'akan yang terbaik buat Raya juga cucu Mama", Mama Laura mencoba menenangkan Ezra meski hatinya sendiri sebetulnya diliputi kekhawatiran yang dalam.