
Setelah membaca pesan dari Daddy Ardi, Ezra segera mematikan gawainya.
Sebuah ide nakal tetiba saja muncul di benak Ezra.
"Kita lihat bagaimana responnya nanti?", gumam Ezra yang berpikir untuk masuk ke dalam kamar mandi tanpa sepengetahuan istrinya.
Sementara itu, Raya masih asyik berdiri di bawah guyuran shower. Entah sabun dan shampoo macam apa yang disediakan di kamar mandi hingga membuat dirinya begitu betah memanjakan diri.
Tanpa Raya sadari, suaminya saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang lupa ia kunci. Sesekali terdengar suara Raya bersenandung di dalam kamar mandi itu.
Ceklek
Ezra membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya. Dia hanya mengenakan handuk saja untuk menutupi sebagian tubuh atletisnya. Kehadiran Ezra di dalam sana masih juga belum disadari oleh Raya.
Senyum nakal Ezra terkembang saat kedua matanya melihat bayangan tubuh istrinya dari balik kaca yang membatasi tempatnya berdiri dengan area basah kamar mandi.
"Indah sekali", batinnya tak karuannya.
Perlahan tapi pasti, Ezra mulai melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Raya.
"Aaaa ...", Raya spontan berteriak saat tiba-tiba saja ada sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya.
"Sssttt ... jangan berteriak, sayang. Teriakanmu bisa mengejutkan banyak orang", bisik Ezra.
"Ma ... Mas Ezra, kenapa di sini?", tanya Raya gugup.
Ezra tak menjawab. Dia justru sibuk menggerakkan kedua tangannya untuk menyentuh lekukan pinggang Raya yang tidak tertutup sehelai benangpun.
"Mas, aku ... aku malu", Raya mengigit bibir bawahnya saat merasakan sentuhan itu.
Apalagi sekarang tangan Ezra bukan hanya mengelus area pinggang saja, tapi sudah beralih ke area lainnya yang lebih dekat dengan area sensitif Raya.
"Mas ... tolong jangan begini, aku malu", Raya berusaha menghentikan tangan suaminya yang terus saja bergerilya.
Ezra masih tidak memberikan jawaban. Dia sekarang justru membalik tubuh polos Raya agar menghadap pada dirinya.
Raya memilih untuk menundukkan kepalanya. Bisa dia bayangkan, saat ini wajahnya pasti sudah merona.
Shower masih mengguyur sepasang suami istri ini. Ezra menatap Raya dengan lekat dan dengan lembut Ezra mengangkat dagu Sang istri.
"Kamu cantik sekali, sayang", ucap Ezra saat dia bisa melihat utuh wajah dan ekspresi Sang istri di depannya. Tak lupa, Ezra menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Raya karena basah.
Ada seulas senyum yang tidak bisa Raya artikan dari suaminya itu. Raya benar-benar gugup dibuatnya.
"Mas ... aku ...".
Belum sempat Raya melanjutkan ucapannya, Ezra sudah lebih dulu meraup bibir istrinya.
Raya merasa sangat malu, tapi entah kenapa tak ada penolakan sama sekali darinya.
Ciuman itu semakin dalam dan menuntut, bahkan membuat Raya memukul lembut dada Ezra karena dirinya kesulitan bernafas.
Ezra segera melepaskan pagutannya dan membiarkan Raya juga dirinya menarik nafas.
"Sekarang kita pindah ke sana, ya", Ezra menunjuk bathub yang bertabur kelompak mawar merah.
__ADS_1
Raya merasa kikuk. Belum tuntas dirinya mengambil nafas, Ezra sudah menggendong tubuh polosnya tanpa permisi dan menurunkannya dengan lembut ke dalam bathub.
"Mas ...".
"Aku akan ikut masuk, sayang. Sebentar", tanpa malu dan ragu, Ezra pun melepas handuk yang sejak tadi dikenakan.
Raya memalingkan wajahnya. Selain malu dengan dirinya sendiri, Raya juga merasa malu dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini. Detak jantung Raya semakin tak karuan.
Berbeda dengan Ezra yang justru merasa sangat bersemangat. Dia segera memasukkan tubuhnya ke dalam bathub yang sama dengan Raya.
"Sini, biar aku gosokkan punggungmu", tawar Ezra pada Sang istri yang masih saja malu-malu untuk memandangnya.
"Ti ... tidak usah, Mas. Tadi aku sudah membersihkan diri", jawab Raya gugup.
Ezra tersenyum penuh arti, "Jangan menolak tawaranku, sayang. Ayo berbalik, biar aku bersihkan lagi punggungmu itu", pinta Ezra.
Seolah tak memiliki pilihan lain, Raya menuruti apa yang diperintahkan suaminya.
Benar saja, Ezra dengan lembut menggosok punggu Raya. Sesekali dia juga memberikan pijatan agar Raya bisa lebih rileks.
Suasana di kamar mandi terasa syahdu untuk Raya juga Ezra. Aroma terapi yang sedari awal begitu semerbak benar-benar membantu keduanya untuk merileksasi diri.
"Bagaimana? kamu suka?", tanya Ezra saat ia memijat punggung Raya.
"Suka, Mas", jawab Raya pendek.
Jujur saja, saat ini sebetulnya Raya tidak ingin banyak bicara. Dia sibuk menenangkan detak jantungnya yang semakin tak karuan.
Selama mereka menikah, ini adalah kali pertama keduanya menikmati kebersamaan di kamar mandi.
Ezra menggerakkan jari telunjuk kanannya untuk menyusuri punggung mulus Raya. Jari itu bergerak dari atas ke bawah dengan lembut. Raya mengigit bibir bawahnya, merasakan sesuatu yang berbeda dari sentuhan itu.
Baik Ezra maupun Raya tak ada yang berbicara atau bertanya lagi. Keduanya seolah asyik menikmati momen bersama di dalam bathub.
Setelah memberikan sentuhan lembut di area punggung istrinya, sekarang kedua tangan Ezra bergerilya. Ia sengaja menggerakkan dengan lembut, mendekati area depan tubuh Sang istri.
"Masss ...", Raya melenguh saat area itu tersentuh. Dia bersusah payah menahan diri.
Di belakang Raya, Ezra kembali tersenyum dengan nakal. Dia senang mendengar suara istrinya, meski Ezra tahu, Raya pasti berusaha keras menahan hal itu.
"Jangan ditahan kalau kamu suka, sayang", bisik Ezra tepat di telinga kanan Raya.
Raya meremang mendengar bisikan itu. Belum lagi kedua tangan suaminya semakin tidak bisa dikendalikan.
"Sekarang, ayo berbalik", pinta Ezra.
Lagi, tak ada penolakan dari Raya. Dia mengikuti semua yang suaminya minta.
"Kemari".
Raya memajukan tubuhnya.
"Lebih dekat", pinta Ezra.
Raya maju lagi dan akhirnya Ezra menarik tubuh Raya dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aaa ... Mas ...", Raya terkejut.
Ezra tersenyum, "Sudah aku bilang, suara teriakanmu itu bisa terdengar oleh orang lain, sayang".
"Ya terus kenapa Mas Ezra menarikku seperti tadi? itu bahaya, Mas", Raya mengerucutkan bibirnya. Ia tak terima karena sedari tadi selalu dirinya yang disalahkan setiap kali ia berteriak. Padahal, Raya spontan melakukan hal itu karena tindakan Ezra sendiri.
Ezra terkekeh mendengar alasan istrinya. Belum lagi ekspresi kekesalan yang Raya tunjukkan, benar-benar menggemaskan di mata Ezra.
"Aku menarikmu karena ini".
Ezra kembali meraup bibir ranum Raya. Dia dengan leluasa menjelajahi setiap inci di dalamnya, seolah Ezra ingin menegaskan pada istrinya bahwa ada hasrat yang menggebu dan menuntut untuk dituntaskan.
"Sayang, kita pindah ke kamar, ya", ucap Ezra dengan nafas agak tersengal-sengal karena aktivitasnya tadi dengan Raya.
Raya menundukkan kepalanya dan mengangguk. Meski ini bukan kali pertama Ezra menyentuhnya, tapi tetap saja Raya merasa malu.
Ezra keluar dari bathub. Dia langsung mengambil bathroob miliknya dan juga milik Raya.
"Mas ...", lagi, Raya dibuat terkejut dengan tindakan Ezra karena lelaki itu tanpa permisi menggendong tubuhnya. Padahal, Raya belum sempat mengikat bathroob yang ia kenakan.
Ezra tersenyum. Dia tidak memperdulikan ocehan Raya yang kembali terdengar karena aksi serba dadakan yang dilakukan dirinya.
"Mas, lain kali jangan gitu dong sama aku. Dari tadi Mas Ezra selalu saja membuatku terkejut", protes Raya.
"Aku senang mengejutkanmu, sayang", ucap Ezra santai sambil menggendong Raya keluar dari kamar mandi.
Setelah keduanya berada di dalam kamar, Ezra menurunkan tubuh istrinya dengan lembut di atas tempat tidur.
"Mas ...", Raya merasa kikuk dengan posisinya saat ini yang ada di bawah kungkungan tangan kekar Ezra.
"Kenapa, hm?", tanya Ezra dengan tatapan mata yang dalam dan mendamba.
Raya mencoba membuang pandangannya, tapi entah bagaimana Ezra bisa membuat fokus Raya kembali padanya.
"Katakan, kenapa sayang?", tanya Ezra lagi.
"Ti ... tidak apa-apa, Mas. Ha ... hanya saja aku ... aku ...".
"Apa kamu gugup?".
Raya mengigit bibir bawahnya lagi. Sungguh, dia tidak tahan dengan pertanyaan dan tatapan suaminya saat ini.
"Ini bukan kali pertama untuk kita, sayang. Tapi aku senang melihat ekspresi gugupmu itu. Sangat menggemaskan", ungkap Ezra jujur.
Raya terdiam. Dia tidak bisa lagi memberikan respon atau alasan. Kini dirinya hanya bisa bertahan menatap wajah Sang suami yang sudah dipenuhi dengan hasrat yang begitu dalam.
"Sayang, aku ingin menyentuhmu lebih dari kenakalanku tadi di kamar mandi. Bolehkah?", tanya Ezra lembut.
Entah hipnotis macam apa yang Ezra berikan pada Raya, istrinya itu hanya bisa memberikan jawaban dengan anggukkan kepala.
Lagi, senyum Ezra terkembang. Hasratnya yang sudah lama tertidur, kini bangkit kembali. Dia tidak ingin melewatkan momen indah ini begitu saja.
"Tidak perlu gugup, sayang. Aku akan bermain dengan lembut. Kita nikmati bersama, ya. Aku sangat menginginkanmu", bisik Ezra di telinga istrinya.
Raya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Saat sentuhan pertama mendarat lagi di tubuhnya, dia bisa merasakan hasrat yang sama seperti yang suaminya rasakan saat ini. Dirinya menginginkan hal yang lebih dan Ezra memberikannya dengan sempurna.
__ADS_1