Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Keputusan yang Berat


__ADS_3

"Dave, how's Sindy?", tanya Daddy Ardi cemas.


"Keep calm, I'll do the best for her", jawab Dokter Dave sesaat setelah dia memeriksa keadaan Sindy.


"Let's talk together at my room", Dokter Dave menatap Daddy Ardi dan Ezra bergantian.


Ketiga lelaki itu berjalan beriringan, sementara Sindy yang sempat anfal tengah ditangani oleh suster dan dokter spesialis kandungan.


"Sit down, please", Dokter Dave mempersilahkan Daddy Ardi dan Ezra untuk duduk di depannya.


"We haven't the other choice. Sindy harus segera dioperasi", ucap Dokter Dave to the point.


"Operasi? bukankah kamu bilang itu sangat beresiko", Daddy Ardi masih tetap cemas.


"Ardi, kamu lihat sendiri kondisi Sindy seperti apa. Kami sudah mendapatkan donor yang cocok untuk Sindy dan beberapa jam lalu aku baru membahasnya dengan menantumu ini", Dokter Dave melirik Ezra yang masih terdiam.


"Tapi, Dave ...".


"Om, kalau operasi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Sindy, aku rasa kita perlu mempertimbangkannya", jawab Ezra cepat.


"Ezra, kamu tahu sendiri resikonya. It's a gambling", seru Daddy Ardi.


"Ya Om, tapi Dokter Dave sendiri mengatakan tidak ada cara lain".


"Ardi, kondisi Sindy semakin memburuk dan itu berpengaruh besar terhadap kandungannya. Belum lagi obat-obatan dan terapi yang selama ini dia lakukan, itu juga berpengaruh. Menurutku, Sindy luar biasa bisa bertahan dengan bayinya hingga saat ini. Kita juga harus menunggu hasil pemeriksaan dari dokter kandungan".


Semua orang di ruangan itu terdiam, semuanya berkutat dengan pikiran masing-masing. Tak lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerja Dokter Dave.


"Come in, please", sambut Dokter Dave.


"Thank you", ternyata seorang dokter wanita masuk.


"Perkenalkan ini Dokter Janet. Aku memintanya untuk datang ke sini setelah dia memeriksa keadaan Sindy. Sit down please, Doc".


Dokter Dave mempersilahkan Dokter Janet untuk berkenalan dengan Daddy Ardi dan Ezra.


"What's your found?", tanya Dokter Dave dengan mode serius.

__ADS_1


Dokter Janet menghela nafas dalam, "It's bad news. Nona Sindy harus segera melahirkan bayinya karena kondisi rahimnya tidak baik. Jika tidak, resiko cidera bahkan kematian bayi dalam kandungan akan lebih besar", terang Dokter Janet lugas.


"Apa tidak ada cara lain, Dok?", tanya Ezra.


"Setahu saya usia kandungan istri saya masih muda. Belum saatnya dia melahirkan, bukan?", lanjut Ezra lagi.


"Benar, Tuan. Saat ini janin dalam rahim Nona Sindy berusia dua puluh delapan minggu. Memang masih butuh waktu sekitar dua bulan lagi untuk kelahiran ideal, tapi kondisi kesehatan ibu dari Si bayi tidak memungkinkan untuk bertahan lebih lama lagi".


Semua orang kembali terdiam.


"Saya tahu ini berat. Di tengah kondisi Nona Sindy saat ini, memaksakan diri untuk mempertahankan kandungannya beresiko, pun jika dia terpaksa harus melahirkan prematur, itu pun tetap beresiko. Tapi bayi dalam kandungannya memiliki kesempatan hidup yang lebih besar jika dilahirkan sekarang", terang Dokter Janet lagi.


Dokter Dave melihat Daddy Ardi dan Ezra bergantian, "Itu semua dari sudut pandang medis. Tapi keputusan akhir ada di tangan keluarga".


Daddy Ardi benar-benar dilema, begitupun dengan Ezra. Seperti buah simalakama, tindakan apapun yang akan diambil demi kesehatan Sindy, semuanya tetap beresiko tinggi.


"Ezra, Om pasrahkan semua keputusan sama kamu karena bagaimanapun juga Sindy adalah istrimu dan bayi yang dikandungnya adalah anak kalian", Daddy Ardi menatap menantunya dengan seksama.


Ezra menarik nafas dalam, "Apa Om yakin mempercayakan semuanya padaku? Om tidak akan menyesal dengan apapun keputusan yang akan aku ambil atas diri anak Om?", Ezra meminta kepastian.


Daddy Ardi mengangguk pasti, bahkan lelaki paruh baya itu saat ini menepuk pundak Ezra dengan kuat, "Om tidak akan menyalahkanmu atas segala keputusan yang kamu ambil untuk Sindy dan bayinya".


"Seperti yang Dokter dengar, keputusan ada di tanganku dan aku memutuskan agar dilakukan transplantasi dan juga kelahiran prematur untuk Sindy dan anakku", ucap Ezra dengan tegar.


"Baiklah kalau begitu. Kami akan segera mempersiapkan segala keperluan untuk operasi. Aku akan jadwalkan operasi dimulai dua jam dari sekarang. Dokter Janet siap?", tanya Dokter Dave.


Dokter Janet menganggukkan kepala, "Siap, Dok. Kalau begitu saya permisi, saya akan mengurus segala prosedur yang diperlukan".


Dokter Janet pergi meninggalkan ruangan itu.


"Please, do your best for my daughter", pesan Daddy Ardi sebelum dia pergi dari hadapan Dokter Dave.


"I do", janji Dokter Dave.


Setelah Daddy Ardi dan Ezra keluar dari ruang kerja Dokter Dave, keduanya kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat Sindy.


Perasaan Daddy Ardi saat ini begitu kalut. Dia tidak bisa membayangkan perjuangan seperti apa yang akan putrinya alami di atas meja operasi.

__ADS_1


Sindy adalah putri satu-satunya yang ia miliki. Selama ini, Daddy Ardi selalu berusaha memberikan segalanya untuk Sindy, bahkan sejak Sindy dinyatakan mengidap leukimia tiga tahun yang lalu, Daddy Ardi sibuk mencari donor yang cocok. Tapi setiap kali dia menemukan donor, selama itu pula Sindy menolak untuk melakukan operasi transplantasi.


Tapi hari ini Daddy Ardi tidak akan membiarkan putrinya itu menolak lagi karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dia sembuh. Terlebih keputusan itu diambil oleh Ezra, menantu yang begitu dia percaya meski dia tahu tak pernah ada cinta di hati Ezra untuk putri semata wayangnya itu.


"Om, aku minta maaf jika keputusanku tadi tidak selaras dengan keinginan Om", Ezra kembali membuka suara.


Langkah Daddy Ardi terhenti, dia berbalik menatap Ezra yang berjalan beriringan di sampingnya.


"Tidak ada yang salah dengan keputusanmu. Seharusnya sejak dulu Om memaksa Sindy untuk melakukan transplantasi itu. Om hanya berharap semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Sindy bisa sembuh total dan bayinya juga bisa lahir dengan selamat", ucap Daddy Ardi dengan senyum getir.


Ezra mencoba membalas senyum itu meski dengan kegetiran yang sama.


"Ezra, Om akan pergi sebentar, sebelum operasi dimulai, Om sudah akan kembali ke sini. Om titip Sindy dulu ya", Daddy Ardi menepuk bahu Ezra dan berlalu dari hadapannya.


Ezra tak memberikan jawaban apapun dan dia juga tidak ingin bertanya kemana mertuanya itu akan pergi.


Ezra memilih untuk mempercepat langkahnya ke ruang rawat Sindy.


"Mas ...", terdengar suara lirih Sindy memanggil Ezra saat ia memasuki ruang rawatnya.


Ezra segera menghampiri Sindy yang terbaring dengan wajah pucat di hadapannya.


"Mas ... Daddy mana?".


"Daddy ada urusan sebentar, nanti dia kembali ke sini. Apa kamu butuh sesuatu?", tanya Ezra lembut.


Mendengar suara suaminya yang kembali lembut, Sindy merasa senang. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mas, aku ingin bicara sesuatu", kata Sindy lagi.


"Apa?", Ezra duduk di kursi samping tempat tidur.


Sindy tampak menelan salivanya sebelum dia berbicara.


"Mas, mungkin apa yang aku sampaikan ini akan membuatmu membenciku seumur hidup. Tapi aku merasa tidak lagi memiliki banyak waktu, Mas. Aku tidak mau membawa rasa bersalah ini dalam kematianku nanti", ujar Sindy perlahan. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa nyeri yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.


"Ssstt ... jangan bicara seperti itu. Sekarang fokus saja pada kesembuhanmu, ya", Ezra mengusap lembut kepala Sindy. Meski ada rasa kecewa dan marah di hati Ezra atas kejahatan yang dilakukan Sindy, tapi sisi hatinya yang lain merasa terenyuh melihat keadaan Sindy yang berubah drastis seperti ini.

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Sindy mendapatkan sentuhan seperti itu dari suaminya. Sentuhan penuh kasih yang diberikan oleh Ezra secara sadar.


__ADS_2