
Setelah menghabiskan waktu hampir satu bulan lamanya di negara Y, hari ini Ezra dan Raya berencana akan kembali ke negara X.
Sejak pagi, Daddy Ardi sudah ada di kediaman keluarga Wiratama untuk menemui Ezra dan Raya, sekaligus menengok cucunya sebelum mereka pergi.
"Om titip Razka ya, Raya. Didiklah dia dengan baik dan sayangi dengan sepenuh hati kamu", pesan Daddy Ardi saat Raya menemuinya di ruang tamu.
"Iya, Om. Aku akan mengingat pesan Om dengan baik", jawab Raya diiringi senyum.
"Terima kasih", jawab Daddy Ardi.
"Om, kami akan menuju bandara sekarang", Ezra berpamitan pada Daddy Ardi.
Daddy Ardi menganggukkan kepalanya, dia memeluk mantan menantunya itu dengan erat.
"Hati-hati. Rawat anakmu dengan baik. Nanti Om akan agendakan untuk berkunjung ke sana. Om titip salam ya untuk kedua orang tuamu", kali ini Daddy Ardi berpesan pada Ezra.
"Iya, Om. Pasti aku akan merawat anakku dengan baik. Terima kasih selama ini Om sudah merawatnya", ujar Ezra.
"Jangan begitu. Pokoknya jaga Razka, ya", ucap Daddy Ardi.
"Iya, Om".
Senyum Daddy Ardi terulas sempurna di bibirnya. Dia merasa bersyukur karena Ezra dan Raya mau menerima Razka dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Om, kami pamit ya", Raya mencium punggung tangan Daddy Ardi.
"Aku juga pamit, Om", Ezra melakukan hal yang sama.
Daddy Ardi menganggukkan kepala. Tak lupa dia mencium kening cucunya dengan penuh kasih.
"Semoga perjalanan kalian lancar dan selamat sampai tujuan", harap Daddy Ardi tulus.
Pesawat yang ditumpangi Ezra dan keluarga kecilnya sudah lepas landas.
"Kamu lapar ya, Nak", Raya memerhatikan Razka yang menelusup ke balik jilbabnya seperti mencari sesuatu.
"Ini sayang, susu untuk Razka", Ezra memberikan botol susu yang tadi sudah dia siapkan.
"Terima kasih", Raya mengambil botol susu itu dan langsung memberikannya pada Razka.
"Lihat, Mas, Razka lahap sekali minum susunya", Raya memperlihatkan bayi yang ada di pangkuannya pada Ezra.
"Iya. Tumbuh yang sehat ya, anakku sayang", Ezra mengelus lembut kepala bayinya.
Raya tersenyum bahagia melihat suami dan baby Razka. Ada damai yang dia rasakan. Meski Razka tidak lahir dari rahimnya sendiri, tapi Raya menyayangi bayi itu. Terlebih mereka sudah tinggal bersama hampir satu bulan terakhir ini.
"Untung saja Razka minum susu formula. Coba kalau dia minum ASI, bisa-bisa aku tidak akan kebagian", seloroh Ezra ambigu.
__ADS_1
"Apa sih, Mas?", Raya menyikut suaminya. Dia paham maksud ucapan Ezra.
Ezra terkekeh, "Tapi saat ini kan kamu tidak punya ASI, sayang. Jadi, itu jauh lebih menguntungkan buatku", lanjut Ezra lagi yang terus menggoda istrinya.
"Mas ...", Raya membelalakkan kedua matanya. Dia tidak habis pikir, kenapa belakangan ini suaminya senakal itu.
Razka tampak tertidur lelap setelah menghabiskan satu botol susu. Raya tak bosan-bosannya menatap wajah Razka.
"Kamu menggemaskan sekali sih", gumam Raya sambil mengecup kening Razka.
Ezra yang duduk di sampingnya juga ikut tertidur beberapa saat setelah Razka terlelap.
"Hmm ... like father, like son", gumam Raya lagi.
Setelah menempuh dua belas jam perjalanan, akhirnya pesawat yang ditumpangi Ezra dan keluarga kecilnya tiba di bandara utama negara X.
Mama Laura dan Papa Hadinata tampak antusias menyambut kedatangan anak, menantu, dan cucunya itu.
"Selamat datang kembali, sayang", Mama Laura langsung memeluk Raya.
"Terima kasih, Ma", Raya senang dengan sambutan itu.
"Ini cucu Mama?", tanya Mama Laura saat kedua matanya melihat seorang bayi mungil yang ada dalam gendongan Raya.
Raya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tentu, Ma", Raya memindahkan Razka dari tangannya ke Mama Laura.
"Hallo cucuku sayang. Kamu tampan dan menggemaskan sekali", Mama Laura menyapa Razka.
"Ck, Mama langsung fokus sama Razka", gumam Ezra merasa diabaikan.
"Jangan cemburu begitu. Wajar bukan Mamamu fokus pada cucunya?", Papa Hadi menepuk bahu putra semata wayangnya itu.
"Ma, Papa juga mau gendong cucu Papa dong".
"Sebentar, Pa".
Mama Laura dan Papa Hadi berebut untuk menggendong Razka.
Raya dan Ezra melihat pemandangan itu sambil tertawa kecil. Sungguh, Ezra sangat bahagia karena Razka benar-benar diterima dengan baik di keluarga ini.
"Sebaiknya kita segera kembali ke rumah. Hari sudah semakin larut", Papa Hadinata mengingatkan semua anggota keluarga.
"Iya, Pa", jawab Ezra.
Ezra meraih tangan Raya, mengikuti langkah Papa Hadi dan Mama Laura yang sudah lebih dulu berjalan sambil membawa Razka.
__ADS_1
"Akhirnya kita kembali ke rumah kita sendiri ya, sayang".
"Iya, Mas".
"Nanti setelah kamu tidak lelah, kita akan mulai lagi proyek adik untuk Razka".
"Iiihh ... Mas Ezra pikirannya itu selalu saja ke sana", Raya mencubit lembut lengan suaminya.
Ezra terkekeh, "Aku suka melihat tubuh polos kamu yang menggelinjang di bawahku. Belum lagi desahanmu itu, benar-benar menggairahkan sekali, sayang", Ezra masih terus menggoda istrinya.
"Maassss ...", Raya memukul lengan Ezra.
Sungguh, Raya merasa malu mendengar Ezra mendeskripsikan dirinya saat mereka tengah bercinta.
"Kalian ini jalannya lama sekali", seru Papa Hadi yang sudah berdiri di dekat mobil.
"Cepatlah sedikit. Kasihan Razka. Angin malam tidak baik untuknya", lanjut Papa Hadi lagi pada Ezra dan Raya yang sedari tadi terus saja bercanda hingga memperlambat langkah kaki mereka.
Setelah Ezra dan Raya masuk, mobil pun melaju. Ezra ditugaskan oleh Papa Hadi untuk menyetir mobil karena tadi Papa Hadi yang mengendarainya ke bandara.
Mama Laura dan Papa Hadi asyik berceloteh dengan Razka di bangku belakang, sedangkan Ezra dan Raya duduk di depan.
"Mereka terlihat sangat bahagia, ya Mas", Raya melirik kebersamaan Razka dengan kakek neneknya.
"Iya, sayang", jawab Ezra dengan senyum terulas di bibirnya.
"Nanti kita buatkan Razka empat orang adik agar rumah semakin ramai", bisik Ezra pada istrinya.
Raya mengerucutkan bibirnya, suaminya itu ternyata masih terus saja menggoda dirinya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Ezra dan keluarganya tiba di rumah. Pak Seno dan Mbok Nah sudah berdiri di teras untuk menyambut kedatangan keluarga majikannya itu.
Begitu turun dari mobil, Papa Hadi menugaskan Pak Seno dan Mbok Nah untuk membawa barang-barang yang ada di bagasi.
"Nah, sekarang kamu sudah sampai di rumah. Grand Ma dan Grand Pa sudah menyiapkan kamar buat kamu", ucap Mama Laura saat dirinya sudah berada di ruang keluarga.
"Ayo, kita lihat kamar kamu di atas", ucap Mama Laura menatap Razka yang tersenyum. Tak lupa, dia juga mengajak Raya untuk ikut bersamanya.
Sementara kedua wanita itu pergi ke lantai atas, Papa Hadi dan Ezra memilih untuk beristirahat bersama.
"Kamu berhasil menjelaskan semuanya pada Raya?".
"Seperti yang Papa lihat, Raya tetap ada bersamaku, bahkan dia mau menerima Razka sebagai putranya", jawab Ezra.
Papa Hadi tersenyum, "Syukurlah. Papa dan Mama lega. Semua bebanmu selama ini akhirnya berakhir juga. Setelah ini, jaga istri dan anakmu dengan baik, ya", pesan Papa Hadi.
"Iya, Pa", jawab Ezra yakin.
__ADS_1