
Selepas subuh, semua orang yang ada di villa sudah tampak segar. Mereka semua sangat bersemangat menyambut aktivitas hari ini.
"Ayo, hari ini kita siapkan sarapan dan kudapan terbaik untuk keluarga Pak Ezra dan Bu Raya juga semua tamu mereka", ujar Prita.
Sejak pagi buta, dia sudah mengumpulkan seluruh pegawai toko pastry untuk ikut berkontribusi dengan memastikan semua hidangan yang tersaji selama di villa adalah hidangan terbaik dan terlezat.
"Siap, Bu", jawab seluruh pegawai yang tampak cerah dengan seragam kaos berwarna hijau daun.
"Ok, sekarang silahkan kerjakan tugas yang semalam sudah saya bagikan".
"Siap, laksanakan", lagi, para pegawai menjawab layaknya paduan suara sebelum akhirnya mereka berpencar ke dapur utama.
Prita tersenyum senang melihat semua pegawainya bersemangat.
"Selamat pagi, Prita".
"Selamat pagi, Bu Raya".
"Tadi aku mendengar suara ramai di sini. Apa ada masalah?".
"Oh tidak ada, Bu. Tadi saya hanya apel pagi dengan semua pegawai. Kami akan membuat sarapan dan kudapan lezat selama di villa".
"Lho, kenapa kalian yang kerjakan? Mas Ezra kan sudah menugaskan orang untuk menghandle semuanya. Kalian diundang ke sini untuk ikut menikmati liburan".
"Tak apa, Bu. Teman-teman senang bisa membuat hidangan lezat sambil liburan juga".
Raya tersenyum manis, "Setelah pulang dari sini, akan ada bonus besar untuk kalian semua, ya".
"Wah, terima kasih banyak, Bu. Kami semakin bersemangat", jawab Prita dengan wajah super sumringah.
Raya tertawa kecil, "Kamu manager toko yang hebat. Ya sudah, kalau begitu saya kembali ke dalam, anak-anak pasti sudah bangun sekarang".
"Iya, Bu, silahkan", Prita menundukkan sedikit kepalanya pada Raya.
Raya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dari dekat tangga, dia bisa menyaksikan para orang tua tengah asyik berolahraga bersama.
"Selamat pagi".
Raya segera membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok yang menyapanya pagi ini.
"Eh, Nita, selamat pagi", jawab Raya dengan tersenyum.
"Terima kasih sudah mengundang keluarga kami ke sini".
"Sama-sama. Suami kamu dan Mas Ezra kan sahabat karib, tentu akan sangat menyenangkan jika semua keluarga sahabatnya ada di sini. Oh ya, bagaimana istirahatmu semalam? nyenyak?".
Nita tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya, kami beristirahat dengan baik bahkan Si kecil juga sampai jam segini belum bangun. Padahal kalau di rumah biasanya sebelum subuh dia sudah asyik bermain".
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Nanti kita foto bersama ya anak-anak kita, sekalian ajak Haikal juga".
"Iya, tentu".
"Oh ya, aku belum tahu siapa nama anakmu?".
"Namanya Nesya Aurani Adikarya".
"Wah, nama yang cantik. Aku ingin sekali bertemu dengan Nesya. Dia bisa berteman baik dengan Zalika".
"Ya, nanti kita pertemukan mereka. Oh ya, aku permisi dulu kembali ke bungalau, khawatir Nesya sudah bangun dan suamiku kerepotan mengurusnya".
"Ya, silahkan", jawab Raya pendek.
Setelah berbincang sejenak dengan Nita, Raya bergegas naik ke lantai dua. Di dekat tangga dia berpapasan dengan Suster Nia.
"Pagi, Sus, apa anak-anak sudah bangun?".
"Pagi, Bu. Belum Bu, mereka masih tidur. Apa ibu mau melihatnya? di kamar ada Suster Lela yang menjaga mereka".
"Tidak, saya nanti melihat mereka kalau sudah bangun saja. Semalam tampaknya mereka tidur nyenyak ya, saya sama sekali tidak mendengar Zalika atau Razka menangis".
"Iya, Bu. Razka dan Zalika memang tidur dengan nyenyak, bahkan saya dan Suster Lela saja sampai bisa beristirahat penuh".
"Syukurlah kalau begitu. Nanti kalau mereka bangun tolong dimandikan segera karena acara akan dimulai jam sembilan. Jangan lupa sarapan juga ya Sus, ajak Suster Lela".
"Baik, Bu", Suster Nia menganggukkan kepala.
"Mas, kok masih selimutan sih. Ayo, bangun ini sudah siang lho", Raya menatap suaminya yang masih memejamkan mata.
Setelah sholat subuh, Ezra memang memilih tidur kembali karena dia masih merasa lelah setelah menyetir kemarin.
"Ini jam berapa, sayang? aku masih mengantuk", tanya Ezra masih dengan mata tertutup rapat dan suara serak khas orang bangun tidur.
Raya melirik jam di dinding, "Sekarang jam enam tepat, Mas".
"Ck, itu artinya masih pagi, sayang".
"Tapi, Mas, acara utama akan dimulai jam sembilan. Kalau telat, bagaimana? kita juga harus mempersiapkan anak-anak lho".
"Jam sembilan masih lama, anak-anak juga sudah ada suster yang urus. Sebaiknya kamu tidur lagi, sini aku peluk", Ezra menggerakkan tubuhnya, ia mengubah posisinya jadi telentang sambil merentangkan kedua tangannya.
"Mas, aku ...".
Belum selesai Raya bicara, Ezra sudah menariknya jatuh tepat di atas tubuh Sang suami.
Ezra membuka kedua matanya dan menatap wajah istrinya dengan intens.
__ADS_1
"Ini masih terlalu pagi untuk bangun dan mengurus anak-anak, sayang. Jadi, sebaiknya kamu urus dulu suamimu ini, ya", ucap Ezra manja.
"Urus bagaimana, Mas?", tanya Raya bingung.
Ezra tersenyum, "Seperti ini".
Kedua tangan kekar Ezra menarik tubuh Raya dengan lembut, membuat wajah keduanya saling berdekatan dan tanpa ragu Ezra meraup bibir ranum istrinya.
"Mmmhhh ...", Raya berusaha melepaskan diri dari suaminya. Tapi semakin dia memberontak, Ezra justru semakin mengunci tubuhnya.
Tanpa permisi, Ezra bahkan sudah berhasil membalik tubuh Raya hingga berada di bawah kungkungannya.
"Mas ...", nafas Raya terengah-engah saat Ezra melepaskan dirinya di atas ranjang.
Ezra tersenyum penuh arti menatap Sang istri, "Kenapa, hm? semalam kita tidak sempat menikmati malam yang indah karena terlalu lelah. Jadi, aku akan meminta bayaran menyetir kemarin pagi ini".
"Bayaran apa sih, Mas? Mas Ezra tidak ikhlas ya membawa aku dan anak-anak ke sini?".
Ezra tertawa kecil, "Mana mungkin aku tidak ikhlas. Ini bukan soal keikhlasan, sayang tapi ini soal ...".
"Apa?".
Ezra tidak memberikan jawaban, tangannya justru dengan cepat melepas satu demi satu kancing piyama yang dikenakan Raya. Membuat wajah Raya merona tanpa penolakan.
"Mas ...".
"Sssttt ... jangan berisik, di sini ada banyak orang, jangan sampai mereka mendengar suara indahmu, sayang", Ezra merapatkan jari telunjuknya di bibir Raya.
"Tapi Mas ... aaahhh ...".
Belum sempat Raya melanjutkan ucapannya, Ezra sudah lebih dulu bergerilya di area sensitif milik Raya. Tanpa ampun Ezra membuat Raya seketika merasakan desakan hasrat yang sebelumnya tiada.
"Mas ...", Raya menatap suaminya yang masih asyik beraksi.
Ezra melirik nakal ke arah istrinya, dia bisa melihat Raya yang tampak mengigit bibir bawahnya, membuat gairah Ezra semakin tersulut.
"Satu jam, ya kita akan bermain satu jam saja, sayang", bisik Ezra tepat di telinga Raya.
Raya merasa geli sekaligus malu mendengar bisikan itu.
Ezra tidak menunggu jawaban dari istrinya. Dia kembali bergerilya, mengabsen setiap inci tubuh Sang istri, hingga suara indah Raya yang selalu ia rindukan kini mulai terdengar semakin intens.
Ezra begitu menikmati permainannya, begitu pula dengan Raya, dia seolah kehilangan kendali, bahkan saat ini Raya yang memimpin permainan di atas ranjang.
"Kamu luar biasa sekali, sayang", Ezra memuji aksi istrinya yang tak biasa.
"Aku pasti membuatmu tidak akan merasa cukup hanya satu jam saja", bisik Raya menantang.
__ADS_1
Senyum nakal Ezra mengembang, "Benarkah? kita lihat, seberapa kuat kamu bermain denganku".
Kedua insan itu kembali saling menyentuh, memberikan kenikmatan satu sama lain. Ya, kenikmatan pertama setelah Raya pulih dari sakitnya.