
Setibanya di negara Y, Ezra segera menemui Sang Papa dan memberitahu semua kebenaran yang dia dapatkan terkait kecelakaan yang dialami Raya beberapa bulan yang lalu.
"Ya Tuhan, apa benar Sindy yang melakukan itu semua? Papa tidak percaya, Ezra", Papa Hadinata yang saat ini tengah duduk bersama putranya tanpa terkejut dengan informasi yang Ezra sampaikan.
"Itulah kenapa aku datang lebih cepat ke sini, Pa. Aku ingin mencari tahu bukti yang sebenarnya. Kalau ternyata benar, Sindy harus mempertanggung jawabkan semuanya", ujar Ezra tegas.
"Iya. Tapi Zra, kamu harus ingat, saat ini Sindy sedang mengandung anak kamu. Apa kamu tega berbuat sekeras itu pada istrimu sendiri?".
"Pa, aku tidak peduli dengan keadaannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Selama ini meski terpaksa, aku selalu berusaha berbuat baik pada Sindy. Tapi lihat, apa yang dia lakukan pada istri yang aku cintai. Padahal aku berusaha keras merahasiakan status dan keberadaan Raya darinya. Keputusanku sudah bulat, Pa, Sindy harus membayar ini semua!", tegas Ezra sambil lalu dari hadapan Sang Papa.
Papa Hadinata menarik nafas dalam. Keadaan semakin rumit. Belum juga urusan kehamilan Sindy yang masih menjadi polemik, sekarang sudah ditambah dengan kejahatan yang menantunya itu lakukan.
"Tuhan, andai dulu aku tidak bertindak bodoh, mungkin ini semua tidak akan terjadi", sesal Papa Hadinata.
Di dalam kamarnya, Ezra mengeluarkan chip yang diberikan Dion. Dia lalu menyalakan laptop dan memeriksa isi chip itu. Benar saja, di dalamnya ada bukti rekaman percakapan dan juga pesan antara Sindy dengan seorang pria yang Ezra yakini pria itu adalah orang yang ditangkap dan ditawan oleh Dion.
"Wanita tidak tahu diri. Tega-teganya kamu menyakiti istriku. Setelah ini hidupmu akan berakhir!", batin Ezra dengan penuh emosi.
Dia melirik jam di dinding kamar, belum terlalu larut untuk dirinya pergi ke kediaman keluarga Wiratama.
"Ezra, kamu mau kemana?", tanya Papa Hadi yang rupanya masih berada di ruang keluarga.
"Aku mau ke tempat Om Ardi, Pa. Tolong, kali ini Papa jangan halangi apa yang akan aku perbuat", jawab Ezra tanpa melihat Sang Papa.
Mendengar jawaban seperti itu, Papa Hadinata terdiam. Dia tidak berusaha menahan langkah Ezra sama sekali.
Ezra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa lelah yang seharusnya membuat dirinya beristirahat justru sama sekali tak terasa. Dalam pikiran Ezra saat ini hanya ada kekecewaan dan kemarahan yang menggebu.
Tak butuh waktu lama, Ezra sudah tiba di kediaman keluarga Wiratama. Suasana tampak sepi. Seorang penjaga menghampiri Ezra dan mengatakan bahwa Tuannya sedang berada di rumah sakit.
Ezra hanya mengucapkan terima kasih dan tak banyak bicara pada Sang penjaga. Dia segera masuk dan menuju kamarnya juga Sindy di lantai atas.
__ADS_1
Setibanya di kamar itu, Ezra segera memeriksa seluruh lemari dan laci. Dia benar-benar membutuhkan bukti lain untuk bisa membuat Sindy membayar semua kejahatannya.
"Ck, di mana wanita itu menyembunyikan rahasianya?", gumam Ezra kesal.
Setelah hampir satu jam Ezra memeriksa seisi kamar, tanpa sengaja dia melihat ada sebuah buku tabungan yang terselip di antara pakaian milik Sindy.
Ezra mengambil buku tabungan itu dan melihat isinya. Di dalamnya dia melihat beberapa bukti transaksi transfer sejumlah uang yang tak sedikit ke sebuah rekening yang sama.
"Aku harus memeriksa pemilik rekening tujuan ini", gumam Ezra lagi.
Dia memfoto nomor rekening itu lalu menghubungi Sang Papa, meminta bantuannya untuk menghubungi kolega keluarga Hadinata di bank guna membantu memeriksa pemilik rekening tersebut.
Besok pagi Papa infokan hasilnya.
Jawab Papa Hadinata setelah dia menerima pesan dari Ezra.
Kali ini Ezra bisa sedikit bernafas lega. Perlahan tapi pasti, semua bukti kejahatan Sindy akan ada di tangannya.
Keesokkan harinya, selepas sholat subuh Ezra segera bersiap menuju rumah sakit. Dia sengaja datang ke sana tanpa memberitahu siapapun, termasuk tidak memberi tahu mertuanya, Om Ardi.
"Ok, kita lihat bagaimana kondisinya di dalam?", batin Ezra sesaat sebelum dia mengetuk dan membuka pintu yang ada di depannya.
Sebelum Ezra sempat membuka pintu itu, seseorang sudah terlebih dulu membukanya dari dalam.
"Lho, Ezra".
"Selamat pagi, Om", sapa Ezra pada Om Ardi.
"Pagi. Kamu sejak kapan ada di sini? kenapa kamu tidak mengabari Om kalau mau datang kemari?", berondong Om Ardi.
Ezra mencoba tersenyum tipis, "Kejutan, Om. Oh ya, bisakah aku menemui Sindy?".
__ADS_1
Om Ardi melirik sebentar ke dalam ruangan, "Tentu, masuklah. Sindy pasti senang melihat kedatanganmu", Om Ardi mengajak menantunya itu untuk masuk.
Di dalam ruangan, terlihat Sindy masih tertidur dengan lelap. Ezra juga bisa melihat perut Sindy yang tampak agak membuncit.
"Papa sudah menyampaikan semuanya, Om. Aku tahu Sindy sedang mengandung anakku", ucap Ezra sebelum Om Ardi menjelaskan kondisi Sindy saat ini.
"Ah, syukurlah kalau Papamu sudah bicara soal Sindy. Om harap kamu bisa terus bersamanya, setidaknya sampai dia melahirkan".
"Oh ya karena kamu suaminya, Om rasa kamu berhak membaca ini", Om Ardi melangkah mendekati nakas kecil di dekat sofa. Dari dalam nakas itu dia mengeluarkan sebuah map biru yang ia berikan pada Ezra.
"Ini apa, Om?", Ezra mengernyitkan dahi saat menerima map itu.
"Buka saja", jawab Om Ardi.
Ezra menuruti perintah mertuanya itu. Meski dia tidak terlalu paham dengan data yang ada di dalam map, Ezra tetap membacanya sampai selesai.
"Ini maksudnya apa, Om?", Ezra beralih menatap sang mertua.
Om Ardi menghela nafas, giliran dirinya yang menatap Ezra.
"Itu adalah hasil lab Sindy dan hasilnya seperti yang kamu lihat, tidak baik. Kehamilan ini beresiko tinggi untuk Sindy. Seharusnya sekarang dia bisa menjalani operasi sumsum tulang belakang. Tapi Dokter Dave yang selama ini menanganinya menunda operasi itu sampai Sindy melahirkan. Hanya saja, ya harapan Sindy untuk bertahan hidup semakin tipis", terang Om Ardi sendu.
Ezra menyimak dengan seksama, "Aku minta maaf Om. Jika saja aku tidak melakukannya dengan Sindy, mungkin saat ini dia ...".
"Tak apa. Sindy sudah mengakui semuanya, dia yang menginginkan semua ini terjadi, Ezra. Maafkan Sindy karena sudah melakukan hal yang tidak baik hingga kamu sekarang akan segera menjadi seorang ayah", pungkas Om Ardi merasa bersalah.
Ezra terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apalagi pada mertuanya itu.
"Pagi ini Om ada meeting di kantor dan Bi Asih sudah kembali ke rumah sejak semalam. Bisakah Om memintamu untuk menjaga Sindy di sini?".
"Tentu, Om", jawab Ezra cepat.
__ADS_1
Om Ardi tersenyum. Ia berterima kasih pada Ezra dan bersiap untuk pergi.
"Oh ya, jika nanti Sindy bangun dan dia terkejut melihatmu ada di sini, katakan saja kalau Om yang memintamu untuk datang karena Sindy tidak ingin kamu tahu tentang kehamilannya", ucap Om Ardi sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan itu.