
"Terima kasih atas jamuannya dan kuenya. Mamaku pasti suka ini", Dion menunjukkan paper bag di tangannya.
"Terima kasih banyak juga Mas Dion sudah mampir ke toko kami dan memborong kue kami. Semoga suka dan datang lagi ke sini, ya", jawab Raya.
Dion mengangguk pasti, "Aku pamit ya".
Raya menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai jawaban.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mobil yang dikemudikan Pak Seno juga sudah terparkir di depan toko.
Setelah Raya berpamitan pada para pegawainya, ia segera keluar dari toko untuk segera pulang melepas penat.
Sepanjang perjalanan Raya hanya diam. Pikirannya terpaut pada suaminya, Ezra.
Raya belum berani menghubungi suaminya lebih dulu. Ia khawatir jika Sang suami tengah sibuk karena yang Raya tahu, kepergian suaminya ke negara Y adalah untuk membantu Papa Hadinata mengembangkan sekaligus mengurus masalah yang terjadi di perusahaan mereka.
"Kamu sedang apa sekarang, Mas?", batin Raya sambil melirik layar gawainya yang tampak gelap.
Setelah hampir dua puluh menit perjalanan, Raya akhirnya tiba di rumah.
Mbok Nah menyambut kedatangan majikannya itu, "Selamat datang, Non".
"Terima kasih, Mbok".
"Non, tadi ada telepon dari Nyonya besar".
"Oh ya? apa ada pesan dari Mama Laura, Mbok?".
"Tidak, Non. Tadi Nyonya menanyakan kondisi rumah dan kabar Non Raya. Nyonya juga sempat meminta nomor kontak pribadi Non Raya, tapi Mbok belum kasih karena belum tahu nomor Non Raya", terang Mbok Nah.
Raya terdiam. Ya, sekian lama dia menjadi menantu keluarga Hadinata, selama itu pula dia belum memberikan informasi nomor kontak pribadinya. Selama ini jika mertuanya berkomunikasi, pasti telepon rumah yang dihubungi.
"Ya sudah, Mbok, nanti biar aku telepon balik Mama. Makasih ya, Mbok".
"Nggih, Non".
Setelah perbincangan singkat itu, Raya segera naik ke atas. Ia langsung membersihkan diri agar bisa segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Raya menatap gawainya yang sepi dari notifikasi Sang suami. Saat ini, Raya sangat berharap Ezra menghubunginya.
Ada perasaan sepi yang dalam setelah kepergian Ezra ke negara Y.
__ADS_1
"Mungkin kamu benar-benar sibuk ya, Mas", gumam Raya.
.
.
"Mas, ayo kita jalan-jalan", ajak Sindy setelah ia dan Ezra selesai makan siang.
Ezra sebetulnya enggan menemani Sindy. Saat ini dia ingin sekali segera menghubungi Raya karena kontak terakhirnya dengan Sang istri terjadi saat ia baru tiba kemarin di negara Y.
"Mau jalan-jalan kemana?", tanya Ezra basa-basi.
Sindy tampak berpikir, "Aku mau jalan-jalan ke mall dan nonton bioskop bareng Mas Ezra".
Ezra menarik nafas dalam, "Ok. Tapi aku ke atas sebentar ya, ada sesuatu yang mau aku ambil".
"Ok. Aku tunggu Mas di depan".
Ezra segera naik ke lantai atas. Ia masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Dengan cepat, jari jemari Ezra mencari nomor kontak Raya dan panggilan pun terhubung.
Raya yang tak sengaja tertidur karena lelah terperanjat mendengar bunyi gawai miliknya.
Kedua matanya langsung terbuka lebar saat melihat video call dari suaminya, Ezra.
"Hallo, Mas", jawab Raya cepat.
"Maaf ya aku baru sempat menghubungi kamu. Kamu lagi apa, sayang?".
Raya tersenyum, "Tak apa, Mas. Aku baru selesai membersihkan diri. Mas Ezra sendiri lagi apa?".
"Coba tebak?".
Raya tampak berpikir, "Kerja ya? di sana siang, kan?".
Ezra tersenyum mendengar tebakan Raya, "Iya di sini siang. Aku sekarang lagi istirahat. Kamu sudah makan?".
"Oh ... belum, Mas. Nanti aku ke bawah kok buat makan. Mas Ezra sendiri gimana?".
"Aku baru aja selesai makan. Baik-baik ya di sana. Maaf kalau aku lama atau jarang menghubungi kamu".
"Tak apa, Mas. Aku tahu di sana Mas Ezra pasti sangat sibuk, aku paham kok".
__ADS_1
Hati Ezra perih mendengar ucapan Raya. Istrinya mengira di negara Y ini dia tengah sibuk dengan urusan kerja, padahal nyatanya Ezra justru sibuk dengan istri barunya.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Aku kangen wajah kamu, senyum kamu, pokoknya semua hal yang kamu punya", ungkap Ezra jujur.
Raya tersipu mendengar ucapan suaminya, "Aku juga kangen sama Mas Ezra. Di rumah jadi sepi setelah Mas Ezra pergi".
Ezra menarik nafas dalam, "Maafkan aku, sayang. Ya sudah karena kamu belum makan, VC-nya aku akhiri ya. Kalau enggak, kamu pasti gak akan makan kan".
Raya mengangguk, "Iya, Mas. Makasih ya Mas sudah menyempatkan waktu buat telepon aku. Maafkan aku juga gak telepon Mas duluan, aku khawatir ganggu kerjaan Mas Ezra".
Lagi, hati Ezra tertampar oleh perkataan Raya.
"Iya, sayang. Selamat makan dan jangan tidur larut malam, ya. I love you so much", Ezra memberikan ciuman jarak jauh pada Raya.
"I love you too, Mas. Jaga kesehatan Mas di sana ya", Raya pun membalas ciuman jarak jauh dari Ezra.
Selepas VC selesai, Ezra segera turun. Ia tidak ingin Sindy curiga karena dirinya terlalu lama di kamar atas.
"Mas Ezra kok lama sih?", keluh Sindy saat Ezra datang.
"Maaf, tadi aku agak kesulitan mencari ini", Ezra menunjukkan jam tangannya.
"Oh, maaf ya Mas, aku menyimpannya di nakas tanpa izin Mas Ezra", Sindy merasa bersalah karena membuat suaminya repot mencari jam tangannya sendiri. Padahal, Ezra melihat dari balik pintu kamar mandi saat Sindy meletakkan jam miliknya di laci nakas.
"Tak apa. Ayo kita pergi".
Sindy tanpa ragu merangkul tangan Ezra. Sepasang pengantin baru ini segera masuk ke dalam mobil dan membelah jalanan kota negara Y.
Tak butuh waktu lama, Ezra dan Sindy sudah sampai disebuah mall besar. Sesuai keinginan Sindy, mereka langsung masuk ke mall dan menuju bioskop yang ada di sana.
Ezra membiarkan Sindy menentukan film apa yang akan mereka tonton dan gadis itu memilih sebuah film baru bergenre romantis.
Sindy memang sengaja memilih genre tersebut karena ia ingin menikmati waktu seperti sepasang kekasih yang juga hilir mudik dalam bioskop.
"Mas, aku mau beli makanan dan minuman dulu ya. Mas Ezra mau aku belikan apa?", tanya Sindy.
Ezra terdiam sesaat, "Terserah kamu saja", jawab Ezra pendek.
"Ok, biar aku yang beli ya. Mas Ezra tunggu di sini", Sindy berlalu dari hadapan suaminya.
Ezra menatap kepergian Sindy. Gadis itu sebetulnya berkepribadian baik. Dulu, saat Ezra kuliah dan awal mengenal Sindy, mereka cukup sering berkomunikasi. Tapi selama hal itu berlangsung, Ezra tak pernah sedikit pun menaruh hati pada Sindy. Seperti yang dia bilang pada Papanya, bagi Ezra, Sindy tak lebih dari seorang adik.
__ADS_1
Ezra menarik nafas dalam. Dia merasa sepi di tengah keramaian yang ada di sekelilingnya. Lagi, pikiran dan hati Ezra masih terpaut pada Raya. Setelah ini, entah apa lagi yang akan ia lakukan dengan Sindy. Satu hal yang pasti, jika Raya tahu, semua itu akan sangat melukai hatinya.