Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Meluruh Masa Lalu


__ADS_3

Raya menatap pusara di depannya. Ada nama Sindy Wiratama tertulis dengan jelas di nisan pusara itu.


"Hallo, Sindy. Kenalkan aku Raya. Sama seperti dirimu, aku juga istri dari Mas Ezra. Hari ini aku datang untuk menemuimu. Aku sudah mendengar semuanya dari Om Ardi dan juga Mas Ezra. Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Aku harap kamu mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan", ucap Natya berbincang pada jasad yang terkubur di sana.


Ezra yang ada di sampingnya sedari tadi menatap Natya. Sesekali matanya melihat nama Sindy yang terukir di nisan.


"Oh ya, aku juga sudah bertemu dengan Razka. Putramu itu sangat tampan dan menggemaskan. Aku mohon izin untuk merawatnya, ya. Aku janji akan menyayangi dan membesarkan dia seperti anakku sendiri. Terima kasih sudah menjadi istri yang baik untuk suamiku dan terima kasih sudah menjadikannya seorang ayah", lanjut Raya lagi.


"Sayang ...", Ezra menyentuh pundak Raya. Dia merasa bersalah pada Raya saat mendengar ucapan terakhir Raya.


Raya melirik sebentar ke arah suaminya dan tersenyum.


"Aku pamit, ya. Aku tidak bisa berjanji padamu, tapi jika ada kesempatan untukku datang ke negara ini lagi, aku akan menemuimu kembali", Raya mengusap nisan Sindy dan berdo'a untuknya.


Di dalam mobil, untuk beberapa saat Ezra dan Raya tidak saling berbicara. Keduanya seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Lho, Mas, kok berhenti di sini?", Raya menatap Ezra yang menghentikan mobilnya di sebuah taman bunga.


"Aku ingin bicara dan aku tidak bisa menahan ini sampai kita tiba di rumah, sayang", jawab Ezra.


"Apa, Mas?", tanya Raya menunggu.


Ezra menghela nafas dalam, "Sayang, aku minta maaf ya. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu tak berarti sebagai seorang istri", Ezra menggenggam kedua tangan istrinya.


"Mas Ezra bicara apa sih? I'm ok, Mas", Raya tersenyum pada suaminya.


"But I'm not ok, Raya. Hatiku rasanya teriris mendengar ucapanmu tadi di pusara Sindy. Percayalah, hanya kamu satu-satunya istri yang aku cintai dan kamu adalah istri terbaik yang aku punya, tidak ada yang lain, sayang. Aku merasa sempurna bersamamu", Ezra mengelus pipi lembut Raya.


Raya terdiam, dia masih mencoba tersenyum pada suaminya itu. Dia paham maksud ucapan Ezra padanya.


Ada kesedihan yang masih bersarang di hati Raya karena meski dirinya adalah istri yang dicintai oleh Ezra, tapi nyatanya dia tidak bisa memberikan seorang anak pada lelaki itu.


"Mas, kita tidak usah lagi membahas hal yang sudah lalu. Mas Ezra juga tidak perlu meyakinkanku sampai seperti ini. Aku percaya padamu, Mas", Raya merespon ucapan suaminya.

__ADS_1


Ezra tersenyum getir. Dia bisa membaca kilat kesedihan dari kedua mata Raya yang sengaja diembunyikannya.


"Ayo, Mas, kita harus segera kembali. Aku tidak sabar ingin menyiapkan kamar dan berbagai perlengkapan untuk Razka", Raya membuyarkan lamunan Ezra.


"Ah, iya", Ezra merapikan posisinya di balik kemudi.


Sementara itu, Daddy Ardi menatap cucunya yang sedang tertidur lelap dalam box bayi.


Di samping tempat tidur itu ada foto Sindy yang tengah tersenyum.


"Sayang, lihat, anakmu tumbuh dengan baik. Dia sangat menggemaskan. Daddy sudah menjelaskan semuanya pada Raya. Dia benar-benar wanita yang baik. Dia mau memaafkan kita, bahkan dia bersedia merawat Razka dengan tulus. Daddy harap tidak ada lagi beban yang kamu tanggung di sana", ucap Daddy Ardi lirih. Ingatannya kembali terpaut pada mendiang putri semata wayangnya yang sudah tiada.


Hatinya masih menyimpan kesedihan atas kepergian Sindy.


"Cucuku, sebentar lagi kamu akan tinggal bersama ayah dan bundamu. Tumbuh lah dengan baik. Opa janji akan sering mengunjungimu nanti", Daddy Ardi beralih mengajak Razka untuk berbincang meski cucunya itu tengah tertidur lelap.


"Maaf, Tuan. Ada telepon dari Tuan Hadinata", seorang pelayan datang membawa gawai milik Daddy Ardi.


"Ok, terima kasih", Daddy Ardi menerima telepon yang diantarkan oleh Sang pelayan.


"Hallo, Ardi. Bagaimana? apa semuanya berjalan lancar?", tanya Papa Hadi penuh kecemasan.


Papa Hadi sudah tahu tujuan Ezra mengajak Raya pergi ke negara Y dan dia juga sudah membahas hal itu dengan Daddy Ardi beberapa hari sebelum putra dan menantunya terbang ke sana.


"Ya. Menantumu itu benar-benar berhati malaikat. Dia mendengarkanku dengan baik, bahkan dia sudah memaafkan aku, Sindy, dan juga Ezra", jawab Daddy Ardi.


"Syukurlah. Semoga setelah ini keadaan kita bisa lebih baik", harap Papa Hadi lega.


"Ya. Satu hal lagi, Hadi. Raya menerima Razka, bahkan dia sendiri yang meminta izin padaku untuk merawat Razka".


"Benarkah?".


"Benar. Aku yakin saat ini Raya dan Ezra pasti sedang mempersiapkan segala kebutuhan Razka di rumahmu. Aku mengizinkan Raya merawatnya. Aku yakin cucuku akan mendapatkan kasih sayang yang penuh dari seorang ibu sebaik Raya", terang Daddy Ardi.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya. Berarti nanti saat mereka pulang, Razka akan ikut ke sini, benar begitu?", tanya Papa Hadi memastikan.


"Aku rasa seperti itu. Kondisi Razka sekarang sudah lebih sehat dan aku juga sudah berbicara pada Dokter Janet, Razka sudah bisa diajak berpergian jarak jauh. Ah, nanti aku akan sangat merindukannya", Daddy Ardi merasa terharu mengingat sebentar lagi cucunya akan pergi bersama Ezra dan Raya.


"Ardi, kamu bisa mengunjunginya kapanpun kamu mau dan aku juga Laura pasti akan ikut merawat Razka dengan baik, ya", janji Papa Hadi.


"Ya, Hadi. Tolong jaga dan rawat cucuku. Aku percayakan dia pada keluargamu. Terima kasih", ucap Daddy Ardi di akhir teleponnya.


Sebelum ke rumah, Ezra mengajak Raya ke sebuah toko bayi yang ada di pusat perbelanjaan. Dia membiarkan istrinya memilah dan memilih berbagai perlengkapan bayi yang dia inginkan.


"Mas, apa aku boleh membeli ini?", Raya menunjukkan sebuah stroller bayi pada Ezra.


"Ambil apapun yang kamu mau, sayang", jawab Ezra sumringah.


Senyum di wajah Raya terulas sempurna. Dia mengedarkan pandangannya, memerhatikan semua perlengkapan bayi yang terpampang di depan matanya.


"Akhirnya aku bisa merasakan menjadi seorang ibu, Mas", ucap Raya haru setelah dia berhasil mengisi penuh dua troli yang dibawanya bersama Ezra.


Ezra tersenyum, dia menarik Raya dalam dekapannya dan mencium lembut kening istrinya itu.


"Terima kasih sudah menerima Razka dengan baik. Setelah ini aku janji akan berjuang lebih rajin untuk memberikan Razka seorang adik", ucap Ezra tanpa ragu.


Raya mencubit lembut pinggang suaminya, dia tersipu mendengar ucapan itu.


"Kenapa mencubitku, sayang?".


"Mas Ezra bicaranya tidak dijaga", celoteh Raya.


Ezra terkekeh, "Apa salahnya memberikan Razka seorang adik? aku ingin rumah kita ramai dengan suara anak-anak, sayang".


"Iihh, Mas Ezra ...", entah kenapa Raya justru merasa malu dengan ungkapan hati suaminya.


Lagi, Ezra terkekeh, "Setelah pulang dari sini, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa turun dari tempat tidur kecuali jika aku mengizinkannya", bisik Ezra tepat di telinga Raya.

__ADS_1


Raya meremang mendengar bisikan itu. Dia sangat paham dengan maksud suaminya. Ya, sebetulnya Raya pun tidak ingin menunda untuk memiliki anak dari Ezra.


__ADS_2