
"Sayang, kamu sudah sadar?", Ezra menatap wajah Raya yang tampak lemas namun berusaha tersenyum ke arahnya.
Perlahan Raya menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Tuhan", ucap Ezra dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia meraup tangan Raya dan menciuminya tanpa henti.
"Mama senang melihat kamu sudah sadar", imbuh Mama Laura yang juga berada di samping tempat tidur Raya.
"Tuan, jika selama observasi dua jam ke depan kesadaran Bu Raya stabil, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan", dokter yang selama ini merawat Raya memberikan penjelasan.
"Terima kasih, Dok".
"Sama-sama, Tuan. Saya permisi", Sang Dokter berpamitan.
Ezra dan Mama Laura menganggukkan kepala. Keduanya kembali menatap intens Raya yang baru saja sadarkan diri.
"Mas ...".
"Iya, sayang", Ezra mendekatkan wajahnya pada Raya.
"Anak kita ...".
"Kamu jangan khawatir, anak kita baik-baik saja. Sekarang dia ada di ruang NICU, tadi aku sudah melihatnya", ucap Ezra lembut sambil mengelus kepala istrinya.
Raya tersenyum tipis, "Syukurlah".
"Sayang, Papa baru saja mengabari Mama, katanya Papa sudah sampai di sini. Mama mau ke depan dulu ya menyambut Papa", Mama Laura berpamitan pada anak dan menantunya.
Raya menganggukkan kepala perlahan begitupun dengan Ezra.
"Mas, kapan aku bisa melihat anak kita?".
"Sabar ya sayang, kita tunggu izin dari dokter karena kamu juga baru sadar".
"Iya, Mas. Tapi aku sangat ingin melihatnya. Apakah dia sehat?".
"Anak kita sangat sehat dan cantik sepertimu. Dia memiliki senyum yang manis".
"Benarkah? dia pasti sangat menggemaskan", Raya membayangkan wajah Sang bayi.
"Semenggemaskan kamu, sayang", ucap Ezra genit.
Raya tersenyum manis, sungguh dia merasa bahagia karena bisa kembali melihat wajah suaminya dan orang-orang yang ia kasihi.
"Raya, Ezra, ini Papa sudah datang", Mama Laura mengajak suaminya masuk ke ICU.
"Hallo, Pa", Ezra memeluk Sang Papa.
"Maaf ya Pa, aku tidak bisa bangun untuk menyambut Papa", ucap Raya menatap Papa mertuanya.
__ADS_1
"Tak apa. Papa cemas sekali saat mendengar kabar tentang kamu dan cucu Papa, tapi sekarang Papa sudah lega melihat kondisi kamu yang membaik. Semoga kamu cepat pulih ya, Nak", ucap Papa Hadinata penuh kasih.
"Terima kasih, Pa", jawab Raya dengan seulas senyum manis di bibirnya.
"Papa sama Mama mau ke ruang NICU untuk melihat cucu kami. Kamu jaga Raya dulu ya, Zra", ucap Mama Laura.
"Ok, Ma".
"Ma ...", Raya menahan tangan Mama mertuanya.
"Kenapa, sayang?".
"Tolong sampaikan sayangku untuk anakku".
Mama Laura tersenyum, "Pasti Mama sampaikan. Kalau begitu Mama sama Papa pamit dulu".
Ezra dan Raya menganggukkan kepala, membiarkan orang tua mereka pergi dari ruangan itu.
Tak terasa dua jam berlalu dan kondisi Raya sepenuhnya dinyatakan stabil. Sesuai dengan rencana, dokter akhirnya memindahkan Raya ke ruang rawat VVIP.
Setelah Raya pindah ruangan, dirinya merasa lebih baik. Apalagi saat ia dikunjungi oleh Dion dan Aura, wajah Raya lebih cerah dan hidup.
"Maaf ya, kami baru datang menjenguk", ucap Dion.
"Tak apa, terima kasih atas kunjungannya", ucap Raya menatap Dion dan Aura bergantian.
"Oh ya, ini saya bawakan buah untuk Bu Raya", Aura menyimpan parsel buah yang dibawanya sejak tadi.
Aura tersenyum, "Mana boleh begitu. Saya merasa tidak sopan jika memanggil Anda dengan menyebut nama saja".
"Tak apa, Aura. Lagi pula kamu sekarang kan istrinya Dion, seorang CEO muda yang punya pengaruh besar. Kamu dan istriku memiliki posisi yang setara", respon Ezra yang sejak tadi mendengarkan perbincangan di ruangan itu.
"Nah betul itu, sayang. Jadi, jangan sungkan sama Raya juga Ezra. Mereka sudah bukan boss kamu lagi", imbuh Dion.
"Tapi aku harus tetap harus memanggil Bu Raya dan Pak Ezra, Mas karena meskipun tidak lagi menjadi atasanku, mereka berdua tetap lebih tua. Boleh ya?", Aura menatap Raya dan Ezra bergantian.
"Boleh saja, tapi tolong ganti kata 'saya' dengan 'aku', ya. Agar kita lebih akrab", jawab Raya.
Aura tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Perbincangan mereka semakin asyik saat Dion menceritakan bagaimana Aura melahirkan dan tumbuh kembang anaknya saat ini.
"Mas, kita harus memberikan hadiah untuk putra mereka", ucap Raya setelah ia mendengar cerita Dion dan Aura.
"Tentu. Nanti kita siapkan hadiah terbaik untuk pewaris keluarga Ragawijaya".
"Woho, kami sangat menantikan itu", respon Dion bahagia.
Tawa pun terdengar menggema di ruang VVIP tersebut.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam lamanya Dion dan Aura berkunjung, keduanya kini berpamitan pada Raya dan juga Ezra. Tak lupa, mereka menitipkan salam untuk Mama Laura dan Papa Hadinata yang sedari tadi belum juga kembali.
"Thank's berat Bro untuk semuanya", Ezra memeluk Dion erat sebelum mereka berpisah.
"Lo masih aja bilang terima kasih. Kita ini sahabat karib, Zra bahkan udah macam adik kakak. Saling tolong menolong adalah keharusan", jawab Dion.
Ezra tersenyum, "Ya. Lo udah bantu banyak keluarga gue. Kalau gak ada lo, entah gimana ceritanya gue harus mengurus masalah-masalah yang kemarin itu".
"Santai, Bro. Oh ya, gue udah kabari Bagas juga. Dia bilang awal bulan depan mau balik ke sini sama istrinya. Agenda reuni kita gas ya".
"Hmm ... berita bagus. Siap, Bro. Semoga kondisi istri dan anak gue juga sudah membaik, ya".
"Ok, Bro. Kalau gitu, gue sama Aura pamit".
Ezra tersenyum mengiringi kepergian sahabatnya itu.
Tiga puluh menit setelah Dion dan Aura pergi, Mama Laura dan Papa Hadinata baru datang ke ruang rawat, Ezra sudah mengabari kepindahan ruangan untuk istrinya itu.
Tak lupa Ezra menyampaikan salam dari Dion untuk kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa tadi kemana? lama sekali", tanya Erza.
"Tadi sehabis dari ruang NICU, Mama menemani Papa makan di restoran. Papa kamu ini ternyata belum makan sedari tiba di sini".
"Oh gitu, Ezra kira kemana".
"Oh ya Zra, apa kamu dan Raya sudah menyiapkan nama untuk putri kalian?", tanya Papa Hadinata.
Ezra melirik ke arah Raya yang saat ini sudah bisa duduk bersandar di tempat tidur.
"Apa Papa ada ide nama untuk anak kami?", giliran Raya yang bertanya.
"Papa dan Mama memberikan hak pada kalian untuk menamainya. Tapi kalau boleh, tolong sematkan nama keluarga kita dalam nama putri kalian".
Ezra dan Raya tersenyum bersamaan, "Tentu, Pa", jawab Raya.
"Kamu sudah memikirkan nama untuk anak kita, sayang?", Ezra menatap Raya yang asyik mengunyah potongan apel.
"Sebetulnya sudah aku siapkan, Mas. Sejak aku sadar, aku sudah memikirkan nama untuk anak kita".
"Siapa namanya?".
"Zalika Narezra Hadinata".
"Nama yang bagus. Bagaimana menurut Papa dan Mama?", Ezra melirik kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa.
"Kami suka sekali dengan nama itu, iya kan Pa?", Mama Laura menatap suaminya.
"Ya. Nama yang indah sekali".
__ADS_1
Raya tersenyum senang mendengar respon suami dan kedua mertuanya. Hatinya bahkan sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan putri kecil mereka, Zalika.