
"Selamat pagi, Bu. Selamat datang kembali di toko. Kami senang melihat Bu Raya sudah sehat".
"Pagi semuanya. Sudah lama sekali saya tidak datang ke sini. Terima kasih atas sambutannya", ucap Raya pada Prita dan semua pegawai yang sengaja menyambut ke datangannya di toko pagi ini.
Prita mendampingi Raya masuk ke dalam ruang kerjanya yang sudah lama tidak dia datangi.
Kedua mata Raya memindai ruangan itu, seolah mengenang masa beberapa bulan yang lalu sebelum dirinya mengalami musibah.
"Apa toko ini berjalan dengan baik?", tanya Raya pada Prita setelah dia mendudukkan dirinya di kursi.
"Tentu, Bu. Bisnis pastry ini berkembang pesat, bahkan saat ini kita sedang berproses membuka cabang di kota sebelah", terang Prita.
"Ya, aku sudah mendengarnya dari Mama mertuaku", ucap Raya.
Setelah dirinya pulih dan kembali ke negara X, Mama Laura sudah menjelaskan perkembangan usaha pastry yang selama ini Raya rintis.
"Nyonya Laura sering sekali datang ke sini untuk meninjau semuanya, Bu", terang Prita lagi.
Raya tersenyum, "Ya. Mama mertuaku itu sangat luar biasa. Terima kasih, Prita, selama aku sakit kamu sudah menjadi manajer yang baik, sekarang kamu bisa kembali bekerja".
"Baik, Bu. Saya permisi", Prita pamit dari hadapan Raya.
Raya mulai beraktivitas, dia memeriksa lagi email tokonya juga mengecek data transaksi dan keuangan toko selama dia tidak ada.
Tapi baru saja menatap layar beberapa menit, Raya merasa mual. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar mandi.
"Ya Tuhan, seharusnya tadi pagi aku sarapan dulu", batin Raya.
Sejak semalam, dia memang tidak makan karena sibuk mengurus Razka. Meski di rumah sudah ada pengasuh yang membantunya untuk mengurus Razka, tapi dia tidak bisa melepaskannya begitu saja.
Setelah selesai dari kamar mandi, Raya kembali ke meja kerjanya. Dia meminum teh hangat yang sejak tadi sudah ada di sana.
"Permisi, Bu. Ada tamu yang mencari Ibu", Prita menyembulkan kepalanya dari balik pintu setelah sebelumnya dia meminta izin untuk masuk.
"Siapa?".
"Pak Dion dan Bu Aura", jawab Prita.
"Persilahkan mereka masuk dan siapkan jamuan untuk keduanya, ya".
"Baik, Bu".
Tak lama, Dion dan Aura masuk ke ruang kerja Raya. Raya menyambut kedatangan mereka dengan bahagia.
__ADS_1
"Senang sekali saya bisa bertemu lagi dengan Bu Raya", ucap Aura sumringah.
"Aduh, jangan bicara formal begitu. Ayo kita duduk, kasihan ibu hamil pasti lelah lama berdiri", Raya mempersilahkan Aura juga Dion.
Aura memang sedang hamil. Usia kandungannya saat ini sudah menginjak enam bulan sehingga Raya bisa melihatnya dengan jelas.
"Terima kasih", jawab Aura.
"Kapan kalian kembali? Ezra tidak mengabariku", ucap Dion.
"Sudah dari dua minggu yang lalu kami kembali. Mungkin Mas Ezra sibuk karena selama beberapa bulan terakhir dia banyak meninggalkan pekerjaan untuk mengurusku. Oh ya, terima kasih banyak atas bantuan kalian selama ini. Kalau saja saat itu kalian tidak ada, entah seperti apa nasibku sekarang", Raya teringat dengan peristiwa kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.
"Sudah jadi tanggung jawab kami, ya kan Mas?", Aura melirik pada suaminya.
Dion menganggukkan kepala.
"Sekarang kami ikut bahagia melihatmu sudah sehat dan beraktivitas kembali. Oh ya, hampir lupa, aku dan istriku datang ke sini untuk mengundang kalian reuni", Dion baru ingat dengan maksud kedatangannya ke toko pastry milik Raya.
"Reuni?".
"Iya. Rencananya akhir pekan ini aku dan Aura mau mengadakan reuni kecil-kecilan. Acaranya akan diselenggarakan di villa milik keluargaku. Ezra tahu lokasinya. Kebetulan Bagas dan istrinya juga sedang ada di sini. Sudah sangat lama kita tidak bertemu dan berkumpul", terang Dion.
"Baiklah. Nanti aku sampaikan pada Mas Ezra", janji Raya pada Dion.
"Sip. Sekalian istriku ngidam roti dan kue di sini. Sejak kemarin dia merengek, tapi baru hari ini aku bisa mengantarkannya ke sini", lanjut Dion lagi.
"Aduh, saya jadi tidak enak sama Bu Raya", jawab Aura malu-malu.
Raya tersenyum tipis, "Sudah aku bilang jangan terlalu formal. Santai saja, aku senang kalian datang kemari dan aku juga senang kalau baby di perutmu itu bisa ikut menikmati kue dan roti dari toko ini".
"Tuh sayang, jangan ragu. Bossnya saja sudah memberikan lampu hijau. Ayo, sikat", ucap Dion tidak malu-malu.
Sepasang suami istri itu kini menikmati sajian yang ada di meja sambil berbincang santai. Sebelum pulang, Dion memborong semua jenis kue dan roti yang ada di toko pastry milik Raya.
"Terima kasih atas kunjungannya. Hati-hati", Raya mengantarkan kedua tamunya hingga ke depan toko.
"Terima kasih, kami pamit ya", jawab Aura yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Raya menganggukkan kepala dan mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tangan.
"Bu ...".
"Sebentar", Raya berlari ke ruang kerjanya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Lagi, dia memuntahkan isi perutnya di sana.
__ADS_1
Prita yang melihat hal itu segera menyusul bossnya. Dia tampak khawatir.
"Bu, apa Anda sakit? sebaiknya Anda istirahat", Prita membantu Raya mengoleskan minyak kayu putih di area pundak belakang.
Raya menggelengkan kepala, "Sepertinya aku masuk angin saja. Dari semalam aku belum makan".
"Kalau begitu, saya siapkan makanan untuk Ibu, ya. Ibu mau makan apa?".
Raya menggelengkan kepalanya, "Nanti saja. Perutku masih terasa mual".
"Tapi wajah Bu Raya tampak pucat. Apa tidak sebaiknya ibu pulang dan beristirahat saja?", Prita begitu mengkhawatirkan kondisi atasannya itu.
"Tidak. Aku masih mau di sini. Tolong buatkan teh manis hangat ya".
"Baik, Bu. Sebentar", Prita segera bergegas pergi untuk memenuhi permintaan Raya.
Raya merebahkan tubuhnya di sofa. Sungguh, kondisinya saat ini benar-benar tidak nyaman.
"Mana istriku?", Ezra langsung masuk ke dalam toko dengan cemas.
Beberapa saat yang lalu dia menerima telepon dari toko tentang kondisi Raya yang tampak tidak sehat.
"Bu Raya ada di ruangannya, Pak", jawab Prita yang baru saja keluar dari pantry membawa teh manis hangat dan croissant.
Ezra segera menuju ruang kerja istrinya tanpa permisi.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?", Ezra langsung menghampiri Raya yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Mas Ezra? kenapa ada di sini?", tanya Raya bingung. Dia mencoba untuk bangun, tapi Ezra menahannya.
"Tadi Prita meneleponku. Sudah, kamu istirahat saja. Sebaiknya nanti kita ke dokter ya".
Raya menggelengkan kepalanya, "Aku hanya telat makan saja, Mas. Aku tidak sakit".
"Tidak. Pokoknya kita harus ke dokter".
"Mas ...".
"Maaf, Pak, Bu. Ini makanannya", Prita meminta izin untuk menyajikan teh manis hangat dan croissant yang tadi dia bawa.
"Ah, ya. Terima kasih", jawab Raya.
Prita menganggukkan kepala dan undur diri dari ruangan itu.
__ADS_1
"Mas, aku mau makan", Raya membentangkan tangannya manja. Dia ingin Ezra membantunya untuk duduk.
"Makan yang banyak. Lain kali jangan sampai kesibukan membuatmu seperti ini, sayang. Aku sangat khawatir", Ezra mengelus lembut kepala istrinya.