Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Ujian


__ADS_3

"Ma, aku terima telepon dulu ya", Ezra menunjukkan gawainya pada Mama Laura yang tengah membersihkan beberapa bagian tubuh Raya.


Mama Laura menganggukkan kepala pada Ezra sebagai jawaban.


"Ya, Pa".


"Kamu di mana?", tanya Papa Hadi di ujung telepon.


"Di rumah sakit, Pa".


"Bagaimana kondisi Raya? apa sudah ada perkembangan baru?".


"Belum, Pa. Tumben Papa telepon Ezra, ada apa?", giliran Ezra yang bertanya.


Sejenak terdengar nafas berat Sang Papa di ujung sana.


"Are you ok, Pa?", tanya Ezra lagi seolah paham Papa Hadi sedang tidak baik-baik saja.


"Papa ok, Ezra. Begini, ada hal penting yang harus Papa sampaikan sama kamu. Papa minta maaf karena berita ini hadir disaat yang tidak tepat".


"Berita apa, Pa?".


Papa Hadi kembali terdiam, dia mencoba berpikir, memilah dan memilih kata yang to the point tapi tidak menekan Ezra.


"Begini, tiga hari yang lalu Papa ketemu dengan Om Ardi dan Papa dapat kabar kalau saat ini Sindy sedang hamil".


"Apa? Sindy hamil?", Ezra terkejut.


"Iya, Zra. Sindy hamil. Kata Om Ardi usia kandungannya sudah lebih dari lima bulan dan saat ini Sindy tengah dirawat intensif di rumah sakit karena kehamilannya beresiko tinggi", terang Papa Hadi lagi.


Ezra terdiam. Dia masih tak percaya dengan pendengarannya. Disaat kondisi Raya masih kritis, justru muncul berita kehamilan Sindy yang membuat Ezra seolah kehilangan akal sehatnya.


"Ezra, kamu masih mendengar Papa kan?", Papa Hadi memastikan putranya masih terhubung dengannya.


"Iya, Pa", jawab Ezra pendek.


"Papa minta maaf. Papa tahu ini waktunya tidak tepat, tapi Papa terpaksa harus menyampaikan hal ini sama kamu. Sindy memang sengaja merahasiakan kehamilannya sama kamu dan keluarga kita. Tapi Om Ardi mengatakannya sama Papa karena hasil lab kesehatan Sindy buruk, Zra".


Ezra menghela nafas berat, "Terus Ezra harus bagaimana, Pa? Ezra bingung. Raya masih koma, lalu sekarang Sindy ... ah, Ezra capek, Pa", keluh Ezra.

__ADS_1


Lelaki itu kini merapatkan tubuhnya ke dinding rumah sakit. Ada beban yang berat di kepalanya dan terasa begitu menyesakkan dada.


"Zra, kamu fokus saja sama kesehatan Raya. Urusan Sindy, biar Papa yang pantau di sini. Om Ardi tidak menuntut apapun dari kamu. Dia hanya meminta Papa untuk menyampaikan hal ini sama kamu. Setidaknya, sebagai suami Sindy, kamu tahu kalau saat ini istri kamu sedang hamil, itu saja", Papa Hadi mencoba memperjelas keadaan.


"Tapi Sindy juga saat ini dirawat kan, Pa. Memang itu salah Ezra, kalau saja waktu itu Ezra bisa mengendalikan diri, keadaannya tidak akan serumit ini", keluh Ezra penuh penyesalan. Dia mengingat kembali momen indah yang pernah dia lalu bersama Sindy sepanjang malam.


"Ya Papa tahu. Om Ardi sudah menjelaskan semuanya sama Papa dan kata Om Ardi, itu semua bukan salah kamu. Sindy yang menginginkan kamu melakukan hal itu padanya. Pokoknya sekarang fokus kamu tetap sama Raya, soal Sindy seperti yang sudah Papa bilang, setidaknya kamu tahu dia sedang hamil".


"Iya, Pa. Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu di sana. Aku akan lihat keadaan di sini. Kalau memungkinkan, aku akan menyempatkan pulang ke sana untuk melihat Sindy", ucap Ezra pasrah.


"Ok. Pasti Papa kabari. Salam buat Raya dan Mama. Kamu bisa sampaikan hal ini juga sama Mama, ya".


"Iya, Pa".


Setelah telepon dari Papa Hadi selesai, Ezra kembali ke ruang rawat istrinya. Langkahnya gontai, pikirannya kalut. Dia kehilangan calon bayinya bersama Raya, tapi sekarang Tuhan menghadirkan bayi yang lain dari rahim wanita yang berbeda.


Meskipun Sindy berstatus sebagai istrinya, tapi Ezra tidak bisa membayangkan hidup macam apa yang akan dia jalani setelah ini. Raya masih koma dan dia harus bertanggung jawab juga dengan kehamilan Sindy.


Ezra menarik nafas dalam sebelum dia melangkah masuk ke ruang VVIP itu.


"Tuhan, sampai kapan ujian ini akan terus aku jalani?", batin Ezra.


Sang Mama tampak sedang duduk santai di sofa. Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu Mama Laura selesai membersihkan tubuh menantunya.


"Sudah, Ma. Telepon dari Papa", terang Ezra meski Mama Laura tak bertanya telepon itu dari siapa.


"Oh Papa yang telepon. Ada apa? apa Papa kangen sama Mama?", tebak Mama Laura percaya diri.


Ezra tersenyum tipis, "Iya, tadi kata Papa salam sayang buat Mama", jawab Ezra asal.


Setelah Ezra duduk di samping Sang Mama, tatapan Ezra beralih ke arah Raya yang masih terbaring di brankar rumah sakit.


Ada perasaan pilu dalam tatapan Ezra dan hal itu terbaca dengan baik oleh Mama Laura.


"Apa yang kamu bahas sama Papa, Zra?".


"Gak ada, Ma".


"Jangan bohong. Kamu ini anak Mama, Mama tahu, pasti ada hal penting yang tadi Papa sampaikan kan", Mama Laura menatap putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


Ezra membalas tatapan Sang Mama. Memang selama ini dia selalu gagal menyembunyikan sesuatu dari Mama Laura.


Akhirnya, setelah berpikir sejenak, Ezra menceritakan kembali perihal kehamilan Sindy pada Mama Laura.


"Ya Tuhan. Lalu apa rencana kamu, Zra? berat sekali ujian hidupmu ini", ucap Mama Laura terkejut dan dengan spontan memeluk putranya itu.


"Awal bulan depan, Ezra akan terbang ke sana, Ma. Bisakah Ezra menitipkan Raya sebentar sama Mama?", tanya Ezra ragu.


"Tentu, sayang. Kamu jangan merasa sungkan sama Mama. Kamu ini anak Mama, Raya juga sama. Jadi, tanpa kamu minta pun, Mama pasti akan jaga Raya dengan baik, ya", janji Mama Laura.


Ezra tersenyum tipis, "Makasih ya, Ma. Maaf Ezra masih saja merepotkan Mama".


"Jangan bilang begitu, sayang. Mama gak pernah merasa direpotkan sama kamu atau siapapun. Mama justru merasa bersalah karena dulu gagal membujuk Papa agar tidak memaksa kamu menikah dengan Sindy. Kalau saja pernikahan itu tidak pernah terjadi, mungkin keadaannya akan berbeda", ada penyesalan yang dalam dirasakan Mama Laura.


"Ini semua sudah takdir Tuhan, Ma. Ezra akan selesaikan semuanya", Ezra mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Mama Laura tak bisa berkata-kata lagi. Sebagai seorang ibu, Mama Laura hanya bisa berharap putranya akan kuat menjalani semua ujian rumah tangga yang tengah ia hadapi dan berharap semua masalah ini segera usai.


"Oh ya, Ma. Aku mau keluar sebentar, aku harus menemui Dion di kantor. Aku titip Raya, ya", Ezra menarik dirinya dari pelukan Sang Mama.


"Iya, hati-hati", pesan Mama Laura menatap punggung Ezra yang hilang di balik pintu.


Setelah menempuh waktu dua puluh menit, Ezra kini sudah kembali berada di ruang kerjanya. Tak lama, Dion datang diantar oleh sekretaris baru Ezra.


"Long time no see, Bro", ucap Ezra sambil memeluk Dion.


"Yes. Gue kangen nih gak gangguin lo", ucap Dion sambil membalas pelukan sahabatnya itu.


"Ya elah, pengantin baru pakai acara kangen segala. Geli gue dengarnya", jawab Ezra tertawa kecil.


"Istri lo gak ikut?", Ezra melihat ke arah pintu karena Dion hanya masuk sendiri.


Dion menggelengkan kepalanya, "Istri gue lagi istirahat. Dia kecapean karena setiap malam gue gempur habis-habisan", jawabnya vulgar.


Dion dan Aura memang sudah melangsungkan pernikahan sejak dua minggu yang lalu. Ezra menghadiri pernikahan itu tanpa didampingi Raya.


"Ck, kebiasaan. Masih aja gak tahu malu bahas urusan begituan ke gue".


"Dih ngapain malu. Lo udah berpengalaman lebih dulu urusan begituan dibanding sama gue", seloroh Dion santai.

__ADS_1


"Iya deh iya. Eh ya, ada apa minta ketemu di kantor gue? tumben", tanya Ezra mengalihkan fokus pembicaraan.


"Oh hampir lupa. Gini, Zra, gue dapat info tentang pelaku tabrak lari Raya", jawab Dion serius.


__ADS_2