Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Balas Dendam


__ADS_3

"Aku sudah memeriksa sample coklat yang kamu bawa dan hasilnya coklat ini mengandung misoprostol dengan dosis sangat tinggi".


"Kamu yakin?".


"Ya. Aku sudah memeriksanya di lab. Entah bagaimana caranya ada orang yang bisa menggunakan obat dosis tinggi semacam ini untuk dicampurkan dalam makanan".


"Ok, terima kasih informasinya. Apa kamu bisa mengirimkan hasil labnya padaku?".


"Tentu saja. Setelah ini aku akan mengirimkannya padamu".


"Aku tunggu, sekali lagi terima kasih, Al".


"Sama-sama. Semoga bossmu baik-baik saja".


"Ya".


Prita menutup telepon setelah berbincang dengan Aldo, tunangannya yang juga berprofesi sebagai seorang laboran.


Prita menarik nafas dalam dan segera mengambil kunci mobil untuk kembali ke rumah sakit.


Tak lupa ia mengumpulkan dulu semua pegawai toko dan memberikan beberapa pesan pada mereka.


"Hari ini aku harus segera kembali ke rumah sakit. Operasional toko untuk sementara aku serahkan pada Rian. Aku pamit ya".


Prita menatap Rian dan beberapa karyawan toko yang tengah bertugas.


"Baik, Bu. Saya dan pegawai lainnya akan bekerja dengan baik. Semoga Bu Raya juga lekas pulih kembali", ucap Rian sesaat sebelum Prita meninggalkan toko pastry.


Prita menganggukkan kepala dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di depan toko.


Tak butuh waktu lama, Prita sudah sampai di rumah sakit. Dia segera melangkah menuju ruang ICU karena pasca operasi Raya sudah dipindahkan ke ruangan itu.


"Selamat sore, Pak".


"Sore", Ezra menoleh menatap ke arah Prita.


"Saya sudah mendapatkan hasil labnya. Saya kirimkan ke nomor Anda".


Ezra segera merogoh gawai di sakunya. Kedua mata elangnya serius melihat hasil lab yang Prita berikan.


"Sial, siapa orang yang berniat jahat seperti ini?".


"Saya juga sudah memeriksanya Pak dan saya menemukan ini", Prita menunjukkan rekaman CCTV yang sudah dia pindahkan ke gawai miliknya.


"Ini ...".


"Ya Pak, dia seorang wanita. Tapi seingat saya Bu Raya tidak memiliki klien seperti orang ini. Dia terekam CCTV saat kurir datang mengirimkan paket itu ke toko".


"Sebentar, aku seperti mengenal wanita ini. Tolong kirimkan video itu padaku".


"Baik, Pak".


Setelah Ezra menerima rekaman CCTV tersebut, dia meminta Prita untuk tetap berada di ruang tunggu ICU.


"Aku harus segera memeriksa ini", ujar Ezra. Dia fokus mencari nomor kontak Dion.


"Hallo, Di".


"Ya, Zra".


"Gue butuh bantuan lo".

__ADS_1


Ezra tampak serius menjelaskan kondisi Raya dan bantuan apa yang ia butuhkan dari Dion.


"Ok, Gue pastikan segera. Sorry, gue baru tahu kalau Raya di rumah sakit. Bagaimana kondisinya sekarang?".


"Raya belum sadarkan diri, tapi gue bersyukur anak gue lahir dengan selamat. Sekarang Raya masih di ICU".


"Syukurlah. Gue sama Aura secepatnya datang ke rumah sakit setelah gue selesai mengurus wanita jahat itu".


"Thank's ya, Bro. Gue harap perkiraan gue gak salah. Kalau benar itu dia, gue pasti akan bertindak tegas", ucap Ezra serius.


"Secepatnya gue kabari lo lagi. Sekarang juga gue kerahkan semua sumber daya yang gue punya untuk memastikan semuanya. Lo yang sabar ya, Zra. Semoga Raya juga cepat sadar".


"Thank's, Bro".


Setelah selesai berbincang dengan Dion, Ezra segera kembali ke ruang tunggu ICU. Di sana sudah tampak Mama Laura yang tengah berbicara serius dengan Prita.


"Zra, sebaiknya kamu pulang dulu ya. Sejak kemarin kamu sama sekali tidak beristirahat. Raya biar Mama yang jaga", ucap Mama Laura setelah Ezra masuk ke ruang tunggu itu dan duduk di depannya.


"Tidak, Ma. Aku harus menunggu Raya sadar".


"Zra, Mama tahu kamu khawatir sama Raya. Tapi kamu juga harus ingat dengan kondisi kesehatan kamu. Selain itu, Razka juga dari kemarin terus mencari-cari kamu. Mama sudah mengabari Papa dan kemungkinan lusa Papa baru bisa pulang ke sini".


Ezra menyandarkan kepalnya ke dinding dan memijat dahinya yang terasa pening. Memang benar, sedari kemarin Ezra sama sekali tidak beristirahat dengan baik, bahkan dia belum makan sejak kemarin siang.


"Zra, Raya pasti sedih kalau tahu kondisi kamu seperti ini. Percaya sama Mama, Mama pasti akan menjaga istri kamu dengan baik di sini dan segera mengabari kamu kalau ada apa-apa. Sekarang kamu pulang, istirahat yang cukup dan kembali ke sini setelah keadaan kamu lebih baik, ya", Mama Laura masih mencoba membujuk putra semata wayangnya itu.


"Iya, Pak. Sebaiknya Anda mendengarkan saran dari Bu Laura. Saya akan tetap di sini menemani beliau untuk menjaga Bu Raya dan juga bayinya", imbuh Prita.


Ezra menghela nafas dalam, dirinya memang merasa lelah.


"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Tolong jaga Raya dan bayiku dengan baik. Jangan terlambat mengabariku jika terjadi sesuatu dengan mereka berdua", pesan Ezra sebelum dirinya beranjak dari tempat duduk.


"Hati-hati di jalan", pesan Mama Laura.


Ezra tersenyum tipis dan pergi dari rumah sakit itu.


Sesampainya di rumah, Ezra segera membersihkan diri. Tak lupa ia menemui Razka yang dirawat oleh suster.


"Maafkan Ayah ya karena dari kemarin Ayah tidak menggendongmu", ucap Ezra menatap wajah polos Razka yang ada di pangkuannya.


Razka tersenyum, kedua tangan mungil anak itu menyentuh pipi Ezra.


Ezra merasakan hangat di hatinya. Kehadiran Razka meski tidak pernah dia harapkan tapi nyatanya bisa memberikan semangat dan ketenangan di hati Ezra.


"Sekarang Razka istirahat sama Ayah ya", Ezra membawa Razka ke atas tempat tidurnya.


Seolah mengerti dengan keadaan Sang Ayah, Razka sama sekali tidak rewel. Bayi lucu itu ikut terlelap dalam pelukan Ezra.


.


.


"Ezra Hadinata, akhirnya setelah sekian lama aku berhasil membalaskan dendamku padamu. Dulu sikapmu begitu kasar, kamu berani menolakku bahkan membuangku di jalanan. Aku tidak bisa memilikimu maka tidak ada wanita lain yang boleh memilikimu juga ha ha ha", Gita tertawa puas.


Ya, semenjak kejadian beberapa tahun lalu saat Ezra menolaknya, Gita sudah bertekad akan membalas dendam pada lelaki itu dan baru dua hari lalu balas dendamnya bisa ia lakukan.


Brakk


Tetiba saja terdengar suara pintu apartemen Gita didobrak seseorang.


"Siapa?", teriak Gita sambil berjalan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Tangkap wanita itu. Pastikan dia tidak bisa melarikan diri", seru seorang lelaki bertubuh kekar pada teman-temannya.


"Hei, kalian siapa?", Gita terkejut dengan kedatangan beberapa orang berpakaian serba hitam ke apartemennya.


"Cih, wanita murahan sepertimu tidak perlu tahu kami siapa. Cepat, bawa dia menghadap boss besar", ucap Si pria bertubuh kekar itu lagi.


"Sialan, kalian siapa hah? berani-beraninya masuk ke tempatku tanpa permisi dan mau menangkapku segala", Gita memasang kuda-kuda untuk melawan para pria berbaju hitam itu.


Dia melemparkan beberapa benda ke arah para pria itu namun berhasil di halau. Sebelum Gita sempat berteriak, seorang lelaki berbaju hitam yang lain langsung meringkus dan menyekap mulutnya.


"Ayo, kita bawa dia menghadap boss besar", Si pria bertubuh kekar memberikan kode pada teman-temannya.


Tak butuh waktu lama, Gita yang sudah dalam kondisi terikat dibawa ke sebuah gudang tua yang berada di pinggiran kota.


"Buka penutup mulutnya", perintah Si pria bertubuh kekar pada rekannya.


"Kalian ini siapa hah? apa mau kalian?", teriak Gita.


Tidak ada jawaban. Para pria bertubuh kekar itu berdiri tegap mengelilingi Gita yang tersungkur di lantai kotor gudang.


"Bagus. Ternyata benar wanita itu kamu", terdengar sebuah suara dari arah pintu.


Gita yang diikat tangan dan kakinya kesulitan untuk melihat sosok yang datang.


"Langsung saja, apa kamu yang mengirim coklat beracun pada Raya?", tanya suara asing itu.


"Kamu siapa? keluar, hadapi aku!", teriak Gita.


Terdengar suara tawa dan akhirnya sosok itupun berdiri di hadapan Gita.


"Masih ingat denganku?", Dion menunjukkan dirinya.


"Ka ... kamu. Apa mau kamu, hah?", tanya Gita dengan ekspresi terkejut.


Dion berjongkok di hadapan Gita, dia tersenyum sinis pada wanita itu.


"Aku tidak suka basa-basi, terlebih dengan wanita busuk sepertimu. Sekali lagi aku tanya, apa benar kamu yang mengirim coklat beracun untuk Raya?".


Gita tersenyum sinis, "Jangan asal menuduhku. Siapa Raya? aku sama sekali tidak mengenalnya", ucap Gita tak mau kalah.


"Oh begitu. Yakin kamu tidak mengenalnya? ok, kalau kamu lihat ini, apa masih bisa bilang tidak mengenalnya?".


Dion meminta seorang pengawalnya untuk menunjukkan bukti rekaman CCTV saat Gita memata-matai kurir yang ia bayar untuk mengantarkan coklat ke toko pastry milik Raya.


"Itu ...".


"Sudahlah Gita, akui saja semua kejahatanmu. Kamu amatiran sekali. Zaman sekarang kamu mau mencelakai orang lain tapi kamu tidak sadar gerak-gerikmu akan sangat mudah terekam oleh kamera pengawas. Bodoh sekali", Dion berbicara mengejek Gita.


"Cih, rekaman CCTV itu tidak cukup menjadi bukti aku meracuni orang", ujar Gita sewot.


"Hmm ... begitukah?. Dengar, aku sudah menangkap orang yang kamu bayar sebagai kurir waktu itu dan dia sudah mengakuinya. Satu lagi, sample coklat juga sudah dibawa ke lab dan hasilnya pun sudah ada. Jadi, mau beralasan apalagi?".


Gita terdiam. Dia merasa begitu bodoh dengan tindakan balas dendamnya.


"Sebentar lagi orang yang menjadi sasaranmu akan datang ke sini dan kita lihat, apa kamu masih bisa mengelak?. Sebaiknya untuk sementara mulut jahatmu itu disumpal saja agar kamu bisa menyimpan kebohonganmu", Dion memberi kode pada bawahannya.


Gita mencoba memberontak, tapi tenaga dan kondisinya yang diikat tidak bisa membuatnya berhasil melakukan perlawanan.


"Zra, dia ada di dalam. Gue harap Lo jangan sampai terpancing emosi seperti waktu itu. Setelah semuanya terbongkar, ada baiknya kita serahkan dia ke polisi lengkap dengan orang bayarannya itu", ucap Dion sambil menepuk bahu Ezra sebelum sahabatnya masuk ke dalam gudang.


"Ya. Gue gak akan bertindak gegabah", jawab Ezra datar. Kedua tangannya mengepal, menahan emosi yang sudah sejak tadi membuncah di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2