Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Perubahan Sikap


__ADS_3

"Mas, bisakah untuk sementara waktu kita tidak tidur sekamar?".


"Lho, kenapa, sayang?".


Raya menghela nafas berat, wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman.


"Entahlah, tapi rasanya aku merasa tidak nyaman saja kalau ada di dekat kamu".


Ezra mengernyitkan dahinya, "Apa aku sudah melakukan kesalahan yang menyakiti perasaanmu?", tanya Ezra hati-hati.


Raya menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak. Aku ... aku hanya tidak ingin terlalu sering berdekatan sama kamu, Mas".


Sudah dua minggu terakhir ini Raya memang merasakan hal yang aneh. Dia tidak senang dan tidak nyaman saat berdekatan dengan Ezra, bahkan saat melihat suaminya itu, Raya selalu merasa kesal.


"Sayang, sudah aku bilang, seharusnya sejak terakhir kali kamu sakit itu kita langsung ke dokter. Tapi kamu bersikukuh menolak. Aku yakin ada sesuatu yang salah sama kamu".


Raya menatap suaminya dengan wajah masam.


"Mas Ezra jangan sok tahu deh. Aku sehat kok, kondisiku juga baik", suara Raya meninggi. Dia tidak terima dengan ucapan suaminya.


"Lho, kenapa kamu jadi marah? aku kan cuma mengira-ngira saja, sayang".


"Mas Ezra bukan dokter, jadi jangan sembarangan memperkirakan kondisi orang lain. Sudah keluar sana, aku mau istirahat!", jawab Raya ketus seraya menenggelamkan dirinya di bawah selimut.


"Sayang ...".


"Pergi, Mas. Aku tidak mau diganggu. Aku capek!", suara Raya masih terdengar ketus dan penuh penekanan.


Ezra memilih turun dari tempat tidurnya. Dia tidak ingin bertengkar dengan Sang istri karena hal-hal kecil macam itu.


"Ck, nasibku dua minggu terakhir ini mengenaskan sekali. Setiap malam pasti harus beradu argumen dulu sama dia dan ujung-ujungnya pasti aku yang harus meninggalkan kamarku sendiri", gumam Ezra sambil memijat dahinya sendiri.


Ya, ini bukan kali pertama Raya dan Ezra mempersoalkan urusan tempat tidur. Memang sudah dua minggu terakhir ini Raya sangat enggan tidur bersama dengan suaminya.


"Hallo Razka, Ayah izin numpang tidur lagi ya di sini", Ezra menyapa putranya yang tertidur lelap dalam box bayi.


Kamar Razka menjadi pilihan untuk Ezra beristirahat daripada kamar tamu. Setidaknya di kamar itu, setiap malam dia bisa melihat istrinya yang akan bangun dan datang ke sana jika mendengar Razka menangis.

__ADS_1


"Pa, kenapa ya kok belakangan ini Mama perhatikan hubungan Raya dan Ezra seperti sedang tidak baik?".


"Mungkin itu perasaan Mama saja".


"Awalnya Mama juga merasa seperti itu, Pa. Tapi Mama yakin ada hal yang tidak beres di antara mereka berdua. Belakangan ini setiap pagi Mama lihat Ezra keluar dari kamar Razka. Sepertinya mereka pisah ranjang, Pa", ucap Mama Laura cemas.


Papa Hadi yang baru mematikan gawainya kini berbalik menatap Sang istri.


"Kalau pun benar mereka sedang ada masalah, biar mereka yang menyelesaikannya sendiri, Ma. Jangan sampai keberadaan kita di sini justru semakin memperpanas keadaan", jawab Papa Hadi bijak.


Mama Laura menghela nafas panjang. Dia hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan suaminya dan hanya bisa berharap agar rumah tangga Raya dengan putranya berjalan dengan baik-baik saja.


"Mas, kamu pakai parfum apa sih?", tanya Raya sambil menutup hidungnya saat dia memasuki kamar utama.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan parfumku?", Ezra mencium aroma tubuhnya.


"Ck, aku tidak suka dengan baunya, mual. Mulai besok, sebaiknya Mas Ezra berhenti menggunakan parfum ini atau berdandanlah di kamar lain, aku tidak tahan dengan aromanya", Raya melirik sinis ke arah suaminya yang tengah merapikan diri di depan cermin.


Ezra menarik nafas dalam, "Baiklah. Maaf ya. Aku akan berangkat ke kantor sekarang, sayang", jawab Ezra sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Raya.


Meski wajah Raya tampak tidak senang pagi ini, tapi Ezra masih berusaha memaklumi perubahan sikap istrinya itu.


"Mas Ezra mau apa?", Raya menggeser tubuhnya saat Ezra mendekat.


"Mas pergi saja, tidak perlu peluk dan cium. Perutku mual, Mas".


Ezra menghela nafas panjang melihat sikap Raya. Baru kali ini Raya menolak ritual paginya.


"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, sayang?. Sudah dua minggu sikap kamu seperti ini. Kalau aku memang ada salah, aku minta maaf. Tapi please, jangan bersikap dingin begini sama aku", Ezra meluahkan kebingungannya.


Raya terdiam. Dia menundukkan kepalanya. Buliran bening spontan meluncur bebas dari kedua matanya hingga menimbulkan isakan tangis yang lembut.


"Sayang, kamu menangis? maaf aku tidak bermaksud ...", Ezra mendekatkan dirinya pada Raya.


"Cukup, Mas. Kalau Mas Ezra tidak suka dengan sikapku, ceraikan saja aku dan cari wanita lain yang lebih baik dariku untuk menjadi istrimu!", tegas Raya dengan tatapan mata tajam berlinang air mata.


"Ma ... maksud kamu apa sih? aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Sebetulnya ada apa, sayang?", Ezra berusaha keras menahan emosinya.


"Jangan sentuh aku. Aku muak dengan kamu, Mas", Raya bangkit dari duduknya saat Ezra hendak memberikan pelukan. Dia keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Ezra memijat lagi dahinya. Sungguh, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Raya.


"Kamu mau kemana, sayang?", tanya Mama Laura yang tengah menikmati paginya di ruang utama.


"Aku ... aku mau jalan-jalan sekitar komplek, Ma sama Razka dan Suster", jawab Raya yang memang sudah bersiap untuk mendorong stroller.


"Oh. Hati-hati, ya", pesan Mama Laura.


"Iya, Ma. Kami permisi dulu", jawab Raya kaku.


Mama Laura hanya menganggukkan kepala diiringi senyum tipis pada menantunya itu juga Suster asuh cucunya.


"Pasti ada yang tidak beres", batin Mama Laura.


Wanita paruh baya itu segera naik ke lantai atas untuk mencari putranya, Ezra.


"Ezra, Mama mau bicara sebentar", ucap Mama Laura saat netranya menangkap bayangan Ezra yang baru saja keluar dari kamar.


Ezra menoleh ke arah Sang Mama, "Ada apa, Ma?".


Mama Laura menghela nafas, "Apa kamu sedang ada masalah sama Raya?".


Ezra terdiam. Pertanyaan yang tidak bisa Ezra jawab secara langsung.


"Ezra, maaf, Mama tidak bermaksud ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu dan Raya. Mama hanya tidak nyaman melihat situasi aneh antara kamu dan istrimu itu. Kalau memang ada masalah, tolong belajarlah untuk mengalah pada Raya. Kamu harus ingat, kamu pernah membuat hatinya terluka. Jadi, jangan ulangi lagi hal seperti itu. Mama kasihan sama Raya", ucap Mama Laura panjang lebar.


"Aku tidak ada masalah dengan istriku, Ma. Aku sendiri tidak tahu dia kenapa. Dua minggu terakhir ini memang sikapnya sedikit berubah. Tapi Mama tidak perlu khawatir, aku janji tidak akan menggoreskan lagi luka di hatinya", jawab Ezra yakin.


"Mama pegang janji kamu", ujar Mama Laura sambil berlalu dari hadapan putra semata wayangnya itu.


Ezra menarik nafas dalam. Jujur saja, Ezra pun merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap Raya belakangan ini. Tapi dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk mengakhiri itu semua.


"Sebetulnya kamu kenapa, sayang?", batin Ezra.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi saat Ezra melirik jam di tangannya. Meski ada ganjalan besar di hatinya, Ezra berusaha meredam itu semua agar dia tetap bisa bekerja dengan baik.


"Tuan ... Nona Raya pingsan", Mbok Nah datang dengan tergopoh-gopoh menghadap pada Tuan Mudanya


"Pingsan? di mana istriku, Mbok?", tanya Ezra mendadak panik.

__ADS_1


"Pak Seno sedang membawanya kemarin, Tuan. Tadi Non Raya pingsan di dekat taman, Suster yang menelepon ke rumah".


"Aku ke sana. Tolong segera telepon dokter", Ezra bergegas setengah berlari untuk melihat kondisi istrinya.


__ADS_2