
"Sindy, sepertinya aku harus kembali ke negara X lebih cepat", Ezra melirik istrinya yang sedari tadi sibuk melakukan perawatan wajah di meja rias.
Sindy menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu berbalik menatap Ezra.
"Kenapa, Mas?".
"Akhir pekan ini sahabat baikku akan melangsungkan pernikahan. Jadi aku harus pulang", jawab Ezra cepat.
Sindy terdiam sejenak, "Aku ikut ya, Mas".
Deg
Ezra terkejut dengan permintaan Sindy.
"Mas, aku ikut ya. Boleh kan, Mas?", lagi, Sindy bertanya pada suaminya.
"Kondisi kesehatanmu belum stabil, Sindy dan kamu saat ini sedang menjalani perawatan rutin setiap pekan. Aku tidak ingin mengambil resiko", tolak Ezra halus.
Sindy mengerucutkan bibirnya. Dia sudah bisa menebak jawaban suaminya. Alasan kesehatan dirinya selalu dijadikan tameng oleh Ezra untuk menolak segala hal yang berkaitan antara mereka.
"Aku gak apa-apa kok, Mas. Nanti aku bisa minta dokter pribadiku untuk merekomendasikan dokter lain di negara X. Jadi selama aku di sana, aku tetap bisa terus menjalankan perawatanku", Sindy merajuk.
Ezra terdiam. Dia paham istrinya itu tidak akan menyerah begitu saja jika sudah menginginkan sesuatu.
"Tolong, jangan semakin mempersulit keadaanku. Aku pulang ke sana hanya sebentar. Jangan ambil resiko yang bukan hanya akan merugikan diri kamu sendiri, tapi juga pasti akan membuat Om Ardi khawatir", tegas Ezra.
Sindy menundukkan kepalanya. Dia merasa kecewa dengan jawaban Ezra yang masih saja sering menolaknya. Terlebih setiap ada perdebatan, Ezra pasti membawa nama Daddy Ardi.
"Maaf, aku tidak bermaksud melarangmu berlebihan. Tapi sebagai seorang suami, tentu aku juga tidak ingin hal buruk terjadi pada istriku. Tolong mengertilah, jangan ambil resiko, ya", Ezra berbicara dengan lembut sambil menghampiri Sindy yang masih saja terdiam di tempatnya.
Sindy mengangkat kepalanya, kali ini kedua matanya bertatapan dengan mata Ezra.
"Tapi Mas Ezra janji ya akan secepatnya pulang ke sini", pinta Sindy.
Ezra menarik nafas dalam dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Keesokkan harinya, Ezra ternyata benar-benar mempercepat kepulangannya ke negara X, bahkan dia sangat mendadak mengabari kepulangannya itu pada Papa Hadinata, Mama Laura, dan Om Ardi.
Tapi karena Ezra juga sudah memesan tiket dan Sindy pun tidak keberatan suaminya pergi, maka semua orang hanya bisa mengantarkan Ezra ke bandara.
Pesawat yang Ezra tumpangi sudah lepas landas sejak dua jam lalu dari negara Y. Ada waktu sepuluh jam lagi untuk sampai ke negara X. Perasaan Ezra begitu bahagia, kepulangannya kali ini seolah menandai kebebasannya dari segala beban yang ia rasakan selama di negara Y.
"Sayang, aku pulang. Ini pasti akan jadi kejutan buat kamu", gumam Ezra sambil menatap foto Raya yang ada di gawainya.
Senyum bahagia terus mengembang di wajah Ezra. Tak lupa, dia mengabari Dion dan Bagas terkait kepulangannya dan meminta kedua sahabatnya itu untuk merahasiakan hal tersebut dari istrinya.
Sementara itu, hari ini Raya memilih full ada di rumah. Beberapa hari belakangan aktivitasnya yang begitu padat membuat istirahatnya agak terganggu. Jadi Raya meliburkan diri dan memercayakan operasional toko pada pegawainya.
__ADS_1
"Non, sebaiknya Non Raya minum jamu. Kebetulan tadi Mbok buat jamu untuk membantu memulihkan stamina", saran Mbok Nah.
"Boleh, Mbok. Jamu apa?", tanya Raya sambil memijat tengkuk dan bahunya.
"Ini jamunya enak kok, Non. Campuran kencur, jahe, dan madu", Mbok Nah membawa jamu buatannya.
Tanpa menunggu lama, Raya segera menenggak habis jamu buatan Mbok Nah.
"Makasih, ya Mbok".
"Nggih, Non. Oh ya, apa Non Raya mau Mbok pijat urut?", tawar Mbok Nah.
Raya terdiam sejenak, ia tampak berpikir sebelum memberikan jawaban.
"Mmm ... Mbok Nah gak capek? kerjaan Mbok kan juga banyak di rumah ini", jawab Raya tak enak.
Mbok Nah tersenyum ramah, "Enggak, Non. Mbok gak capek. Semua pekerjaan rumah juga sudah selesai. Sini Non, biar Mbok pijat urut ya", tawar Mbok Nah lagi.
Tawaran Mbok Nah kali ini tidak lagi ditolak oleh Raya. Tubuhnya memang terasa ringkih karena kelelahan.
Mbok Nah dengan sigap menyiapkan bahan-bahan untuk pijat dan urut, tak lupa Mbok Nah juga menambahkan aroma terapi.
"Wah, pijatan Mbok Nah mantap", puji Raya yang begitu menikmati setiap sentuhan tangan Mbok Nah di tubuhnya.
"Syukurlah kalau Non Raya nyaman. Mbok berharap Non Raya selalu sehat. Jadi kalau ke depannya Non Raya capek, jangan sungkan buat minta Mbok untuk pijat dan urut", ucap Mbok Nah.
"Mbok ndak capek, Non. Justru Mbok senang kalau bisa bantu Non Raya seperti ini", ucap Mbok Nah lagi.
Raya tersenyum senang. Dia merasa begitu disayangi oleh semua orang yang ada di rumah itu, termasuk oleh Mbok Nah.
Setelah hampir dua jam Raya mendapatkan treatment pijat urut dari Mbok Nah, sekarang Raya tengah merendam tubuhnya di bathub yang sengaja ia beri aroma terapi juga bunga-bunga.
Raya menutup kedua matanya, ia benar-benar menikmati momen mandinya saat ini.
"Lho, Tuan Ezra", seru Mbok Nah saat melihat seorang lelaki tampan tampak memasuki rumah.
Ezra tersenyum ramah pada Mbok Nah dan juga Pak Seno yang sedang merapikan ruang keluarga.
"Ini betul Tuan Ezra?", tanya Pak Seno tak percaya.
"Iya, Mbok, Pak. Ini aku, Ezra", jawab Ezra cepat.
"Tuan naik apa ke sini? kenapa tidak menghubungi saya untuk jemput, Tuan?", berondong Pak Seno merasa tak enak pada majikannya itu.
Ezra tersenyum, "Tadi aku naik taksi. Tak apa, Pak. Aku sengaja tidak menghubungi siapapun di rumah ini karena aku ingin memberikan kejutan pada istriku. Oh ya, di mana dia sekarang?", tanya Ezra.
"Non Raya ada di kamarnya, Tuan. Mungkin masih mandi karena tadi baru selesai saya pijat urut", jawab Mbok Nah.
__ADS_1
Ezra mengernyitkan dahinya, "Pijat urut? apa istriku sakit, Mbok?", wajah Ezra berubah cemas.
"Tidak, Tuan. Non Raya hanya kelelahan saja. Hari ini juga Non Raya tidak pergi ke toko.Tadi sudah saya buatkan jamu dan saya pijat urut agar cepat pulih kembali", lagi, Mbok Nah menerangkan kondisi Nona Mudanya.
"Syukurlah. Aku khawatir kalau dia sakit. Terima kasih ya Mbok, Pak. Aku ke atas dulu, Ezra berpamitan pada kedua asisten rumah tangganya.
"Nggih, Tuan. Oh ya maaf, Tuan, apa Tuan mau dibuatkan makanan atau minuman?", tanya Mbok Nah menahan langkah kaki Ezra.
Ezra menggelengkan kepala, "Tidak usah, Mbok. Nanti aku makan dan minum yang ada saja, terima kasih", jawab Ezra. Dia segera berlalu menaiki anak tangga di depannya.
Raya yang masih merendam dirinya di bathub tidak menyadari kedatangan Ezra. Gemericik suara air dari shower meredam suara orang yang masuk ke dalam kamar.
Ezra tersenyum senang saat kakinya berada di dalam kamar. Dia menatap ke seluruh bagian kamar itu, semuanya masih tampak sama seperti tiga minggu lalu saat dia tinggalkan.
Ezra bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi yang ada di kamar itu dan juga menghirup aroma harum yang menenangkan.
"Istriku benar-benar sedang memanjakan dirinya", batin Ezra.
Tak ingin membuang-buang waktu, Ezra segera membuka lemari untuk mengambil baju kasual yang biasa ia gunakan di rumah. Setelah menyiapkan baju ganti, Ezra pergi ke kamar lain untuk membersihkan diri. Ezra ingin tampil di depan istrinya dengan keadaan sudah bersih dan wangi.
Setelah berendam hampir satu jam penuh, Raya merasa tubuhnya lebih rileks, nyaman, dan sehat.
"Aku benar-benar berenergi kembali. Mbok Nah hebat", puji Raya mengingat bantuan dari asisten rumah tangganya beberapa waktu yang lalu.
Raya segera keluar dari bathub, lalu mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh dan rambutnya yang basah. Tak lupa Raya mengeringkan rambutnya lebih dulu sebelum dia keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai, Raya memilih untuk tidak menggunakan bathroob yang biasa ia kenakan. Kali ini ia memilih melilitkan handuk saja di tubuhnya yang tampak putih, mulus, dan harum.
"Ok, finish. Tinggal pilih baju yang nyaman", ucap Raya senang sambil menatap dirinya di cermin. Seulas senyum hadir di bibirnya.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Raya segera menghampiri lemari tapi sepasang tangan yang tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya membuat Raya terkejut.
"Hallo sayang", sebuah suara berbisik lembut di telinga Raya.
Raya mengenali pemilik suara itu, "Mas ... Mas Ezra?", ucap Raya dengan suara bergetar karena terkejut sekaligus terharu.
Ezra membalikkan tubuh istrinya. Kini sepasangan suami istri itu saling merapatkan tubuh dan saling menatap satu sama lain.
"Iya, ini aku. Aku pulang, sayang", jawab Ezra lembut. Ia mengelus pipi Raya yang merona dan menatap wajah itu dengan lekat.
"Mas ... aku gak mimpi kan? ini betul Mas Ezra?", Raya masih tak percaya dengan penglihatannya. Dia segera memeluk suaminya dengan erat.
Ezra tersenyum manis, "Iya, ini aku. Aku sudah kembali".
Mendengar jawaban itu, spontan kedua mata Raya berkaca-kaca. Waktu tiga minggu yang memisahkan mereka berdua terasa bertahun-tahun lamanya bagi Raya.
Kerinduan yang selama ini ia tahan seolah terbayar begitu saja dengan kepulangan Sang suami.
__ADS_1