
Kedua mata Sindy kini tampak berkaca-kaca. Disaat kondisinya memburuk seperti ini kilatan kesalahan yang sudah dia perbuat kembali hadir dan membuatnya begitu merasa bersalah pada Ezra.
"Sebaiknya nanti saja bicara. Kondisimu sedang tidak baik, Sindy", ucap Ezra datar.
"Tapi, Mas ... aku tetap mau bicara", Sindy bersikukuh.
Ezra menatap Sindy dengan lekat, kedua mata mereka saling beradu.
"Jika hal yang akan kamu sampaikan itu berat, sebaiknya lupakan saja. Sekarang kita fokus pada kesehatanmu", ujar Ezra tetap berusaha bersikap lembut.
Sindy menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak, Mas. Aku takut tidak memiliki banyak waktu. Tolong dengarkan aku", pinta Sindy dengan air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya.
Ezra terdiam, dia akhirnya memilih menunggu istrinya itu bicara.
"Mas, aku tahu kamu pasti akan membenciku dan meninggalkan aku setelah ini. Tapi tak apa, itu memang hukuman yang pantas buatku", suara Sindy bergetar menahan rasa sedih dan rasa bersalah yang dalam.
Ezra tak merespon apapun, dia masih memilih untuk diam mendengarkan kalimat selanjutnya dari Sindy.
"Mas, aku sadar aku sudah berbuat kesalahan yang tidak mungkin bisa dimaafkan. Aku melakukan itu semua karena aku sangat mencintaimu. Aku tahu caraku salah, tapi meski nanti Mas Ezra mungkin akan membenciku, aku harap Mas Ezra tetap mau memaafkan aku", Sindy terisak.
"Kesalahan? apa maksudmu?", tanya Ezra tetap tenang.
Sindy terdiam sejenak. Sejujurnya hatinya takut mengakui kejahatan yang sudah dia perbuat pada Raya. Tapi Sindy meyakini waktunya tidak banyak dan dia tidak ingin membawa rasa bersalahnya hingga ia mati.
"Mas ... aku tahu selama ini Mas Ezra merahasiakan status dan istri Mas Ezra yang sesungguhnya. Aku tahu Mas Ezra terpaksa menikahi aku karena memang aku menginginkanmu, Mas dan aku ... aku ...", suara Sindy tercekat.
Mendengar nama Raya disebut oleh Sindy, Ezra mempertajam tatapannya pada istrinya itu. Ezra kini menyadari bahwa dirinya tidak perlu bekerja keras untuk membuat Sindy mengakui semua kejahatannya.
"Aku membayar seseorang untuk memata-matai Mas Ezra dan istri Mas Ezra di negara X. Lalu aku juga ...", ucapan Sindy menggantung.
"Apa?", tanya Ezra cepat.
"Aku ... aku sudah mencelakai istri Mas Ezra", akhirnya pengakuan dosa itu keluar dari mulut Sindy.
Ezra menatap Sindy dengan ekspresi yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan itu? apa aku pernah berbuat jahat terhadapmu sampai kamu menyakiti istriku yang tidak tahu apa-apa?", suara Ezra meninggi.
Mendengar pengakuan Sindy, emosi Ezra yang sempat mereda karena rasa iba kini justru mencuat kembali.
Sindy menangis sesegukan. Dia berusaha untuk bangun dari posisinya saat ini.
"Mas, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud buruk. Aku ... aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Mas. Aku tahu sebagai seorang istri aku memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan istrimu itu, tapi aku sungguh sangat mencintaimu, Mas", ujar Sindy dengan suara bergetar menahan air mata.
Ezra menatap Sindy dengan tajam, "Cinta? kamu bilang kamu mencintaiku dengan melakukan hal bodoh seperti itu? di mana hati kamu, Sindy?", tegas Ezra.
Sindy semakin menangis sesegukan. Tubuhnya bergetar antara sedih, malu, dan merasa bersalah.
"Kamu tahu, akibat kejahatanmu itu istriku sekarang koma bahkan sudah berbulan-bulan dan apa kamu tahu, aku kehilangan bayi yang ada di rahimnya", Ezra mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.
"Maafkan aku, Mas. Aku menyesal, tolong maafkan aku ...", Sindy memohon pengampunan.
Ezra membuang nafasnya kasar, dia masih menatap Sindy dengan tajam. Hati kecilnya sungguh marah pada wanita itu.
"Mas ...", Sindy mencoba meraih tangan suaminya, tapi Ezra menepisnya.
Ezra yang semula menatap Sindy dengan amarah, kini panik dan cemas. Dia segera memanggil dokter dan perawat.
"Kita tidak bisa menunda lagi, Sindy harus segera menjalani operasi", ucap Dokter Dave.
Dia tampak memberikan instruksi pada dua orang perawat yang datang bersamanya, "Tolong panggil Dokter Janet dan siapkan ruang operasi".
"Kami akan segera melakukan tindakan, Anda bisa ikut kami", Dokter Dave menatap Ezra yang sejak tadi ada di sana.
Ezra menganggukkan kepala. Dia segera mengekor di belakang Dokter Dave dan sibuk mengirim pesan pada Daddy Ardi agar segera kembali ke rumah sakit.
Sindy sudah masuk ke dalam ruang operasi sejak satu jam yang lalu. Ezra berkali-kali menatap jam di tangannya, waktu berjalan terasa begitu lambat.
"Ezra, apa operasinya sudah dimulai?", tanya Daddy Ardi yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Sudah, Om. Operasi baru sudah berjalan satu jam", jawab Ezra.
__ADS_1
"Semoga operasinya lancar", ucap Papa Hadi yang ternyata datang ke rumah sakit bersama dengan Daddy Ardi.
Ketiga lelaki itu kini duduk di rumah tunggu dengan perasaan yang diliputi kecemasan tak terkira.
"Om, tadi kata dokter, Sindy akan melalui prosedur operasi caesar terlebih dulu untuk menyelamatkan bayinya", Ezra membuka suara untuk memecah keheningan.
Daddy Ardi menutup kedua matanya sejenak dan menarik nafas dalam, "Lalu bagaimana dengan transplantasinya?".
"Dokter Dave bilang akan dilakukan setelah Sindy pulih pasca operasi caesar", terang Ezra.
Daddy Ardi terdiam. Hatinya begitu kalut membayangkan perjuangan Sindy yang saat ini ada di atas meja operasi.
"Kita do'akan yang terbaik buat Sindy", ucap Papa Hadi mencoba menenangkan keadaan.
"Ezra, Om benar-benar minta maaf atas semua kesalahan Sindy sama kamu dan juga istrimu, Raya. Tadi Papamu sudah menceritakan semuanya. Om terkejut juga kecewa dengan semua kejahatan Sindy. Sebagai daddynya, Om tidak menyangka Sindy akan melakukan perbuatan sekeji itu. Tapi Om harap kamu, Raya, dan keluarga Hadinata bisa memaafkan Sindy", ucap Om Ardi lirih.
Ezra melirik ke arah Sang Papa yang dijawab dengan anggukkan.
"Om tahu pasti berat untuk bisa memaafkan anak Om karena ulahnya tidak hanya melukai istrimu, tapi juga membuatmu kehilangan bayi. Jika kamu marah dan kecewa padanya, itu sangat wajar, Ezra. Tapi sekarang Sindy sedang berjuang untuk hidup dan matinya, dia juga sedang berjuang untuk anak kamu. Tolong ringankan perjuangannya dengan memaafkan", terdengar isakan kecil dari Daddy Ardi.
Ezra terdiam, dia hanya menatap mertuanya itu tanpa berbicara sepatah katapun.
"Ezra, Papa tahu semua kejadian ini pasti sangat melukai hatimu. Sindy memang salah dan kamu juga menginginkan dia mengakui itu semua bukan? tapi kamu juga harus ingat, bagi Sindy, kamu adalah cahaya dalam hidupnya. Lapangkan hatimu untuk memaafkan dia, Nak", imbuh Papa Hadi dengan tatapan yang dalam pada Ezra.
Ezra menarik nafas dalam. Ingatannya melayang pada sosok Raya yang kemarin dia lihat sudah sadarkan diri. Ingatan Ezra juga terpaut pada gundukan tanah merah yang menutup jasad bayi yang selama ini belum sempat dia lihat. Ada perih yang dalam di hatinya saat ia mengingat itu semua.
"Ezra ...", Papa Hadi kembali bersuara.
Ezra menatap Sang Papa dengan tatapan penuh arti.
"Om, aku sudah memaafkan semua kesalahan Sindy karena mungkin apa yang dia lakukan, itupun disebabkan olehku juga", Ezra menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kedua matanya yang mulai berkabut.
Daddy Ardi memeluk Ezra dengan erat, "Terima kasih kamu sudah bersedia memaafkan Sindy. Setelah semua ini selesai, Om dan Sindy akan menemui istrimu untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya", janji Daddy Ardi.
Papa Hadi ikut terharu menyaksikan pemandangan itu. Lagi, hati kecilnya pun tergores karena semua masalah ini bisa saja tidak terjadi andai dulu dia tidak egois pada putra semata wayangnya itu.
__ADS_1