
"A ... a ...".
"A ...".
Mama Laura yang sedari beberapa jam yang lalu tertidur di sofa kini mengerjapkan kedua matanya. Sayup-sayup dia mendengar suara di ruangan VVIP itu.
"Siapa?", tanya Mama Laura saat lebih dari setengah kesadarannya pulih.
Wanita paruh baya ini melihat ke seisi ruangan yang tampak temaram karena lampu utama dimatikan dan hanya lampu tidur saja yang menyala.
"M ... Ma ...", lagi terdengar sayup-sayup suara seseorang.
Mama Laura terperanjat. Dia segera bangkit dari sofa dan menyalakan lampu utama.
"Ya Tuhan, Raya", pekik Mama Laura tak percaya. Bagaimana tidak, sudah lima bulan lebih Raya terbaring koma. Tapi saat ini Raya tampak membuka kedua matanya dan mulutnya terlihat berusaha mengucapkan sesuatu.
"Sayang, kamu sadar", Mama Laura segera mendekati tempat tidur menantunya untuk memastikan lebih dekat bahwa telinganya tidak salah mendengar.
Meski masih tampak kaku, tapi Raya mencoba tersenyum.
Melihat pemandangan itu spontan saja air mata Mama Laura menetes, "Mama panggil dokter dulu ya, sayang", Mama Laura segera memencet tombol khusus yang ada di dekat tempat tidur pasien.
Tak lama, Dokter Firman dan dua orang suster jaga masuk ke ruang rawat Raya. Mama Laura tetap berdiri di dekat tempat tidur, ia melihat bagaimana dokter memeriksa keadaan Raya untuk beberapa waktu.
"Bagaimana, Dok?", tanya Mama Laura dengan penuh harap cemas.
"Nyonya, ini benar-benar sebuah keajaiban. Kondisi pasien stabil", jawab Dokter Firman setelah dia melakukan pemeriksaan selama lebih dari tiga puluh menit.
"Benarkah? ya Tuhan, terima kasih", lagi, air mata Mama Laura menetes bahagia.
"Saya belum bisa memastikan sepenuhnya apa yang terjadi, tapi ini memang di luar dugaan, Nyonya. Menantu Anda dalam kondisi yang baik, hanya mungkin untuk berbicara atau bergerak masih sangat kaku. Besok pagi kita akan lakukan CT scan dan medical check up lengkap", terang Dokter Firman lagi.
"Baik, Dokter. Terima kasih".
"Kalau begitu, kami permisi, Nyonya. Selama pasien sadar, Anda bisa mengobservasi kondisinya secara umum dan jika terjadi hal lain atau perubahan keadaan pasien, mohon kabari kami secepatnya", pesan Dokter Firman sebelum ia dan dua suster tadi meninggalkan ruangan itu.
Mama Laura menganggukkan kepalanya. Rasa kantuk Mama Laura menguap begitu saja. Dia benar-benar masih tak percaya dengan keajaiban Tuhan yang dilihatnya saat ini.
__ADS_1
"Sayang, Mama senang sekali akhirnya kamu sadar. Tuhan sungguh sangat menyayangimu", ucap Mama Laura lembut. Ia menatap wajah menantunya dengan penuh kasih.
"Oh ya, kamu pasti mencari Ezra ya? dia sekarang sedang berada di negara Y untuk menemui Papa. Dia pasti senang kalau tahu kamu sudah sadar. Selama ini dia selalu berada di sisimu", terang Mama Laura.
Raya belum bisa banyak merespon. Dia hanya mengedipkan kedua matanya dan mencoba tersenyum pada Sang Mama.
"Mama coba hubungi Ezra, ya. Tunggu sebentar", Mama Laura beranjak dari kursi menuju meja di dekat sofa untuk mengambil gawai miliknya.
Raya masih terjaga saat Sang Mama mencoba menghubungi Ezra. Tapi berkali-kali Mama Laura menelepon, tidak ada nada sambung ke nomor Ezra.
"Hmm ... nomor Ezra tidak aktif. Mungkin dia sedang sibuk. Maaf ya sayang. Nanti Mama coba telepon Ezra lagi", Mama Laura kembali menatap wajah Raya yang sedari tadi menatapnya.
Raya tersenyum tipis pertanda mengiyakan ide Sang Mama mertua.
.
.
Ezra masih diam di tempat duduknya. Dia menunggu Sindy bangun.
"Mmhhh ...", terdengar suara Sindy yang mulai menggerakkan kedua tangan dan mengucek kedua matanya.
"Om Ardi pergi ke kantor", jawab Ezra.
Sindy terperanjat mendengar suara yang sangat akrab di telinganya. Perlahan tapi pasti dia mencoba bangun dan mendudukkan dirinya di tempat tidur.
"Ma ... Mas Ezra, kapan Mas ke sini?", tanyanya terkejut saat mendapati suaminya benar-benar ada di ruangan itu.
Sindy bahkan menarik selimutnya, ia berusaha menutupi perutnya yang tampak membuncit karena usia kehamilannya.
"Kenapa? kamu tidak senang melihat suamimu sendiri ada di sini", tanya Ezra datar.
"Bu ... bukan begitu, Mas. Maksudku, aku ... aku hanya terkejut saja karena Mas Ezra ada di sini. Selama Mas Ezra pergi, tidak sekalipun Mas menghubungi atau menanyakan kabarku", jawab Sindy gugup.
Ezra diam, dia tidak berminat menanggapi ucapan Sindy.
"Sudah berapa bulan usia kehamilanmu? kenapa kamu tidak memberitahuku?", tanya Ezra. Kini dia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati tempat tidur.
__ADS_1
Sindy tercekat sejenak, "Aku ... aku ... maaf, Mas. Aku hanya ingin memberi kejutan saja buat Mas Ezra saat kembali ke sini".
Ezra tersenyum sinis, "Ya, kamu berhasil mengejutkanku. Katakan, berapa bulan usia kehamilanmu itu?", Ezra mendudukkan dirinya di kursi samping tempat tidur. Dia sengaja bertanya pada Sindy meski Ezra sudah tahu usia kandungan istrinya dari Sang Papa.
"Aku belum memeriksakan kembali usia kandunganku ke dokter, Mas. Mungkin usinya sudah lebih dari dua puluh minggu", jawab Sindy ragu.
Sesekali dia menatap wajah suaminya. Sindy membaca ekspresi yang berbeda di sana.
"Apa Mas Ezra tidak senang dengan kehamilanku?", tanya Sindy hati-hati.
Ezra beralih menatap tajam istrinya, "Tidak senang katamu? lelaki mana yang tidak senang saat ia akan menjadi seorang ayah?", Ezra balik bertanya.
Sindy tersenyum, "Berarti Mas Ezra senang dengan kehamilanku ini?", tanya Sindy lagi memastikan.
"Aku senang, tapi yang aku tidak senang adalah caramu yang memaksaku untuk berbuat seperti itu padamu", tegas Ezra.
Deg
Sindy terkejut dengan jawaban suaminya. Ya, dia memang salah. Malam itu dia menggunakan obat perangsang khusus dengan dosis tinggi untuk bisa menghabiskan waktu sepanjang malam bersama Ezra.
"Mas Ezra tahu kalau aku ...".
"Tentu saja aku tahu. Apa kamu kira aku ini lelaki bodoh?", Ezra berkata dengan nada sedikit meninggi.
Sindy terhenyak karena ini kali pertama selama mereka bersama Ezra berbicara dengan nada tinggi pada dirinya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud jahat sama Mas Ezra, aku ... aku hanya ingin menjadi istri Mas Ezra seutuhnya karena aku tahu, bagaimanapun aku berusaha, Mas Ezra tidak akan pernah melihatku sebagai seorang istri", jawab Sindy jujur.
Ezra menarik nafas dalam, "Jika kamu sadar dengan hal itu, lalu kenapa kamu memaksa Om Ardi juga Papaku untuk memintaku menikahimu? bukankah rasanya menyakitkan saat kamu terikat dengan seseorang tanpa cinta?", ucap Ezra kasar.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak di hati Sindy. Memang apa yang Ezra katakan semuanya benar. Tapi sebagai seorang wanita, Sindy merasa berhak untuk dicintai dan memiliki suaminya meski pernikahan mereka penuh dengan keterpaksaan.
"Mas ... aku minta maaf", ucap Sindy lirih.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas masalah itu. Kita sudah terlanjur menikah bahkan kamu sekarang mengandung darah dagingku. Fokus saja pada kehamilanmu itu, dokter bilang kehamilanmu sangat beresiko".
Sindy terdiam. Lagi-lagi apa yang dikatakan Ezra sepenuhnya benar.
__ADS_1
Sebetulnya Sindy senang dengan kedatangan Ezra ke rumah sakit ini dan dia tidak perlu lagi menyembunyikan kehamilannya. Tapi Sindy tidak menyangka jika kedatangan suaminya kali ini akan disertai dengan sikap dingin dan tak berperasaan. Sungguh, Sindy melihat sosok yang berbeda dari diri Ezra.