Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Syarat yang Tak Masuk Akal


__ADS_3

Menjelang dini hari Raya baru bisa tidur, tapi dia sudah kembali membuka matanya sebelum waktu sholat subuh tiba.


Raya merasakan lelah dan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Bagaimana tidak, Ezra benar-benar memenuhi ucapannya, dia menggempurnya sepanjang malam hingga membuat Raya tak berdaya.


"Aku harus segera membersihkan diri", gumam Raya. Dia bergerak dengan hati-hati karena tidak ingin mengganggu istirahat suaminya yang masih terlelap.


Raya menarik kimono tidurnya untuk menutupi tubuh polosnya dari dalam selimut. Perlahan dia berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar mandi.


"Mas Ezra benar-benar membuatku tidak bisa turun dari tempat tidur semalaman", gumam Raya. Dia sedikit meringis saat melangkahkan kakinya.


Penyatuan semalam memang bukan yang pertama bagi Raya, tapi serangan Ezra yang tidak seperti biasanya membuat Raya harus melangkah dengan perlahan.


Raya menyalakan shower. Dia membasuh tubuhnya dengan sempurna. Beberapa jejak yang Ezra buat bisa dia lihat dengan jelas hampir di setiap bagian tubuhnya, terutama di area depan dan lehernya.


"Dia ganas sekali semalam", gumam Raya sambil memperhatikan beberapa bagian tubuhnya yang tampak berwarna.


Ezra terbangun karena mendengar suara gemericik air. Dia mengerjapkan kedua matanya sebentar lalu melirik ke samping, Raya tidak ada di sana.


"Dia pasti sedang mandi", batin Ezra. Senyum terlukis sempurna di bibirnya saat mengingat kembali adegan panasnya semalam dengan Sang istri.


"Pagi ini aku tidak akan melepaskannya juga", tekad Ezra.


Entah kenapa Raya seolah menjadi candu baginya. Sekali dia menyentuh istrinya, maka berkali-kali dia terus menginginkannya.


Setelah setengah jam di kamar mandi, Raya akhirnya keluar. Rambutnya masih tampak basah.


"Kenapa sepagi ini kamu sudah mandi, sayang?", tanya Ezra yang ternyata membuat Raya terkejut.


"Ya ampun, Mas. Kalau bangun itu nyalakan dulu lampunya. Jantungku hampir copot karena kaget", Raya protes karena ucapan Ezra yang tiba-tiba di dalam kamar yang masih temaram. Beberapa kali Raya mengelus dadanya yang berdegup kencang.


Ezra terkekeh. Istrinya masih saja seperti itu.


"Maaf, aku lupa", jawab Ezra sambil menyalakan saklar yang ada di dekatnya.


"Sayang, rambutmu masih basah begitu. Sini aku bantu keringkan", Ezra keluar dari dalam selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Ya ampun, Mas Ezra ... cepat pakai baju", ucap Raya setengah berteriak sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Dia malu melihat suaminya yang tampak polos keluar dari balik selimut.


Bukannya segera berpakaian, Ezra justru dengan cueknya melangkah mendekati Raya yang masih enggan membuka kedua matanya.


"Tidak usah ditutup, sayang. Kamu sudah melihat semuanya, bukan?", bisik Ezra.


Jiwa jahilnya bangkit, dengan sengaja Ezra memeluk Raya dan mendorongnya pelan hingga menempel di dinding kamar.


"Mas ...", Raya memekik kecil.

__ADS_1


Dia menolak membuka kedua tangannya saat Ezra justru berusaha menjauhkan tangan itu dari wajahnya.


"Kenapa? kamu masih malu, hm?", Ezra semakin merapatkan tubuhnya hingga Raya bisa merasakan nafas Ezra yang hangat menyapu wajahnya.


"Mas, tolong jangan begini", Raya sudah hampir putus asa karena kejahilan Ezra.


Berbeda dengan Raya, Ezra justru menikmati momen itu. Dia senang membuat wajah Raya merah padam karena malu.


"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Tapi ada syaratnya".


"Syarat apa, Mas?", tanya Raya yang sudah tidak tahan dengan posisinya saat ini.


Dia terpaksa masih harus merapatkan kedua matanya dan membiarkan Ezra menggerayangi tubuhnya dengan bebas.


Ezra tersenyum licik, ide gila kembali muncul di kepalanya.


"Setelah sholat subuh, puaskan aku lagi di tempat tidur", jawabnya tanpa ragu.


Raya menelan salivanya dalam-dalam. Permintaan itu sungguh menakutkan buatnya.


"Mas, semalam kita sudah melakukannya dan itu lama sekali, bahkan pagi ini aku hampir tidak bisa berjalan. Tolong berikan syarat yang lain", pinta Raya setengah memohon. Menurutnya syarat itu sungguh tak masuk akal.


Raya tidak sanggup membayangkan keganasan suaminya di tempat tidur dan mereka harus mengulanginya lagi pagi ini.


Ezra bisa dengan leluasa melihat keindahan tubuh istrinya. Jujur saja, saat ini hasratnya sudah bangkit kembali, tapi Ezra tidak ingin menyentuh Raya tanpa persetujuannya.


"Mas ...", Raya mengigit bibir bawahnya saat tangan Ezra memainkan area sensitif bagian atas milik Raya.


"Bagaimana? mau terus aku lanjutkan seperti ini atau ...".


"Ok, Mas. Setelah sholat subuh aku janji memenuhi keinginanmu. Sekarang cepat lepaskan aku dan lekaslah membersihkan diri", pinta Raya.


Ezra terkekeh. Dia puas karena Raya akhirnya mau memenuhi keinginannya. Ezra segera masuk ke kamar mandi setelah dia melepaskan kunciannya pada Raya.


Waktu subuh pun tiba, Ezra memimpin sholat berjamaah bersama Raya. Selepas sholat, sepasang suami istri itu memanjatkan do'a, berharap segala kebaikan Tuhan berikan untuk rumah tangga dan hidup mereka.


"Sekarang, saatnya kamu memenuhi janji", ucap Ezra setelah dirinya merapikan perlengkapan sholat, begitupun dengan Raya.


Raya menghela nafas dalam, "Apa Mas Ezra tidak berbelas kasihan padaku? aku ingin istirahat, Mas. Semalam aku hanya tidur sebentar", Raya beralasan.


Ezra tersenyum. Dia mendekati istrinya, menariknya dalam pelukan.


"Setelah ini, kamu boleh beristirahat selama yang kamu mau. Aku janji tidak akan mengganggumu. Tapi untuk sekarang tolong penuhi janjimu, ya", Ezra berucap setengah memaksa sambil mengelus pipi Raya yang sudah merona lagi.


Seperti terhipnotis, Raya menganggukkan kepalanya dan tak butuh waktu lama, Ezra sudah mulai memberikan rangsangan pada istrinya itu. Dia tidak ingin egois menikmati surga dunia ini hanya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Masss ...", lagi, pagi ini Ezra berhasil membuat Raya terus mendesah di bawah kuasanya.


Sepanjang pergulatan panas itu, senyum Ezra mengembang. Dia benar-benar menikmati setiap momen intim dirinya dengan Sang istri.


"Sayang, kamu sungguh luar biasa. Kamu canduku", bisik Ezra sebelum dia menghentakkan miliknya pada Raya.


"Aahh ... Mas ...", Raya meremas sprai yang sudah berantakan sejak semalam.


Ezra mengecup kening Raya dengan penuh cinta. Kecupan itu lalu turun ke mata, hidung, hingga akhirnya berpaut dengan bibir manis milik Raya yang juga selalu dia rindukan.


"Semoga setelah ini Tuhan mengaruaniakan seorang anak pada kita. Aku ingin anak dari rahimmu, sayang", ucap Ezra setelah mereka selesai dengan olahraga paginya.


"Iya, Mas. Semoga saja", jawab Raya yang tertidur di samping Ezra.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Raya masih belum bangun.


"Dia benar-benar lelah melayaniku", gumam Ezra yang sudah tampak segar kembali sejak beberapa jam yang lalu.


Dia menatap wajah istrinya yang masih terlelap. Ezra merapikan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Beruntung sekali aku memilikimu, sayang. Sungguh, aku sangat mencintaimu", ucap Ezra tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Raya.


Raya tak merespon apapun karena memang dia begitu lelah hingga tertidur dengan lelap.


Ezra beralih memperhatikan bahu dan tangan Raya yang tidak tertutup selimut. Istrinya tertidur dalam keadaan polos belum mengenakan apapun.


"Tubuh ini adalah candu buatku dan aku sangat menggilainya", batin Ezra sambil mengusap lembut tangan Raya lalu menciumnya dengan penuh perasaan.


Tok ... tok ... tok


Terdengar suara ketukan dari luar kamar.


"Siapa?", tanya Ezra.


"Maaf, Tuan. Saya datang membawakan sarapan untuk Nona Raya seperti yang Tuan perintahkan", jawab seorang pelayan yang datang.


"Sebentar".


Ezra beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.


"Biar aku saja yang membawa makanan ini masuk. Terima kasih", Ezra mengambil nampan berisi lauk pauk lengkap dengan jus buah yang sengaja dipesannya untuk Raya.


Setelah pelayan itu berlalu dari hadapannya, Ezra menyimpan nampan di meja dan mulai mencoba membangunkan Raya.


"Sayang, ayo bangun. Ini sudah siang dan kamu belum makan", ucap Ezra dengan penuh kasih.

__ADS_1


__ADS_2